
Sasha POV
3 bulan berlalu...
Kini Aku kembali pada rutinitasku seperti biasa. Belajar dan Sekolah. Ditambah juga dengan kegiatan lain yaitu jadwal menjaga Davin secara bergantian dengan anggota keluarga lainnya. Ya setelah Davin dinyatakan Koma. Malamnya Aku siuman. Aku kembali bernafas dengan lancar. Walau rasa sakit ditubuh bagian belakangku masih terasa sangat nyeri. Setelahnya aku dirawat 7 hari baru la Dokter menyatakan Aku sehat dan boleh pulang. Aku bahkan harus bedrest 3 hari lagi sebelum bisa kembali bersekolah.
Malam itu Aku sangat kaget ketika pertama kali membuka mata melihat Bunda menangis di pelukan Ayah. Aku berpikir mereka menangisiku karena menganggapku tak akan hidup lagi. Tapi yang kupikir bahkan lebih parah. Mereka menangisi anak kandungnya yang telah dinyatakan Koma. Sejak hari itu Aku tak pernah melihat senyum dibibir Ayah dan Bunda. Sungguh Aku benar-benar merasa kehilangan. Ya rumah yang sebelumnya kurasa amat nyaman. Kini telah berubah menjadi hampa.
Jangan ditanya bagaimana dengan Sekolah. Entah bagaimana beritanya terbongkar. Seluruh antero sekolah bisa tau bahwa Aku dan Davin tinggal 1 rumah. Bahkan statusku sebagai anak asuh dari orangtua Davin juga telah terbongkar. Lebih parah dari itu semua warga sekolah juga mengetahui kondisi Davin yang sedang koma. Tentu saja Tamara mati-matian menyerangku. Tak jarang kadang karena ulahnya membuliku membuat bekas operasiku jadi nyeri. Aku sempat ragu untuk terus melanjutkan pendidikan disekolah itu. Namun Aku sadar tak boleh membuat Ayah repot dan Bunda cemas.
__ADS_1
Akhirnya Aku memilih untuk menghadapi semuanya. Toh bagiku menjadi anak asuh bukanlah sesuatu yang haram. Ditambah lagi Vino selalu ada membantuku bila Tamara dan gengnya menghadang diriku. Hanya saja tidak mungkin selama berada disekolah dia disampingku sebab kami beda kelas.
"Hey ngelamun mulu kamu, keburu beku tuh makanan hehe". Sapa Vino mengagetkanku.
"Ah, iya nih Vin gak kerasa aja uda 3 Bulan Davin Koma". Sahutku lesu. Ya Aku sampai lupa. Sedari tadi Aku hanya melamun padahal Aku sedang makan siang bersama Vino di kantin.
"Hah OSIS. Buat apa. Kamu ada aja deh. Dokter aja gak bisa membantu Davin segera pulih. Kok mala minta bantuan OSIS sih". Sahutku heran, pasalnya Aku benar-benar tidak nyambung pada Ide Vino
"Hehe ya OSIS. Kota buat doa bersama semua teman sekolah buat ngedoain Davin". Jawab Vino.
__ADS_1
"Ah boleh juga kalau itu yang kamu maksud. Tapikan ketua OSISnya Shandy". Keluhku
"Terus kenapa kalau Shandy?" Tanya Vino heran.
"Ya selama ini Aku ngelihat dia kayak ngejar-ngejar Tamara. Mira juga pernah cerita kalau dulu Shandy itu saingannya Davin ngejar Tamara. Bahkan mereka pernah duel loh. Aku gak yakin Shandy mau membantu ide yang kamu katakan tadi". Jawabku seadanya.
"Pesimis banget sih. Seolah yang murid baru disini gue tau. Selow aja biar gue yang ngatur. Nanti kami lihat sendiri bagaimana acara ini berlangsung". Seru Vino yakin. Aku hanya tersenyum membalasnya lalu menghabiskan makananku dengan cepat karena bel hampir berbunyi. Vino disampingku masih senyum-senyum sendiri seolah telah menang lotre. Dia benar-benar sangat manis di mata ku.
Shandy? Siapa tuh ya Readers.
__ADS_1