Ini Cinta Bukan Derita

Ini Cinta Bukan Derita
5 Tahun Silam


__ADS_3

Pagi yang indah. Mentari bersinar amat cerah. Angin sejuk semilir masuk dari segala arah. Burung-burung berkicau dengan merdu seolah menggambarkan suasana dari hati seorang gadis remaja. Namanya Sasha, hari ini dengan semangat yang luar biasa gadis remaja itu menyusuni semua perlengkapan dan pakaiannya.


"Huhh,, lelah juga nih. Bunda dan Ayah jam berapa ya tiba?". Ucapnya sambil melirik ponsel baru yang masih tampak kemilau sebab baru saja diberikan oleh Ayahnya sebagai Kado keluar Asrama. Ya sedari TK Sasha telah hidup di Asrama ini. Sekarang dia telah kelas 2 SMA. Ia harus keluar dari Asrama disebabkan sebuah masalah yang sama sekali tak diperbuatnya. Ia berdiri dan memastikan tidak ada barang-barang yang tertinggal satu pun dari kamar yang telah ditempatinya selama 12 Tahun itu. Sebenarnya berat bagi Sasha untuk meninggalkan Sekolahnya ini. Namun bila ia tak pergi akan banyak masalah yang dihadapinya. Terlebih lagi masalah itu akan berdampak buruk bagi kehormatan dirinya sendiri. Sasha pun bersandar dikusen jendelanya. Tatapannya jauh mengamati tiap sudut Asrama ini belum lagi sekolah tepat disebalah Asrama ini berada. Sebagai anak yang berprestasi dan telah lama tinggal di Asrama tentu saja semua orang mengenalnya. Bahkan bukan dari sgi itu saja melainkan wajah sangat cantik yang dimilikinya membuat orang dari luar Asrama dan lingkungan sekolah pasti mengenalnya. Ya dia Sasha, Si Ratu sekolah. Begitulah orang-orang memberi nama julukan.


Ingatan Sasha membawanya pada beberapa bukan yang lalu. Sepasang suami istri yang mengaku sebagai Ayah dan Bundanya. Tentu saja Sasha senang bukan kepalang. Setelah puluhan tahun hidup mandiri akhirnya ada juga yang mengakuinya sebagai anak. Ya Sasha tahu selama ini ada yang membiayai hidupnya. Ibu kepala Asrama banyak bercerita dan memberitahu bahwa namanya adalah Pak Indra. Tapi apakah dia anak kandung atau hanya anak asuh, semua baru terjawab pada pertemuan pertama mereka. Sasha hanyalah anak asuh mereka. Hal itu tak membuatnya sedih. Sebab memiliki orang lain yang mau mengurus dan bisa dipanggil Ayah Bunda saja sudah membuatnya senang sekali. Selama ini Ia sering berpikir untuk apa segala prestasi hebatnya bila tak ada seorang pun yang bisa bahagia menyambut semua kemenangannya. Akhirnya Ia bisa memiliki tempat berbagi sudah merupakan kebahagiaan yang sangat disyukuri olehnya. Bahkan kini Ia harus pindah ke luar kota dan ikut dengan mereka semakin membuat hatinya senang. Karena bagaimana pun penghuni Asrama berbaik hati padanya tetap saja yang Ia inginkan adalah sebuah keluarga.


Tok tok.. Pintu itu terbuka membuyarkan lamunannya. Sasha berdiri dan memberi salam pada Ibu Ketua Asramanya.


"Ibu, Ada apa?". Tanyanya setengah bingung sebab raut wajah Ibu Asrama yang dikenalnya selama 12 Tahun ini tidak lagi ramah.

__ADS_1


"Orangtua Asuhmu telah datang dibawah. Ayo turun". Kata ibu Asrama dengan ketus. Sasha pun tak mengambil open. Segera dipeluknya Ibu Asrama itu sekuat mungkin sambil menangis. Ibu Asrama yang bernama Citra itu pun juga ikut menangis sekuat mungkin disusul oleh Ibu-ibu Asrama lainnya. Ruangan itu sangat haru sebab penuh airmata kesedihan. Lepas dari pelukan para Ibu asrama. Diluar Sasha telah disambut oleh ratusan anak Asrama lainnya. Semua memeluk dan memberi Sasha salam perpisahan. Hal ini tentu membuat Sasha sangat berat untuk meninggalkan Kota ini. Jelas saja Inara yang melihat dari kejauhan ikut terharu diperlukan sang suami.


"Pak, Bu. Semua barang-barang perlengkapan Sasha sudah ada di bagasi. Jumlahnya sangat banyak ini Bu. Masih ada 10 Kotak lagi". Keluh Mang Diman. Supir keluarga Syailendra yang telah mengabdi puluhan tahun.


"Apa sebanyak itukah. Ahh kalau begitu kita harus meloketkannya saja. Tidak mungkin untuk ditinggal. Semua barang pasti memiliki kenangan bagi Sasha. Mang Diman urus ya tempatnya ada disebelah gedung Sekolah itu". Ucap Indra memberi perintah.


"Baik Pak". Jawab Mang Diman yang langsung membawa Semua Kotak dengan mobil ke tempat pengiriman barang antar Kota.


"Iya Pa, dia pasti sedih". Jawab Inara.

__ADS_1


Mereka pun menghampiri Sasha. Sasha yang menyadari kedatangan mereka pun langsung berlari memeluk Inara. Setelah berpamitan pada semuanya mereka pun bergegas untuk berangkat. Mereka memakan waktu 8 jam untuk sampai ke kota asal mereka. Sasha disepanjang perjalanan tidur dipelukan Inara hingga saat sudah sampai pun Ia tak sadar.


"Sayang, Ayo bangun. Kita sudah sampai". Kata Inara pada Putri barunya. Sasha yang menyadari sentuhan hangat itu pun terbangun dan memberi senyum pada Inara da Indra. Ia pun segera turun dan melihat sekelilingnya.


"Wahh ini rumah Ayah dan Bunda, gedee banget. Ngalah-ngalahin Asrama Putri di tempat Sasha dulu". Kata Sasha kagum melihat rumah Inara dan Indra.


"Iya sayang. Ini mulai sekarang jadi rumah kamu juga. Ayo kita masuk. Bunda sudah menyiapkan kamar istimewa untuk Kamu". Ucap Inara membawa Sasha masuk kedalam rumahnya.


"Mang, Ojo lali barang-barang Sasha dibawa masuk ke kamarnya didepan kamar Davin ya". Kata Indra seraya berlalu mengikuti Inara dan Sasha. Ia sangat bersyukur telah menyatukan Inara dengan putri dambaannya itu. Dalam hati melihat Sasha dan Inara dari belakang ia berucap. "Semoga Kamu jodoh yang tepat untuk Anak Lelakiku Sha".

__ADS_1


Hayo-Hayo gimana nih. Kasi komentar dong guys. Like juga😁


__ADS_2