
Hilangnya Papa dari pandanganku membuatku terpaksa ikut dengan rekan satu gengku ini. Sebenarnya jika teman-temanku tidak mengejutkanku pasti Aku akan mengejar Papa dan menghajarnya dipinggir jalan. Tapi tidak apa, lihat saja nanti. Akan kuhajar dia sampai tidak bisa disukai wanita manapun lagi. Walau pun Aku tidak join dengan Mami tapi tetap saja pengkhianatan itu salah. Ahh sial, mengapa Aku bodoh sekali. Aku lupa untuk memoto mereka sebagai bukti. Ah tak mengapa nanti kuhajar babak belur dia pasti akan jujur. Okelah Aku pun beranjak kekelas bersama teman-teman resekku ini.
"Dav". Seru Danil. Aku pun hanya meliriknya dan menaikkan satu alisku.
"Lu tau gak bro. Seantero sekolah lagi pada heboh sama cewek cantik ngalahin Tamara pacar lo itu, Yak gak gaess". Ejek Danil membawa nama Tamara, pacarku dikelas bawah.
"Ah lo pada emang uda liat,heh". Ucapku Acuh.
"Ya belum sih". Kata Danil lesu.
__ADS_1
"Gue uda dong guys. Asli cakep bener. Kayak bidadari. Sa*ge gua ngeliatnya di koridor tadi". Ucap Dani dengan bangga dan mendahului jalan Kami semua.
"Ahh serius loh Dan". Kata anak-anak lainnya mengejar Dani yang berada didepan.
"Cerita dong gimana cantiknya!". Ucap Derry yang biasanya paling diam diantara Kami apalagi bila pembahasan itu mengenai wanita.
"Eh!! Apaan sih lu pada. Kek jomblo gak laku ya. Uda buruan masuk kelas". Ucapku sembari menarik sekelompok teman geng yang Kami beri nama D'Big ini. Ya semua nama panggilan Kami berawalkan huruf D. Mereka teman yang cukup berarti untukku. Sebab selain bernasib sama, Visi Misi hidup Kami juga sama. Menghancurkan nama baik keluarga. Hah memang gak tidak beres tapi jangan tanyakan kesetiaan kami dalam hubungan persahabatan ini.
"Pagi Anak-anak. Apa kabar semua?". Sapa Bu Darna dengan semangat yang dijawab tak kalah semangat oleh teman sekelasku. Pastinya Aku masih asyik dengan alunan musik di kepala ku.
__ADS_1
"Davinnn!! Turunkan Kakimu. Dav". Teriak Bu Darna amat nyaring. Ya Aku mendengarnya namun muka marahnya menjadi hal yang menyenangkan untukku. Dia datang menghampiriku dan segera Aku pura-pura bersikap baik dengan menurunkan kaki, membuka Airphone, dan sibuk mengeluarkan buku yang pasti tidak ada tulisan apapun didalamnya. Dia berhenti.
"Eh Ibu sudah datang toh, Aku kok ora denger yo. Pagi Ibu. Sehat kan". Ya jurusku pun kukeluarkan. Hari ini Aku tak ingin ada laporan sebab Aku ingin pulang kerumah. Segara Aku bangkit dan menyalaminya. Aku tersenyum manis padanya lalu kembali duduk. Tentu saja hal ini membuat gaduh seisi kelas.
"Wuuuuu". Sorak semua teman sekelasku. Aku sama sekali tak mengacuhkannya. Kulihat D'Big lainnya hanya tertawa. Aku pun memainkan mata pada mereka.
"Sudah-sudah suaranya. Ayo mulai pelajaran hari ini". Seru Bu Darna namun tak membuat semua murid tenang.
Tok-tok.. Suara pintu diketuk membuat semua penghuni kelas diam. Pintu terbuka ternyata pegawai Administrasi masuk. Mungkin mengingatkan uang Iuran sekolah. Ah ternyata tidak. Ia berbisik pada Bu Darma dan segera keluar dan menutup pintu. Semua anak menjadi ribut kembali. Tapi pintu terbuka lagi dan nyaris seketika ruangan ini menjadi seperti kuburan. Sepi tanpa ada suara apapun. Aku heran lalu melihatnya.
__ADS_1
Ahhh Sialan. Dia lagi!!!
Hai Guys. Like ya