
Setelah Davin mengetahui siapa sebenarnya Sasha. Dia pun meninggalkan kedua orangtuanya yang masih dalam kekalutan. Dia segera naik ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sesampainya didepan kamar dia melirik kamar Sasha. Dia merasa sial sekali harus memiliki kamar didepan kamar gadis yang dianggapnya penyebab dari semua musibah hidupnya selama ini. Davin pun masuk dan sampai malam Ia baru keluar.
Lain halnya dengan Sasha begitu Inara menyuruhnya naik ke kamar. Ia pun mengurung diri dan terus menangis. Ia begitu terpukul dengan semua perkataan Davin. Ia merasa bersalah pada Bunda dan Ayahnya. Ia masih membayangkan bagaimana Davin menyeretnya dan mendorongnya ke lantai. Suara tamparan di pipi kanan dan kiri Davin oleh orangtuanya masih berdengung dikepalanya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah. Dalam tangisannya Ia ingin sekali pergi dari keluarga ini, tapi mengingat kasih sayang dari Bunda dan Ayahnya. Ia merasa tak sanggup.
Sementara itu, Inara dan Indra saling berpelukan menangisi sikap Putra mereka. Mereka terus menangis menyesali perbuatan kasar dan menutupi semuanya dari Davin. Mereka merasa benar-benar gagal menjadi orangtua.
Malam itu semua senyap, tak ada yang saling bertemu satu sama lain. Hingga sampai pagi hari semuanya turun. Inara sengaja bangun sangat pagi untuk memasak sarapan khusus buat keluarganya. Indra dengan setelan jas kerjanya pun sudah berada di meja makan. Tak berapa lama Sasha turun dengan seragam sekolahnya.
"Sasha mengapa matamu bengkak sekali Nak?". Tanya Indra melihat bola mata Sasha. Sasha tidak menjawab, Ia hanya tersenyum. Inara pun datang membawa semangkok besar nasi goreng.
"Selamat pagi semua, dimana Davin. Ah pasti Davin belum bangun, Aku akan melihatnya". Ucap Inara sembari meletakkan mangkuk nasi gorengnya.
"Tidak perlu, Aku sudah bangun". Kata Davin yang tiba-tiba telah ada diruang makan.
"Ah Sayang ayo makan, Mami buat makanan Favorit Kamu. Nasi Goreng Udang Crispy, Ayo duduk disamping Mami". Inara dengan semangat mangajak Davin dan memberikan sepiring nasi komplit untuknya.
"Terimakasih". Ucap Davin datar, Ia tak.bisa memungkiri perutnya yang memang lapar dari siang semalam. Ia makan dengan lahap bahkan sampai menambah 1 piring lagi.
"Enakkan Sayang, Oh iya Sasha dan Kamu kan satu sekolah. Kalian mulai sekarang pergi bersamanya ya Nak". Ucap Inara yang membuat Davin seketika menghentikan suapan ke mulutnya.
__ADS_1
"Ah Bunda tidak perlu, Sasha bisa naik Bus sekolah ataupun Angkutan umum kok Bun". Kata Sasha panik takut membuat Davin marah kembali. Indra dan Inara saling bertatapan.
"Ya sudah Mam". Ucap Davin yang membuat semua orang diruang makan heran.
"Hei ayo berangkat. Pa, Mi, Davin sekolah". Ucap Davin sambil memakai tasnya.
"Ah iya iya. Bunda, Ayah, Sasha pamit ya. Assalamualaikum". Ucap Sasha sambil mencium tangan kedua orangtua asuhnya dan segera menyusul Davin keluar.
Sasha pun segera masuk ke jok belakang mobil Davin. Davin yang sudah berendah hati kini dibuat marah karena kelakuannya.
"Heh, Lu kiri gua supir lu apa?". Bentak Davin yang nyaris membuat Sasha kaget.
"Ah iya maaf". Sasha pun menyadari bahwa tak seharusnya Ia duduk dibelakang. Mobil pun melaju kencang. Hati Sasha sangat gugup dan tentu Ia ketakutan. Sebab tak pernah menaiki mobil sekencang ini. Mereka pun hampir memasuki halaman parkir sekolah.
"Dav lo gak mau kan semua anak sekolah tau kita 1 rumah". Jerit Sasha panik.
Cittt... Suara rem mobil berdecit. Davin pun membuka otomatis pintu Sasha.
"Keluar lu. Nanti pulang lu tunggu gua disini juga. Ingat gua gak mau nunggu". Ancam Davin yang langsung melakukan mobilnya masuk ke sekolah.
__ADS_1
Sasha pun segera berlari berharap tidak ada yang melihatnya. Ia berjalan menuju ruang kelasnya. Ah lagi-lagi semua pandangan tertuju padanya. Ia benci wajah cantik ini. Sasha juga ingin kehidupannya normal. Dia tidak mau hal yang sama terulang kembali disekolah ini seperti saat dia di Asrama. Ia terus berjalan dan memasuki ruang kelasnya. Sesampainya didepan pintu kelas, Ia dihadang segerombolan wanita yang menurut Sasha tampilan sangat tidak masuk diakal. Seperti Girlband saja ucapnya dalam hati. Tiba-tiba seorang gadis yang tak kalah cantik dari dirinya maju mendekati dan menyiramkan jus jeruk kewajahnya.
"Ahh apaan sih Kamu". Bentak Sasha. Ya dia memang seperti gadis yang calm. Tapi saat dia tidak salah tentu saja dia berani memberontak.
"Wahahhhahahh". Tawa segerombolan wanita-wanita ini. Tentu saja hal ini menjadi perhatian seluruh penghuni koridor lantai 3.
"Lo anak baru gak usah sok cantik ya! sok tebar-tebar pesona dan hari ini lo mala uda satu mobil sama cowok gue, dasar murahan". Dia mendorong Sahsa dengan kuat, tubuh Sasha pun tak seimbang sebab terdorong jauh kebelakang dan hampir jatuh. Beruntung tiba-tiba Davin dan D'Big sedang lewat. Davin pun menangkap Sasha.
"Dasar ceroboh". Ucapnya pelan namun terdengar sampai telinga Sasha. Davin pun membantunya berdiri. Davin melihat baju Sasha kotor. Wanita yang mendorong Sasha pun tidak senang dengan pemandangan didepan matanya ini.
"Davinnn!!, apaan sih lo nyentuh-nyentuh dia". Teriak wanita itu dan memukul Davin.
"Ah ulah lu lagi Tam. Plis deh tunjukin jiwa sosialita lu. Jangan kayak preman gini tau". Ucap Davin datar. Ya wanita itu adalah Tamara, kekasih Davin dari setahun yang lalu.
"Apa lu mau ngebela ni cewek. Oh atau jangan-jangan lo udah selingkuh dari gue ya Vin!!". Teriak Tamara dengan kuat.
"Ikut gue". Davin pun menarik tangan Tamara menjauhi kerumunan murid lainnya.
Sementara Sasha dia pun segera masuk ke dalam kelas. Dia bingung pada bajunya. Karena anak baru tentu saja lokernya masih kosong. Mana mungkin ada baju cadangan didalamnya. Sasha pun kalut hingga tidak menyadari kedatangan Gurunya. Tiba-tiba Davin pun masuk dan melemparkan jaket padanya. Sasha pun kaget namun tiada pilihan dia harus mengenakan jaket pemberian Davin ini. Ia menoleh kebelakang untuk mengucapkan terimakasih. Namun mala mendapat tatapan sinis dari Davin. Hari itu Sasha benar-benar tidak konsen belajar. Ia terus berpikir siapa wanita tadi.
__ADS_1
"Apakah dia pacar Davin. Bisa gawat untukku kedepannya". Ucap Sasha dalam hati.
Like dong ya