
Keesokan harinya mereka kedatangan penyidik untuk introgasi. Pria tegap yang hampir menyamai tinggi Varga menyapa dengan senyum ramah.
"Pagi Nyonya Sadah," Aralia menbalas dengan senyumnya sembari menoleh pada Varga yang berdiri di belakang pintu ruangan itu.
Varga tampak bingung, ia belum sempat bercerita tentang Lisa pada Aralia.
"Bagaimana keadaan anda?"
"Seperti yang anda lihat," Aralia menipiskan bibirnya bicara dengan pelan-pelan.
"Baiklah, kami turut prihatin atas apa yang terjadi. Kedatangan saya hanya ingin menyapa mengenai kejadian kecelakaan ini." Penyidik itu berujar, seorang temannya lansung mengeluarkan buku kecil guna menulis apapun itu yang mereka butuhkan.
"Bisa anda menceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya?" Aralia menoleh kembali pada Varga seolah meminta pendapat. Pria di sana mendekat dan mengangguk memberi ijin.
"Sa-saya hanya mengingat ada menghamtam mobil saya dari belakang, saya terlonjak dan kepala saya terbentur stir dan tanpa sengaja membelok dan salah injak pedal gas. Hanya itu setelahnya saya sudah ada di rumah sakit ini." Aralia menjelaskan. Penyidik mengangguk.
"Apa sebelumnya anda tidak ada terlibat perkelahian dengan seseorang?" Aralia menggelengkan kepala pelan.
"Tidak juga di temui seseorang?"
"Apa maksud pertanyaan anda?" Protes Varga, penyidik seolah menelisir lebih jauh.
"Saya bertanya dengan istri anda bukan pada anda," sahut penyidik datar.
"Tidak saya tidak bertemu dengan siapapun," Maaf, aku tidak bisa menyebut Reven karena dialah yang aku temui tapi kak Varga akan kecewa nanti jika dia tahu aku bertemu dengannya. Dia pikir aku masih punya hubungan dengannya.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan sekretaris suami anda, apa anda terlibat cekcok?"
Aralia menoleh pada Varga, Lalu menggelengkan kepala.
"Bantu kami nyonya Sadah, jangan ada yang ditutup -tutupi."
"Tidak, aku tidak bicara denganya dalam waktu dekat ini,"
"Jadi anda pernah bicara dengan sekretaris suami anda?"
"Ya, itu sudah sangat lama. ada apa kenapa menyebutnya dalam masalah ini?"
"Sayang," ujar Varga, hendak menjelaskan tapi penyidik langsung berujar.
"Yang menabrak Anda adalah Lisa Meral sekretaris suami anda." Aralia tercengang, Varga meraih tangan Aralia.
"Maaf, aku tidak mengatakannya aku menunggu sampai kau pulih dulu." sahut Varga.
"Kenapa dia melakukannya?" Aralia menoleh penyidik dengan nada penasaran
"Entahlah, suami anda pasti ada jawabannya."
"Ini sudah di luar dari kejadian, kalau sudah tidak ada yang di tanyakan silakan keluar. Istri saya mau istirahat." ujar Varga, Penyidik terkekeh menatap Varga.
"Nyonya Sadah?" Penyidik penasaran apa yang terjadi.
"Dia menyukai suamiku dan mungkin kesal karena tidak terbalas. Hanya itu yang aku tahu." ujar Aralia kembali menatap Varga.
"Baiklah, kami bertanya hal itu untuk bisa menjerat pelaku dengan pasal yang benar."
"Apa dia akan di hukum?"
"Tentu,"
______________________________________________
"Kau tidak ingin mengatakan apapun mengenai Lisa ?" tanya Aralia setelah penyidik meninggalkan tempat itu. Varga menarik napas duduk di kursi yang ada di samping bangsal Aralia.
"Aku takut kalau kau akan marah mendengarnya. Luka jahitan dan juga tulang yang tersambung di dalam belum pulih. Kalau sampai kau marah atau —"
__ADS_1
"Kenapa dia melakukan itu?" Aralia menyela, ia teramat malas dengan kekhawatiran Varga yang terkadang berlebihan menurutnya.
"Dia tidak terima saat berhenti jadi sekretarisku," Aralia menghembuskan napas perlahan.
"Aku mau tidur,"
"Ra, maafkan aku ini semua salahku kalau saja —"
"Kak aku mencintaimu," Varga terdiam, bingung dengan sikap Aralia yang terlihat marah.
"Baiklah, aku akan menemanimu disini." ucap Varga mengambil tangan Aralia dan menggengamnya erat.
Bagi Aralia hari berjalan lambat, sudah sepekan ia berada di rumah sakit itu. Tidur, makan dan lain-lain hanya itu yang terjadi hingga membuatnya bosan. Keluarga bergantian menjaganya. Nisa di pagi hari dan Varga malam hari kadang Ele juga turut andil.
"Kau gemukan sayang," ujar Varga membuat Aralia kesal tapi Varga tidak bosan -bosanya mencubit pipi tembam milik istrinya. "Lesung pipi mu hilang," ledeknya mencari-cari di pipi itu.
Nisa dan Ele pun mengatakan hal yang sama. Bagaimana tidak gemuk. Makanan yang di sodorkan selalu habis ia telan.
"Sayang, aku sudah tidak kuat lagi menahannya," bisik Varga pada dini hari membangunkan Aralia yang terlelap. Kabut matanya berhasrat merindukan hangatnya tubuh istrinya. Cukup lama ia tidak menyentuhnya karena takut akan menyakiti Aralia.
"Ini rumah sakit," gumam Aralia, tapi Varga sudah naik keatasnya, kedua tangan menyanggah agar tidak menindih Aralia.
"Tidak apa-apa,"
"Bagaimana kalau dokter datang?"
"Dia juga lagi bercinta sama istrinya sayang."
"Perawat? klining ser—" Mulutnya sudah tertutup oleh bibir Varga. Aralia membalasnya dengan lembut lalu melepaskannya, mengambil napas.
"Aku janji akan melakukannya dengan pelan." bisik Varga meminta ijin Aralia. Istrinya itu mengangguk, ia tahu Varga sudah cukup gila menahannya. Untuk pertama kalinya Varga bercinta dengan rasa was-was, karena Varga harus menjaga gerakannya agar Aralia tetap merasa nyaman.
Dokter sudah memperbolehkan Aralia kembali ke rumah dengan segala syarat yang di anjurkan. Tidak boleh mengangkat beban, gerak berlebihan, rutin makan obat juga makanan sehat untuk penyembuhan totalnya.
Dia disambut oleh keluarga dan juga pelayan dan suster Bianca. Kamar di dekor menjadi warnah terang dan di tambahi fasilitas televisi.
"Biar kau tidak bosan, kakak juga fasilitasi internetnya kok. Kau bisa nonton drama korea sepuasnya." Aralia melingkarkan tangannya di pinggang Varga mendongak meminta di cium. Pria itu menyambut lembut.
Lisa mendekam di penjara sesuai pasal memberatkanya. Aralia pernah berkunjung dan memaafkan kesalahan Lisa. Wanita itu cukup dewasa untuk meminta maaf atas kesalahan yang ia buat.
____________________________________________
Tiga Tahun kemudian ...
"Aku lapar," gumam Aralia dari dalam selimutnya seusai menghabiskan tenaga di bawah tubuh suaminya. Varga tersenyum menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Mau dimasakin apa?" kata Varga seusai dari kamar mandi dengan pakaian rapi.
"Boleh mie instan gak?" Aralia balik bertanya dari balik selimut.
"Di jam segini?" Varga melihat jam ponselnya tengah dua belas malam. "Yang lain ya. Kan Ara tahu kalau mama tidak pernah beli stok mie instan."
"Tapi aku pengen sayang," Mohon Aralia dengan tatapan melas.
"Ya sudah aku beli ke minimarket,"
"Aku ikut ya," Varga mengangguk, Aralia mengenakan pakaiannya pelan-pelan dan di bantu Varga.
Minimarket tidak jauh dari tempat tinggal mereka yang buka 24 jam. Berjalan adalah pilihan, ia ingin menikmati malam hari dengan suaminya.
"Sayang, tidak usah beli mi instannya,"
"Kenapa?"
"Seduh itu aja," unjuk Aralia pada Mie yang sudah di kemas dalam cup.
__ADS_1
"Yakin?" Aralia mengangguk cepat. Varga menyeduh dan membuatkan kopi untuknya juga. Membayar di kasir dan membawanya ke luar tempat nongkrong minimarket itu.
Varga merapikan rambut Aralia yang sedikit berantakan, sembari menunggu mie itu matang dan tidak lama Aralia sudah menghabiskanya hingga tanpa sisa.
Varga tersenyum, membersihkan sudut mulut istrinya itu dengan tisu.
"Ayo pulang," ujar Aralia bangun dari duduknya dan langsung naik ke punggung Varga. Pria itu tidak komentar, Aralia memang sering melakukan hal itu. Berjalan di tengah malam yang hening digendong suami apalagi yang kurang. Bahagia sudah.
Aralia bermain dengan Bianca di taman halaman depan sembari menunggu kepulangan suami dari tempat kerja. Mereka mengadakan suit ala korea hasil didikan Aralia pada putrinya itu. memperebutkan punggung si pria pahlawan mereka.
"Kawi, bawi, bo."
"Kawi, bawi, bo."
"Kawi, bawi, bo, Eh bianca menang," Sorak Bianca, Aralia memelas memohon kalau punggung suaminya itu miliknya
"Tidak boleh, punggung Daddy milik Bianca." Aralia berdecak.
Begitu melihat mobil Varga memasuki halaman rumah, kedua perempuan itu bersiap lari. Aralia tersenyum usil. Varga keluar dan menutup pintu mobil.
Aralia dan Bianca berlari memperebutkan punggung Varga. Aralia mencapainya membuat Bianca menangis.
"Ra, hati-hati loh kau lagi hamil sayang." ucap Varga begitu Aralia melompat pada punggung Varga. Bianca menangis dicurangi.
"Daddy turunin mami, Bianca yang menang. Bianca mau di gedong sama Daddy," Varga tertawa.
"Jadi kalian masih suit juga," kata Varga membelai pipi Bianca. "Kemari kau bisa di gendong didepan."
"Tidak mau aku mau digendong di belakang," sahut Bianca dan Aralia mencebik tidak mau kalah.
"Eih kalian ini. Turun Ra." Varga membungkuk.
"Ah ... putri mami kau jangan begitu. Ini karena dede bayi yang minta." Aralia meranjuk menggoda Bianca seraya meraba-raba hamilnya yang masih dua bulan.
"Dede bayi?" Tanya Bianca polos, Aralia mengangguk menahan senyum. Putrinya itu langsung luluh. Varga menyentil kepala Aralia dan membuat istrinya itu terkekeh.
"Baiklah dede bayi, punggung Daddy buat kamu," Aralia tersenyum saat Bianca mengelus perutnya.
"Gendong sayang, ini demi dede bayi." ujar Aralia manja naik ke punggung Varga. Bianca menempel pada dada Varga dan pria kokoh itu membawa kedua kesayangannya itu masuk dan menaiki anak tangga menuju kamar.
"Dunia milik mereka pah dan kita hanya mengontrak," Ele berujar saat melihat ketiga orang itu melewati ruang tengah.
"Biarkan sajalah sayang, yang penting mereka bahagia." sahut Roland menyesap kopinya diakhiri kekehan ringan dan keduanya bersitatap menertawakan sikap manja menantunya itu.
"Sayang," Aralia mendongak begitu turun dari punggung Varga, minta dicium. Satu kecupan di bibir Aralia. Bianca juga turut melakukan hal yang sama.
"Bianca main disini atau di kamar kamu?" tanya Varga mencubit hidung Bianca.
"Di kamar Mami." ujarnya gemes.
"Baiklah turun sayang Daddy mau mandi." Varga menurunkan Bianca dan langsung bermain.
"Masih mual sayang?" Aralia mengangguk seraya melucuti pakaian Varga.
Varga menunduk, menempelkan telinganya pada perut datar Aralia. Membuat Aralia tersenyum. "Bantu mami ya nak, jangan nakal disana sehatlah sampai waktunya datang kepelukan Daddy." Bisiknya seraya mengusap perut Aralia.
"Kalau belum bisa cium bau nasi setidaknya makan buah banyak ya sayang." Tambah Varga dan diiyakan Aralia lewat delikan matanya. Varga menarik tengkuk Aralia pelan dan melabuhkan ciuman mesra pada bibir istrinya itu.
___________________END____________________
Halo para pembacaku yang setia menemani Varga dan Aralia dari part awal. Thanks a lot karena sudah bersedia meluangkan waktu untuk membacanya. Novel belum matang ini tercipta begitu saja dari pikiranku yang suka menghayal.
Dukungan kalian yang memberi semangat, membuat saya berhasil mengakhiri cerita ini. Terus terang saya saja yang penikmat novel jika membaca ulang cerita ini banyak part yang mubazir dan membosankan dan juga alur yang berantakan. Ada niatan mau revisi tapi urung karena saya ingin melihat tahap kepenulisanku maju atau tidaknya.
Terima kasih untuk kalian semua dan salam hangat dari saya. Muaach ...!!!
__ADS_1
Kirei