IPAR

IPAR
Gaun


__ADS_3

Selesai pernikahan Aralia dan Varga yang mana sekarang menjadi suaminya kembali pulang ke kediaman mereka. Pernikahan terlaksana di rumah Aralia sebagai permintaan Nisa.


Aralia memeluk ibunya dengan erat, berat rasanya meninggalkan wanita itu sendirian di rumah yang sudah ia tempati selama ini dan hari ini dia harus pergi dan terikat menjadi keluarga orang lain.


Nisa mengangguk melepaskan Aralia, sudah resikonya sebagai orang tua.


Varga membukakan pintu untuknya dan tak lama mobil itu berjalan meninggalkan rumah Nisa.


Aralia berdiri tepat di depan pintu kamar Varga, menunggu pria yang ia tinggalkan di luar sana datang dan membuka untuknya.


Varga berlari kecil menaiki anak tangga tak ingin membuat Aralia menunggu dan menunjukkan raut dingin padanya.


Varga membukakan pintu, untuk pertama kali baginya ia menginjakkan kaki di kamar pria ini. Rapi dan terkesan mewah.


Banyak photo menghiasi dinding, dan semua itu photo Rena kakaknya. Aralia menatap satu photo besar yang terpajang di sana, photo pernikahan Rena dan Varga.


Aralia duduk di sofa yang ada di sana dan melihat Varga yang tengah berdiri di dekat pintu.


"Kapan kita pindah?" tanya Aralia membuka suara, melihat ke arah Varga.


Varga mengerutkan kening, " pindah?" Tanyanya bingung.


"Mmm ...,"


"Kemana?"


"Rumah yang di —," belum selesai ucapan Aralia, Varga langsung menyahut.


"Kita akan tinggal di sini, rumah itu sudah di jual."


Varga lupa mengatakan kalau rumahnya dengan Rena sudah ia jual semenjak kejadian yang menimpa istrinya itu.


Aralia mengangguk, "lalu di mana aku meletakkan pakaianku?"


"Lemari yang ini kosong, kau bisa memakainya dan tolong yang ini jangan sentuh ini milik Rena, Istriku." ujar Varga, menunjukkan satu lemari besar yang ada di ruang itu. Aralia mengangguk ia tak peduli dengan lemari yang dilarang Varga untuk ia sentuh.


"Kalau begitu singkirkan saja," gumam Aralia.


"Apa?" Aralia menggelengkan kepala.


Suasana canggung tercipta di ruangan itu. Aralia maupun Varga diam di posisi masing-masing. Aralia merasakan gerah dan gatal pada tubuhnya yang masih berbalut gaun indah yang menjuntai menyapu lantai.


"Bisakah kau keluar? Aku mau mandi." Kata Aralia menatap Varga lewat meja rias yang ada dikamar itu.


Varga mengangguk berjalan keluar dan tak lupa menutup kamar.


Aralia bergerak melihat ranjang kecil yang diperuntukkan untuk bayi. Bewarna putih dan di hiasi dengan gantungan terang. Aralia tersenyum saat tangannya menyentuh gantungan dan mengeluarkan suara nyanyian.


Tok ... Tok ...

__ADS_1


Aralia menoleh, dan berjalan membukakan pintu. " Ada apa?"


Varga membawakan koper berisikan pakaian Aralia yang sudah ibunya siapkan.


"Pakaian kamu." Katanya mendorong koper itu masuk ke dalam.


Aralia kembali menutup pintu setelah Varga pergi. Ia mengeluarkan pakaiannya dan memilih sepasang piyama dan handuk


Malam ini ia ingin memanjakan diri dengan air busa di atas bak mandi.


Aralia meneteskan aroma terapi ke dalam air yang sudah ia tampung dalam bathup dan membuka cincin pernikahan dan meletakkan di atas bathup kemudia membuka gaun yang ia kenakan.


Sial


Umpatnya kesal, berusaha meraih resleting di bagian belakang tubuhnya. Tangannya sampai namun tak dapat menarik resletingnya.


Ahrrr


Aralia geram, keluar dari sana dan berdiri di depan cermin kamarnya melihat bagaimana caranya membuka resleting itu. Tapi gadis itu tak dapat juga.


Menyebalkan


Berendam yang ia impikan akhirnya hanya mimpi, detak jam sudah berada di jam sepuluh malam, di tambah suaminya itu belum juga datang.


Aralia duduk di atas ranjang, ia menyerah lalu membaringkan tubuhnya merasakan gatal dan lengket pada tubuhnya.


Sebenarnya ia sudah memikirkan untuk menelpon Varga sedari tadi. Tapi Aralia tak punya keberanian melakukannya. Tak akan itulah yang ada dalam hatinya. Ia tak ingin pria itu melihat tubuhnya apalagi menyentuhnya.


Aralia sontak terkejut, mendengar pintu terbuka ia spontan bangun dan mendapati Varga di depan pintu. Pria itu mengerutkan kening, bingung melihat Aralia masih dengan balutan gaun pengantin.


"Kau belum mandi?"


Aralia menggelengkan kepala dengan sorot malas.


"Dingin," jawabnya.


"Oh," Varga mengangguk, masuk ke kamar mandi dan berniat menyegarkan tubuhnya dengan mandi.


Varga membuka kancing kamejanya seraya melihat air yang ada di dalam Bathup belum digunakan dan masih mengeluarkan aroma segar.


Varga menghela napas, berpikir kalau ada sesuatu yang membuat gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu tak jadi mandi. Varga tampak berpikir kemudian memutuskan keluar dan bertanya.


"Apa kau menyiapkan air itu untukku?" Hahaha Varga ingin tertawa saat pertanyaan itu meluncur dari mulutnya, mana mungkin Aralia yang begitu membencinya menyiapkan air mandian berserta meneteskan wangia-wangian disana. Hanya saja Varga harus bertaya.


Aralia mengerutkan kening dan berdecih.


Jangan pernah pikirkan hal itu


"Menurutmu apa itu untukmu?" Aralia balik bertanya.

__ADS_1


"Aku rasa tidak."


"Lalu kenapa bertanya."


"Mmm baiklah, aku salah sudah berharap." Kata Varga ada sedikit senyum terukir di wajahnya. Saat ia hendak menutup pintu ia kembali mengeluarkan kepalanya lalu berkata.


"Sepertinya kau sangat senang mengenakan gaun itu." Katanya lalu menutup pintu kamar mandi.


Aralia menggigit giginya geram, "apa dia mengejekku?" Katanya melemparkan tatapan tajan ke arah pintu kamar mandi sambil meremas gaun nya kesal.


Selesai mandi, Varga mengenakan piyama di dalam kamar mandi, mencoba melupakan kebiasaannya yang hanya mengenakan handuk dan berjalan -jalan di kamarnya. Ia ingat kehadiran Aralia yang belum bisa menerima dirinya.


Varga mendapati Aralia masih duduk di atas ranjang, "tidurlah ini sudah larut," kata Varga mengeringkan rambutnya di depan cermin.


"Mmm ..., " gumam Aralia sekilas tatapan mereka bertemu lewat cermin itu, dan entah kenapa detak jantung Varga berdetak cepat.


"Kau tidak ingin mengganti pakaianmu?" Varga mencoba mengabaikan detakan itu, "wajahmu juga harus di bersihkan dari make up kalau tidak bisa menimbulkan fle hitam nantinya."


Apa? Aku peduli dengan wajahnya yang terlihat cemberut itu. Aku tidak tahu apa yang merasuki aku. Oh my ....


Aralia berdiri dan berjalan ke arah lemari miliknya, sementara Varga mulai naik ke atas ranjang setelah merapikan rambutnya dan berniat tidur.


Ia melihat gadis mungil yang sudah sah menjadi istrinya itu terdiam dan merasa tak nyaman dengan gaun yang ia kenakan. Meski terlihat cantik tapi bagi Varga gaun itu tak nyaman dibawah tidur.


Aralia berdehem, " sepertinya ada masalah dengan gaun ini. Aku susah menarik resletingnya." Rasa egoisnya ia hilangkan. Varga menipiskan bibir benar dugaanya pasti ada yang tidak beres.


Varga menurunkan kakinya dari ranjang dan bergerak menghampiri Aralia, meraih pundaknya dan memutar tubu Aralia. Gadis itu terkejut dengan perlakukan Varga yang mendadak, merona.


"Kenapa begitu sulit meminta bantuan suamimu sendiri. " kata Varga menarik resleting itu hingga ke bawah. Membelah gaun yang Aralia kenakan. Varga sempat mematung melihat punggung mulus Aralia dan sialnya detak jantungnya kembali berdetak. Tak hanya itu darah alami sebagai pria normal terasa mendidih ia rasakan mengalir di dalam dirinnya, wajah Varga memerah ia ingat sudah lama semenjak menduda nafkah batinnya tak terpenuhi.


"Jangan mandi ini sudah larut malam kau bisa sakit nanti, bersikan make up mu saja. Aku akan tidur di sofa kau bisa tidur di ranjang dan jangan lupa kunci pintu takut ibu masuk tanpa mengetuk." Kata Varga mengambil bantal dari ranjang dan beranjak ke sofa. Menidurkan diri di sana sambil mengatur napasnya yang sedikit terasa sesak.


Ada apa ini? Batinya menepuk dadanya yang terasa sesak. Malam ini seharusnya malam pertamanya, malam yang mendebarkan baginya tapi mengingat hubungannya dengan istrinya itu terjalin karena suatu hal ia berusaha mengabaikan malam spesialnya itu.


Aralia masuk kedalam kamar mandi dan mengabaikan perkataan suaminya dengan sengaja mandi dan bahkan berendam di sana dalam waktu yang lama.


Pagi hari, saat Aralia membuka matanya ia mendapati Varga terlihat rapi. Mengenakan kameja putih dengan dasi hitam melingkar di lehernya. Varga berdiri di depan cermin menata rambutnya.


"Kau sudah bangun? Aku mau berangkat kerja kalau mau ke kampus suruh di antar papa aja." kata Varga tanpa melihat Aralia yang tengah duduk.


"Aku naik daring aja," Aralia menurunkan kakinya dan dengan malas membuka pintu kamar mandi.


"Ara ...," Panggil Varga menghentikan langkah kaki Aralia, menoleh.


Varga mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu atm, memberikannya pada Aralia.


"Gunakan ini untuk keperluanmu, nomer pinnya tanggal lahir Rena" katanya lalu mendaratkan ciuman di kening Aralia.


Seketika Aralia menarik kepalanya menghindar, ia terlalu kaget dengan perlakuan Varga yang mendadak mencium keningnya.

__ADS_1


Varga tersenyum lalu meraih ponselnya di atas ranjang, meninggalkan Aralia mematung di tempatnya.


__ADS_2