
Sasha POV
Aku telah pulih dan kembali bersekolah seperti biasa. Kali ini jalan cerita kehidupan sekolah baruku mulai membaik. Terutama karena sekarang Aku punya Vino. Ya entah sejak kapan dari kejadian jalan kaki ke sekolah itu sampai sekarang tiba-tiba Vino menjadi teman baikku. Ya walau Aku tau sebagai seorang pria normal Vino mempunyai maksud lain padaku, tapi entah mengapa bersamanya membuatku tenang dan nyaman. Jadi walau ada udang dibalik batu tak membuatku begitu mengkhawatirkannya asalkan tidak diluar batas saja.
Teman-teman yang lain pun mulai sudah banyak yang akrab denganku walau Aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Vino. Tapi tetap saja ada kehampaan dalam cerita baik ini. Ya dia Davin, sejak 1 minggu Aku kembali sekolah tidak pernah sekalipun Aku melihat wajahnya. Dia terus absen, bahkan bila Aku mencoba mencari tau dari teman-teman lain. Mereka juga tak mengetahuinya, geng D'Big yang kuketahui dari teman-teman merupakan geng yang diketuai oleh Davin juga tidak tahu kabar Davin. Bahkan sesekali Aku melihat pacarnya dikantin sekolah juga seperti orang murung yang kehilangan sesuatu, tentu saja itu pasti Davin. Aku juga pernah menanyakan pada Bunda tapi Ia hanya tersenyum dan membahas cerita lain secepat mungkin seolah mengelak untuk membahas Davin.
Hari ini Vino tidak masuk sekolah, Aku yang sudah terlanjur duluan memberitahu Ayah untuk tidak menjemputku kini pun harus mengambil resiko untuk naik Taxi atau kendaraan umum lainnya. Bel pulang berbunyi Aku pun bersiap untuk pulang. Aku menyusuri koridor menuju gerbang keluar sekolah. Tiba-tiba digang yang sudah cukup sunyi seseorang menghampiriku, ah bukan seseorang tapi cukup banyak.
"Hehhh, dimana Davin!!!???". Teriak Tamara mendorongku ke pojok dinding.
"Apa? Kenapa bertanya padaku?". Jawabku khawatir, apakah Tamara tau bahwa Aku serumah dengan Davin. Gawat dia tau darimana, Davin pasti akan menghajarku. Tapi bisa jadi dia tau dari Davin.
"Lo gak usah pura-pura ya, gue tau lo serumah dengan Davin. Dimana dia?". Kata Tamara, ah dia tau bagaimana ini.
"Apaan sih lo, minggir!!". Bentakku tak mau kalah dan mencoba menghindari mereka. Tapi geng Tamara mala mengepungku.
__ADS_1
"Lo gak usah kabur, gue tau lo anak pembantu di rumah Davin kan. Sekarang buruan kasi tau gue.dimana Davin?". Ucap Tamara dan membuatku kaget. Anak pembantu, dia bilang Aku anak pembantu. Apakah Davin yang mengatakan padanya seperti itu.
"Davin yang bilang Aku anak pembantu?". Tanyaku yang mala diberi tawa cekikikan oleh Tamara dan gengnya.
"Heh yaiyailah. Davin pacar gue, dia pasti cerita semuanya tentang kehidupannya ke gue, lo anak pembantu tapi sok banget dah, ahahaha". Ucap Tamara Lantam.
"Gue gak tau Davin dimana, kalian semua minggir". Ucapku datar pada mereka, seketika mereka mundur perlahan.
"Ihhh sok banget sih dia Tam". Ucap salah satu teman Tamara.
Aku sangat kecewa pada Davin. Setelah sampai diluar gerbang Aku segera menyetop Taxi. Aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku, Aku menangis dalam diam, Aku tidak percaya Davin mengatakan Aku anak pembantu. Ya benar saja Aku ini anak asuh Bundanya, tapi apakah dia menganggap Bunda seorang pembantu. Hatiku benar-benar kecewa. Aku bahkan menangis lalu melamun sepanjang perjalanan sehingga super Taxi ini bingung harus bagaimana memperlakukan diriku.
"Sudah sampai Non". Kata Supir Taxi tersebut.
"Non!!". Katanya lebih kuat. Aku pun tersadar.
__ADS_1
"Ah iya Pak. Terimakasih ya. Ini bayarannya ambil saja kembaliannya". Kataku berlalu dari Taxi lalu masuk kerumah.
Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kedalam dan tiba-tiba mendengar suara tangisan. Aku mencari asal suara ternyata itu berasal dari kamar Bunda. Aku takut hendak masuk tapi tangisan Bunda amat memilukan di telinga ku.
"Sudahlah Inara. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi mau bagaimana lagi. Davin juga susah untuk diarahkan. Dia tidak bisa menjaga kesehatannya sendiri. Sekarang Papaku saja sudah pasrah dibuatnya. Mau dimana lagi kita temukan sumsum tulang belakang yang cocok untuknya". Ucap Ayah yang terdengar begitu khawatir.
"Tapi Pa. Bagaimana dengan Sasha, bisa saja keduanya cocokkan?". Kata Bunda yang terdengar sangat parau.
"Itu tidak mungkin. Sekiranya pun cocok Papa tidak mau membahayakan Sasha". Ucap Ayah.
" Ya Pa, tapi Davin juga butuh pendonor Pa. Tolong Pa bicara baik-baik pada Sasha, Ia akan mengerti". Ucap Bunda memelas. Aku kaget, Bunda menginginkan bantuanku tapi Ayah tidak menyetujuinya. Sumsum tulang belakang. Apakah cocok? Apakah aku akan siap menolong Davin. Bagaimana ini aku bingung.
"Hah kamu sangat susah dibilangin kalau begitu mengapa tidak kamu saja yang memintanya!!". Bentak Ayah sedikit kuat pada Bunda. Tidak, Aku tidak bisa membiarkan mereka bersedih.
Tok.Tok. Tok.....
__ADS_1
Hai hai. Like yo