IPAR

IPAR
Tolong izinkan aku memelukmu


__ADS_3

"Jadi kau mau aku melakukan itu?" Tanya Varga, memperhatikan sekaligus menyakinkan kalau dirinya tidak salah dengar.


"Ini karena keadaan darurat," lirihnya mengangguk.


"Kalau begitu kemarilah," Sepersekian detik Varga tersenyum simpul. Memutar sedikit posisi tubuh Aralia, menghadapnya. Tangan Varga hampir saja menyentuh dada Aralia.


"Apa yang kau lakukan?" Aralia terkesiap, menarik tubuhnya mundur dengan mata membulat dan tangannya refleks menutup bagian dadanya.


"Membuka pakaianmu?"


"Untuk apa?"


"Bagaimana aku melakukannya? Kalau pakaianmu masih disana."


"Kakak! Kau bisa melakukannya dari belakang."


"Caranya?"tanya Varga mengerutkan dahi, melirik belakang tubuh Aralia.


"Jangan bertingkah bodoh! Masukin tanganmu dari bawah kemejaku."


Glek!


"Tunggu!" Sontak Aralia menghentikan tangan Varga yang hampir bergerak.


"Apa?"


"Tutup matanya."


"Ya nggak kelihatan, Ra."


"Nggak perlu harus kelihatan kak, tinggal satuin aja sih."


"Ra, ngapain kakak tutup mata kalau kemejamu aja nggak di buka."


"Ah terserah kakak saja. Cepat!"


Varga memejamkan mata, lalu perlahan memasukkan kedua tangannya ke dalam kemeja Aralia dari bawah. Menarik kedua ikatan itu lalu mengaitkannya.


Deg, deg, deg!


Dadanya bergemuruh kala ia menyentuh kulit punggung Aralia, bahkan ia juga merasakan respon tubuh Aralia saat itu. Iya itu benar, Aralia memejamkan mata merasakan sentuhan hangat dari tangan Varga di punggungnya membuat detak jantungnya lebih cepat, bahkan wajah gadis itu merona.


"Sudah, terima kasih, kak." ucap Aralia lega begitu ikatan Branya menyatu.


Varga nampak menahan napas sejenak, setelah menyelesaikan misinya ia terdiam sorot matanya berubah sayu. Sedetik kemudian Varga bergerak duduk di sisi ranjang Aralia dan seketika meraih kedua bahu istrinya itu ke dalam pelukannya.


Aralia terperanjat, dan juga menahan rasa nyeri pada bagian tangan yang di infus karena tidak sengaja Varga menyenggolnya tapi itu bukan yang utama alasan dari rasa terkejutnya melainkan pelukan erat dari Varga, suaminya.


"Kak, apa-apain sih ...," Aralia berusaha menarik tubuhnya mundur.


"Sttss ...,sebentar aja, Ra." gumam Varga mengeratkan pelukannya.


"Kak ...," pelukan itu terlalu erat hingga membuat Aralia merasa sesak.


"Tolong izinkan aku memelukmu sebentar saja, Ra. sebentar saja. Aku mohon!" Iba Varga, entah apa yang membuat pria itu memeluk erat Aralia setelah sebelumnya mereka hampir bertengkar. Hanya Varga yang tahu jawabannya.


Aralia mengangguk! Menikmati wangi lavender, jeruk mandarin berpadu bersama bergamot dan lemon keluar dari tubuh dan pakain yang di kenakan pria itu sungguh membuatnya merasa nyaman.


Apa ini? Dia tetap wangi meskipun semalaman tidak mandi? Aku iri. Batin Aralia memejamkan mata.

__ADS_1


Aku sungguh jatuh cinta Tuhan, sungguh pada perempuan ini. Tapi kenapa yang aku rasakan hanya rasa sakit. Ini tidak adil aku sudah menunggu sangat lama tetap saja ia memberi hatinya pada orang lain. Apa tidak ada sedikitpun aku di hatinya? Batin Varga.


Cukup lama mereka berpelukan hingga sebuah ketukan di pintu memisahkan keduanya.


"Hai Ara ....," Sorak ketiga temannya yang baru datang. Ilir, Lea dan Cayrol menghampiri dengan buah tangan.


Varga bangun dari duduknya dan menyambut mereka dengan ramah.


"Kalian datang ...," Aralia merasa bahagia melihat ketiga temannya itu menghambur memeluknya.


"Bagaimana kabarmu?"tanya Ilir.


"Kangen tahu," tambah Lea.


"Kita butuh contekan!" Cayrol menimpali membuat Aralia melotot.


"Hei, seharusnya aku yang mengatakan itu bodoh." Geram Aralia mencibir ke arah Cayrol.


Ketiganya terkekeh, sementara Varga keluar membeli minuman dingin untuk teman Aralia.


Melihat Varga keluar, Cayrol menyusul, meninggalkan ketiga temannya itu bercengkraman kemudian berlari kecil memanggil Varga.


"Paman tampan." Panggil Cayrol menghampiri dengan langkah cepat.


Varga menggaruk tengkuknya, "kenapa dia mengikutiku?" gumam Varga sambil menunjukkan senyumnya.


"Hai Cayrol ..., makin cantik aja."


"Iya dong paman tampan, oh iya paman katanya mau ngajak Cayrol kencan. Kapan?"


"Oh ya ampun, maaf ya Cayrol aku hampir lupa." Varga tidak menyangka Cayrol akan mengungkit hal itu di tempat ini terlebih ia datang menjeguk istrinya.


"A-aa nanti setelah Aralia pulang ke rumah."


"Janji ya paman ...,"


Varga mengangguk, sepertinya ia memang harus melakukan itu. "Iya janji."


"Kalau begitu berikan nomer paman, biar nanti aku bisa hubungi paman."


"Harus ya?"


"Harus paman, bagaimana kalau paman lupa lagi?"


"Oke ..." Varga menyebutkanya dan langsung di simpan di ponselnya.


"Aku nggak sabar berkencan sama paman." ucapnya mengedipkan sebelah mata dengan centil, dan itu membuat Varga geli, tentu reaksinya itu ia tunjukkan setelah Cayrol yang mengenakan rok pendek kembang kembali keruang inap Aralia.


Astaga anak remaja sekarang ... Ia kembali melanjutkan langkahnya.


Setelah setengah jam berbincang, ketiga teman Aralia pamit pulang. Jam besuk sudah habis dan sudah waktunya juga Aralia istirahat.


Varga ikut mengantar ketiga gadis itu sampai pintu masuk rumah sakit.


"Ara ..." panggil seseorang menyusup masuk.


Aralia membulatkan matanya terkejut melihat kehadiran Reven dalam kamarnya. Ia turun dari tempat tidurnya dan ....


"Re ...kenapa kau kesini?" Reven langsung memeluk Aralia erat.

__ADS_1


"Kau bertanya kenapa aku kesini? Aku merindukanmu, Ara." Aralia terdiam, tentu ia juga merindukan pria ini tapi rasa rindu yang ia rasakan saat ini penuh kecemasan. Aralia membalas pelukan itu dengan satu tangan.


"Pulanglah, sebelum kak Varga datang!" Perintah Aralia, ia tak nyaman dan sorotnya mengawasi ke arah pintu.


"Aku tidak peduli," dia sudah menunggu setengah jam di luar hanya untuk bertemu dengan Aralia dan sekarang ia disuruh pergi hanya dengan hitungan detik. Ini tidak adil.


"Dari mana kau tahu aku di sini?" Aralia bertanya, mengingat ia belum bicara dalam waktu dekat ini padanya.


"Aku mengikuti ketiga temanmu."


"Ya ampun, Re. Maafkan aku." Aralia merasa bersalah, ia mengusap punggung Reven lembut


Sebelumnya ...


Saat Reven menelpon dan diangkat Varga, ia khawatir karena tidak mendapat jawaban yang pasti keadaanya kekasihnya itu. Yang ada ia malah membongkar perselingkuhan mereka pada Varga.


Reven putus asa sekaligus menyesal karena sudah melanggar aturan hubungan mereka, yaitu ia tidak boleh menghubungi Aralia saat kekasihnya itu di rumah.


Akhirnya ia memutuskan berkunjung ke kelas Aralia. Saat ia hendak menyapa ketiga gadis itu, Reven mendengar suara Aralia lewat pengeras suara ponsel dan sengaja menguping pembicaraan mereka, begitulah ia mengetahui posisi Aralia dan memutuskan mengikuti ketiga gadis itu ke rumah sakit diam-diam.


Aralia mengingat panggilan telpon Reven tadi pagi.


"Apa kau menelponku tadi pagi?" tanya Aralia penasaran, Reven perlahan melepas pelukannya dan menangkup wajah Aralia dengan kedua tangannya.


"Dia tidak melakukan apa-apa padamu kan?" Tanya Reven khawatir menatap Aralia.


"Jadi kau benar-benar bicara padanya?" Aralia kaget.


"Maafkan aku."


"Aku sudah bilang jangan menghubungiku,"


"Bagaimana aku tidak menghubungimu, Ara?" Aku khawatir dan juga bersemangat ingin bertemu denganmu. Apa aku salah?"


"Jadi kak Varga tahu kalau kita ...?" Reven mengangguk memberi jawaban.


Astaga, dan pria itu masih bisa bersikap baik padaku setelah mengetahui apa yang aku lakukan.


"Re, kau harus pulang sebelum kak Varga datang."


"Aku tidak takut, Ra. Lagipula kami juga akan bertemu kok."


"Apa?" Aralia kembali terkejut, sungguh seandainya ia memiliki penyakit jantung sudah dipastikan penyakitnya akan bertambah.


"Dia bilang dia akan menemuiku,"


"Lalu kau bilang apa?"


"Ya sudah kita bertemu."


"Re ..., jangan pernah menemuinya. Mengerti! Jangan!"


"Tapi kenapa, Ra? Aku tidak takut sama sekali, yang aku takutkan hanya satu yaitu kehilanganmu." ucap Reven sungguh-sungguh. Aralia terkesima melihat kesungguhan di mata Reven. Aralia menggigit bibir bawahnya lalu berkata.


"Sekarang pulanglah. Aku akan menemuimu setelah kembali dari rumah sakit."


"Kau tidak merindukanku, Ra?" tanya Reven sedih setelah beberapa kali Aralia menyuruhnya pulang.


"Re, please ... Aku merindukanmu tapi kau harus tahu posisiku?" ucap Aralia mengeluh.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pulang, pastikan kau sehat aku akan mengambilmu darinya. Secepatnya." Reven kembali memeluk Aralia lalu mendaratkan kecupan di keningnya setelah itu Reven keluar meninggalkan Aralia berdiri diam di tempatnya.


__ADS_2