IPAR

IPAR
Menikah


__ADS_3

Varga melepaska pelukannya saat mendapati tatapan sinis dan ketidak sukaan Aralia dengan tindakan spontannya.


Aralia mencium Bianca lalu menyerahkannya pada Varga, suasana hatinya berubah gaduh. Tanpa sepenggal kata, Aralia keluar dari ruangan itu.


"Ara ...," Panggil Varga, hendak mengejarnya namun Nisa melarangnya dengan isyarat gelengan kepala.


"Biar aku yang bicara dengannya." ujar Nisa menepuk bahu Varga.


Nisa menghampiri Aralia yang tengah duduk di bangku lorong rumah sakit. Mimiknya terlihat sangat kesal.


"Ara ..., kau disini, Nak?" suara lembut menghampirinya, Nisa dengan senyum keibuannya duduk disamping putrinya itu. Aralia menunduk diam tak menjawab.


"Kau tahu nak? Ini aneh bukan? Kau dan Bianca seperti punya ikatan kuat."


"Itu wajar dia keponakanku."


"Awalnya mama merasa itu memang wajar tapi ketika keponakan kecilmu itu memilih sembuh dalam tanganmu, mengabaikan obat dan juga pelukan papahnya aku tidak bisa menganggap hal itu sebuah kebetulan atau hal wajar, Ara. Itu ikatan batin, yang sangat kuat dan dengan alami tercipta antara kamu dan dia."


"Jadi maksud, Mama?"


"Ara, menikahlah dengan —,"


"Mama! aku tidak mau!"


Nisa berdiri lalu bersimpuh di bawah kaki Aralia. Gadis itu sontak kaget. Sungguh ini tidak masuk akal baginya. Bagaimana bisa Nisa melakukan itu padanya. Aralia berdiri dan menyingkir.


"Mama!" Gertak Aralia, mendudukkan diri di hadapan Nisa lalu memeluk wanita yang lagi memohon itu.


"Mama mohon lakukan ini untuk mama, Ara. Demi mama sayang." ucap Nisa dengan air mata berurai.


Aralia mengangguk memeluk erat ibunya dengan penuh air mata.


Nisa memeluk Aralia erat, sesekali mata orang yang ada disana tertuju pada mereka tentu dengan pertanya di pikiran masing-masing.


______________________________________________


Di dalam cafe Aralia duduk dengan segelas kopi panas, ia sedang duduk menunggu Kedatangan seseorang.


"Maaf sudah membuatmu menunggu." Varga yang ditunggu Aralia tiba. Ia menyapa, menarik kursi lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Sementara Aralia hanya terdiam menatap pria itu dengan dingin.


"Kau mau makan?" Varga bertanya saat melihat lembar menu makanan yang ada di atas meja. Ara menggeleng tidak berselera.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Tanya Varga. Sebenarnya ia penasaran perihal apa yang ingin Aralia utarakan padanya setelah gadis ini menghilang dari rumah sakit di hari sebelumnya.


"Mari kita menikah."

__ADS_1


"Eh?"


"Seperti yang diminta kak Rena, mari kita menikah."


Varga terkejut. Bagaimana tidak gadis yang ada di hadapannya ini meminta menikah setelah menolak dan memperlakukannya seperti musuh dan ... ah lihatlah bahkan wajah gadis ini tak ada lembut-lembutnya saat mengatakan keinginanya. Tatapanya sinis dan kepalanya terangkat penuh keangkuhan.


"Lupakan saja, aku sudah tidak—,"


"Tentu dengan satu syarat, Kak." ujar Aralia memotong ucapan Varga. Sekarang reaksinya terkesan memaksakan. Gadis itu mengangkat gelas kopinya, menghirup aromanya lalu mencicipnya.


"apa?"


"Mari kita menjadi pasangan suami istri di depan keluarga tapi di luar sana tidak ada yang boleh tahu kalau kita suami istri."


hening


"Bagaimana kau setuju?"


Varga menarik napas, namun mengingat bagaimana Bianca bisa pulang dari rumah sakit Varga memilih setuju. Ia mengangguk setelah terlihat memikirkan sesuatu dan menganmbil keputusan.


"Baiklah, aku setuju," ucap Varga.


Aralia tersenyum simpul, menatap pria yang tak lama lagi akan menjadi suaminya ini. Menyerahkan selembar kertas yang sebelumnya sudah ia siapkan.


"Satu lagi yang kakak harus ingat dan itu poin utama." katanya mengingatkan.


"kalau setuju silakan tanda tangan." sambungnya lagi.


Varga membaca yang mana isi dari perjanjian itu memang hanya ada poin itu.


"hanya ini?" tanya Varga bingung.


"Aku rasa begitu." jawab Aralia nyakin. Varga mengeryit dan sedikit melirik ke arah adik iparnya itu lalu mengoreskan bagian tanda tangannya. Tanda kesepakatan mereka terjalin. Varga menyerahkan lembar kertas tipis yang bagi Aralia sangat berharga dilihat bagaimana cara gadis itu memperlakukan lembar tipis yang berisi kata ancaman bukan seperti perjanjian yang sering ia tanda tangani di tempatnya bekerja.


"Baiklah, kita sepakat dan sampaikan kabar mengejutkan ini pada kelurga, mereka pasti bahagia." Ucap Aralia bangun dari duduk dan meninggalkan Varga disana. Nadanya meledek. Varga terdiam ucapan Aralia terdengar meledek baginya.


Kampus


"Kau nyakin akan menikah?" Ilir bertanya setelah mendengar cerita Aralia sebelumnya.


Aralia mengangguk, menatap ke tiga temannya itu.


"Uh ..., Hilang satu kandidat pasanganku." Keluh Cayrol yang langsung dapat jitakan dari Lea. Cayrol mencibir.


"Tapi jangan khawatir, Ra. Banyak kok pasangan menikah tanpa cinta." ujar Lea mencoba menghibur.

__ADS_1


"Itu di filim dan novel, dimana takdir mereka dituliskan oleh penulisnya,"


"Anggap saja kau salah satu dari mereka, kau punya pasangan tampan dan mapan apalagi yang kurang?" Cayrol berkata sambil memainkan ponselnya.


"Apa? Salah satu dari mereka?" Aralia terkekeh dingin, bagaimana ia bisa menyamakan dirinya dengan sebuah cerita fiksi yang endingnya bisa di tebak. Bahagia.


Sementara dia? Cerita tentangnya entah bagamana nantinya.


"Seperti gadis Novel yang nasibnya di tuliskan oleh penulisnya, Sama halnya dengan Tuhan menuliskan takdirmu. Siapa yang dapat mengubahnya, bahkan kau sudah menolaknya." kata Ilir, menepuk bahu Aralia.


Aralia terdiam, ia menatap ke tiga temannya itu bergantian. ada benarnya juga ucapan Ilir.


"Jalanin aja, kami doain kau bahagia, Ra." ujar Lea dengan serius.


"Menikah jangan diam-diam kayak makan sagu. Undang kita juga." Sahut Cayrol gemes.


______________________________________________


Nisa membukakan pintu rumah saat Aralia menekan bel rumah. Begitu sampai Nisa langsung memeluk putrinya itu dan berkata.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih." Bisik Nisa dengan buliran di sudut matanya.


Aralia bingung, "untuk apa, Ma?" tanya Aralia setelah pelukannya lepas.


"Karena sudah mau menikah dengan Varga, dia sudah cerita sama Mama." kata Nisa mengikuti langkah Aralia masuk ke ruang tamu.


Aralia meletakkan tasnya di atas sofa, mendudukan diri lalu menatap ibunya yang terlihat bahagia.


"Jadi kapan, kita melaksananya, Ra?" Tanya Nisa duduk di samping Aralia.


"Terserah mama, aku setuju aja."jawab Aralia menipiskan bibirnya.


Bumi masih sejuk, langit terlihat terang. Hari yang baik menurut tanggal yang sudah di tentukan. Kini pernikahan Aralia tengah berlangsung.


Aralia menatap bayangannya di dalam cermin, nafasnya sesak bersamaan dengan debaran jantungnya yang tak teratur.


"Ara ..., kau sudah siap sayang?" tanya Nisa memasuki kamar gedung itu. Nisa menatapnya lama takjub dengan penampilan cantik Aralia.


"Kau sangat cantik sayang," puji Nisa mendekati putrinya, air matanya menitik melihat Aralia yang sudah berbalut gaun pengantin. Rasanya campur aduk, seperti yang dirasakan kebayakan orang tua saat mereka mengantarkan putri mereka ke pernikahan.


Aralia mencoba tersenyum, sedikit terpaksa namun tak mengubah kecantikannya.


Acara akan di mulai, Aralia keluar dari kamar dan di sambut Varga di depan pintu. Varga membuka matanya lebar melihat Aralia yang terlihat anggun, cantik juga dewasa. Jantung Varga bergemuruh ada sesuatu yang terjadi pada dirinya saat melihat gadis di hadapannya itu.


Varga menyerahkan bunga tangan pada gadis itu, mengulurkan tangan dan menggadeng Aralia ke depan Altar.

__ADS_1


Janji suci mereka ikat di sana, di depan pendeta, keluarga dan para tamu. Mereka berjanji akan menjalani hidup bersama-sama dalam suka cita, duka cita hingga maut memisahkan keduanya.


Varga melingkarkan cincin di jari manis Aralia dan begitu juga sebaliknya di sesi akhir sebagai sahnya mereka menjadi pasangan dari dua menjadi satu. Varga mencium lembut kening Aralia.


__ADS_2