
Ketukan dari luar pintu tidak menghentikan jari-jari Varga mengerjakan pekerjaanya di laptopnya. Tanpa disuruh masuk, Lisa sekretarisnya sudah berjalan ke arah Varga dengan berkas di tangan. Langkahnya melenggok bak model berjalan di atas karpet merah. Wajahnya terangkat ke atas ada kesan angkuh di pancarkan auranya.
Dalam dua tahun ini wanita berparas seksi itu sudah menjadi pasangan Varga di dunia pekerjaan, dan dalam tahun ini dia patah hati dengan status Varga yang sudah kembali menikah.
Dahulu saat ia mengetahui Varga kembali melajang karena istrinya meninggal, ia merasa ada kesempatan untuknya mendekati pria berkarisma itu. Namun, hatinya kembali luka saat mendengar Varga menikahi Aralia, adik iparnya sendiri.
"Sial! Sial! Kenapa bisa pak Varga menikahi gadis itu, padahal aku sudah terang-terangan mengatakan kalau aku menyukai pak Varga." Umpatnya saat dirinya setengah sadar karena minuman alkohol yang sengaja ia komsumsi guna mengurangi rasa sakit hatinya.
"A-aku menyukaimu pak Varga ...," Dengan malu-malu Lisa mengakui perasaanya pada Varga lima bulan setelah Varga menikahi Aralia.
Varga membuka mulutnya terkejut, menatap wanita di hadapannya itu. Sungguh Lisa wanita yang berani mengakui rasa cintanya.
"Maaf Lisa, tapi ... aku sudah menikah." ucap Varga, membuat Lisa tercengang.
Apa maksudnya menikah? Bukankah istrinya belum lama ini meninggal? Dia pasti bercanda.
Lisa menarik sudut bibirnya, tidak percaya atas pengakuan Varga. Lisa mengangkat kepalanya menatap Varga yang ada di depannya. Pria itu menatapnya dengan rasa bersalah.
"Menikah?" Lisa terheran, bagaimana bisa pria yang selalu bersamanya ini menikah tanpa sepengetahuannya. Varga mengangguk.
"Kapan? dan sama siapa?" Lisa penasaran, wanita mana yang telah memenangkan hati Varga, ataukah Varga menikah karena mengambil keuntungan dari anak orang, atau mungkin kah Varga memiliki hubungan gelap. Sungguh, Lisa butuh penjelasan.
Varga menghela napas berat, mengangkat gelas minumnya lalu menyesap isinya. Ia tersenyum pada Lisa sementara wanita itu menuntut jawaban.
"Kurang lebih dua bulan setelah istriku meninggal," katanya, Lisa kembali tercengang. Setahu dia Varga orang yang baik dan ramah tapi tegas sebagai pemimpin di kantor tempatnya bekerja. Jadi sudah di pastikan kalau Varga tidak akan mempermalukan dirinya dengan cara murahan.
Mungkin kah pria ini murahan? Kalau aku tahu dia murahan aku sudah menggodanya sehari setelah istrinya dimakamkan.
"Aku menikah dengan adik iparku, atas permintaan istriku." Lanjut Varga dan terlihat Lisa menghembuskan napas putus asa.
Turun ranjang, batinya dengan raut kecewa.
"Sudah pasti tanpa cinta kan pak?" Lisa mulai mengorek informasi untuk mencari celah kalau-kalau dia bisa menempel suatu saat beratas namakan cinta.
Varga mengkulum bibirnya lalu berujar, "awalnya tidak, tapi anehnya aku jatuh cinta saat aku menggandeng istriku ke depan altar menerima pemberkatan." Varga tersenyum mengingat bagaimana detak jantungnya berdegub saat melihat Aralia menjadi pengantinya.
Lisa kembali menelan rasa kecewa, sudah pasti akan sulit menggoda pria ini. Meski begitu Lisa tetap profesional, ia wanita dewasa yang bisa memisahkan antara perasaan dengan pekerjaan. Meski kecewa Lisa tetap berada di samping Varga sebagai sekretarisnya hingga sekarang walau rasa itu masih tetap ada.
" Ini berkas yang pak Varga minta," kata Lisa, meletakkan dokumen yang ia bawah di atas meja kerja Varga.
"Terima kasih, Lis." ucap Varga tanpa melihat wanita itu.
"Pak saya juga membawakan undangan tuan Nanert, pemilik Company Boenamart." ujar Lisa lagi menghentikan jemari Varga menari di atas keyboard laptopnya.
"Undanga apa?" Tanya Varga bingung, dan Lisa segera menyerahkan undangan itu pada Varga.
"Pernikahan anak pertama mereka,"
"Oh ...," Varga kembali melirik pekerjaanya yang belum selesai setelah meletakkan kembali undangan itu di atas mejanya.
"Apa pak Varga akan kesana?" tanya Lisa penasaran.
"Tentu, Boenamart salah satu nasabah kita yang berperan aktif di Bank ini."
Lisa mengangguk, "apa pak Varga pergi dengan istri?" Ragu Lisa bertanya.
"Tidaklah, kita akan pergi berdua, lagipula undangan itu kan di tujukan pada staf Bank ini bukan pribadi."
Seringai di wajah Lisa terukir, wanita itu punya rencana untuk Varga.
Ponsel Varga berdenting, ia melirik benda itu dan membaca si pengirim pesan.
Cayrol.
Varga bergerak mengabil ponselnya yang ada di atas meja, lalu membukanya.Varga menelan ludah begitu melihat apa yang Cayrol kirimkan sungguh membuatnya tercengang.
"Pak ...," Panggil Lisa, ia penasaran apa yang menarik perhatian Varga.
__ADS_1
"Lis, keluarlah! Saya mau kesuatu tempat sekarang."
Lisa mengangguk dan berkata, "oke." kemudian keluar dari ruangan itu.
Varga tersenyum kecut atas apa yang ia lihat. Tiga buah photo Aralia dengan seorang pria terlihat mesra. Saat Aralia menyuapi Reven dan ketika Reven menyuapi Aralia juga saat Reven membawa Aralia ke dalam pelukannya.
Hatinya sakit, nyeri, melihat senyum yang di pancarkan aura Aralia dalam gambar itu. Lepas, bahagia, senyum yang sama sekali belum pernah dapatkan dari Aralia.
Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi kau harus tahu apa yang dilakukan wanita yang paman cintai itu. Semoga dapat menyelesaikan masalah dan jika tidak? Datanglah padaku, aku akan memberimu cinta yang tulus.
Isi pesan Cayrol membuat Varga tersenyum getir, 'Cinta yang tulus' gumamnya dengan tatapan datar. Anak kecil mengajarinya tentang mencintai dengan tulus.
Varga meraih kunci mobilnya dan keluar meninggalkan pekerjaanya menuju kampus Aralia.
Satu hari sebelumnya ....
Begitu mendengar Aralia kembali dari rumah sakit, di pagi hari Varga mendapatkan pesan dari Cayrol. Varga mengeleng-gelengkan kepala membaca pesan itu. Cayrol bersemangat menangih janjinya.
Baiklah, mari kita bertemu nanti jam empat sore, kau tentukan tempatnya aku akan datang. Balas Varga, ia ingin melunasi hutang janji pada gadis centil ini dan sebisa mungkin menjauh.
"Ara, hari ini kamu belum ke kampus kan?" tanya Varga setelah membalas pesan Cayrol di meja makan.
Aralia tampak berpikir, baru semalam ia kembali dari rumah sakit.
"Mungkin besok, kak." Jawab Aralia.
"Benar besok aja, kau baru pulang dari rumah sakit jangan banyak pikiran dulu." kata Ele.
Aralia mengangguk, melirik ke arah Varga yang kini mengelus pucuk kepalanya lembut.
"Makan yang banyak, untuk menggantikan darahmu yang diambil di rumah sakit. Kau harus sehat." ucap Varga, rasa sayang yang ditunjukkan Varga padanya membuat pasangan yang sudah tua di hadapan mereka saling tatap, merasa cemburu tapi senang melihatnya.
Aralia tersenyum tanpa bisa menolak perlakukan manis Varga saat di depan mertuanya.
______________________________________________
"Paman...," panggil Cayrol melambaikan tangan ketika melihat Varga memasuki pintu masuk kafe. Varga tersenyum dan menghampiri.
"Maaf Cayrol, aku sudah membuatmu menunggu." kata Varga menarik kursi lalu duduk.
"tidak masalah paman, aku juga baru sampai dua jam yang lalu kok."
"Hah?" Varga tertegun mendengarnya. Dua jam bukankah itu waktu yang lama?
"oh ya ampun, sorry tapi aku terlambat lima belas menit dari waktu yang kita janjikan."
"Aku bilang tidak masalah, Cay yang terlalu bersemangat." ucap Cayrol senyum-senyum.
"Jadi apa yang akan kita lakukan? Makan? Belanja? atau ...,"
"Nonton."
"Nonton?"
Cayrol mengangguk penuh semangat, tapi tidak dengan Varga. Itu sangat membosankan baginya. duduk berjam di tempat remang dan hanya fokus ke satu layar raksasa di depan yang sekaligus menjadi penerang ruangan itu.
Dia malas dan lebih baik mengunduh atau membeli copy annya aja dan menonton di rumah. itu lebih baik baginya.
"Jadi bagaimana?" tanya Cayrol.
"Tidak masalah," Varga memutuskan karena kalau dia menolak mungkin permintaan Cayrol akan aneh lagi.
"Ya sudah kita berangkat," Cayrol bangun dari duduknya, menarik tangan Varga dan membawanya keluar dari dalam kafe.
Cayrol terlihat seksi dengan rok mini kembang bermotif bunga dipadu dengan atasan crop top yang membuat Varga sedikit tidak nyaman karena penampilan Cayrol membuat beberapa pria nakal menatapnya dengan nafsu. Pusar gadis itu sengaja di pertontonkan.
Sementara Varga ia tetap tampan dengan kemeja putihnya.
__ADS_1
"kau mau nonton apa?" tanya Cayrol, mendongak melihat Varga yang jauh tinggi darinya.
"Aku serahkan padamu saja."
"Baiklah kita nonton romance aja." Cayrol memutuskan dan memilih salah satu judul Filim hasil produksi negara Thailand. Varga mengeluarkan kartunya untuk membayar kemudian mereka membeli beberapa cemilan dan soft drink.
Filim mulai di putar, Cayrol menyandarkan kepalanya pada lengan Varga sambil menggenggam tangan pria itu.
Varga menarik napas perlahan, dan belum lama duduk di sana sudah merasa bosan. tiba-tiba ia melihat ke arah Cayrol dan membawanya ke dalam lamunan.
Andai saja Aralia yang melakukan ini, aku tidak peduli meski rasa bosan menggenapi di ruangan ini aku akan betah menjaga kekasihku, belahan hatiku tentu aku akan menggodanya dan membawanya fokus padaku saja tanpa harus melotot ke layar raksasa itu.
Aku akan membawa tangannya dalam genggamanku, mencium satu persatu jarinya, manatap matanya yang indah, mencubit pipinya, lalu jika tidak malu aku akan mencium bibir seksi Aralia. Aku akan menganggunya selama filim itu di putar
Entah karena tatapan Varga terpusat pada Cayrol gadis itu jadi salah tingkah, Ia menatap Varga dan mulai mendekatkan diri. Cayrol mendekatkan wajahnya dan hampir saja mendaratkan bibirnya pada bibir Varga andai ponsel milik Varga tidak bergetar.
Varga terperanjat, merongoh saku celananya beruntung ponselnya dalam nada getar. Telpon dari Lisa. Varga mematikannya dan melihat ke arah Cayrol mengingat kenapa bisa ia sedekat itu dengan gadis itu tadi. Sementara gadis itu mengulum bibirnya sendiri dan merasa canggung.
Filim selesai di putar tanpa Varga tahu isi dari cerita filim itu. Mereka kini berjalan di keramaian menuju tempat makan. Restoran jepang tujuan mereka.
Varga memesan sesuai selera Cayrol, Makan sambil berbincang dan tertawa seadanya lalu memutuskan kembali pulang karena sudah jam sepuluh malam.
"Aku mencintai paman," ucap Cayrol saat Varga membuka pintu mobilnya. Varga tersenyum lebar, menutup kembali pintu itu dan menoleh ke arah Cayrol.
Ada apa ini?
"Aku menyukaimu Cayrol, kau cantik, energik, baik tapi rasa sukaku terhadapmu ... hanya sebatas adik." kata Varga. Cayrol menunduk diam.
"Kau masih anak remaja,"
"Ara juga masih remaja paman, tapi paman menikahinya."
Jika itu alasan Varga menolak, ia akan protes.
"lagipula cinta tidak memandang usia kan? perbedaanya hanya di angka saja." kata Cayrol lagi.
Varga menarik napas perlahan, melihat ke arah lain. Kenapa jadi rumit begini?
"Itu sebabnya sampai sekarang aku masih menunggu Aralia dewasa, Cayrol."
"Lalu setelah dewasa apa paman akan mencintainya?"
"Aku mencintai istriku, Cayrol. saat ini juga aku mencintainya."
"tapi Aralia tidak mencintai paman, dia punya pacar."
Varga menelan salivanya. Rumit sekali menjelaskannya pada Cayrol. Tapi dibanding menjelaskan ia lebih tertarik dengan kata-kata Cayrol tentang pacar Aralia.
"Apa kau mengenal pria itu?" Tanya Varga menghampiri Cayrol yang berjarak semeter darinya.
"Empat hari yang lalu, dia datang mencari Ara ke ruangan kami."
Varga mengangguk, meletakkan telapak tangannya di pipi gadis itu.
"Cayrol, maaf tapi aku lebih senang menganggapmu sebagai teman, atau adik jangan minta lebih dari itu karena cintaku sudah milik istriku."
"Apa kau sangat mencintainya?"
"Begitulah,"
"Meski di hianati?"
"Tidak dia tidak menghianatiku, untuk saat ini dia hanya bingung dan kesasar."
Cayrol tersenyum meski ia kecewa dengan penolakan Varga.
Bersambung
__ADS_1