
Di pagi hari dokter dan perawat kembali mengambil darah Aralia untuk pemeriksaan ulang.
"Selamat pagi pak Varga dan Nyonya. Kita lakukan pemeriksaan ulang ya."
"Pagi dokter, silakan." Varga memberi jalan pada ke dua medis yang bertugas. Perawat memeriksa tekanan darah dan juga suhu tubuh Aralia.
"Demamnya sudah turun, kita ambil darahnya lagi ya untuk dilakukan lab."
"Lagi?" tanya Aralia, menoleh ke arah Varga yang sedang menerima telpon.
"Iya, kita akan lakukan ini dua kali dalam sehari guna memastikan trombosit pasien rendah, normal atau tinggi sampai sembuh." Dokter menjelaskan dengan ramah.
"Oh, baiklah silakan." gumam Aralia memejamkan mata saat perewat mau menusuk jarum ke tangan Aralia.
"Kamar 2020, lantai tiga pah, oh baiklah aku tunggu." ujar Varga mengakhiri pembicaraanya.
"Bagaimana dok keadaan istri saya?" tanyanya menghampiri dokter.
"Kita ambil darah untuk pemeriksaan ulang ya, dan hasilnya bisa diketahui tiga jam lagi."
"Oke dokter," balas Varga berdiri di sisi bangsal Aralia, tak tega melihat jarum suntik yang menyedot darah istrinya Varga menepuk pucuk kepala Aralia pelan.
"Sudah dokter." kata perawat itu membersihkan bekas darah ditangan Aralia.
"Baiklah Nyonya- pak, kita permisi dulu nanti perawat akan melakukan cek rutin ya."
"Baik dokter," kedua orang itu meninggalkan ruangan tersebut. "Oh ya, Ra barusan papah nelpon dia sudah di lobi menuju ke sini." sambungnya merapikan poni Aralia dengan jemarinya yang lentik.
"Papah nggak kerja?"
"Kerja, cuma mampir bentar kok."
"Bianca bagaimana kak?" Varga tersenyum sekaligus senang dalam hati melihat sorot khawatir Aralia saat menanyakan kabar Bianca putri mereka.
"Cepat sembuh ya, kakak juga dari semalam belum dengar suara kecil putriku itu. Tapi jangan khawatir ada mama kok yang ngurus."
"Kangen." gumam Aralia, bersamaan itu terdengar ketukan dari luar pintu.
"Itu pasti papa." ujar Varga melangkah membukakan pintu.
"Sudah sampai pah?" Varga mengambil tas dan tentengan yang di bawah ayahnya itu.
"Bagaimana keadaanya?" Tanya Tn. Roland melangkah masuk menghampiri Aralia yang sudah duduk bersandar dan melipat kakinya di dalam selimut rumah sakit. "Sudah bagaimana, Ra? Baikan?" tanya Tn. Roland langsung pada Aralia.
Aralia mengangguk," mendingan pah," ucapnya.
__ADS_1
"Papa bawain apa aja nih?" Varga memeriksa bag paper yang ditenteng ayahnya itu.
"Jus sama makanan buat Ara," sahut Tn. Roland.
"Buat Ara doang pah? Buat Varga nggak ada?"
"Kamu minum sisa infus Ara aja."
"Eeh si papah? Yang ada ya harusnya ini buat yang ngerawat, pasien ma sudah ada makananya dari rumah sakit." Gerutu Varga, mengeluarkan empat kotak nasi dan membukanya satu persatu, aroma makanan berhasil menggantikan aroma obat di ruangan itu.
"Ya sudah kasih aja sama dokter dan perawatnya kan mereka yang merawat bukan kamu, kamu disini ma cuman duduk aja kok."
Aralia terkekeh melihat tingkah dua orang itu.
"Anak papah itu aku bukan Ara ...," rajuk Varga, membuka tutup botol air mineral.
"Yang bilang kamu anak pak Burhan siapa?" Tanya Tn. Roland membawa nama supir mereka.
"Eh orang tua ...,"
"Ara makan ya. Mama mertuamu sudah membuatkan ini semua dan ia juga mengirim pakaian serta ponselmu. Katanya kau tidak cocok dengan pakaian rumah sakit ini." ujar Tn. Roland, melirik piyama yang di kenakan Aralia. Putih bergaris hitam khusus pasien milik rumah sakit.
"Mmm terima kasih pah ...,"lirih Aralia tersenyum.
"Papa sama mama cukup perhatiin aku aja, Aralia biar aku yang perhatiin. Ini sudah keterlaluan!" ucap Varga cemburu, menyodorkan minum buat Ara lewat sedotan.
Perhatian mereka terpusat pada si pengetuk dan tanpa disuruh masuk, seorang perempuan berseragam pink masuk membawakan nampan berisikan sarapan.
"Sarapan untuk pasien." Katanya dengan ramah menghampiri mereka.
"Tuh sarapan buat kamu, sudah dapat perhatian kan?" ujar Tn. Roland mengambil nampan dari perawat dan langsung memberikanya pada Varga.
Aralia tertawa, melihat ekspresi Varga saat itu, mengaga dengan mata membesar.
"Makasih sus, dia pasti menghabiskanya." Kata T. Roland pada perawat dan dianggukin dengan senyum kemudian keluar dari ruangan itu.
"Oh ya, Ra. Papah berangkat dulu ini jam kantor sudah mau masuk." ujar Tn. Roland tersenyum melihat Aralia kembali ceria meski.
"Iya pah, makasih sudah jenguk Ara."
"Makanlah."
Aralia mengangguk, melihat Tn. Roland keluar, ia kembali mengingat sosok ayahnya yang sudah lama pergi dari hidupnya saat usianya masih kecil. Tak banyak yang ia tahu tentang ayahnya tapi perhatian Nisa dan mendiang Rena berhasil membuatnya melupakan hal itu.
"Aku cemburu, Ra. Sekarang aku jadi nomor dua buat mereka."
__ADS_1
"Nomor tiga, Bianca nomor satu." sahut Aralia, tersenyum licik.
"Ya ...,kau benar, kalian para pendatang berhasil menyingkirkan pemilik tanah yang sebenarnya."
"Kak ponsel Ara. Coba lihat pasti ada pesan atau panggilan." ucap Aralia, meminta Varga mengambilnya dari dalam tas.
Varga membuka tas berisikan pakaian, dan mencari benda itu, dan tanpa sengaja menarik salah satu pakaian dalam Aralia.
"Nggak ada, Ra. Yang ada ini." Ucap Varga mengangkat bra hitam berenda ke hadapan Aralia, dan mendapat cubitan dari Aralia di perut.
"Ahh ... sakit tahu?" Varga menahan rasa sakit.
"Mesum! Cari kata papah tadi mama titip kok."
"Nggak ada, pasti kelupaan lagi."
"Telpon kak, ih ...,"
"Iya-iya bawel." Varga menelpon nomer Aralia dan mendapat jawaban.
"Oh papa lupa membawanya naik ke atas. Papa sudah di dalam mobil." sahut Tn. Roland dari seberang.
"Ya sudah biar Varga yang ambil ke sana." kata Varga mematikannya.
"Ada di dalam mobil, papa lupa bawainya. Tunggu disini biar aku ambilin." Varga bergegas keluar menuju parkiran.
Setelah mengambil ponselnya itu, Varga langsung menekan tombol on dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab juga ada beberapa pesan yang masuk. Varga penasaran pesan itu dari siapa saja. Tapi Varga tidak bisa karena benda itu tersandi.
Varga menarik napas panjang. Kembali berjalan ke arah lift dan dalam langkahnya ponsel Aralia berbunyi. Benar saja yang menelpon atas nama emoji love. Varga memejamkan mata dan mengangkatnya.
"Sayang kamu kuliah hari ini kan?" Bagaikan di sambar petir di terang hari Varga meremas benda itu dalam genggamanya.
"Aku tunggu di kampus, aku merindukanmu. Kau sudah baikan kan?" katanya lagi, mendengar kata-kata itu Varga menahan emosi dan bahkan mengabaikan pintu lift yang terbuka.
"Aku akan bertemu denganmu tapi bukan hari ini. Jadi siapkan dirimu." jawab Varga dengan tatapan datar dan suara dingin yang siapapun melihatnya akan bergidik ngeri. Kali ini sosoknya yang lembut dan penyayang itu berubah menjadi raut iblis menakutkan.
Tak ada suara dari sana, hening tapi benda itu masih terhubung. Saat Varga hendak mematikannya seketika suara Reven kembali terdengar.
"Baiklah, mari kita bertemu dan kita akan bahas ini. Tapi, tolong jangan bersikap kasar pada Aralia." Mohonya, membuat Varga terkekeh jahat.
"Aku tidak akan menyulitkan istriku untuk hal ini."katanya dingin, menarik. Pria di seberang sana bahkan memohon untuk tidak menyakiti istrinya sendiri.
"Aku dengar dia sakit, bagaimana keadaanya?" Terdengar cemas.
"Tentu saja dia baik, ada keluarga yang sangat mencintainya di sini. Tapi aku peringatkan apapun yang terjadi sama istriku saat ini. Itu bukan urusanmu, kau tidak berhak khawatir untuknya." ucap Varga dengan sikap tenang. Varga mematikan ponselnya dan menekan kembali tombol lift tujuannya.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, Varga melangkah lebar menuju ruangan Aralia di rawat. Ia membuka pintu dan menatap langsung ke arah Aralia yang sedang memakan sarapannya. Tatapannya masih dingin dan wajahnya datar tapi saat melihat Aralia yang mungil menoleh padanya dengan senyuman manis, hatinya berantakan. Apa yang harus ia lakukan mengetahui sang istri berselingkuh?