
Reven uring-uringan di dalam kamarnya, dari kemarin tidak ada kabar Aralia. Berulang kali melihat ponsel berharap ada pesan atau Aralia menelponnya.
"Ah yang benar saja," katanya meraih jaket dari sandaran kursi, lalu menyampirkan ranselnya hendak berangkat kuliah.
Resiko jadi orang ketiga.
"Berangkat ya, Nek." Reven mencium pipi wanita yang tengah membaca majalah di kursi rodanya. Wanita itu mengangguk menurunkan kaca mata yang membingkai netranya.
"Reven, kapan kamu bawa gadis itu pulang?" Tanya Nenek Reven, sebelum ia melangkah pergi.
"Entahlah ..., tapi yang pasti aku akan membawanya, Nek." ujar Reven menyamakan tinggi, mengambil tangan wanita itu lalu menciumnya.
Wanita yang kini berusia enam puluh tahun itu, mengelus kepala Reven lembut. Setelah kehilangan putra dan cucunya pada masa silam pria inilah satu-satunya yang menjadi keluarganya. Harapan satu-satunya dalam hidupnya adalah melihat Reven bahagia.
"Baiklah, satu lagi jangan main-main pada kuliahmu kau harus jadi orang sukses supaya bisa membahagiakan orang yang kau cintai," wanita itu memberi nasihat. Reven mengangguk nyakin.
"Ya sudah nek, Reven berangkat ya."ujar Reven, berdiri lalu meninggalkan rumah.
Hal pertama yang di lakukan Reven sesampai di kampus adalah mengunjungi kelas Aralia.
Reven melihat Cayrol dan kedua temannya sedang bersanda gurau dalam ruangan, Reven menghampiri menghentikan tawa ke tiga gadis itu. Mencari sosok Aralia disana, dan detik itu juga dia merasa kecewa karena tidak menemukan kekasihnya.
"Hai ..., aku teman Aralia, namaku Reven mungkin kalian pernah mendengarnya dari Ara," ujarnya pada ketiga teman Aralia.
"Oh, jadi kau yang bernama Reven ...?" Cayrol menyahut, ganteng juga ..., ah tidak! Tetap aja suaminya Ara yang paling tampan. Batin Cayrol mengelengkan kepalanya.
"Kenapa kau kesini?" Ilir bertanya menaikkan kedua alisnya.
"A-aku ingin ketemu Ara, dia di mana ya?" Tanya Reven begitu tidak melihat Aralia di sana. Reven menggaruk tengkuknya sendiri.
"Coba aja telpon." usul Lea melirik pada Ilir.
"Iya aku sudah coba hubungi tapi—,"
"Aralia sakit, dari kemarin." sahut Cayrol. Lea dan Ilir menatap Cayrol tidak suka dengan ke jujuran temannya itu.
"Apa? Ara memang sakit, kan?" Melihat tatapan membunuh dari kedua temannya Cayrol mencoba membela diri.
Ilir dan Lea berdecak. Mereka tak sepaham dengan Cayrol yang bermaksud menjaga kebaikan Aralia, teman mereka.
Astaga jadi Ara sakit? Tapi kenapa dia tidak memberi kabar. Apa sakitnya parah? Benak Reven.
"Kalau boleh tahu, Ara sakit apa ya?" tanya Reven, pada Cayrol.
Cayrol mengendikkan bahu, "aku tidak tahu, kemarin suaminya yang jemput tas Ara dan Ara juga sakitnya tiba-tiba kok." ujar Cayrol.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih ya. Aku balik dulu." Reven berbalik meninggalkan kelas.
"Tunggu!" Cayrol menghentikan langkah Reven, membuat pria itu menolehkan kepala.
"Ara sudah punya suami, kau tahu itu?" tanya Cayrol, Ilir dan Lea saling pandang merasa bingung sama temannya yang satu ini.
Reven mengangguk, setelah menimbang perkataan Cayrol. "iya, aku tahu."jawabnya.
"Kau pria aneh." gumam Cayrol dan di senyumin Reven.
Reven berjalan di koridor kelas, dilema dan tidak tahu harus apa. Ia ingat ucapan Aralia saat mereka memutuskan menjalin hubungan setelah Reven mengetahui statusnya.
Kalau aku di rumah jangan telpon, cukup kirim pesan saja. Aku akan membalasnya dan kalau aku nggak ada kabar kau tidak perlu menelpon itu artinya aku punya urusan dan tidak bisa bicara denganmu. Begitu kesepakatan mereka saat itu.
"Tapi ini sudah jam sepuluh, apa dia sama sekali nggak bisa kasih kabar? Kamu sakit apa Ara ...?" Reven berbicara sendiri, mengepal ponselnya.
"Bagaimana kalau aku telpon saja? Iya ... suaminya mungkin sedang kerja." Reven mencari nomer Aralia di ponselnya dan berniat menelpon.
Tidak mungkin suaminya kerja, kalau bener kerja Ara pasti sudah memberi kabar. Ahrrr ... yang benar saja! Apa aku bilang? Berpisah jalan satu-satunya untuk kita bersama Ara! Reven mengenggam kembali ponselnya, berusaha menenangkan dirinya yang sedang kesal.
____________________________________________
"Sudah pulang, Ga?" Ele membukakan pintu untuk putranya yang baru saja tiba.
"Iya ma, kerjaan cepat beres jadi bisa izin kerja dari rumah hari ini. Oh, Bianca mana?" Varga melonggarkan dasinya sambil melangkah masuk.
Varga terkekeh, "iya mama ..."
Varga menuju ruang makan, membuka kulkas dan mengambil buah apel dari sana. Mengupasnya kemudiaan memotong menjadi delapan bagian dan meletakkan di piring kecil. Varga membawanya naik ke atas.
Aralia di kagetkan suara pintu terbuka, sedari tadi ia hanya duduk di atas ranjang sambil membaca komik.
"Hei, Ra sudah bagaimana?" Varga meletakkan piring kecil berisikan buah di atas nakas, lalu memeriksa keadaan Aralia.
Ara berdecak malas, meletakkan komik dan mengulurkan tangannya. "Sini handphone Ara." ucapnya mengabaikan perhatian Varga.
Varga menarik napas panjang. "Aku tanya perasaanmu sudah bagaimana?"
"Tambah pusing, itu karena kak Varga nahan handphone Ara." Sahut Aralia menampilkan raut masam.
"Alasan." Varga berjalan ke arah sofa, meletakkan dua buah ponsel di atas meja. "Makan buahnya, habis itu tidur kakak mau kerja jangan brisik." ujarnya seraya menyalakan laptopnya.
Aralia turun dari tempatnya, menghampiri Varga. Melihat ponselnya di atas meja.
"Ngapain?" tanya Varga, dengan sigap mengambil ponsel itu.
__ADS_1
"Kak balikin aku mau nelpon teman."
"Nggak!"
"Kakak!"
Varga mengangkat tangannya tinggi menjauhkan benda itu dari jangkauan Aralia. Namun, Aralia tidak mau kalah. Ia berusaha meraihnya, mendorong bahu Varga hingga pria itu tertidur.
"Balikin kak." pinta Aralia tidak peduli apa yang terjadi kini ia sudah menindih Varga.
Varga mendongak ke atas dengan tangan masih di atas dan Aralia masih berusaha meraih ponselnya. Aroma tubuh Aralia tercium olehnya, pria itu menurunkan kepala dan tanpa sengaja dada Aralia menyentuh tepat di wajahnya. Varga tersentak, menelan salivanya merasakan harum tubuh Aralia mengalir dalam darahnya. Hasratnya muncul.
Varga menyerah, ia tidak lagi mempertahankan benda itu dan begitu Aralia mendapatkannya Varga berusaha duduk.
"Akhirnya dapat juga." Wajah Aralia berbinar, berhasil mendapatkan kembali ponselnya. Segera ia mengecek dan bernapas lega. Reven tidak menghubunginya.
"Dasar menyebalkan." kesal Aralia melirik pria di sampingnya yang diam menyibukkan diri dengan laptop.
"Kamu sakit benaran apa ngimana sih, Ra? Tidur sana!" Varga menarik kembali ponsel itu,
"Jangan bikin kesal!" Ketus Aralia, mencubit lengan Varga, berusaha mempertahankannya ponselnya.
"Sakit, Ara!" Varga mengaduh.
"Rasain!" Aralia memonyongkan bibirnya, dan itu membuat Varga makin menggila. Lagi-lagi pria itu menelan salivanya, menahan hasratnya yang makin bergejolak.
Aralia bangun dari duduknya,
"Main ponselnya disini aja, Ra." ujar Varga suaranya mulai dalam dan pupil membesar, melihat Aralia hendak ke ranjangnya. Bisa-bisa ia semakin gila melihat gadis itu di atas ranjang.
"Tidak mau." sahut Aralia melanjutkan langkahnya.
Varga berusaha fokus pada layar laptopnya, mengabaikan yang sudah bangun dari dirinya dengan cara bekerja.
Tapi gejolak itu nampaknya susah hilang. Varga menoleh ke ara Aralia yang kini tidur telentang tanpa selimut, tersenyum dan sesekali menggigit bibirnya seraya memainkan ponsel. Tidak menyadari kalau gerakan-gerakan yang tak sengaja ia buat telah membangkitkan hasrat seseorang di kamar itu.
Ah yang benar saja ....
Varga menghampiri Aralia, mengambil ponsel itu dan melemparnya asal. Menekan gadis itu dibawah tubuhnya, mencium bibir Aralia agresif. Memasukkan lidahnya, menusuk dalam hingga menyentuh rongga mulut Aralia. Menggerakkan lidahnya keluar masuk, menggoda pasangannya. Meski awalnya Aralia berontak menolak akhirnya luluh juga. Aralia perlahan memberi akses untuk menyentuhnya. Varga melepas ciumannya dan tersenyum licik. Tatapan mereka yang penuh hasrat itu bertemu dan saling menuntut lebih meski tidak saling berucap.
Varga kembali mecium bibir Aralia dengan lembut, mengisap bibir bawah istrinya itu, memberi gigitan kecil, seksi dan tidak menyakitkan. Aralia mendesah dengan raut menggoda. Kini Varga beralih ke bagian leher, memberi ciuman lembut disana. Membuat Aralia nyaman dan mengalungkan kedua tangannya di punggung Varga, mengusap ke atas dan bawah memberi sensasi yang membakar.
"Aahhh ...," desah Aralia, daun telinganya di isap Varga.
"Ara sayang ...," gumam Varga, kini ia mencium bibir Aralia lebih panas.
__ADS_1
Tok, tok, tok ...
"Ga, mama pamit ya."