
Inara POV
Aku tersadar dari Pingsan. Oh Sashaku. Bagaimana keadaan dia. Ahh mereka semua masih disini berarti Dokter masih berjuang menyelamatkannya didalam sana. Kulihat Putra Kesayanganku masih menangis tiada henti. Matanya kian bengkak. Papa juga begitu. Menyembunyikan kesedihan bukanlah keahliannya. Kulihat sesekali Ia menghapus air matanya. Ah ya Pak RT, Ia sungguh sangat baik hati. Sasha sering menceritakan Pak RT komplek perumahannya ini. Pak Dadang namanya. Ia sudah 2 Periode menjadi ketua RT. Bahkan warga setempat sering kali ingin menobatkannya sebagai Ketua RT seumur hidup. Ya Sasha sering membahas Pak RT ini disela pembicaraan Kami Via Telpon. Aku benar-benar merindukan keceriaan menantuku itu. Ya Allah.. Bagaimana nasib Sasha. Semoga Engkau masih mengizinkan dirinya untuk tetap hidup bersama kami.
Aku tak tau penyebab kecelakaannya secara pasti. Yang kudengar dari Pak RT Sasha Ditabrak lari oleh Truk Sampah. Apa yang sedang dilakukannya sehingga bisa seperti ini. Berdasarkan yang lalu-lalu semua kesalahan ada pada Putraku, Davin. Aku ingin sekali memarahinya seperti dulu-dulu saat Ia masih sangat jahat. Namun airmata yang terus mengalir dimata sayunya membuatku tak sanggup. Aku enggan berkata-kata, yang kuinginkan hanya Dokter keluar membawa kabar bahagia. Namun setelah setengah jam menunggu. Diriku menjadi sangat resah. Untuk menenangkan diri ada baiknya aku mengintip dari celah-celah jendela kaca atau pun pintu.
"Mam, mau kemana?." Tanya Davin.
"Bukan urusanmu!". jawabku ketus sembari melihat wajah Papa yang terlihat pasrah. Lalu kulihat wajah Pak RT, beliau hanya tunduk tersenyum datar seolah mengatakan jangan terlalu kasar pada anak sendiri apalagi sedang tertimpa musibah.
__ADS_1
"Sabar Dav". Ucap Papa dengan tenang.
Aku tak menghiraukan mereka. Aku berjalan kearah pintu ruang UGD itu sembari mencari celah untuk melihat ke dalam. Namun yang kudapati hanya celah yang memperlihatkan kain-kain hijau penutup ruang Dokter beroperasi. Hatiku semakin gundah. Kakiku tak dapat lagi kuajak bekerjasama untuk menopang tubuhku. Aku terkulai kelantai. Pasrah tak berdaya. Aku kembali bernostalgia pada kenangan 25 Tahun silam. Bila nanti Aku mati pertanggungjawaban apa yang akan kujelaskan pada orangtua Sasha. Mereka berdua sahabat terbaikku yang telah pergi duluan meninggalkan Sasha seorang diri. Kecelakaan yang menimpa mereka sungguh mengenaskan. Semua yang terjadi tak jauh dari kesalahanku karena telah mempengaruhi Alena untuk Kawin Lari dengan Bram. Padahal saat itu Alena sedang mengandung Sasha 9 bulan. Bayi itu lahir ditengah mobil yang hampir terbakar. Beruntung warga dibawah jembatan itu masih sempat membawa Bayi itu menjauh. Saat Aku datang mobil itu meledak. Diriku sangat hancur melihat kobaran api yang melahap hangus tubuh mereka. Sayup-sayup ditengah kericuhan Aku mendengar suara Bayi. Kulihat dipangkuan seorang warga bayi merah berlumuran darah. Aku curiga pada bayi itu dan benar saja dia adalah anak dari Alena. Tangisanku semakin menjadi-jadi. Aku harus siap mengambil tanggungjawab untuk kehidupan putri kecil mereka.
Semua kejadian kututupi rapat-rapat dari Suamiku dan keluarga besar Sasha. Segera kubawa pulang bayi itu untuk dibersihkan dan dibalut selimut hangat. Beruntung suamiku sedang Dinas diluar kota. Dan Bayiku Davin kecil sedang dibawa oleh Opanya di Mansion keluarga Besar Syailendra. Saat itu Aku sangat tak berdaya. Papa Davin pasti akan sangat marah padaku bila Aku membawanya pulang. Terlebih lagi ini adalah bayi dari seseorang yang selama ini dianggapnya musuh, sebab Ayah dari bayi ini tak lain ialah mantan pacarku. Ya Aku dan Bram pernah menjalin hubungan sebelum akhirnya keluargaku memilih untuk menikahkanku dengan Mas Indra sebab saham perusahaan yang hampir diujung tanduk. Aku tak tau bahwa ternyata Bram telah menjalin hubungan dengan sahabat baikku Alena, 5 bulan sebelum Aku memutuskan hubungan kami. Aku yang kaget mengetahuinya, tentu saja amat kecewa dan akhirnya mempercepat perjodohanku dengan Mas Indra. Ternyata dibalik itu semua ada cerita pahit yang Alena beritahukan 3 bulan lalu. Ia diperkosa oleh Bram saat mabuk karena keluarga besarku sibuk mengancamnya agar pergi jauh dari hidupku. Hal itu karena Bram berasal dari keluarga tidak mampu. Bram hanya beruntung karena prestasinya Ia mampu menempuh pendidikan di Kampus Kami. Setelah kejadian pahit itu Alena meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya. Bram pun tak berani mengelak dari perbuatannya. Namun Ia ditolak mentah-mentah oleh keluarga Alena. Maklum saja keluarga Alena ialah jajaran pengusaha Tambang Batubara yang tersebar di seluruh pelosok negri. Sekelas Bram tentu saja bukan level idaman mereka. Hingga akhirnya mereka menjalani hubungan dibalik layar. Cinta tumbuh seiring waktu kebersamaan diantara mereka. Hingga 1 bulan Aku melahirkan Davin. Aku mendapati kabar bahwa ia tengah mengandung besar. Aku pun menyetujui untuk bertemu kembali dengannya setelah memantapkan diri untuk memaafkan Bram. Rentetan kisah pilu pun Ia ceritakan. Aku benar-benar kaget. Aku telah salah paham padanya. Akhirnya hingga suatu hari Aku memberi saran pada mereka untuk kawin lari sebab Alena dipaksa untuk membunuh bayi itu ketika sudah lahir agar tidak menimbulkan cacat aib pada nama baik keluarga. Ya inilah yang terjadi sekarang. Aku mencoba berjiwa besar demi bayi mungil ini.
"Apakah kalian Orangtua asuhku selama ini?". Katanya tersenyum cantik. Aku hanya bisa terpesona begitu juga Mas Indra.
"Mengapa baru datang?, hampir saja aku frustasi sebab semua prestasiku tiada arti entah untuk siapa aju suguhhkan". katanya lagi sembari menyalami Kami.
__ADS_1
Setelah itu kami berbincang banyak sekali. Namun rahasia kehidupan lampau Sasha kami tutup serapat mungkin. Hingga 2 tahun lalu Ia mengetahui semuanya lalu tetap bertahan menjadi anak Kami. Namun hidup tak selalu datar. Sasha setelah kelas 2 SMA mengalami masalah pada kehidupannya, karena kecantikannya membuat banyak lelaki dari Asrama Putra SMA melakukan berbagai hal tidak senonoh dikamar asrama mereka. Yang paling fatal ialah beberapa anak remaja yang sering masturbasi dengan mencetak foto Sasha yang diambil diam-diam. Beruntung pihak sekolah segera mengetahuinya. Maka untuk menyelamatkan Sasha pihak Asrama menelpon untuk membicarakan hal ini. Tentu saja Aku memilih untuk membawa Sasha pulang kerumah Kami. Entah Malaikat apa yang mempengaruhi Mas Indra kala itu. Ia begitu semangat menyetujui keinginanku. Walau di Sasha sendiri merasa berat karena dari TK, Ia sudah hidup disana. Ya itulah kenangan yang masih terukir secara jelas dalam ingatanku.
Aku kembali berdiri untuk melihat kedalam ruangan UGD lagi. Kuletakkan tanganku di pintu kaca sembari berdoa. Putriku Sasha. Kamu anak yang kuat Sayang. Kamu sangat baik hati. Persis seperti kedua orangtuamu Nak. Bunda akan sangat sedih bila harus kehilangan Sasha sekarang sadarlah Nak. Bunda akan selalu menjadi orangtua yang jauh lebih baik lagi untuk Kamu Nak. Ayo bangun Sayang. Ya Allah berikanlah keajaibanMu pada keluargaku sekali lagi.
Air mataku terus menghasilkan buliran air jernih bak mutiara. Aku tak kuasa untuk menahannya.
Inara POV End
Hai READERs. Semoga kalian sehat selalu. Ternyata Sasha Anak diluar Nikah. Wadidaw kasian ya. Buat Readers jangan sampe ya. Pandai-pandailah menjaga diri bahkan dari orang paling dekat. I luv yu😘 See yu next Chapter.
__ADS_1