IPAR

IPAR
Ini perintah


__ADS_3

"Kami pamit pulang ya, Ma." ucap Varga setelah memasukkan tas ke dalam bagasi mobil.


"Iya, kalian hati-hati." Nisa mencium Bianca sebelum menyerahkan pada Varga.


Aralia yang masih berdiri di belakang Nisa berdehem. Nisa masih marah dan acuh padanya. Tapi meskipun demikian seorang ibu tetaplah akan memaafkan jika si anak sudah meminta maaf.


Nisa menoleh, Aralia menghampiri berniat memeluk ibunya itu.


"Ya ampun ..., Sebenarnya mama tuh masih kesal sama kamu. Tapi apalah dayaku, Ara. Mama tidak punya pilihan lain selain memaafkan kamu." Nisa menarik napas panjang, melebarkan kedua tangannya memberi izin untuk Aralia memelukknya. Aralia tersenyum dan tanpa menunggu lama putrinya itu sudah memeluknya erat.


Nisa, juga membalas pelukan itu. Ada bulir di sudut mata Nisa yang siap tumpah. Tapi wanita itu menahan dengan mendongak ke atas, ia tak ingin menjadikan suasana menjadi pilu.


"Maafin Ara mama." ucap Aralia di pelukan Nisa.


"Iya sayang, tapi ingat jangan kau ulang lagi. Itu tidak baik, mama sangat sayang sama kamu." ujar Nisa mengelus kepala Aralia.


Varga yang melihat adengan itu terharu, ia tersenyum sembari memeluk Bianca putrinya.


Aralia melepaskan pelukan itu, mencium kedua pipi Nisa dan berkata, " Ara pamit ya ma, lain kali kami datang."


"Harus dong sayang, kalian harus sering-sering berkunjung, ya." ucap Nisa, melihat ke arah Varga.


Varga memberikan Bianca pada Aralia dan istrinya itu segera masuk kedalam mobil. Melambai dari jendela pintu meninggalkan Nisa di sana sendirian.


"Sus, tolong buatin susu Bianca ya." ujar Aralia menoleh ke belakang dimana pengasuh Bianca duduk.


" Iya Nyonya." ujarnya seraya mengerjakan yang di perintahkan majikannya itu.


____________________________________________


Ra, Mari kita bertemu di cafe samping kampus.


Begitu isi pesan yang Aralia baca saat ia mengecek ponselnya di pagi hari. Aralia tersenyum, setelah menunggu lama akhirnya Reven mengajaknya bertemu. Ia mengikat rambutnya yang masih berantakan. Beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Semangat terlihat pada dirinya saat mengerjakan pekerjaan paginya, membantu pelayan rumah membuatkan sarapan. Aralia bersenandung kecil menata sarapan di atas meja dan itu membuat Ele dan juga Roland tersenyum mendengarnya.


"Eh Mama, Papa." Kaget Aralia saat tangan Ele menyentuh pundak menantunya itu. Ia tak menyadari kalau kedua mertuanya sudah berada di ruang makan.


"Sepertinya Ara bahagia banget," ujar Ele seraya menarik tempat duduk untuknya.


"Harus dong, jadi menantu papa itu harus bahagia. Benarkan Ara?" Timpal Roland, membuat rona di wajah Aralia makin terlihat.


"Ummm ..., " Aralia mengangguk.


"Ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu?" Sahut Varga menghampiri. Pria itu sudah terlihat rapi hendak kerja.


"Ah bukan apa-apa," jawab Ele. Membuat raut Varga cemberut.


"Tidak asyik ah, tadi Varga sempat dengar kalian tertawa." Roland dan Ele terkekeh ringan.


"Sudah, duduk manis dan nikmati saja sarapan yang dibuat Istrimu." Ele menuangkan susu kedalam gelas dan memberinya pada Roland.


Sementara Aralia melakukan hal yang sama. Perempuan itu menyajikan sarapan buat Varga. Dua potong roti panggang dengan isi telur ceplok dibuliri lelehan keju dan segela susu di hidangkannya buat Varga.


"Makasih, Ra." ucap Varga, ada binar di matanya saat melihat sarapan yang ada di hadapannya. Untuk pertama kalinya ia akan menyantap sarapan yang Aralia masak. Sebab selama ini Aralia hanya membantu menyendok saja dan meminta sarapan dibuatin pelayan rumah.


"Mmm ...," Gumam Aralia, melihat pria itu bersemangat. Begitu juga dengan yang lain turut menyantap sarapan mereka.


"Oh ya Pa, Ma. Hari ini Ara berangkat ke kampus lebih awal ya. Jam sepuluh nanti ada jam kuliah Ara." kata Aralia, minta izin.

__ADS_1


"Silakan. Jangan sampai kuliahmu terganggu. Oke!" Sahut Roland.


"Iya, Ra. Bianca biar mama dan perawatnya yang jaga." Timpal Ele.


"Makasih ...," Senyum Aralia, melirik ke arah Varga yang diam menguyah makanannya. Varga mengangguk saat Aralia melihatnya seolah meminta persetujuannya.


"Aku antar ya, Ra." ujar Varga.


"Tidak usah kak, aku naik daring aja." Aralia menyahut. Ia tak ingin Varga mengantarnya karena alasan sesungguhnya dia berangkat awal bukan karena ada mata kuliah di jam itu tapi menemui Reven, kekasihnya.


"Oh tidak, Ra. Papa sudah menikmati sarapan buatan kamu dan sangat enak. Jadi sebagai rasa ucapan terima kasih kau harus di antar Varga. Kalau nggak biar papa yang ngantar." Sahut Roland.


Aralia menelan salivanya, tidak ada alasan untuk menolak.


"Nggak usah, Pa. Biar kak Varga yang antar." ucap Aralia.


"Nah gitu dong," sahut Roland.


______________________________________________


Mobil Varga melaju mendekati kampus Aralia, saat di depan gerbang mobil itu berhenti.


"Nanti pulangnya di jemput, ya." ujar Varga seraya keluar dari mobil membuat Aralia bingung, dan kebingungan itu terjawab dengan rasa kaget saat Varga membukakan pintu untuknya.


"Jangan jemput! Ara bisa pulang sendiri." Ketus Aralia. Ia tak suka perhatian Varga.


Aralia keluar dan hendak melenggan pergi, tapi ada yang menahannya. Varga menahan tangan Aralia pelan.


"Apa begini caramu berpamitan pada suami?" Desis Varga, menarik Aralia mendekat. Tanpa bisa menolak kini perempuan itu sangat dekat bahkan bisa di bilang menempel pada Varga.


"Apa sih?" Masih dengan raut kesal Aralia berusaha melepaskan diri.


Perlahan, Varga menunduk dan hampir menyentuh bibir Aralia dengan bibirnya tapi Aralia masih sadar dan tak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain orang yang ia cinta meskipun sampai saat ini ia belum melepas ciuman pertamanya. Aralia mencubit perut, Varga hingga pria itu menjerit.


"Auh ...," Pekik Varga, menahan rasa pedas di bagian perutnya. "Kau ini. Sakit tahu!"


"Salah sendiri," Aralia tersenyum, ia berbalik dan sekali lagi tangannya tertahan oleh Varga.


"Ada apa lagi?" Kesal Aralia berbalik dan menabrak dada Varga.


Varga tersenyum, mendorong pelan Aralia lalu mencium kening istrinya itu sangat lembut.


"Ingat, tidak boleh ada orang lain masuk dalam hubungan kita. Aku akan menjemputmu nanti dan tidak boleh menolak ini perintah suami." ujarnya, melepas Aralia dan berjalan menuju kursi pengemudi.


"Aku bilang jangan jemput!" Aralia kesal, ia membersihkan bekas ciuman Varga dengan lengan kemejanya sementara mobil Varga sudah menjauh.


"Bikin kesal aja!" Gerutu Aralia melempar tasnya ke atas meja. Membuat Ilir dan Cayrol terkejut.


"Ara kenapa?" tanya Ilir, melihat Aralia duduk dengan raut masam.


Aralia menoleh pada kedua temannya itu, "hanya orang yang sudah berumah tangga yang bisa memahaminya. Jadi jangan tanya." Kata Aralia malas menjelaskan. Cayrol mencibir.


"Iya nyonya rumah tangga, selamat menikmati masa-masa kebahagian anda tanpa mau berbagi." ujar Ilir dan Cayrol mencibir.


"Bahagia apaan ...," gumam Aralia.


"Oh iya, Ra." Ilir mendekat, penasaran atas apa yang terjadi saat Varga mencari Aralia ke kampus waktu itu.


"Hari sabtu kamu kemana?" Tanya Ilir dan Cayrol lansung menatap serius ia tak ingin kehilangan alasan Varga mencari istrinya ini.

__ADS_1


"Kenapa memangnya?" Aralia balik bertanya.


"Si paman itu datang mencarimu ...,"


"Paman yang mana?"


"Suamimu,"


"Ilir ... dia itu baru berusia tiga puluh dua tahun." Untuk pertama kalinya Aralia protes saat mendengar sebutan itu.


"Tapi kita masih sembilan belas tahun Ara ...,"


"Terus kalian harus manggil dia paman gitu? Berasa aku nikah sama pria hidung belang tahu nggak?"


"Lalu manggil apa dong?"


"Ah serahlah ...,"


"Katanya terserah ...,"


"Ilir!" Kesal Aralia ingin mengakhiri berdebatan yang tak ada artinya itu.


Ilir memanyunkan bibirnya, menatap Cayrol.


"Weh ... Sudah pada ngumpul nih, Oh iya Ra sabtu nggak masuk kau kemana?" Lea yang baru masuk langsung mengajukan pertanyaan.


Aralia menarik napas panjang lalu menghembuskannya Perlahan.


"Ruang baca."


"Apa?"


"Eh?


"Sinting."


Aralia melihat ketiga temannya itu. Kata yang bersamaan keluar dari mulut mereka sungguh membuatnya bingung.


"Kenapa memangnya?" tanya Aralia menoleh pada Lea.


"Wah parah sampai suami kamu datang cariin ke kampus," jawab Lea ngeleng kepala.


"Serius?"


"Benar," Jawab Cayrol.


"Trus kalian bilang apa?"


"Kita bilang kamu nggak masuk dan parahnya Cayrol bilang kamu dah punya pacar."


Pantas Varga marah besar, tapi dia nggak serius nanggapin itu kan? Pasti serius kalau tidak dia nggak bakalan sebut-sebut orang ketiga dan nanya-naya siapa pria itu. Cayrol .... mulut comberan! Benak Aralia.


"Eh malah ngelamun," Lea menyengol bahu Aralia, membawa gadis itu tersadar.


Aralia menatap Cayrol tajam dan membuat gadis itu tercengir lalu, " maaf ...ya Ra." Gumamnya.


Tak lama kemudian sebuah pesan masuk pada ponselnya.


Ara aku sudah disini, datang ya.

__ADS_1


__ADS_2