
"Tumben pulang malam, Ra?" tanya Ele melihat Varga dan Aralia yang baru saja tiba dirumah.
"Pulang kuliah diajak jalan sama kak Varga, Ma."
"Bagus itu, istri yang harus di perhatiin bukan wanita di luar sana." celetuk Roland.
"Papa." sahut Ele.
Aralia menelan salivanya, kerongkongannya terasa kering. Ia melirik pada Varga.
"Kamu kekamar duluan ya. Kakak mau bicara sama papa." Sorot mata Aralia terlihat takut, Varga tersenyum seolah mengatakan tidak apa-apa. Varga mencondongkan tubuhnya lalu berbisik dibelakang telinga Aralia.
"Tunggu kakak di kamar ada yang ingin aku katakan." Bisik Varga. Aralia terkesiap bukan karena ucapan Varga melainkan hembusan nafas hangat yang menciptakan sensasi rasa geli padanya. Wajah Aralia merona, mengangguk kemudian berlalu.
Varga duduk menghadap Roland, pria yang masih terlihat berwibawa di usia tuanya itu mengalihkan tatapannya ke televisi.
"Mama buatin kopi ya," Ele menepuk bahu Varga lembut, meninggalkan kedua orang itu.
"Pah," Panggil Varga, Roland bergeming. Varga melirik acara televisi yang lagi menayangkan iklan.
"Papah," panggilnya lagi dengan nadanya sedikit memaksa.
"Apa?" Roland sekejab melihat lalu kembali menatap telivisi. Varga kesal, diambilnya remote televisi yang ada di meja dan mematikannya.
Roland menatapnya dengan tatapan mencela.
"Ayolah papah, jangan begini." Keluh Varga memijit pangkal hidungnya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan! Bikin mood buruk aja." Roland menyilangkan kakinya.
"Varga minta maaf, ini semua hanya salah paham."
"Salah paham apanya? Kau lupa? Kau sendiri yang mengakui selingkuh."
"I-i-iya tapi—" Varga terbata. Ah sudahlah!
"Kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan selingkuhanmu itu?"
Varga memejamkan mata lalu mengangguk, "sudah pah," ujarnya. Roland menatap penuh selidik, mencari kesungguhan dari putranya itu.
"Jangan pernah mencoba sesuatu yang bisa menghancurkan masa depan, martabat, harga diri yang sudah kau bangun susah payah. Selingkuh itu sesuatu yang sangat buruk. Melukai banyak orang yang mempercayaimu. Percayalah kalau kau ingin mencari yang sempurna di dunia ini kau tidak akan pernah menemukannya. Tapi untuk mendapatkan kesempurnaan itu caranya hanya satu 'melengkapi'." ujar Roland menasihati.
"Ingat bagaimana susahnya kau menyakinkan Aralia untuk menikah. Dia sudah mengorbankan masa mudanya untuk menjadi seorang istri dan ibu. Kau harusnya lebih sangat mencintainya." Sambung Ele meletakkan tiga gelas kopi di atas meja.
"Iya mama," jawab Varga singkat.
"Varga," panggil Roland, menatap putranya itu lama. "Sangat susah untuk mengembalikan kepercayaan seseorang yang sudah kita hianati. Kau harus bekerja keras untuk itu." Tambahnya.
"Baik papa, akan aku lakukan nasihat papa sama mama." Varga mengangguk.
"Nyalakan lagi tivi nya," ujar Roland. Varga menyerahkan remote pada Ele.
Setelah mendapat nasihat, Varga meminta ijin ke kamar. Pelan ia membuka pintu kamarnya, masuk dan menguncinya. Mencari keberadaan Aralia disana. Ia tidak menemukannya. Istrinya itu sedang mandi.
Varga duduk di tepian ranjang, menekan tombol on ponselnya. Mencari foto yang ia ambil saat di taman. Senyumnya terbit saat melihat foto itu. Aralia mungil, tubuhnya hanya setinggi 155cm berusaha menyamakan tingginya dengan Varga yang jangkung. Senyuman itu kaku tapi tetap saja menggemaskan.
Varga menjadikan foto itu wallpaper ponselnya. Pintu kamar mandi terbuka, Varga spontan menekan tombol off.
"Kenapa mandi semalam ini?" Aralia keluar mengenakan piyama bewarna pink. Sementara rambutnya terbungkus handuk.
"Badan Ara lengket kak." Aralia mengusap-usap daun telinganya. Hangatnya napas Varga masih saja ia rasakan menggelitik, membuat darahnya berdesir.
"Telinganya kemasukan air, Ra?" Varga bertanya melihat Aralia megusap daun telinga.
__ADS_1
"Eh? Tidak kok." jawabnya gugup. Penasaran Varga menghampiri Aralia.
"Coba sini aku lihat," Aralia spontan mundur, Varga menautkan kedua alis melihat penolakan Aralia. Hatinya berdenyut. Walau sudah sering mendapat penolakan entah kenapa kali ini terasa menyakitkan.
Varga mengangguk, menggigit bibir bawahnya mengambil langkah menjauh. "maaf," lirihnya.
Aralia mengusap telinganya, berjalan ke meja rias. Menatap bayangannya di sana. Telinganya sangat merah saat ini. Aralia merapikan rambutnya yang masih belum kering. Menyisir asal lalu menghampiri Varga di balkon.
"Kak ...." sapanya, Varga menoleh lalu menyungingkan senyum sekilas.
"Tadi papa bicara apa?" Aralia berdiri tidak jauh dari Varga. Ia sangat penasaran, andai saja ruang keluarga tidak langsung menuju tangga pastilah sudah Aralia menguping.
"Oh, banyak, Ra."
"Pasti kakak di marahin ya?"
"Tidak kok,"
Hening, Aralia menatap lurus kedepan begitu juga dengan Varga. Malam kali ini terlihat terang meski tanpa bintang. Aralia melirik Varga dari sudut matanya lalu memberanikan diri bicara.
"Kenapa kak Varga melakukan itu?" tanya Aralia berbalik menyenderkan tubuhnya di pembatas balkon. Varga menoleh dengan tatapan bertanya.
"Melakukan apa?"
"Mengakui yang bukan salah kakak."
"Aku punya alasan sendiri, Ra."
"Tapi alasannya apa?"
"Kau tidak perlu tahu,"
Aralia memanyunkan bibirnya, lalu mendekati Varga hingga jarak mereka sejengkal jari orang dewasa.
"Kak," Aralia bisa melihat jelas Varga, karena posisi mereka dekat dan juga Aralia menghadap ke rumah sementara Varga menatap lurus ke taman. "Makasih dan aku minta maaf ya." katanya lembut.
"Kak,"
"Mmm ...," sahut Varga tanpa menoleh.
"Kakak lupa ya?"
"Lupa apa?"
"Katanya kakak mau katakan sesuatu,"
Varga menengakkan tubuhnya, melihat ke arah Aralia.
Bagaimana hubunganmu dengan pria itu Ara? Batinya menatap Aralia lama.
Aralia mengibaskan rambutnya, memiringkan kepala ke satu sisi, hingga lehernya terlihat. Lalu tersenyum dengan bibir tertutup. Mengejapkan bulu matanya yang indah.
Gerakan gerakan yang ia lakukan telah membangkitkan hasrat suaminya. Gerakan itu menggodanya, membuat fantasi dalam pikirannya muncul. Ia ingin mengecupi leher Aralia, menggigit bibir merah muda itu lalu menyapu telinga istrinya dengan lidahnya. Varga membayangkan itu.
"Kak," Aralia mencondongkan tubuhnya, membuat pria itu mengerjap, menelan salivanya.
"Iya, apa Ra?" Varga kegugupan, memalingkan wajah untuk menutupi keinginan batinya.
"Kakak melamun ya?" dengan polosnya Aralia bertanya. "katanya ada yang bau dikatakan sama Ara, apa itu?"
"Oh masalah itu," katanya gugup. Varga menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Varga memberanikan diri mengambil tangan Aralia, di tatapnya istrinya itu penuh cinta.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Ra. Sungguh! Kau tinggalin ya pria itu dan menerima cinta kakak." katanya menggenggam erat tangan Aralia, menatap penuh harap. Terdengar konyol tapi ia sangat mencintai Aralia bila perlu ia akan mengiba.
Aralia menatap balik Varga, melihat kabut cinta di mata pria itu. Aralia mengangguk dan spontan Varga bersorak bahagia.
"Stttsss, Bianca bangun tar kak," ujar Aralia, memalingkan wajahnya yang tersipu.
"Kamu sangat cantik, Ra." Varga memuji tulus dari hati.
"Dari lahir," Aralia tersipu.
"Lesung pipimu aku sangat menyukainya,"
"Apa sih kak," semakin merona.
"Apa aku boleh menciummu, Ra."
"Eh?" Membelalak, " Selain di kening tidak bisa," katanya, Aralia belum siap melakukan itu.
"Tidak apa-apa aku akan menunggu," ucap Varga mengelus rambut Aralia.
Aralia memejamkan matanya, menarik napas lalu melihat ke arah Varga yang tengah berbahagia.
"Kakak belum tahu percakapan video itu kan?" Aralia bertanya, seketika mengubah raut Varga sedih. Varga menggelengkan kepala ia tak ingin mendengar apapun tentang Reven karena Aralia sudah mengiyakan akan meninggalkannya.
"Aku minta putus sama Reven." Varga melebarkan matanya, terkejut.
"Sungguh?" Varga berbinar. Aralia mengangguk.
"Hari itu?"
"Mmm,"
"Ra, kenapa kamu tidak bilang saat itu?"
Aralia mencebik bibirnya, "keburu kesal sama kakak." katanya.
Varga tertawa haru, tapi beberapa detik kemudian ia merasa menyesal saat memarahi Aralia dan menurunkannya di tengah jalan.
"Ra, maafin kakak ya, aku tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Video itu suaranya tidak jelas. Tapi ini salah kakak, andai waktu itu aku tidak emosi dan —,"
"Tidak apa-apa, Kak." Aralia menyela ucapan Varga.
"Boleh aku peluk, Ra?" Ia penuh harap.
"Bo leh," Varga langsung menarik Aralia, mendekapnya erat, sampai-sampai Aralia merasa sesak.
"Makasih Ara, aku mencintaimu."
"Kak,"
"Iya,"
"Tapi aku butuh waktu kak, aku belum bisa pastikan kalau Aralia sudah mencintai kak Varga. Aku akan perlahan melakukannya dan aku minta kakak membantuku juga."
"Baiklah, tidak apa-apa. Kakak akan menunggu sampai kau benar-benar mencintaiku." Varga mengelus kepala Aralia lembut.
Aku butuh waktu untuk mencintai kakak, aku tidak tahu kenapa begitu cepat melupakan Reven. Bahkan wajahnya yang selalu membayangiku kini lenyap entah kemana. Itu sebabnya aku belum bisa pastikan kalau Ara mencintai kak Varga. Karena orang yang benar-benar membuatku jatuh cinta tidak lagi kurasakan debaran hati saat mengingat namanya, bayangan wajahnya pun sudah memudar.
______________________________________________
"Kenapa aku tidak menemukan apapun tentang pria itu?" Lisa mengamuk kesal di dalam kamarnya. Ia gagal menemukan pria yang dipacari Aralia.
"Apa dia tidak kuliah disana?" menyulut sebatang rokok, lalu mengisapnya dalam-dalam. menghembuskan asapnya mengebul ke udara. Diraihnya ponsel dan vodka yang ada di atas nakas, sorot matanya berapi-api sambil mengoyang-goyangkan minumannya agar menyatu dengan es batu.
__ADS_1
Lisa meneguk hingga ludes, membuka ponselnya dan menghubungi seseorang yang bisa membantunya.
"Carikan aku seorang penguntit, kalau bisa pria muda dan anak kuliahan. Aku akan mengirim nama kampusnya dan data yang akan di ikuti. Lakukan cepat dan jangan sampai ketahuan." katanya lewat ponselnya itu. lalu memutus telponnya sepihak kemudian menyeringai sinis.