
Hiruk pikuk dunia anak sekolah semakin menjadi setelah bel pulang sekolah berbunyi. Vino setelah memastikan Sasha aman menaiki Bus segera mencari ketua OSIS di sekolahnya. Ia sangat bersemangat menjalankan ide yang diceritakannya pada Sasha di jam makan siang tadi. Walau semata-mata Ia melakukan semuanya hanya karena untuk menarik simpati Sasha lebih dalam padanya. Ia berlarian mengelilingi parkiran sekolah yang sangat luas itu untuk menemukan ketua OSIS itu. Namun Ia tak kunjung menemukannya. Setengah putus asa Ia mencoba usaha terakhir yang tak terpikirkannya sedari awal. Ya akhirnya dia menemukannya. Tentu saja sang ketua OSIS sedang berada di ruangan OSIS, sebab sebagai ketua sebelum pulang dia wajib memastikan ruangan rapi dan semua jadwal kegiatan ataupun berbagai saran kritik dari semua siswa-siswi disekolah itu telah rampung. Vino pundengan wajah sumrigah seolah mendapat jackpot segera berlari masuk ke dalam setelah melihat wajah Shandy dari jendela. Bahkan sakin bersemangatnya Ia menabrak seseorang hingga membuat dirinya jatuh terhempas ke dinding.
"Ah maaf". Ucap Vino lembut dan menoleh sambil mengelus tubuhnya yang cukup sakit dirasakannya.
"Awww... Punya mata gak sih lo!". Bentak Tamara. Ya orang yang ditabrak Vino adalah Tamara.
"Maafin gue amara, gue buru-buru". Seru Vino.
__ADS_1
"Amara kepala lo. T-a-m-a-r-a. Tamara! Plis deh ya lo itu bener-bener ngeselin tau. Uda nabrak gue mala ngubah-ngubah nama gue lagi". Protes Tamara yang tak suka dengan panggilan Vino padanya.
"Loh kan emang elo suka marah-marah kan A-ma-ra". Kata Vino sembari menjulurkan lidahnya keluar. Hal itu tentu membuat Tamara semakin jengkel dan memukulinya dengan kemoceng yang diambilnya di belakang pintu masuk ruangan tersebut. Vino tentu saja berusaha mengelak namun seolah tak ingin Tamara berhenti memukulinya. Ya ternyata keduanya merupakan teman masa kecil sewaktu masih SD diluar negeri karena orangtua mereka harus bertugas di negeri yang sama pada saat itu. Tamara terus memukulinya seolah dia sedang menang lotre karena baginya kesempatan begini sangat langka. Sebab sejak Tamara pindah ke sekolah ini dan bertemu kembali dengan Vino jarang sekali ada kesempatan bagi mereka untuk bercengkrama. Tentu saja pemicunya karena Tamara yang menjauh sebab jatuh hati pada Davin. Sementara Davin sangat pencemburu dan tak ingin Tamara dekat dengan lelaki manapun kecuali dirinya. Perkelahian itu berlangsung cukup lama hingga menjadi tontonan anak anggota OSIS yang berada didalam ruangannya. Sampai tiba-tiba suara deheman seseorang membuat mereka berhenti seketika.
"Ehemmm.. Uda stop ya. Jangan kacauin ruangan ini!!!". Ucap seseorang yang tak lain adalah Shandy. Sang ketua OSIS. Nada suara Shandy yang dimulai dengan deheman hingga bentakan pun sukses membuat keduanya diam membisu.
"Ya maaf kali. Gue kan uda bilang buru-buru". Ujar Vino.
__ADS_1
"Tamara tidak perlu membesar-besarkan masalah ini. Aku akan mengurusnya. Sebaiknya kamu kembali duluan ya. Geng kamu pastk sudah nungguin tuh". Ucap Shandy lembut.
"Hmm yauda deh. Ingat yang gue bilang tadi. Bye". Balas Tamara lalu berjalan mengambil tasnya. Shandy hanya tersenyum melihatnya. Lalu segera ia mengalihkan pandangan tertuju pada Vino yang kini sudah duduk bertengger di atas meja.
"Ada apa sih Vin?... Tumben lo mau kesini. Mau apa loh?. Mau daftar jadi anggota OSIS!. Maaf ya uda ditutup. Kuota juga uda Full. Lagian kemana aja lo waktu gue rekrut jadi anggota dari bulan lalu. Elu tolak gue mentah-mentah". Kata Shandy yang penasaran apa yang hendak dilakukan Vino. Pasalnya semua orang tau Vino adalah murid cerdas yang hidup bebas. Ia tak pernah menerima tawaran apapun yang diberikan oleh ketua-ketua ekskul sekolah apalagi menjadi anggota OSIS. Dia selalu bermain tunggal dalam segala hal di sekolah ini. Akan tetapi kepopulerannya belum ada yang bisa mengalahkan kecuali sang ketua OSIS dan murid terbandal yakni Davin. Jelas hal ini membuat Shandy bertanya-tanya.
"Gue mau minta bantuan lo". Jawab Vino singkat dengan senyuman mencurigakan bagi siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
Like dong ya😊