
Aralia menghela napas, disudut matanya kini ada buliran yang siap meluap. Ia memukul -mukul dadanya yang terasa sesak. Saat ini hatinya patah walaupun belum dipatahkan. Reven pria yang ia inginkan entah berpikir apa tentangnya setelah mengetahui Aralia menikah.
Sepulang kuliah, Aralia memilih pulang ke rumah ibunya. Keadaan hatinya sedang tidak baik, dan ia tak ingin keluarga suaminya tahu.
Aralia berdiri di gerbang rumah, menatap rumah berlantai satu itu dari depan. Sudah lama setelah menikah ia tak kesana terakhir Aralia diantar Reven dan tidak masuk kedalam. Itu sudah lama.
Aralia ragu menyentuh bel tapi belum tangannya menekan tombol itu sebuah taksi berhenti di depan gerbang. Aralia menoleh, Nisa ibunya keluar dari dalam taksi.
"Ara ...," Panggil Nisa menatap putrinya itu, Nisa segera mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayarkan jasa taksinya.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Nisa.
"Mama kenapa naik taksi? Dari mana?" Aralia menghampiri, mencium pipi ibunya lembut.
"Mama sekarang sudah agak grogi nyetir, Ra. Mama habis ketemu teman lama tadi." Nisa membukakan pintu gerbang.
"Oh iya, Ara kau datang sendiri?" Nisa bertanya setelah berada di dalam rumah.
"Em ..., Iya Ma. Kangen sama mama dan kebetulan aku lewat jadi mampir aja. Ara nanti juga pulang." jawab Aralia, meletakkan tas diatas sofa.
"Mama nggak masak, Ra. Pembantu juga minta libur,"
"Aku tidak lapar, Ma. Ara naik dulu ya."
"Tidak terjadi apa-apa kan, Ra?" Nisa menatap Aralia sedikit curiga.
"Maksud Mama?" Aralia balik nanya dengan bingung.
"Ah ...tidak apa-apa, sayang. Bianca kabarnya bagaimana?"
"Sehat, Ma. Aku ke kamar dulu ya."
"Iya sayang."
Nisa terlihat memikirkan sesuatu, melihat Aralia datang dengan raut malas membuatnya bertanya -tanya dalam hati.
"Ada apa?" Nisa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Varga.
"Halo, Ma ...," Varga menjawab dari seberang. Ia kini bersiap pulang kerja.
"Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Baik Mama. Maaf ma belum sempat berkunjung."
"Tidak apa-apa, besok kan libur, Ga. Ngimana kalau kalian datang?"
"Boleh, nanti aku beritahu Ara."
"Ga, Semua baik-baikkan?" tanya Nisa berhati-hati.
__ADS_1
"Baik ma,"
"Aralia ada di rumah mama sekarang," ujar Nisa. Varga yang mendengar itu terdiam dengan raut bingung.
"Mmm ada urusan apa, Ma?"
"Entahlah, makanya mama nelpon kamu, soalnya Ara terlihat murung."
"Aku akan kesana nanti, Ma."
"Benar kau datang saja, jangan lupa bawa Bianca ya."
"Iya, Ma."
"Baiklah aku tutup ya."
Telpon terputus, Varga menghela napas menatap keluar kantornya lewat dinding kaca.
Kenapa Ara kesana tanpa izin? Benaknya, meraih jas yang tergantung di belakang kursinya dan mengambil langkah pulang.
"Kok mendadak sih, Ga? Istrimu kenapa langsung kesana?" Tanya Ele membantu Varga merapikan perlengkapan Bianca.
"Nggak apa-apa, Ma. Lagian kita sudah lama tidak kesana."
"Tapi Aralia kenapa langsung kesana? Kan kalian bisa pergi bersama." Ele memasukkan susu ke dalam tas milik Bianca.
"Tadi Ara kebetulan lewat dari sana, jadi ia mampir trus Mama mertua nelpon suruh Varga kesana mumpung besok libur,"
"Astaga mama ..., tidak sama sekali."
"Ya sudah hati-hati,"
"Iya mama," ujar Varga mencium pipi Ele, lalu mengambil Bianca dan suster membantu membawakan perlengkapan Bianca menuju mobil. Ele ikut mengantar sampai mobil putranya itu menghilang dari pandangannya.
Malam sudah tiba, Nisa memasak menyambut kedatangan cucu dan menantunya yang sedang dalam perjalanan. Sementara Aralia tertidur.
Bel rumah berbunyi, Nisa segera berlari kecil membukakan pintu dan ...
"Selamat datang cucuku sayang, Bianca lucu gemuknya ...." Nisa langsung mengambil Bianca dari tangan susternya lalu menyuruh mereka masuk.
"Mama sudah masakin makanan kesukaan menantuku. Suster kamu juga makan ya. Kalian makan dulu aku mau main sama cucuku dulu." ujar Nisa, menggoda-goda Bianca hingga bayi menggemaskan itu tertawa.
"Mama, Ara dimana?" Varga mencari keberadaan istrinya itu di ruang itu.
"Tidur ..., Kalian makanlah, mama akan bangunkan."
Saat Nisa menaiki anak tangga, suara pintu kamar Aralia terdengar terbuka, Aralia masih mengenakan pakaian yang sama dan dengam mata sembab juga rambut acak-acakan.
Aralia kanget begitu melihat Nisa menghampiri dengan menggedong Bianca.
__ADS_1
"Mama , Bianca kenapa ada disini?"
"Mama nelpon Varga biar datang mumpung besok libur. Mama kan kangen juga sama Bianca bukan cuma sama kamu."
"Tapi kan aku cuma sebentar, Ma."
"Sebentar apanya? Kamu bahkan sudah tidur lebih dari tiga jam." Nisa berdecak melihat penampilan Aralia yang sedikit berantakan.
"Makan sana, sudah mama masakin. Ada udang saus mentega kesukaanmu."
Aralia mencium Bianca, lalu menuruni anak tangga menghampiri Varga yang tengah makan dengan susternya.
"Kak Varga kenapa kesini?" Aralia duduk di kursinya. Varga menatap istrinya penasaran.
"Ra, kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Varga, melihat mata Aralia sembab membuatnya gelisah.
"Tidak apa-apa," gumamnya, menyendok makanan kepiring dan hanya menatapnya. Selera makanya hilang teringat akan Reven yang belum juga memberi kabar.
"Makan Ra." Varga berujar melihat Aralia melamun.
"Ck, iya ...." Aralia menekan -nekan kedua sendok di tanganya pada nasinya tanpa berniat mencicipnya.
"Makanlah jangan menyebalkan, ini rumah mama dan jaga sikapmu," ujar Varga mengingatkan istrinya yang selalu terlihat angkuh itu.
"Brisik ah ...." guman Aralia, mengangkat gelas minumnya lalu meneguk minuman itu sementara Varga hanya menggeleng melihat istrinya.
______________________________________________
Reven.
Pria berusia dua puluh tahun itu, menatap photo Aralia yang ia jadikan walpaper di ponselnya. ia terlihat bodoh dan juga merasa tertipu oleh Aralia yang sudah tiga bulan ini menjadi kekasihnya. Ia menghela napas panjang membaringkan diri di ranjang miliknya.
Menyedihkan ...
Saat ini hatinya kesal dan kecewa cinta yang ia jalani ternyata di awali dari kebohongan.
Reven menutup matanya berlahan, dan sialnya bayang-bayang Aralia yang tersenyum ceria mengisi wajahnya. Reven mengusap wajahnya kesal. Aralia berhasil membuatnya frustasi.
Arrggghhh ...
Revan mencoba menghilangkan bayangan Aralia tapi semakin ia coba bayangan Aralia semakinpula merajai ingatanya.
setelah meninggalkan Aralia di taman, panggilan telpon dari gadis itu sudah berulang kali ia abaikan. Reven berharap ia bisa melupakan Aralia dan melupakan kalau ia pernah mengenal gadis itu.
Reven tak sanggup, selama ini dialah yang agresif menghubungi pacarnya itu dan dialah yang memulai hubungan itu.
Ah ada denganku?Masih banyak perempuan di dunia ini? Hahaha apa aku benar-benar mencintainya? Itu tidak mungkin.
Reven meraih jaketnya dari sandaran kursi dan berjalan sembari mengenakannya. Ia menghubungi temannya dan berniat menghabiskan malam ini di luar sana, apupun itu yang bisa membuantya melupakan Aralia.
__ADS_1
Reven mengeluarkan motor dari garasi, mengenakan helem dan segera memacu motor itu keluar rumah. Tujuan pria itu hanya satu yaitu Bar. Mungkin gerlapnya lampu dan musik-musik yang memekakan telinga juga di temani minuman yang memabukkan akan membuatnya melupakan Aralia.