
Aralia uring-uringan menunggu Varga yang belum juga pulang, sementara waktu sudah diangka enam sore. Tidak biasanya. Aralia resah.
"Jangan-jangan nemui Cayrol lagi." Aralia melipat tangan di dada, cemberut.
Suara klaksson mobil terdengar, Aralia berlari menuruni anak tangga, "Bibi, biarin aku aja." Sahut Aralia saat melihat pelayan rumah mau membukakan pintu. Pelayan itu menurut dan kembali masuk ke kamarnya.
Aralia membuka pintu, melihat Varga keluar dari mobil dengan pakaian kusut. Simpul dasinya berantakan sementara blusnya tidak lagi tertanam di dalam celananya. Rautnya lelah dengan mata sayu seperti ingin tidur.
"Kakak ...." sapa Aralia dengan senyum manis yang bisa memberi semangat dan energi bagi siapapun yang melihatnya.
Sederet gigi putihnya berkilau, tapi bukannya senang Varga malah bergidik ngeri melihatnya. Bagaimana tidak? Selama menjadi istrinya Aralia tidak pernah menunggunya apalagi membuka pintu. Belum lagi kejadian hari ini membuatnya pusing.
"Kok lama sih kak? Ara sudah nungguin loh dari tadi ampe bosan." ujar Aralia membukakan pintu lebar memberi Varga jalan masuk. Lalu Aralia menutupnya kembali.
Varga menekuk wajahnya, mengabaikan Aralia.
Bosan? Siapa juga yang minta di tungguin.
"Kak, mau makan apa?" Aralia menarik bagian bawa kameja Varga. membuat pria itu terperanjat.
"Eh?" Waduh pasti ada yang salah nih otak Ara. Varga menatapnya malas
"Aku siapin ya ...,"
"Nggak Ra, aku sudah makan di luar tadi." Tolak Varga.
"Kok makan di luar sih...?" Aralia cemberut.
"Daripada kamu sok perhatian, sok manis mendingan ikut aku ke kamar. Aku ingin menghajarmu!"
Aralia terkekeh dan itu membuat Varga menatapnya semakin aneh. Varga menempelkan telapak tangannya di dahi Aralia.
"Nggak sakit kan? Malaikat mana yang berbaik hati masuk ke jiwa kamu." Varga heran, suasana hati aralia cepat berubah dalam waktu dekat.
"Iiih ...kakak!" protes Aralia, suaranya manja.
"Aih ya ampun, tck." Varga berjalan, matanya sempat melirik ruang keluarga. Semenjak hari itu ruangan itu berubah dingin. Ele dan suaminya lebih memilih minun teh bersantai di dalam kamarnya. Sementara Varga dan Aralia sibuk sendiri-sendiri.
Aralia bisa menangkap samar kesedihan Varga.
Varga menghela berat, berjalan menaiki anak tangga, begitu juga dengan Aralia mengekor dengan tingkah jahilnya, menarik kemeja Varga dan hampir saja membuat pria itu terjatuh kebelakang.
"Ara, jangan iseng." ujar Varga menoleh kebelakang, Aralia nyengir. Varga lelah ribut.
"Lepaslah Ra ...." kata Varga putus asa.
"Nggak mau, jalan aja terus."
Varga memejamkan mata, ini perempuan kenapa sih? Pikirnya menaiki anak tangga dengan langkah berat karena harus menarik Aralia yang menempel dibelakangnya.
"Ayo kak cepat!" Aralia tersenyum, ia seperti mahkluk kasat mata yang menempel pada Varga. Membuat beban di pundak pria itu.
"Ra, kamu nggak kenapa-napa kan? Kepalamu nggak kebentur kan? Kalau iya kita rumah sakit, ya." Varga terus melangkah hingga pada anak tangga terakhir, tingkah Aralia sangat menganggunya.
Aralia terdiam, ada seutas senyum jahil diwajahnya. "Nggak apa-apa kak, cuma malas aja naikin tangganya. Kebanyakan." ujarnya, berlari kecil mendahului Varga lalu membuka pintu kamar.
Aralia menarik tiba-tiba dasi Varga membuat pria itu menunduk sembari mengikuti langkah istrinya yang menurutnya sedang tahap proses gila.
"Aduh apa-apaan sih, Ara." Protes Varga, mereka kini di dekat ranjang. Aralia melepaskan tangannya. Mendongak melihat raut Varga yang memerah berusaha tenang.
Perempuan keras kepala itu naik keatas ranjang, berjongkok disana, "Yeobo ...," Panggilnya manja, meraih kedua lengan Varga, membuat pria itu menatapnya.
Heran? Tentu saja bahkan Varga bergidik ngeri melihatnya.
"Kau bilang apa?" tanya Varga wajahnya kusut.
Aralia tersenyum, mensejajarkan tingginya dengan Varga yang tengah berdiri di tepi ranjang.
"Yeobo," kata Aralia mengulangi ucapannya, menarik dasi Varga memaksa pria itu tetap melihatnya. Lalu tangan Aralia melepaskan dasi yang melingkar di leher Varga. Perlakukaan manis yang dadakan itu membuat Varga mengeryit.
Varga menatap Aralia masuk kedalam matanya dan saat itu juga Aralia menatapnya. Tatapan mereka bertemu tapi hanya hitungan detik. Sebelum akhirnya Varga berdehem, memalingkan wajah. Tatapan Aralia membuatnya gugup.
"Mandi ya kak." ujar Aralia, meletakkan dasi itu di atas kasur.
"Mmm, kamu aneh," ujar Varga, saat di depan pintu kamar mandi ia menolehkan kepalanya lalu bertaya " apa itu Yebo (Yeobo)?" Varga penasaran, jangan -jangan istrinya itu memanggilnya dengan sebutan jahat atau semacam kata kotor.
__ADS_1
Aralia terkekeh, kemudian mengedikkan bahu.
Yebo ( yeobo) ? Aneh! apa dia lagi masih waras? Astaga bikin merinding aja. Batin Varga, masuk kedalam kamar mandi.
Di kamar Aralia, ada empat lemari berjejer, satu miliknya dan satu milik Rena mendiang kakaknya yang belum pernah ia sentuh, mengingat Varga sudah memberi larangan di hari pertama Aralia masuk kedalam kamar itu. Dan selama ini Aralia tidak tertarik untuk mengetahui isi lemari milik Rena.
Sementara lemari yang lain adalah milik Varga. Aralia membuka lemari yang memiliki tiga pintu dan isinya hanya pakaian formal yang biasa di pakai kerja. Aralia mengeryitkan kening menatap pakaian yang tergantung rapi, bingung dimana pakaian santainya.
"Cari apa, Ra?" Tiba -tiba Varga sudah berdiri di sampingnya membuka pintu lemari yang berada di tengah diantara lemari itu.
Pria itu hanya menggunakan handuk melilit setengah tubuhnya ke bawah. Aralia tidak lagi kaget atau mendramatisi seperti dulu-dulu. Aralia melirik lewat ekor matanya
"Pakaian kak Varga," ujarnya merona.
Varga tersenyum, mengeluarkan setelan piyama bewarna putih garis hitam berikut dalamanya yang tertata rapi pada laci lemari itu.
Aralia menggigit giginya, Bodoh, kenapa juga aku membuka lemari sialan ini. Batin Aralia menggaruk kepala.
Ra ..., Ara, satu tahun menikah kau belum pernah menyentuh lemari itu jadi bagaimana kau bisa tahu pakaianku berada di mana. batinya. Varga tersenyum geli, kembali ke kamar mandi.
Aralia duduk ditepian ranjang setelah menutup kembali lemari itu. Ia jadi malu apalagi saat Varga meliriknya dengan senyum mengejek.
"Ra, kakak mau bicara, disana ...," ujar Varga memberi arah lewat tatapannya begitu kembali dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
Aralia mengikuti langkah Varga dari belakang, sambil mengedus aroma menakjubkan yang berasal dari tubuh Varga. Seperti wangi minyak kulit jeruk, sereh juga lavender. Sangat mengugah selera dan membangkitkan aura semangat.
"Pakai sabun apa sih kak, kok aromanya enak bangat?" Varga tiba-tiba berbalik hingga menabrak Aralia. Tatapan Varga terlihat ambigu padanya.
"Kenapa?" tanya Varga, melihat Aralia meringis kemudian nyengir. "Duduklah!" Aralia duduk di sofa, Varga meletakkan ponsel di atas meja, lalu menyerahkan sebuah kertas tipis padanya.
"Apa ini?" Dahi Aralia berkerut, kemudian membacanya. Lalu seketika membawanya ke wujud aslinya.
"Nota ponsel? Kak! Jadi kakak gantiin ponsel Cayrol?" Protes Aralia penuh kekesalan.
Varga menyeringai, " kau merusaknya," ucap Varga santai, melihat Aralia marah begitu membuatnya tenang. Aralia masih orang yang sama.
"Tapi nggak harus di ganti kan kak? Uuh ...," Aralia melipat tangan di atas dadanya.
Varga menarik napas berlahan menghembuskannya. " Ara, kau merusak ponsel Cayrol." tegas Varga.
Aralia berdecak, wajahnya kesal dan juga tampak sedih.
"Aku harus menyelesaikan segala masalah yang kau buat Ara. Tapi kenapa kamu nggak sadar-sadar juga sih?" tanya Varga memijit batang hidungnya.
"Kak ..., masalah apa? Cayro itu ...sangat menyebalkan."
"Kau merusak ponselnya karena Cayrol memata-mataimu?"
"alasanya bukan cuma itu, tapi dibalik itu juga masih ada kak. Dia itu ...,"
"Kau hanya cari alasan saja."
"Kakak membelanya? Dia dah buat kita berantam,"
"Meski bukan karena Cayrol, memang kita sudah ribut dari dulu kan Ra?"
Aralia menghela napas berat, meski menjawab terus ternyata tidak membuat Aralia menjadi sosok tegar, air matanya sudah terjatuh.
"Kenapa kau nangis?" tanya Varga bingung.
"Aku benci Cayrol, aku juga benci kakak," katanya mengusap hidungnya hingga merah. Varga memejamkan mata. Apalagi ini ya Tuhan.
"Aku kesal, Cay bilang ia ingin mengambil kakak dariku, hiks ...." Aralia menangis. Varga berdecak
"Apa benar kalian berkencan?" tanya Aralia lagi mengusap hidungnya yang memerah.
"Siapa yang bilang?"
"Cayrol!"
Varga menghele napas panjang, "Ra, kakak memang jalan sama Cayrol ---,"
"Kakak juga menciumnya?"
"Eh?" Varga terkesiap mendengar pertanyaan Aralia. Astaga Cayrol ...pantas saja ponsel itu hancur.
__ADS_1
"Kakak nonton bioskop, makan makanan kesukaan Cayrol dan terakhir ciuman, trus apa namanya kalau bukan kencan." Aralia mengusap matanya dengan punggung tangannya. "Itu sama saja selingkuh ..., " sambungnya sambil sesegukan.
Varga mengambil tangan Aralia dan dengan cepat di tarik balik Aralia. Varga menangkup dagu Aralia membawanya melihat padanya.
"Dengar, kau ingat waktu kamu sakit? Ransel sama ponsel kamu ketinggalan. Kakak meminta Cayrol mengantarnya ke gerbang kampus. Lalu kakak bilang akan mentraktirnya sebagai ucapan terima kasih." Varga mengusap bekas air mata Aralia yang ada di pipi dengan jari telunjuknya. Hati pria itu luluh setelah seharian kesal.
"Cayrol bilang ditraktirnya nonton aja. Ya mau nggak mau kakak turutin. Terus masalah makan makanan kesukaannya ...." Varga jadi terkekeh, amat rumit menghadapi remaja labil yang emosinya meledak-ledak.
"Kenapa kakak tertawa?" Varga mengelengkan kepala.
"Kau tahu kan? Kakak nggak suka makan makanan jepang? Cayrol bawa kakak makan kesana ya sudah aku ikut aja dan mencicipi." Jelas Varga.
"Lalu ciuman itu terjadi dimana? dalam bioskop?" Tanya Aralia melipat bibirnya kedalam.
"Nggak ada ciuman sayang ....,sama sekali nggak ada. Cayrol mungkin hanya berimajinasi saja."
"Kakak bilang apa tadi?" Aralia tersenyum, bertanya.
"Nggak ada ciuman,"
"Terus ...?"
"Apa sih, Ra. Kakak bilang nggak ada ciuman ..." Varga melihat Aralia mengeja di mulutnya tanpa suara. Sa ya ng!
"Sa ya ng ...," Kata Varga mengikuti gerakan mulut Aralia.
"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan itu." kata Aralia, tersenyum malu-malu sementara Varga mengerutkan dahi bingung.
"Uang jajan kamu di potong sebesar delapan juta ya."
"Nggak mau, siapa suruh kakak ganti ponsel Cayrol. Itukan salah dia sendiri." Protes Aralia membelakangi Varga.
Varga mengelengkan kepala, mengingat bagaimana Cayrol menangis padanya dan menunjukkan ponsel hancur miliknya karena dibanting Aralia. Varga berimpati tapi setelah mendengar penjelasan Aralia membuatnya paham alasan kemarahan Aralia.
Varga berdehem, " ya sudah, nggak apa-apa tapi lain kali kalau marah tolong kontrol emosi ya, Ra." Varga menyetu bahu Aralia lalu mengusap kepala istrinya itu lembut.
"Hari ini ponsel kamu banting besok bisa jadi orangnya. Kau itu kecil tapi sangat keras kepala." tambahnya memutar tubuh Aralia menghadapnya lalu menusuk lesung pipi Aralia dengan jarinya.
"Kau dapat dari mana ini?" tanya Varga menatap lesung pipi itu.
"Dari lahir," kata Aralia, " cantik nggak?"
Varga mengangguk, "Cantik dan manis." Gumam Varga membuat rona memenuhi wajah Aralia, senyumnya juga terbit sangat indah. Varga tidak melewatkan momen indah itu. Varga menatapnya terpesona. Menyadari ditatap lama oleh Varga, Aralia menunduk.
"Ara mau tidur kak." Lirih Aralia, bangun dari duduknya dan berjalan pada tempat tidurnya.
Varga mengikuti, ia juga berniat tidur. Hari ini sangat lelah, tapi meskipun begitu terbayar walau sedikit. Melihat Aralia bersikap baik membuat hatinya tenang meski masih terasa aneh.
Varga mengunci pintu, mengambil bantal dari tempat tidur dan hendak kembali ke sofa. Aralia yang masih duduk di tepi ranjang berujar. "kakak nggak lelah tidur di sofa?" tanya Aralia mendongak pada Varga.
Varga menggeleng, "sebelas bulan, dan sudah terbiasa." katanya
"Ara mau kok berbagi tempat tidur sama kakak." katanya malu-malu, menggigit bibir bawahnya sambil memainkan ujung-ujung rambutnya menatap penuh harap.
"Hah?" Benar-benar aneh. Varga terkejut mendengarnya. Meski sikapnya mendadak berubah tapi untuk masalah tidur Varga bahkan tidak memimpikannya.
"Tempat tidur ini terlalu luas buat satu orang." kata Aralia berdiri dari duduknya.
"Kau nyakin, Ra?" tanya Varga memastikan. Ini sangat mengejutkan baginya.
"Mmm," gumam Aralia, "kakak disini aku di sebelah sana." katanya lagi memberi arahan. Varga menurut saja, ia mengangkat kakinya lalu berbaring. Begitu juga dengan Aralia. Ragu-ragu Varga meletakkan guling sebagai pembatas mereka tapi dengan cepat di singkirkan Aralia.
"Sempit!" katanya melempar guling itu ke lantai, lalu pelan mendekat pada Varga. Pria itu terpejam, berlahan memiringkan tubuhnya mengbelakangi Aralia.
"Kak ...," Desis Aralia, nadanya terdengan mendayu, membuat jantung Varga bergumuruh.
"Mmm ..."
"Selamat malam," Varga melebarkan matanya. terlalu terkejut hingga membuat dadanya makin sempit. Mengeryitkan kening. Untuk pertama kali ucapan itu keluar dari mulut istrinya itu setelah ribuan malam mereka lewati di kamar itu.
Varga menelan salivanya, setelah beberapa menit merasakan Aralia tidak bergerak. Varga berlahan bergerak miring ke arah Aralia yang sudah tertidur. Ditatapnya wajah polos Aralia, helai rambutnya yang indah menutup sebagian wajahnya. Varga menaikkan pundaknya, menatap lekat Aralia.
Apa yang salah hari ini? Batinya, menaikkan selimut pada tubu Aralia lalu Varga kembali memejamkan mata berharap dunia mimpi segera menjemputnya.
catatan : Yeobo : Sayang. panggilan sayang untuk suami.(korea)
__ADS_1