Ini Cinta Bukan Derita

Ini Cinta Bukan Derita
Hilang Harapan


__ADS_3

Davin POV


"Bukan Urusanmu!." Bentak Mami.


Aku terkejut. Mami mengapa harus sekasar itu. Aku yang tengah menghadapi masalah besar seperti ini tidakkah Ia empati sedikit saja. Ahh Aku terlalu lebay. Sasha juga anak Mami, wajar saja kegelisahan Mami setara denganku. Kulihat Ia menghampiri pintu kaca ruangan UGD itu. Menurutku itu hal yang sia-sia. Sebab tak akan ada yang bisa dilihat selain kain penutup ruangan. Namun bila itu membuatnya lebih tenang. Maka tak perlu untuk ku khawatirkan. Saat ini prioritas diriku ialah Sasha. Mengapa begitu lama. Apa yang dilakukan Dokter itu didalam. Ini sudah lebih setangah jam tapi bagaikan sudah seribu tahun bagiku disini. Aku benar-benar hilang arah. Mulutku tak hentinya berhenti meminta pada Yang Maha Kuasa untuk mengembalikan Sasha. Aku tak dapat membayangkan akan jadi apa hidupku tanpanya.


"Nak Dav, monggo sudah Adzan Ashar. Ayok kita solat dulu sembari mendoakan Neng Sasha". Kata Pak RT. Ahh ya hampir saja Aku lupa Solat. Aku pun segera mengangguk dan berdiri. Kulihat Papa juga beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo Pak". Kata Papa.


"Mami Pa?". Tanyaku sembari menengadahkan dagu ke arah Mami.


"Mami sedang datang bulan, sudah ayo cepat anakku didalam sedang meregang nyawa, dia butuh banyak pertolongan". Kata Papa berjalan mengikuti Pak RT. Anakku. Hey Papa apakah Aku ini bukan anakmu juga. Sasha itu Istriku Pa Aku yang lebih terpukul. Hah tak ada gunanya mengeluh Aku pun ikut menyusul mereka. Kami pun solat berjamaah dan berdoa sangat khusuk untuk keselamatan Sasha. Setelah selesai segera Kami kembali menuju ruang UGD. Dari kejauhan Aku melihat pintu terbuka. Aku pun segera berlari. Kulihat Mami telah stand by menunggu kabar dari Dokter.

__ADS_1


"Dok. Dokter bagaimana kondisi anak Saya?" Tanya Mami sembari mengguncang bahu Dokter. Aku pun semakin deg-deg an, sebab wajah Dokter ini tampak begitu lelah.


"Huhhh. Alhamdulillah. Ini benar-benar Mukjizat dari Allah. Jantung Pasien kembali berdetak, namun saat ini kondisinya masih sangat lemah. Kami akan mengusahakan yang terbaik untuknya". Ucap Dokter dengan lega. Kami semua menangis.


"Alhamdulillah. Dokter Terimakasih banyak. Apakah Kami bisa kedalam melihatnya". Ucapku parau.


"Ya tentu saja tapi bergiliran ya". Jawab Dokter.


"Sayanggg. Kamu kembali Sasha. Kamu hebat Sayang. Kamu sangat kuat. Terimakasih telah bertahan untukku." Tangisan ku semakin menjadi.


"Maaf Pak. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap. Dan untuk bapak Kami mohon segera mengurus administrasinya". Ucap Suster. Mengganggu saja, tak tahukah Ia betapa aku dalam nestapa yang amat dalam. Hah tapi benar juga. Mami dan yang lain pasti khawatir dan ingin melihat kondisi Sasha juga.


"Baik Sus". Balasku datar. Aku pun segera keluar dan menemui yang lainnya. Aku memberi tahu mereka agar sabar menunggu karena Sasha akan dipindahkan. Aku pun berlalu menuju tempat registrasi untuk membayar semuanya. Kemudian aku berjalan kembali menuju ruang rawat Sasha saat ini. Kulihat di Kertas keterangan. Ruang Mawar 485 lantai 4. Ahh jauh juga. Baiknya aku menggunakan Lift saja.

__ADS_1


Tingg.. suara Lift.


Segera kutelusuri ruangan nomor 485 itu. Ahh bau obat-obatan sangat menyengat. Aku sedari kecil benci sekali dengan rumah sakit.


Crekk.. kubuka pintu ini dan suaranya cukup kuat. Semua pandangan kearahku. Apa itu kenapa ada mesin degap jantung itu lagi.


"Mam.?". kutautkan Alisku kearah Mami.


"Sasha Koma Dav. Sewaktu Kamu pergi mengurus administrasi tadi tiba-tiba, ahh sudahlah Dav. Perbanyak saja berdoa". Ucap Papa lemas. Astaghfirullah apa lagi ini. Badanku melemas seketika. Ada saja yang terjadi. Aku benar-benar tak sanggup lagi menahan ini semua. Kupeluk Sasha dan menangis amat pilu. Sampai aku tak sadar telah tertidur dalam memeluknya.


Davin POV End


Hi Guys. Like dan Coment Ya😊

__ADS_1


__ADS_2