
"Terima kasih pak Varga, peran Bank anda sangat membawa pengaruh besar dalam pabrik kami yang hampir Failed. Terimakasih sudah memberi kesempatan untuk perusahaan ini tetap berjalan dengan suntikan dana dari Bank anda."
"Tidak masalah pak, sudah tugas kami untuk membantu. Itu juga karena Bank kami percaya kalau Pabrik ini bisa maju kembali."
"Untuk itu saya sebagai pimpinan pabrik ini mengucapkan terimakasih atas kepercayaan anda yang sudah memberi kesempatan dari ribuan pabrik yang hampir tutup anda memilih untuk membantu pabrik kami."
Setelah membubuhkan tanda tangan di atas kerja sama. Varga saling berjabat tangan sebagai tanda terjalinnya kerja sama. Akhir dari pekerjaan Varga usai hari ini.
Lisa kesal, lantaran perannya sebagai sekretaris seolah di abaikan Varga. Semua hal dikerjakan pria itu.
Lalu apa gunanya aku disini? Berdiri disampingnya seperti pengawal. Menyebalkan.
Tunggu! Apa Reven belum melakukan apa-apa juga setelah aku mengatakan kalau Aralia ada ditempat ini. Pria itu apa sih?
Di gigitnya giginya sendiri kesal. Varga memperhatikan dari jarak jauh dan menggelengkan kepala.
"Lisa, kemarilah kita harus bicara." Panggil Varga, " pak antarkan saya ke suatu tempat yang sepi." kata Varga pada supir pabrik itu.
"Eissttt jangan pikir macam-macam!" Varga mengibaskan tangannya pada si supir lantaran memberi tatapan aneh pada Varga saat minta di antarkan ke tempat sepi.
Lisa berjalan menghampiri, masuk ke dalam mobil.
"Pak Varga saya pesanin tiket pesawat jam berapa?" Pelan-pelan Lisa berujar. Pekerjaan mereka telah selesai dan waktunya pulang. Varga menguap rasa kantuk menghampirinya.
"Pesan untuk kamu sendiri aja." Cuek, tersenyum memikirkan sesuatu.
"Lalu pak Varga bagaimana?" Varga kembali menguap.
Apa dia semalaman tidak tidur? Tapi bagaimana bisa setampan ini sih meskipun mulutnya melebar. Menatap diam-diam.
"Urus dirimu aja Lisa, saya masih lama disini."
"Ngapain lagi kamu disini? Kita pulang!" Teriak dalam hati. "Kita kemana pak?" Tanya Lisa panik, melihat supir membelot dari jalur utama.
"Kata tuan ke tempat sepi Nyonya,"
"Eh?" Lisa melirik Varga yang terlihat santai memainkan ponselnya.
Sebenarnya aku ingin Lisa meminum obat perangsang itu. Tersenyum jahat, membayangkan Lisa kepanasan garut-garut.
Tapi kalau aku memberinya bukankah keterlaluan? Dia akan sama sepertiku tadi malam. Kalau itu terjadi dan dia melakukan atau menggoda pria manapun untuk menemaninya. Apa itu tidak kejam? Tidak, tidak. Bagaimanapun Lisa seorang wanita aku tidak akan membalasnya dengan cara licik. Huh ....Varga menepis ide jahatnya. Membayangkan Lisa menggoda pria jalanan dengan pakaian compang camping membuatnya bergidik ngeri.
Pak Varga mau bawa aku kemana? Tempat sepi? Dia tidak ingin berbuat jahat kan? Lisa membatin dengan gerakan gelisah.
"Berhenti pak," ucap Varga membuyarkan pikiran negatif Lisa.
Mobil menepi di sebuah taman perumahan bersubsidi yang masih sepi. Bisa dibilang perumahan itu masih tahap pembangunan.
"Kita bicara sebentar Lisa." Varga keluar dan Lisa mengangguk mengikuti langkah Varga menjauh dari jangkauan mata dan telinga supir itu.
Lisa mengikuti dari belakang. Varga berhenti, menggulung tangan kamejanya dan melonggarkan dasi di lehernya.
"Kau terlihat takut Lisa?" tanya Varga memperhatikan Lisa yang gugup.
Lisa menggelengkan kepala, senyum berupa menutupi rasa takutnya.
"Baguslah," Varga menilai penampilan Lisa. Wanita itu cantik dan seksi. Gundukan dadanya di angka 40, bibir sensual dengan lekukan tubuh seksi.
Varga mendekat, meraih tengkuk Lisa mendekatkan bibirnya ke bibir Lisa. Wanita itu terperanjat, lalu tersenyum menutup mata. Seperti angin segar Lisa memberi izin untuk pria itu menyentuhnya.
Varga menyeringai dengan tatapan hina. Kemudian menghempaskan Lisa kasar.
Rupanya benar, kau menginginkan aku. Batin Varga.
__ADS_1
Lisa terkesiap, kaget luar biasa. Ia pikir Varga akan menciumnya dan akan menikmati kemolekan tubuhnya.
"Apa yang anda lakukan?" Lisa merah padam, menstabilkan posisinya yang hampir terjatuh karena hempasan Varga.
"Katakan! Kau mencampur apa minumanya?" Varga bertanya santai.
"Minuman apa?" Lisa bingung.
"Minuman yang kau pesan di bar."
"Saya tidak mencampur apa-apa pak. Anda lihat sendiri Bartender itu menyerahkan pada Pak Varga."
"Kau yakin tidak memintanya melakukan hal lain?"
Lisa menggeleng, Varga menyeringai sinis. Tatapannya tajam. " Katakan dengan jujur sebelum saya bertindak lebih jauh!" Nada suara penuh penekanan.
"Anda bisa tanya sama Bartendernya." Lisa kekeh dengan jawabannya tanpa mengedipkan mata. Wanita itu sangat pandai berbohong.
"Baiklah, itu sia-sia kenapa saya harus melakukan itu." ujar Varga.
Varga menarik Lisa kembali mendekat dan wajah mereka hampir bersentuhan. Menahan tengkuk Lisa agar tetap berjarak dekat dengannya.
"Bagaimana kita bisa sampai di hotel dengan selamat? Padahal kau mabuk sebelumnya. Lisa kenapa kau membawaku ke kamarmu dan tidak mengantarku pada istriku? Kenapa kau menciumku? Kau melepaskan pakaianku? Kau pikir aku melupakan semuanya? Kau menciumku dengan bibirmu ini! Kau menyebut istriku tidak berguna. Saya tidak mabuk Lisa hanya saja tubuhku ingin melakukan sesuatu yang tidak wajar ada sesuatu yang ingin meledak di sana. Katakan kenapa? Jawab!" Sederet pertanyaan membuat Lisa gelagapan. Teriakan Varga mengecilkan nyawanya. Varga melepaskan tengkuk Lisa, membuat rambut wanita itu bergoyang.
Lisa menarik napas panjang.
"Kenapa saya melakukan itu? Karena saya mencintai pak Varga. Saya menyukai anda dari sejak lama tapi anda tidak pernah melihat ke arah saya. Anda bilang istri anda selingkuh itulah yang mendorongku melakukan hal itu. Saya beri saran untuk menceraikannya tapi anda malah menempelkan diri mendekatinya. Anda sangat mencintainya, padahal saya ada yang berharap akan cinta anda. Aralia memiliki pria lain. Apa anda tidak punya harga diri?" Lisa mengutarakan segalanya isi hatinya. Bahkan suaranya meninggi di akhir kata. Ia berhenti mengambil napas.
"Akhirnya kau mengakuinya juga. Jadi itu sebabnya kau meracuniku?" Selidik Varga.
"Saya tidak memberimu racun, apa anda mati?"
"Eh? Beraninya kau! Dengar baik-baik dengan telingamu ini! Setiap perkataanku masukkan kedalam pikiranmu! Tanggapi dengan hatimu." Varga menunjuk bagian -bagian yang di sebut tanpa menyentuhnya.
"Kau mencoba menjebakku dengan minuman atau apalah itu, menjadikan tubuhmu senjata untuk memerasku di kemudian hari. beruntung saya tidak tertarik dengan tubuhmu ini." Menarik napas panjang.
Apanya? Kalau bukan si bodoh itu datang kau sudah tidur dengaku!
"Tapi ... andai Araliaku tidak menemukan saya dan hal memalukan itu terjadi, saya bersumpah akan menendangmu ke laut."
"Kau tahu karena apa? Saya tidak ingin berdampingan dengan wanita murahan. Hanya wanita murahan yang menawarkan tubuhnya gratis. Kau paham?"
Varga sengaja mengatakan dengan lambat-lamabat, supaya setiap kata yang terucap dapat di cerna Lisa dan masuk kedalam pikirannya.
"Anda keterlaluan menyebut saya murahan ..."
"Lalu aku harus menyebutmu apa? Kau ingin di hargai tapi tidak menunjukkan sikap berhaga." Varga menatap sinis dengan nada mengejek.
"Satu lagi! Istriku tidak pernah selingkuh, jadi jaga bicaramu. Kau sangat licik menanggapi bualanku. Aku tidak pernah bilang istriku selingkuh."
Varga sangat menyesal pernah cerita meski Varga tidak pernah menyebut nama Aralia dan bahkan sengaja mengakui kalau yang selingkuh itu istri temannya.
Cih! Dasar pria sialan! Kau gila padanya.
Varga meninggalkan Lisa dengan luapan amarah yabg tertahan.
"Pak antarkan dia ke manapun dia mau. Aku akan naik taksi online saja."
"Baik Tuan."
Apa katanya? Dia mau menendang aku ke laut? Keterlaluan!
"Pak Varga anda keterlaluan menilai saya, anda, anda ..." ucapan Lisa tercegat, ponselnya berdering.
__ADS_1
"Apa?" Sahutnya ketus tanpa melihat nama pemanggil. Lalu menyeringai. "Baiklah, aku akan kirim lewat pesan."tambahnya mengakhiri panggilannya.
______________________________________________
Ding! Bunyi pesan Aralia.
Sayang, siap-siap ya kita kencan 🥰
"Apa? Kencan? Ha ha ...." Tergelak tidak percaya. "Dia mengajakku kencan?" Bertanya pada diri sendiri. haha ... mengerjap- senyum manis.
"Kencan. Kencan. Kencan. "Melompat -lompat di atas tempat tidur kegirangan. Aralia turun dan mengeluarkan semua pakaian dari koper kecil.
Pakai apa ini? Mengobrak abrik isinya yang hanya ada lima pasang.
Bodoh kenapa aku tidak membawa pakaianku semua? Mengacak-acak rambutnya.
Ini tidak pantas, aku harus cantik saat kencan. Melempar asal T-shirt hijau dengan celana jeans panjang.
Yang ini juga terlalu kekanak-kanakan. Melempar T-shir bergambar hello kitty.
Ini juga. Ahhh ... Kenapa satupun tidak ada yang pantas untuk dipakai kencan? pusing sendiri, mengacak-acak rambutnya.
Ini kan untuk pulang. Mengangkat Kameja putih dengan celana hot pants. Tidak apa-apa yang penting aku harus cantik di depan kakak Varga. haha .... ketawa bahagia.
Lari ke kamar mandi, menyiram dirinya dengan shower seraya bersenandung. "Lima menit lagi ah ah ah ...."
______________________________________________
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu pak?" Penjual bunga menyapa Varga. Ia mampir saat melihat toko bunga. Varga memperhatikan satu persatu bunga yang ada di tempat itu. Mawar merah dicampur dengan mawar putih menarik perhatiannya.
"Cocok untuk pasangan pak," kata penjaga toko. Varga mengangguk tersenyum. Varga menegakkan tubuhnya seraya mengedarkan pandanganya ke seluruh toko. Dan menangkap buket bunga yang di pajang di tempat khusus. Ia tertarik dan menghampiri.
"Edelweiss," gumamnya.
"Namanya bunga Edelweiss artinya bunga abadi. Bunga yang sangat langka dan jarang ditemukan di tempat lain. Bunga ini juga tumbuh bukan di sembarang tempat melainkan jauh di pengunungan." Varga mengangguk. Ia pernah mendengar nama bunga itu sebelumnya.
"Aku mau bunga itu."
"Oke, kalau untuk pasangan ini bunga yang tepat. Anda mungkin bisa menjabarkan arti bunga ini untuk pasangan anda."
"Aku tahu makna bunga ini." Gumam Varga.
Pemilik toko mengemasnya dengan sangat hati-hati karena bunga itu bunga istimewa.
"Terimakasih," Varga membayarnya dan tersenyum melihat buket bunga yang ia pengang. Aralia pasti suka. senyumnya berbinar.
_____________________________________________
"Hei, apa aku cantik?" Aralia menatap dirinya di cermin. Menatap angkuh, ia memakai riasan di lingkaran matanya dan perona pipi.
Mengkulum bibirnya, meratakan lipglos yang ia oleskan.
"Kenapa aku merasa merah-merah di pipi ini sangat aneh." gumamnya, meratakan kembali Blush on dipipinya, membaca penampilannya.
"Sepertinya aku butuh suntik silicon haha," tergelak menatap dadanya yang kecil. "Eih ... ini ukuran 36 apa masih kurang besar. Jangan pernah pikirkan macam-macam." Bicara sendiri.
Ting! bunyi bel dari luar kamar.
Jantung Aralia berdetak, ia membulatkan mulutnya. Menatap kembali bayangan di dalam cermin. Ya aku rasa aku sudah cantik. Batinya.
Berlari kecil membukakan pintu. "Kakak ...."
"Surprise Ara ...."
__ADS_1
Aralia tercengan. Hampir saja ia melompat pada pria di depannya itu.