
Aralia menyadari diperhatikan ibunya, ia meletakkan sendok menyudahi kunyahanya. Mengambil air minumnya lalu meneguknya.
"Ra ...," Nisa membuka suara.
"Iya, Ma."
"Semalam mama menelpon Varga, apa kalian bertemu?" tanya Nisa.
"Mmm..., bukannya mama sudah tahu dari kak Varga?"
"Iya ...," Nisa menarik napas berlahan, "Varga bilang kau menolak untuk menikah dengannya. Apa itu benar Ra?"
"Iya itu benar,"
"Tapi kenapa?"
"Bukannya kak Varga memberitahukan alasannya, Ma?"
"Pernikahan tanpa cinta?"
Aralia, melihat Ibunya lalu mengangguk.
"Ra ....,"
"Ma, keputusan Ara sudah bulat. Lagipula kak Rena juga tidak akan setuju jika hatiku terpaksa." ujar Aralia bangun dari duduk dan mengitari meja makan untuk mencium kedua pipi ibunya, dan Nisa mengangguk.
Aralia, memperlambat langkahnya saat memasuki gerbang kampus. Pandangannya berkeliling seperti sedang mencari seseorang.
Benar, Reven orang yang ia cari. Semenjak bertemu dengan Reven ia selalu datang lebih awal dan menunggu di gerbang kampus tapi sayang pria itu tidak pernah muncul.
Darrrr
Aralia terperanjat saat seseorang mengejutkannya dari belakang.
Ilir dengan buku ditangan tertawa ia berhasil membuat Aralia terkejut luar biasa.
"Ilir!" Gertak Aralia kesal.
Ilir mengatur napas, "kau sangat terkejut?"
"Tentu saja, Sial!"
Aralia berjalan lebih cepat memajukan bibirnya sementara Ilir mengekor di belakang sambil terkekeh.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Varga menekan bel rumahnya dan tak lama Ele membukakan pintu.
"Sudah pulang sayang." Ele menutup kembali pintu rumah setelah Varga masuk.
Varga melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya sambil melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Hari ini ia pulang lebih awal.
"Bianca ada dimana, Ma?"
"Ada di kamar kamu, Ga. Sepertinya Demam tapi mama sudah memberinya obat penurun panas."
Varga membuka pintu kamar lalu mendekati ranjang Bianca. Mengangkat tubuh kecil Bianca lalu menempelkan tangannya di dahi bayi kecilnya.
"Suhu tubuhnya masih tinggi, Bianca sudah berapa lama minum obat, Ma?" Dengan perasaan khawatir Varga mendekap Bianca.
"Satu jam lalu, Ga. Tadi sempat reda sih."
Varga bisa merasakan suhu tubuh Bianca meresap ke tubuhnya. Tubuh bayi mungil itu juga gemetar dan itu membuat Varga panik.
"Kita bawah ke rumah sakit aja, Ma." kata Varga panik. Ia mendekap bayi kecil itu menuruni anak tangga. Begitu juga dengan Ele. Ia mengikuti Varga dari belakang dan segera menutup pintu lalu mengambil Bianca dari Varga.
Varga menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah sakit.
Di rumah sakit, Bianca segera di tangani dokter dan di sarankan untuk opname. Varga setuju dan keluar dari ruangan dokter untuk mengurus administrasi.
Ele menemani dokter dan perawat menyiapkan kamar untuk Bianca. Di usianya yang belum genap dua bulan bayi itu harus merasakan getirnya tusukan jarum di dalam tangannya yang kecil.
Ele menutup matanya saat Bianca mendapatkan tusukan jarum suntik. Ia mengecup dahi mungil itu dan tanpa sadar kedua matanya menitikkan air mata.
Merasakan sakit saat melihat cucunya itu terbaring di ranjang itu dengan kondisi sakit. Andai saja ia bisa menggantikan posisi cucunya itu ia akan menukarkan diri.
Varga segera datang dan, " bagaimana Ma?" Tanya Varga.
"Sudah dipasang Infus, kata dokter kalau dalam enam jam suhu tubuhnya masih tinggi. Darahnya akan di ambil untuk pemeriksaan lebih lanjut." Ele menjelaskan.
Varga menghela napas panjang, matanya yang teduh tersirat kesedihan yang dalam.
Putriku lekas sembuh, Nak. Papa tidak kuat melihatmu begini.
"Beritahu mertuamu, ya."ujar Ele menepuk bahu Varga yang sudah duduk di samping ranjang Bianca.
Varga mengangguk, sembari mengusap wajahnya. Kedua mata pria itu mulai merabun, air matanya siap tumpah.
Bianca dengan wajah polosnya tertidur setelah lelah merengek saat tangan kecil itu di suntik. Varga tak kuasa melihat putri kecilnya itu, ia mulai berkecil hati dan bertanya kenapa takdir membuatnya kesulitan.
Varga mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomer Nisa mertuanya.
Tak lama terdengat sahutan dari seberang.
"Ada apa Ga?"
__ADS_1
"Bianca masuk rumah sakit. Suhu tubuhnya tinggi dan sudah masuk infus."
Suara Nisa terdengar gemetar, " a-apa? Varga cucuku kenapa?" Suara gemetar dengan napas lelah terdengar.
"Kirimkan alamat rumah sakitnya, mama akan kesana."
"Iya." Telpon terputus, Varga mengetik lalu mengirim lokasi dimana ia berada sekarang.
Nisa berjalan dengan semua tenanga yang ia punya menuju ruangan yang ada di pesan Varga. Kedua kakinya terasa lelah dan jantungnya tak karuan berdentak. Rasa takut dan khawatir menyerbu Nisa. Rasa trauma ditinggalkan membuatnya gemetaran.
Cucuku nenek datang sayang.
"Mana cucuku?" Nisa langsung mendekati Bianca yang tertidur di atas ranjang. Bulir di kedua matanya terjatuh.
"Sayang, bangun nenek datang." Gumam Nisa mengelus pipi Bianca supaya terbangun.
"Kata dokter Efek obat, Ma. Bianca akan tertidur."
"Varga, Besan." Nisa meraih tangan Varga.
Ele yang turut menemani mengelus pundak Nisa.
"Kita doakan saja, Bianca akan sehat kembali." ujar Ele. Varga merangkul Nisa dan membantunnya duduk di bangku.
Aralia, berulang kali mengecek ponselnya di dalam kelas. Berharap Reven mengirimnya pesan atau menghubunginya. Cayrol yang duduk di sampingnya memperhatikan Aralia dan merasakan keanehan Aralia.
"Ra, kamu lagi nunggu telpon seseorang ya?" Cayrol yang penasaran bertanya, sambil merapikan rambutnya.
Aralia meletakkan ponselnya dan melihat Cayrol. "Ingat tidak waktu aku cerita ketemu pria tampan?"
Cayrol mencoba mengingat dan, " oh, ingat kenapa memang. Tapi aku belum pernah lihat jadi belum bisa mastiin kalau pria itu tampan atau tidak."
"Cayrol ..., "
Cayrol tersenyum iseng. "Jadi kau lagi nunggu telponnya? Emang nomermu ada sama orang tampan itu?"
Aralia mengangguk.
"Serius?"
"Iya."
Tiba-tiba ponsel Aralia berdering, tanpa melihat siapa pemanggil ia langsung mengangkatnya.
"Halo," rona wajahnya berubah seketika saat mendengar suara Varga.
"Ra, aku ada di depan gerbang kampus kamu."
"Mau ngapain?"
Aralia menarik napas lalu menghembuskannya.
"Yang nelpon kakak ipar kamu ya?" Cayrol dengan mata bersinar bertanya saat melihat Aralia berubah berhati dingin.
"Diam!" Bentak Aralia dan spontan Cayrol menutup mulutnya. Aralia menarik tas dan segera keluar ruangan menghampiri Varga yang terlihat berantakan berdiri di samping mobilnya.
Kemeja hijau tosca yang ia kenakan terlihat kusut dan rambutnya yang selalu terlihat rapi kini berantakan. Wajahnya pucat dan mata pria berparas tampan itu memerah.
Aralia dengan segala kemarahan di hatinya menghampiri.
"Aku sudah bilang jangan datang ke kampus Ara." Pekik Aralia kesal.
"Naiklah kita pulang." Varga dengan tenang berucap.
"Tidak."
"Ara, kakak mohon!"
"Sebelumnya kita sudah bahas ini kak, aku tidak mau menikah dengan kakak."
Varga menarik napas, menyisir rambutnya dengan jari-jarinya yang indah lalu menatap Aralia dengan tajam. Melihat tatapan Varga, Aralia merasakan ketakutan. Terlebih tangan pria itu menarik tangan Aralia dengan kuat hingga jarak diantara mereka sangat dekat.
"Apa kau kira aku datang kesini untuk itu? Aralia, hanya demi istriku aku terlihat seperti pria menyedihkan di hadapanmu. Tapi semua itu sudah berakhir. Kau pasti masih ingat dengan ucapanmu di restoran." ujar Varga, Gadis itu berusaha melepaskanya tapi kekuatan Varga yang bercampur emosi membuatnya kesakitan.
"Lepasin!" Pekik Aralia, dengan usaha kerasnya, " kau menyakitiku." gumam Aralia dengan ketakutan. Varga melepas tangannya .
Varga menggelengkan kepalanya, "Maaf, Naiklah kita pulang." Ajak Varga dengan rasa bersalah.
"Tidak, aku masih ada kelas."
"Bianca sakit dan dia ada di rumah sakit sekarang. Mama memintaku menjemputmu."
"Apa?" Aralia kaget, "sakit apa?"
"Naiklah."
"Sakit apa?"
" Entahlah tapi kata dokter kalau demamnya tidak turun, darahnya akan di ambil untuk di LAB."
Aralia naik ke mobil Varga, dan mereka meninggalkan tempat itu.
Rumah sakit.
"Kita ambil darahnya, Bu." kata dokter sambil menyiapkan alatnya di depan Nisa dan Ele.
__ADS_1
"Tapi putraku belum datang, ia masih dalam perjalanan. Apa bisa kita tunggu sebentar lagi." Kata Ele pada dokter yang menangani Bianca
"Suhu tubuhnya masih belum turun juga, sesuai yang disepakati pak Varga kita akan lakukan cek darah."
"Baiklah,"
"Tunggu sebentar saja." Kata Nisa, ia menghentikan perawat yang sudah bersiap.
"Ibu ...kami tahu anda khawatir tapi ini demi kesembuhan pasien."
Dan dengan kebetulan Varga dan Aralia datang, Aralia menghampiri Nisa yang pucat.
"Harus cek darah, Dokter?"
"Iya. Bagaimana boleh saya lanjutkan?" Kata dokter meminta izin.
Varga melihat Ele dan Nisa bergantian. Kedua wanita itu mengangguk tanda setuju.
Aralia mengusap tubuh Nisa yang sudah gemetar, ia menarik napas lalu memejamkan mata. Saat kedua mata gadis itu terpejam, ia melihat wajah Rena tersenyum Aralia kaget dan segera membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan dengan ragu memejamkan matanya kembali.
"Ara, lihat putrimu dia kangen sama kamu. Peluklah."
Aralia merasakan pusing seolah berada di tempat asing tubuhnya lemas dan berkeringat.
Ia mendengar suara sayup-sayup memanggil namanya.
"Ara ...,"
"Ara bangun."
Lalu suara tangis, Aralia kenal suara itu. Suara Nisa. Aralia membuka mata perlahan lalu melihat nanar orang-orang disekitarnya. Ia terbaring di ranjang dengan lemah.
"Mama ...," Gumam Aralia, Nisa langsung memeluknya dan berkata.
"Kau sudah bangun, Nak?"
Aralia bingung, mencoba mengingat apa yang terjadi. Ia kini terbaring di atas ranjang. Disana ada Nisa, Ele dan seorang perawat.
"Apa yang terjadi, Ma?" Dengan kepala terasa berat Aralia mencoba bangun dari tidurnya.
"Kau tiba-tiba pingsan, Ra." jawab Nisa dengan mata sembab.
"Apa?" Sahut Aralia tak percaya. Tubuh lemahnya spontan duduk seiring dengan rasa kagetnya. Kepalanya kembali berdenyut.
"Auh ...," Pekik Aralia kesakitan.
Rena? Aku melihatnya? Apa cuma mimpi?
"Jangan tiba-tiba bangun, Ra. Kau habis pingsan." Ele mendorong tubuh pelan Ara agar kembali berbaring. Namun, Aralia menolaknya.
"Bagaimana dengan Bianca?" Aralia berusaha turun dari ranjang.
"Jangan banyak gerak dulu, Nona. Kita cek tengsi ya." ujar perawat, Aralia segera menolak.
"Tadi kau tiba-tiba pingsan dan membuat semua panik. Bianca akan cek darah." ujar Nisa, wajahnya masih terlihat khawatir.
"Aku akan kesana."
Aralia berjalan meninggalkan ruangan dan di ikuti Ele dan Nisa. Mereka masuk ke ruangan dimana Bianca akan melakukan cek darah.
Dua perawat membantu menahan tangan Bianca dan dokter bersiap menusukkan jarum suntik.
"Dokter," panggil Ara menghentikan gerakan dokter yang akan menyuntik Bianca, Varga menoleh kebelakang melihat Aralia menghampiri.
"Sudah baikan?" Tanya dokter berparas cantik dan muda itu.
"Satu jam, tolong tunggu satu jam lagi." Aralia mengabaikan pertanya dokter padanya dan malam meminta sesuatu.
Dokter melirik Varga yang tengah melihat ke Aralia.
"Ara, suhu tubuh Bianca masih tinggi dan kita harus menga—,"
"Satu jam." Aralia menyela ucapan Varga. Kakak iparnya itu memijit pangkal hidungnya menahan rasa kesalnya karena di anggap angin lalu oleh Aralia.
Ele mengangguk mengelus pundak putranya itu. Sementara Nisa memilih duduk, diam dan memperhatikan putrinya yang baru saja membuatnya ketakutan.
"Baiklah, pantau terus suhu tubuhnya jangan sampai bayi manis ini mengalami kejang. Oke!" ujar dokter itu pada perawat dan tatapannya beralih pada Aralia sebagai orang yang bertanggung jawab atas permintaanya itu.
Aralia mengangguk paham, perawat menyerahkan Bianca ketangan Aralia.
"Sayang ... Jangan takut ada ma---," Aralia langsung terdiam saat mulutnya hampir mengatakan kata 'Mama'.
Aralia menimang Bianca, memandang wajah mungil bayi itu dengan lembut.
Ele dan Nisa memperhatikan Aralia yang terlihat seperti seorang ibu. Begitu juga dengan Varga yang masih memasang wajah kecutnya merasa tersentuh saat putrinya tertidur di tangan Aralia.
Tiga puluh menit kemudian, Bianca merengek merasa haus. Ele langsung menyerahkan susu botol pada Aralia yang duduk di tepi ranjang sambil memangku Bianca.
Aralia memberi susu Bianca dan disambut dengan baik oleh Bianca. Bayi kecil itu menyedot susu itu tanpa tersisa.
Aralia tersenyum, perawat masuk dan melakukan cek suhu ulang pada tubuh Bianca.
Hasilnya membuat Aralia tercengan begitu juga dengan perawat yang membacakan suhu tubuh Bianca.
"Oh Tuhanku." Sorak Ele memeluk Nisa dan tanpa sadar Varga memeluk Aralia yang masih mendekap Bianca.
__ADS_1
"Apa aku bilang Besan. Dia Ibunya, kita harus menikahkan mereka, secepatnya." ujar Ele