
Di lihatnya Varga setengah telanjang, dan berciuman dengan Lisa yang masih mengenakan pakaian lengkap. Wanita itu menikmati bibir suaminya dengan lahapnya. Sembari membuka kancing bajunya sendiri.
Aralia menelan salivanya. Hasrat memenuhi kedua orang itu hingga tidak menyadari keberadaannya.
Aralia terpejam, mungkin inilah yang terjadi. Mungkin suami yang perhatian, lembut dalam tutur kata, jujur dan segala kebaikan yang lain hanyalah topeng. Varga tidak lebih dari seorang pria brengsek. Aralia berbalik, ia tidak ingin menonton sampai selesai adengan itu.
"Ara ...." Aralia tersentak namanya di sebut, ia pikir keberadaanya di ketahui. Aralia mengetatkan rahangnya berbalik melihat ke arah sumber. Benci.
"Bukan, ini Lisa sayang, Lisa yang mencintaimu, Lisa yang sudah menemanimu selama ini. Jangan menyebut istrimu yang tidak berguna itu." Kata Lisa, menciumi bibir Varga posesif.
Aralia menatapnya jijik. Varga berusaha menjauhkan bibirnya dari lumatan Lisa. Melihat Lisa lah yang paling mendominasi dalam adengan itu. Sementara Varga seolah terseok dipaksa melakukannya.
Ara .... desah Varga mengerang. Ia tidak mampu lagi menahan sesuatu dalam dirinya yang membuncah. Di balasnya ciuman Lisa kasar, dan dengan senang hati Lisa menerimanya. Ia membaringkan Varga berlahan. Pakaian si Lisa bodoh itupun sudah melorot mempertontonkan bagian dadanya.
Melihat betapa tidak berdayanya Varga, Aralia menyadari kalau suaminya itu terjebak.
"Lisa .... apa yang kau lakukan?" Nada suara itu kecil namun mampu mengalihkan perhatian Lisa. Wanita itu terkesiap, meraih selimut menutup dadanya yang hanya terikat bra.
"Bagaimana kau masuk ... ?" begitu tanya Lisa, matanya berubah sendu kemudian berlagak polos menangis.
"Aralia ...." Lisa menangis, beranjak dari tempat tidurnya membiarkan Varga tergeletak di tempat tidur. "Pak Varga memintaku membawanya kesini, aku tidak tahu kamar kalian dimana. Tapi lihatlah apa yang dilakukan suami anda ...."
Aralia menipiskan bibir, memory otaknya masih berjalan benar memutar bagaimana Lisa menyebutnya istri tidak berguna.
"Oh ya ... baiklah kita bisa bicarakan itu nanti." Aralia mendekati ranjang dan melihat suaminya itu telentang gusar, seperti orang sakau. Gelisah dan tidak fokus.
"Aralia, suami anda menggodaku, aku sudah menolak tapi dia bilang kalau dirinya sangat kesepian." Cerocos Lisa dan sayangnya Aralia hanya tersenyum simpul.
Aralia menghampiri Varga, membantu pria itu bangun dan duduk. Membantu memakaikan pakaiannya.
Lisa menatap kesal Aralia dari belakang, sembari membenarkan pakaiannya yang kusut.
"Aralia Sialan! Menganggu saja. Darimana dia tahu kamarku? Dasar sampah, tidak sopan masuk tanpa mengetuk pintu." Cemohan ia lontarkan dalam hatinya pada Aralia.
"Ini Araku, Aroma tubuh istriku. Aku bisa menciumnya. Ara aku kesulitan menahannya." Varga memeluk Aralia seketika, dan hampir membuat tubuh mungil Aralia terjatuh menimpanya.
Aralia hanya tersenyum, ia menahan rasa sakit yang paling dalam. Pria nya mendesahkan namanya saat berada di ranjang wanita lain. Apa itu sesuatu yang harus ia banggakan atau hal memalukan? Belum lama ini, Aralia sudah menilai Varga pria brengksek tapi saat melihat keadaan Varga yang berusaha bertahan meski pada akhirnya hampir menyerah membuat hati Aralia tersentuh.
"Iya, ini Ara ... Ayo sini aku bantu pakaikan bajumu." Aralia membantu Varga mengenakan kamejanya.
"Ayo kita ke kamar kita. Ini bukan tempatmu." kata Aralia mengancing satu persatu kameja Varga. Setelah itu ia membantu Varga berdiri dan menuntun Varga keluar dari sana. Meninggalkan Lisa yang terlihat merah padam.
Lisa bahkan tidak mengerti kenapa reaksi Aralia begitu tenang, tidak seperti wanita lainnya yang akan histeris begitu mendapati suaminya bercumbu dengan wanita lain.
Mungkin benar adanya, kalau Aralia tidak pernah mencintai Varga. Tetapi Varga si bodoh itulah yang menggilai Aralia. Hingga pada saat berhasrat ia hanya memandang Aralia di wajah Lisa.
Sial! Umpat Lisa, mengecam dirinya gagal dan masih berpikir kenapa wanita kecil itu bisa masuk seenaknya ke kamar itu.
__ADS_1
Saat Lisa sibuk menopang Varga. Ia menekan gagang pintu setelah berhasil menscan kartunya pada sensor pintu dan kartu itu terjatuh tanpa ia sadari dan tertinggal di luar. Begitulah cara Aralia bisa masuk.
Aralia merangkul Varga, membawanya keluar dari sana. Tergopoh kadang juga terjatuh. Tubuh Aralia tidak sebesar Lisa yang semok hingga bisa membawa suaminya itu masuk ke kamarnya.
Dengan penuh perjuangan akhirnya mereka sampai di kamarnya. Aralia membantu Varga masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Menyiram pria itu dengan air dinging. Varga terkesiap, ia butuh kehangatan bukan air dingin yang menerpa kulitnya. Ia bahkan merasa sesak pada bagian celana dalamnya. Meminta lepas, bebas dan tentu dengan bantuan seseorang.
Varga menarik tangan Aralia ingin memeluknya dan mencubu istrinya itu. Ia sangat kewalahan menahan hasrat yang bergejolak. Tapi Aralia tidak sudi melakukan itu. Ia berniat menyerahkan dirinya pada suaminya dengan baik dan hasrat yang mereka ciptakan sendiri tanpa adanya paksaan.
Ara ... gumam Varga kecewa, Aralia mendorong pria itu menjauh ke sudut kamar mandi.
"Selesaikan sendiri." Kata Aralia meninggalkan Varga, membanting pintu kamar mandi. Ia melepaskan cardingan yang ia kenakan dan melemparnya ke lantai. Keluar kamar dan melangkah lebar ke arah lift dan menekan tujuannya, kamar Lisa.
Sesampainya di sana. Aralia mengetok pintu itu kuat-kuat, sementara Lisa yang sedang menyesap rokoknya merasa kesal. Ia menekan rokok itu di atas asbak dan membuka pintu.
Siapa lagi!? Batinya kesal.
Lisa membuka pintu dan langsung mendapatkan kejutan.
Plak!
Tamparan keras mengenai wajah Lisa, ia memengangi wajahnya yang berdenyut perih, menatap Aralia yang memberinya tatapan tajam. Wanita kecil itu sangat menantang. Lisa menyeringai tanpa merasa bersalah menantang balik Aralia.
"Dasar wanita murahan, beraninya kau menggoda suamiku dengan tubuh murahanmu itu. Apa begitu susah mendapatkan hatinya hingga kau memakai cara menjijikkan?"
Lisa menegakkan tubuhnya, berdiri dan membuat Aralia mendongak melihatnya. Wanita itu memiliki tinggi yang 168cm. Lisa tersenyum mengejek dengan bersedakap.
"Kau bilang apa?" Lisa menatap tajam Aralia. Sangat dingin dan angkuh. "Murahan? Lalu kau disebut apa? Menikmati dua pria sekaligus apa itu berharga?" Katanya dengan nada mengejek.
"Ap-apa maksudmu?" Tanya Aralia terbata. Lisa menyeringai, mengukulum bibirnya menatap remeh Aralia.
"Selingkuh!"
"A-aku tidak melakukan i-itu, jangan mengada-ada." Sanggah Aralia dengan tergugup. Dari mana Lisa tahu tentangku?
"Sungguh? Tapi nada suaramu tidak mengatakan demikian Aralia, aku tahu kau punya hubungan gelap," Lisa menjatuhkan tatapan tajam padanya.
"Tapi itu wajar, karena kalian menikah tanpa cinta bukan? Aku bisa mengerti, lalu aku datang untuk menawarkan sesuatu untukmu. Ini akan sangat menguntungkanmu ...."
"Apa maksudmu?" Aralia mengerutkan dahi.
"Bagaimana kalau kau menyerahkan salah satu di antara mereka, tepatnya suamimu aku menginginkannya, dengan begitu kau bisa leluasa pergi pada kekasihmu itu. Kalian saling mencintai bukan?" Lisa mengutarakan keinginannya dengan sikap aslinya tidak lagi kepura -puraan menjaga sikap di depan Aralia.
"Jangan gila, aku tidak akan pernah menyerahkan suamiku untukmu,"
"Dasar perempuan tamak, kau tidak mencintainya kenapa harus menahannya di sisimu?"
"Kau sangat menggelikan Lisa, belum lama ini kau menangis mengatakan kalau suamiku menggodamu tapi nyatanya kaulah yang menawarkan tubuhnmu untuknya." Lisa menajamkan matanya pada Aralia tapi perempuan mungil itu bersikap santai tanpa mengedipkan matanya menatap Lisa.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya mengerayangin tubuhmu sendiri di depan pria yang sama sekali tidak tertarik padamu? Bukankah sakit rasanya mendengar pria yang kau suka mendesahkan nama perempuan lain saat kau mencumbuinya? Dan melihat wajah orang lain di wajahmu sekalipun kau sudah menggodanya dan bahkan memberinya obat perangsang sialan itu? Jika aku dirimu Lisa, tentu aku tidak berniat hidup lagi."
"Kau ...."
"Kenapa? Apa aku salah?" Aralia menautkan kedua alisnya. Melihat Lisa geram padanya.
Lisa mengangkat tangannya tinggi-tinggi, ia bersiap mengayunkan pada wajah Aralia yang mengatainya murahan dan bahkan sengaja mempermalukan Lisa dengan kata-kata yang menohok ke dalam hatinya.
Aralia bergeming tampak tenang, namun Lisa mengurungkan niatnya menghajar Aralia, ia masih ingin bersikap manis di hadapan Varga. Jika pria itu sadar dan wanitanya itu mengadu sudah pastilah nilai Lisa sebagai wanita dewasa yang elengan berakhir.
Lisa tidak bisa melakukan itu untuk sekarang tapi nanti? Entahlah. Lisa mengepalkan tangannya geram, mengambil dagu Aralia memaksanya melihat mata tajamnya.
"Wajah kecilmu ini akan hancur dalam satu tamparan jadi jaga bicaramu," ujar Lisa penuh kebencian, menghempaskan kasar Aralia hingga terhuyung.
Lisa menutup pintunya kasar. Masuk tengah ruangan dan berteriak tanpa suara.
Arrrr ....!!! Beraninya dia mengatakan itu. Katanya menatap tajam ke arah pintunya.
Aralia menelan salivanya, jantungnya berdetak kencang. Walau ia tampak tenang di hadapan Lisa tidak menutup kalau sesungguhnya dia benar-benar takut. Lisa terlihat kejam dan mengerikan. Aralia menopangkan tangannya pada dinding, menghirup udara banyak-banyak untuk menenangkan hatinya yang terasa sesak.
_____________________________________________
Varga menggigil di bawah guyuran air, cukup lama ia disana. Duduk menahan dirinya untuk tidak keluar kamar mandi dan melampiaskan hasratnya dengan Aralia. Varga tidak ingin menjadi pria brengsek bagi istrinya.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Varga mengangkat kepalanya melihat Aralia masuk menghampiri, membawakan handuk.
"Kak, ayo kita keluar." lirih Aralia memakaikan handuk besar itu di pundak Varga.
Varga menelungkupkan wajahnya diantara kakinya. "Maaf," lirihnya. Malu atas apa yang terjadi saat itu. Seharusnya malam ini adalah malam yang indah.
Tepat 00.00 Aralia berulang tahun yang kedua puluh tahun. Varga ingin memberi kejutan di hari istimewa Aralia. Namun, Rencana itu berantakan karena tidak bisa menjaga dirinya atau terlalu lemah sebagai pria hingga mudah di perdaya oleh Lisa.
"Bangun, ayo ganti pakaianmu." Aralia mencoba mengangkat tubuh Varga sekuat tenanganya. "Kak ...," Panggil Aralia dengan nada lembut menggerakkan hati pria itu.
"Maaf, Ra." gumamnya dengan suara bergetar, rautnya masih berkabut efek obat yang diberikan Lisa belum sepenuhnya hilang. Meski tidak setajam beberapa saat lalu ketika ia mendapati suaminya itu dicumbui Lisa.
"Ini bukan salah kakak, bangunlah! nanti kak Varga masuk angin ini sudah dini hari. Ayo bangun." Aralia membantu Varga berdiri, memapahnya dengan tubuh mungilnya keluar dari kamar mandi dan mendudukkanya di kursi kayu jati yang ada di ruangan itu.
Aralia mengeringkan rambut Varga dengan handuk, lalu berlahan membuka kancing kameja Varga satu persatu. Varga menghentikan tangan Aralia, membuat istrinya itu mengerutkan dahi.
"Aku bisa sendiri, Ra. Pergilah tidur."katanya, bangun dari duduknya. Berjalan ke ruang tidur dan mengambil pakaianya dari dalam koper lalu beranjak kembali ke kamar mandi.
Aralia menghela napas, entah kenapa ada rasa perih di hatinya saat Varga menolak perhatiaannya. Ia berjalan ke tempat tidur, meraih ponselnya di atas ranjang dan membukanya. Satu pesan dari Reven tepat di pergantian hari.
Happy best day Araliaku, sehat dan panjang umur semua doa terbaikku hanya untukmu.
Aralia berdecak, ia meletakkan ponselnya di atas nakas dekat ranjang entah kenapa ucapan dari Reven tidak menyentuh hatinya.
__ADS_1
Ini bukan hari yang baik, aku sangat kesal. Batinya naik ke tempat tidur dan berbaring.
"Ck, kenapa sangat susah untuk tidur, kak Varga ngapain lagi sih di kamar mandi? Uhh ...." Aralia menutup dirinya dengan selimut.