IPAR

IPAR
Menjadikan tubuhnya tameng


__ADS_3

"Aku harap kau pikirkan dulu perasaanku. Besok atau lusa, paman bisa datang dan mengatakan iya." Cayrol masih berharap, jarang sekali ia mendapati pria seperti Varga.


Varga tersenyum dan menangkup dagu Cayrol kemudian mengatakan dengan sungguh-sungguh.


"Meskipun hubunganku gagal dengan Aralia aku tidak akan meminta cinta darimu. Aku akan tetap mengatakan 'tidak' dan maukah kau berteman denganku?" ucap Varga dengan lembut. Cayrol menundukkan kepala, ia benar-benar ditolak pria itu.


Melihat ekspresi Cayrol, Varga tersentuh. Ia menarik lembut Cayrol kedalam pelukannya.


"Kau hanya mengagumiku Cayrol, kau tidak mencintaiku. Jadi jangan salah mengartikan kedua kata itu." ucapnya mengelus kepala Cayrol lembut.


_____________________________________________


Varga mencoba menghubungi Aralia sambil mengendarai mobilnya, tidak ada jawaban.


"Argghhh ...!" Varga melempar ponselnya pada jok di sampingnya. Satu tangannya melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya sementara tangan lainnya berada di stir.


Sementara di tempat lain, Aralia dan Reven berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam ke area parkiran kampus. Reven memakai helemnya dan mengulurkan tangan membantu Aralia naik ke atas motornya yang besar.


"Sudah?" tanya Reven menolehkan kepala ke belakang.


Aralia mengangguk dan berujar, "jalan." Mereka meninggalkan parkiran.


Mobil Varga memasuki gerbang kampus dan tidak sengaja matanya menangkap Aralia berada di atas motor yang secara kebetulan melewatinya.


Varga mengumpat dalam hati, memutar stir mobilnya dan mengejar motor itu sambil membunyikan klakson.


Aralia merasa terganggu dengan apa yang dilakukan mobil yang tak jauh dibelakang mereka. Aralia menolehkan kepalanya ke belakang dan spontan membuatnya terganga melihat siapa yang berada di dalam mobil sana.


Begitu juga dengan Reven, ia kesal dengan tingkah pengendara yang membunyikan klasson secara membabi buta padahal jalanan tidak macet dan juga ia mengendarai motornya di jalur yang benar.


Apa-apan ini? Protesnya membuka kaca helemnya hendak menoleh kebelakang tapi Aralia menepuk bahu Reven dengan tangan gemetaran.


"Re, berhenti." ucapnya kaku. "Itu mobil kak Varga." sambungnya dengan nada gemetar. Reven menepi kemudian membuka helemnya dan membantu Aralia turun.


"Jangan takut, aku akan melindungimu." desis Reven, menepuk bahu Aralia kini pucat pasi.


Setelah menepikan mobil Varga keluar dengan tatapan tajam terarah pada Aralia.


"Luar biasa Ara ..., kau bahkan mengabaikan telponku. Kemarilah!" Katanya dengan nada tenang tapi tidak dengan tatapannya yang membunuh.


Takut-takut Aralia melepas genggaman tangan Reven, tapi apa yang ia rasakan? Reven menggenggam tangan itu semakin erat dan mengelengkan kepala isyarat kalau ia tidak akan melepaskan Aralia.

__ADS_1


"Re please ...." Mohon Aralia tanpa suara pada Reven.


"Tidak. Kau tetap bersamaku dan dia yang harus pergi." kata Reven membalas tatapan Varga yang tak jauh dari mereka.


Varga menyeringai, tangannya berkeringat dan jantungnya berpacu luar biasa melihat tangan istrinya di genggam agresif oleh pria asing. Ia cemburu dan itu sangat menghacurkan harga dirinya.


Varga melangkah menghampiri, tersenyum ke pada Aralia lalu menatap Reven dengan kebencian.


"Lepaskan istriku, sialan!" Kaki Varga yang panjang menendang bagian perut Reven membuat pria itu terdorong kebelakang dan spontan melepaskan genggaman tangannya.


"Kak!" Aralia histeris, mendorong tubuh Varga dan segera berbalik menolong Reven yang menahan sakit karena tidak siap menerima serangan dadakan Varga.


Varga tersenyum menakutkan, melihat reaksi khawatir istrinya itu pada pria yang meringis kesakitan itu.


"Kau tidak apa-apa kan?"ucap Aralia ketakutan, membantu Reven berdiri. Reven melirik ke arah Varga dengan seringai mengejek, sengaja memperlihatkan bagaimana Aralia berpihak kepadanya, bagaimana Aralia nya menghawatirkanya dan mengabaikan suaminya sendiri.


"Tidak apa-apa sayang." lirih Reven tanpa mengalihkan tatapa merendahkan pada Varga.


Varga dengan segala kekesalannya, mengepalkan tangan dan ingin melayankan sebuh tinju pada mulut Reven.


Tapi saat tangannya terayun, ia segera menahannya, karena kalau tidak? Ia akan menyakiti istrinya yang kini memeluk Reven erat, melindungi pria itu dengan tubuhnya yang mungil, tubuhnya yang rapuh. Ia jadikan menjadi tameng pertahanan Reven.


"Kalau ingin melukainya lukai aku juga!" ucap Aralia menolehkan kepalanya pada Varga.


Varga tersenyum sambil mengelengkan kepala, ia tidak akan menyakiti Aralia, ia tidak akan sanggup melakukan itu. Varga menarik tangan Aralia, memisahkan keduanya dan membawa Aralia kebelangnya. Menendang kembali Reven yang berusaha mengambil Aralia darinya.


"Kakak!" Teriak Aralia memukul lengan Varga dengan tangannya yang mungil. Bahkan pukulan itu tidak dapat Varga rasakan lalu bagaimana istrinya itu sok melindungi pria kokoh bernama Reven itu.


"Kita belum selesai, pengecut!" Varga memberi peringatan lalu menarik Aralia masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya.


Reven berusaha bangun, untuk kedua kalinya ia tumbang. "Jangan bawa Araku, kembalikan dia sialan." Reven mengejar, memukul mobil itu dengan telapak tangannya.


Kediaman keluarga 'Sadah'


Varga menghentikan mobilnya, keluar dari dalam dan membuka pintu untuk Aralia yang terdiam selama perjalanan. Varga menarik tangan Aralia keluar dan membawanya masuk. Menaiki anak tanggan lalu membuka pintu kamar dan menarik tangan Aralia masuk ketengah ruangan.


"Tetap tinggal disini, mulai besok kau tidak perlu kuliah dan jadilah seorang istri yang mengabdi buat suamimu. Berikan ponselmu!" Perintah Varga.


"Tidak!"


"Ara, berikan ponselmu!"

__ADS_1


"Aku bilang tidak ya tidak." Sahut Aralia kesal.


Varga menangkup dagu Aralia, menatapnya dalam. "Dengar Ara, jangan bangunkan iblis yang ada di dalam jiwaku, karena jika sampai kau melihatnya kau akan menyesalinya." ucapnya mendekatkan wajahnya pada istrinya itu. Aralia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tatapan Varga terlalu menakutkan baginya.


"Jadi patuh saja, dan berikan ponselmu!" katanya melihat Aralia memalingkan wajah.


"Apa? Aku tidak peduli iblis apapun yang keluar dari jiwamu. Siapa kau? Apa hak mu mengatur hidupku? Sepertinya kau lupa hubungan kita yang sesungguhnya, kau lupa kenapa kita bisa menikah, kau lupa dengan syarat yang kita sepakati." Kata Aralia menatap angkuh Varga penuh perlawanan tanpa sedikitpun rasa takut pada dirinya.


"Syarat?" Varga berjalan membuka lemari penyimpanan dokumen-dokumen penting miliknya. Mengambil kertas yang diselipkan di antara tumpukan berkas itu.


"Maksudmu, ini Ara?" Varga menyeringai, menunjukkan kertas perjanjian mereka. Diremasnya kertas itu dalam kepalan tangannya lalu melemparnya tepat kedepan kaki Aralia. Varga tersenyum sinis mendekati Aralia yang menatapnya dengan perlawanan.


Varga meraih dagu Aralia dan menekan dengan jemarinya.


"Aku bisa mengabaikan janjiku pada manusia tapi tidak dengan Tuhanku. Kau harus ingat janjimu kepada Tuhan."


"Varga!" Teriak Aralia kesal. Menepis tangan Varga dari dagunya. "Itu urusanku kepada Tuhanku, bukan urusanmu." Hardik Aralia menunjuk Varga penuh kemarahan.


Varga menatap Aralia dengan tajam, tulang rahangnya mengeras. Hatinya sakit melihat sikap menantang istrinya itu.


Varga tersenyum menakutkan, meraih lengan istrinya dan mendorong Aralia mentok ke tembok.


Varga menunduk, memajukan wajahnya menatap mulut Aralia yang meneriaki namanya. Mulut kecil dengan bibir tipis bewarna pink alami milik Aralia, terlihat gemetar. Terbuka sedikit, menunjukkan gigi kelincinya. Varga menelan ludah, dan langsung meraup bibir itu dengan bibirnya. Mengunci tangan Aralia yang memberi perlawana ke atas. Lama ia bermain di sana dan membuat Aralia menyerah pada perlawananya, gagal mempertahankan ciuman pertamanya yang ia janjikan akan diberikan pada Reven saat usianya genap dua puluh tahun yang tidak akan lama lagi.


"Ka ka ...," guman Aralia tidak jelas dari sela-sela ciuman Varga mengiba.


Varga menahan bibirnya tetap menyatu dengan Aralia. Untuk pertama kalinya pria itu menyentuh dan merasakan bagaimana rasa bibir istrinya. Manis dengan napas hangat terasa membangunkan darahnya.


Varga merangkul pinggang Arali dengan erat, merapatkan ke tubuhnya sementara tangannya yang satu menangkup tengkuk Aralia sebelum akhirnya ia kembali menjelajahi bibir Aralia, menggigit kecil, merayu dan perlahan memasukkan lidah ke dalam mulut Aralia dan memilinnya di dalam.


Sementara Aralia, terhanyut dengan sentuhan-sentuhan yang dilakukan Varga. Merasakan aliran deras pada tubuhnya.


Semuanya ini yang pertama baginya, berciuman, diraba hingga menimbulkan hasrat pada dirinya dan juga itu ... permainan lidah.


Apa itu tadi? Permainan lidah? Bahkan Aralia menganggap hal itu sangat menjijikkan jika melihat adengan itu di adengan romantis pada drama-drama korea yang ia tonton. Tapi nyatanya adegan itu malah membuatnya hanyut dan mulai menikmatinya.


Aralia memejamkan matanya, hampir saja ia mengeluarkan erangan dari mulutnya. Hingga tersadar kemudian bahwa pria di hadapannya ini sudah melampaui batas, menjamahnya tanpa izin dan merampas ciuman pertamanya yang berharga dan sebelum pria itu benar-benar kehilangan kendali menjelajahi tubuhnya lebih dalam lagi dengan napasnya yang terasa menggoda Aralia mendorong dada pria itu dan menggigit bibir bawah Varga hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Ara ...Ara please ...," Mohon Varga, mengiba dengan matanya yang sudah sayu dan wajahnya penuh hasrat. Ia meminta agar istrinya menyerahkan diri kedalam pelukannya dan membawanya ke surga dunia.


Aralia menolak, mendorong pria itu dengan seluruh tenanganya. Ia tidak akan menyerahkan segalanya bagi Varga. Pria yang tidak ada dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2