
"Jadi kita mau kemana?" Tanya Aralia membesarkan nada suaranya.
Reven menolehkan kepalanya." Pantai,"
"Ehh? Di jam segini?"
"Kenapa? Tidak apa-apa kan?"
Aralia menggeleng, "Umm nggak apa-apa." ucapnya menyenderkan kepalanya di punggung Reven. Dari kota mereka tinggal pantai tidaklah jauh, hanya memakan waktu tiga puluh menit itupun kalau jalanan sedikit padat. Reven memacu laju motornya menggapai tujuaan mereka.
Setibanya mereka, Reven memarkirkan motornya di area parkiran yang tersedia. "Sini helem sama ranselmu, biar aku titipin di tempat penitipan." Reven membantu Aralia menanggalkan helem dan juga ranselnya.
Reven berjalan ke arah post penitipan barang para pengunjung dan tak lama kemudian berlari kecil menghampiri Aralia yang masih menunggu di samping motor Reven.
"Kaja ...," Reven merangkul Aralia berjalan mencari tempat nyaman. Gadis itu terkekeh mendengar Reven menggunakan bahasa korea.
"Kenapa?" Senyum Reven, mencubit Aralia di pipi.
"Reven. Berhenti mencubit pipiku nanti wajahku jadi lebar." Protes Aralia mencubit lengan Reven.
"Aduh ...," Pekik Reven menahan rasa sakit, mengejar Aralia yang sudah berlari kecil ke bibir pantai.
Tak banyak pengunjung yang datang berlibur ke tempat itu, hanya ada beberapa orang mungkin karena waktu dan hari biasa. Tapi, tempat seperti inilah yang di inginkan Aralia, terasa damai. Meski matahari terik Ia masih bisa merasakan angin pantai membelai kulitnya. Suara angin dan ombak kecil terdengar bersamaan.
"Hei jangan lari ...." Reven menangkap tangan Aralia, menariknya hingga membuat gadis itu berbalik dan menubruk tubuh Reven. Tangan singap Reven bergerak mengangkat tubuh Aralia lalu membawanya berputar. Suara tawa renyah keduanya pun terdengar bersamaan dengan deburan air ombak yang terlempar ke arah orang itu.
"Hentikan! Aku pusing, Re ...." ujar Aralia, memeluk leher pria itu, kepalanya sedikit berdeyut. Reven perlahan berhenti berputar kemudian menurunkan Aralia dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.
Aralia menarik napas, melingkarkan kedua tangannya di leher Reven, mendongak ke atas menatap Reven yang tengah memperhatikanya dengan lekat. Netra mereka saling bertatapan dan perlahan Reven mendekatkan wajahnya hendak mencium Aralia. Ciuman itu hampir saja terjadi kalau bukan karena ponsel Reven berdering.
Aralia melepaskan tangannya, tersenyum canggung. Sementara Reven merutuk dalam hati adengan romantis yang hampir terjadi buyar karena si .... Begitu melihat nama pemanggil di layar ponselnya ia tak jadi mengutuk.
"Nenek," ujarnya pada Reven sebelum mengangkatnya.
"Halo nek," sahut Reven, seraya mengulurkan tangannya pada Aralia. Gadis itu menyambut, menggandeng Reven berjalan di bibir pantai.
"Baiklah, jangan lupa makan obatmu. Aku sayang nenek." setelah berbincang sedikit Reven mengakhir telponnya.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Aralia.
"Siapa?" Reven menghentikan langkahnya seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Nenekmu,"
"Oh ..., Baik."
"Tapi kenapa harus minum obat?" Tanya Aralia menyimak obrolan antara cucu dan nenek itu tadi.
"Mmm ... nenek miliki riwayat diabetes, jadi harus minum obat rutin." jawab Reven, mereka kembali berjalan.
"Waoh ...," Seru Aralia, saat ombak kecil menerjang kedua kaki mereka. Aralia berusaha menghindar agar pakaiannya tidak basah.
"Bagaimana kau suka?" tanya Reven, menarik Aralia semakin dekat dengannya.
"Mmm ...,"
"Syukurlah,"
"Reven ..., kenapa kau tidak pernah cerita tentang keluargamu?"
"Tidak ada yang istimewa dari mereka yang patut di ceritakan."
"Yang benar saja, setiap keluarga pasti memiliki cerita manis."
"Seharusnya," Reven berhenti, memasukkan satu tangannya kedalam saku, sementara tangan yang satu masih menggengam erat Aralia. Rona pria itu berubah saat Aralia membahas keluarganya.
"Sudahlah jangan membahas keluargaku, yang ada aku jadi malas."
__ADS_1
"Maaf ...," Lirih Aralia, menatap sendu kekasihnya.
"Ra, aku tidak seberuntung kalian yang memiliki keluarga utuh. Keluargaku sudah hancur ketika usiaku lima tahun. Ibu pergi di sore hari. Entah kemana aku tidak tahu lalu Ayah menitipku ke rumah tetangga dengan alasan mencari Ibu. Aku menunggu di depan pintu hingga pemilik rumah marah karena larut malam aku tak kunjung meninggalkan pintu itu. Itu adalah hari terakhir aku melihat Ayah. Sampai saat ini aku belum menemukan mereka. Dan jika bertemu aku ingin bertanya, kenapa mereka pergi tanpa aku." Reven menceritakan sedikit masa lalunya.
"Aku turut sedih, Re."
"Jangan. Kau tidak perlu sedih mendengarnya. Aku tidak suka."
"Re ... setiap orang yang mendengar ceritamu itu akan merasa empati,"
"Itulah kenapa aku malas kalau ada yang bertanya." Reven menghela napas panjang.
"Aku tidak ingin mereka mengasihiku." Katanya lagi.
"Tapi kau masih memiliki nenek kan?"
"Satu-satunya keluarga yang aku miliki,"
"Dari pihak mana?"
"Tidak dari pihak mana, Ra." ujar Reven, membawa Aralia menjauh dari tepi pantai ke pohon kelapa yang ada si sana. "Aku nyakin kau akan menangis mendengar kisahku sebelum aku menemukan nenekku."
"Jadi kau mencarinya?"
"Aku di adopsi olehnya, dia ... kehilangan putranya dan cucunya dalam kecelakaan saat pulang dari liburan."
Aralia ingin mengatakan kembali bersimpati, namun bibirnya terkatup. Ia takut akan melukai hati Reven. Aralia kagum, Reven sosok yang kuat.
"Aku ...mencintaimu," ujar Aralia akhirnya dan mengecup pipi Reven. Pria itu sontak kaget. Degub jantungnya bergejolak, ini kali pertama Aralia melakukan itu. Meski hanya di pipi tapi rasanya sudah membuat pria itu mabuk cinta.
Reven, tersenyum, mengecup lembut kepala Aralia. Ia merasa tenang dan damai.
"Kau mau dengar lagu?" Reven mengeluarkan earphone dan ponsel dari kantong dan menyambungkan kedua benda itu.
"Lagu apa?"
"Apa? Aku tidak terlalu mengikuti dunia musik."
"Baiklah, dengarkan ini." Reven menempelkan satu untuk Aralia dan satu untuknya.
Alunan musik mulai terdengar, anehnya lagu itu adalah 'Dance Monkey'. Aralia tertawa, Reven melepas earphonenya dan mendudukan Aralia di bangku panjang yang ada di bawah pohon kelapa.
Reven dengan agresifnya menyanyikan lagu itu lengkap dengan gerakan yang ia ciptakan sendiri. Aralia terkekeh dan mulai mengikuti syair lagu.
Reven mengulurkan tangan, menarik gadis itu mendekat. Menaruh tangan di pinggang Aralia sementara Aralia meletakkan kedua tangannya di bahu Reven. Lagu seolah berdentum tanpa pengeras suara. Mereka menari sambil tertawa. Bahagia hingga sore mulai menjemput malam.
"Mau makan apa? Siap saji atau—,"
"Siap saji aja deh, biar cepat." jawab Aralia, kedua pasangan itu masih saling bergenggaman saat mengantri di depan kasir yang melayani.
"120ribu masih ada yang lain?" Aralia mengeluarkan ATM dari dompetnya dan memberikannya pada pelayan kasir tapi dengan sigap Reven mengambil kembali kartu itu dan memberikan miliknya. Aralia kaget.
"Kenapa?"
Reven menggelengkan kepala, mengambil pesanan mereka dan berjalan ke meja kosong.
"Re, aku ingin membantu. Ini kencan kita berdua dan ...,"
"Sayang, tidak apa-apa. Dengar aku tidak keberatan jika itu uangmu."
"Ini uangku, Re."
"Bukan tapi uang suamimu."
Aralia terdiam, benar kartu itu milik Varga, pria yang entah sedang apa sekarang. Bayangan Varga terbesit sekilas di wajahnya dan ia segera menepiskannya.
"Kenapa kau tidak mau menggunakannya?" Aralia masih penasaran, bukankah itu menjadi kesempatan buat Reven. Menghamburkan duit yang bukan duitnya. Seharusnya ia melakukan itu.
__ADS_1
"Aku sudah mengambil hati istrinya dan akan sangat kejam jika uangnya juga aku ambil kan? Itu tidak adil." kata Reven, menyedot minuman bersodanya.
Aralia perlahan, menguyah makanannya dan melihat satu tangannya masih di genggam Reven di atas meja.
______________________________________________
"Hai sayang, sudah cantik dan wangi sini sama Daddy." ujar Varga, setelah menutup pintu mobilnya, melihat Bianca dan susternya di depan rumah.
Bianca terlihat ceria, begitu ia berpindah tangan pada Daddynya. Mencubit Varga dan mengacak rambut Daddynya itu membuat Bianca senang.
"Oh, iya sus ... Ara dimana?" Varga memperhatikan sekitarnya mencari keberadaan istrinya itu. Biasanya di sore hari Aralia yang mengajak Bianca keluar rumah.
"Belum pulang, Tuan." jawab perawat Bianca mengikuti langkah tuanya itu dari belakang sambil membawakan tas kerja Varga.
Varga memperhatikan arlojinya yang melingkar apik di tangannya. Hampir jam enam sore.
Kemana dia?
Varga menaiki anak tangga berjalan ke kamar, meletakkan Bianca ke tempat tidur.
"Tasnya tuan," kata perawat.
"Oh ... letakkan di atas sofa saja." dengan cepat perawat meletakkan dan mau mengambil Bianca kembali.
"Sus, biarin aja sama aku." Kata Varga sembari menghubungi Aralia dari ponselnya.
"Da dy ...," celoteh Bianca mengajak main, merasa bosan berada di kota kecil itu.
"Tunggu sayang, kita telpon Mami dulu, kali aja minta di jemput." Varga menghubunginya sekali lagi dan tak juga ada jawaban.
"Ara ... kemana kamu?" Varga menggarut keningnya, menatap kearah balkon seraya melonggarkan dasi yang mengikat lehernya.
"De ...di," Varga mengambil Bianca dan kunci mobil menutup pintu kamar lalu menuruni anak tangga. Membuka pintu mobil dan hendak meletakkan Bianca di dalam.
"Mau kemana?" Aralia bertanya. Ia baru saja datang dan melihat Varga juga Bianca.
"Kau sudah pulang? Kenapa bisa sesore ini?" Tanya Varga, melihat Aralia yang sedikit berantakan tidak seperti biasanya. Celana yang ia kenakan juga basa setengah lutut dan terlihat kelelahan.
"Kampus." jawab Aralia, mengambil Binca dan membawanya masuk.
"Ara ...," Aralia menoleh saat ia berdiri di depan pintu masuk rumah.
Tidak, dia tidak akan jujur lebih baik aku tanya si Hanry saja." Tidak apa-apa, masuk saja." kata Varga mengurungkan niatnya.
Aralia mengerutkan kening, kembali masuk.
Varga mengeluarkan ponselnya dan mencari nama di sana lalu menghubunginya.
"Profesor Harry, bagaimana kabarmu?"
"Hei teman lama, kau baru bersua sekarang?" Suara dari seberang terdengar ramah.
"Maaf aku jarang bergabung, istriku apa dia tadi ...,"
"Oh, dia tidak masuk di mata kuliah yang aku ajarkan tadi. Apa kalian ada acara?"
Varga memejamkan matanya, mengingat jawab Aralia yang belum lama ini. 'Kampus' dan itu hanya bohong.
"Kapan kita bertemu? Mari kita adakan acara sesekali."
"Ha ha ha ... kau yang menjauh semenjak menikah teman, terlalu sibuk dengan keluarga atau Adik ipar eh istrimu itu posesif."
"Berhentilah menggodaku. Baiklah atur rencananya dan kabari aku ya."
"Oke." telpon terputus.
Varga menarik napas panjang, menyenderkan tubuhnya kemobil. Apa yang harus ia lakukan saat ini, bagaimana sikapnya untuk berhadapan dengan Aralia.
__ADS_1
Hampir satu tahun bersama, ia menunggu dan berharap istrinya itu membuka hati tapi sekarang yang ia dapat hanya penghianatan meskipun masih abu-abu.