IPAR

IPAR
Ada apa denganku?


__ADS_3

Hanya dengan melihat senyum itu hatinya luluh, amarahnya lenyap hilang tak berbekas di wajah tampannya.


"Kak, kemarilah ayo kita makan bareng." Panggil Aralia membuat Varga melangkah menghampiri.


"Bagaimana rasanya?" Varga meletakkan pelan ponsel Aralia di atas meja, lalu menarik kursi untuk ia duduki.


"Enak," Aralia menyedok skotel kentang berisikan dangin ayam giling lengkap dengan jamur hyoko dan potongan sayur wortel, buncis.


"Kenapa nggak makan yang ini ...?" unjuk Varga pada kota makan yang berisikan telur setengah matang di atas roti panggang.


"Nggak, aku lebih suka ini."jawab Aralia menikmati sarapannya.


"Makanlah!"


"Kakak juga,"


Varga menutup kembali kotak makan yang ia pengan dan membuka kota makan yang lain.


Udang tepung dengan saus, sementara kotak terakhir berisikan irisan macam buah. Kiwi, jeruk, apel dan bluberry. Sungguh Aralia benar-benar mendapatkan cinta dari keluarga suaminya dan dia tidak menyadari itu.


"Ponsel Ara mana kak?"


Varga tersenyum getir padahal ia sangat berharap Aralia melupakan benda itu, di raihnya ponsel dan menyerahkan pada pemiliknya.


Aralia menyerahkan kotak makannya pada Varga dan mulai sibuk dengan ponsel itu. Varga menarik napas berat bingung harus bagaimana.


"Ra, makan aja dulu nanti main ponselnya kan bisa."


"Iya aku makan kak, tapi suapin." sahut Aralia tersenyum tanpa mengalihkan tatapannya dari benda itu.


Varga kembali menghela napas, sabar batinya, menyendok skotel kentang dan menyuapi Aralia.


Aralia melihat panggilan terjawab dari Reven, seketika menghentikan mulutnya bergerak. Ia melirik Varga dari ekor matanya,


Reven menelpon dan di jawab delapan menit yang lalu, tidak mungkin papah kan yang jawab. Pasti kak Varga tapi kenapa ia tidak mengatakan apa-apa ...


"Aaa ... Ra," ujar Varga menarik Aralia dari pikirannya. Aralia membuka mulutnya menerima suapan Varga, kemudian menaruh ponselnya di sisi lain.


"Cukup kak Ara sudah kenyang ...,"


"Tapi ini masih banyak, Ra. Habisin ya." Kata Varga melihat sisa makanan itu.


"Nggak. Ara mau minum," Varga mengambi botol minum dan memberinya pada Aralia.


"Kakak nggak makan?" tanya Aralia melihat Varga menyisihkan semua kotak makan itu.


"Belum lapar," sebenarnya rasa lapar itu ada tapi begitu melihat tingkah Aralia rasa laparnya mendadak hilang digantikan dengan rasa malas.


Aralia terdiam dengan kepala menunduk meremas ponsel pada sisi tangan yang terpasang infus itu.

__ADS_1


Varga kembali duduk, ia menatap Aralia dengan tatapan yang sayu.


"Ara kalau kakak bertanya apa kau bisa menjawabnya dengan jujur?" tanya Varga, kali ini sebelum menemui pria itu dia ingin mendengar dari mulut istrinya sendiri tentang hubungan yang mereka jalin di luar sana.


"Mengenai apa?" Aralia ragu, benarkan? Dia pasti menjawab telpon Reven. Kali ini habislah aku ....


"Ra, tadi kakak—," ucapan Varga terpotong, ponsel Aralia berbunyi. Aralia dengan cekatan mengangkat dan sengaja menghindari berbicara pada Varga.


"Telpon kak, aku angkat dulu." kata Aralia, menyentuh tanda jawab.


"Hai Cayrol ...,"sapa Aralia, wajahnya kembali berbinar, melupakan sosok Varga yang terdiam dengan mata mengatup di tempat duduknya.


"Hai Ra ...kau belum sembuh juga?" tanya Cayrol dari kampus bersama ketiga temannya. Mereka mendengar dengan pengeras suara.


"Belum, aku lagi dirumah sakit sekarang,"


"Serius?" tanya Ilir tak percaya.


"Iya ..., kalian bertiga ada di sana?"


"Iya Ra. Sakit apa?" Sahut Cayrol.


"Demam berdarah,"


"Oh my God," prihatin.


Varga bangun dari duduknya, ia merasa bosan berada di tempat itu. Belum lagi ia masih memikirkan kata-kata pria selingkuhan istrinya yang terdengar romantis namun menyayat hatinya.


Sungguh pasangan yang romantis. Batin Varga, mengeluarkan ponselnya yang bergetar di dalam saku celananya.


"Halo Lisa ...," Varga menoleh ke arah Aralia yang tengah tertawa cekikikan. Anehnya itu sangat menganggunya hingga ia memilih keluar ruangan.


"Maaf Lisa, istri saya lagi di rawat di rumah sakit. Aku sudah mengirimkannya lewat email ke akun kamu, tinggal kamu cetak dan bawakan ke sini nanti aku tanda tangani." ucap Varga menjelaskan.


"Baik pak, kirimkan lokasi dan nomor kamar rawat istrinya biar nanti saat Lisa kesana tidak nelpon lagi."


"Oke. Terima kasih ya."


"Sama -sama pak."


Varga mengakhiri telponya dan berjalan ke arah lift. Tujuannya saat ini adalah kantin yang ada di rumah sakit ini. Ia ingin menghilangkan beban yang menyangkut di pundaknya. Ia ingin tenang dengan segelas kopi panas kesukaanya.


Varga keluar dari lift, mencari keberadaan kantin dan tempat itu mudah ditemukan. Varga memesan kopi panas kemudian membayarnya di kasir, mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan pikiran.


Aroma kopi hitam pekat tercium olehnya, pelan ia menyesapnya dan menikmatinya.


Ia berpikir hubungan apa yang ia jalin bersama istrinya selama ini? Kakak ipar atau suami istri? Bahkan keduanya tidak. Varga tampak marah, alisnya mengkerut menatap keluar jendela rumah sakit.


"Bahkan ia tak menganggapku ada," Varga terkekeh kecewa.

__ADS_1


Ponselnya berdering, Varga melirik benda yang terletak di mejanya. Aralia memanggil. Ia berdecak dan mengabaikannya.


Varga mengangkat gelasnya, mencium aroma kopinya dan kemudian menyesap sebelum kopi itu kehilangan aromanya karena suhu dingin ruangan itu.


"Ih ... kemana sih?" Aralia melepas jarum infusnya. Entah apa yang ia pikirkan hingga ingin menemui pria itu.


Aralia meninggalkan ruangannya berjalan menuju lift, sambil menunggu lift bergerak ia mencoba menghubungi Varga dan terabaikan. Aralia kesal ini kali pertama panggilan telponnya di abaikan. Entah kemana pria ini? Batin Aralia menunggu lift yang membawanya ke lobi terbuka.


Pintu terbuka, Aralia berjalan menyusuri tempat dan bahkan ia berniat keluar ke area parkiran tapi niatnya urung dan berbalik. Mencari lagi hingga menemukan sosok pria yang duduk di salah satu meja pengunjung kantin itu.


Aralia berdecak, berjalan menghampiri tapi sebelum kakinya mendekat ia kembali berhenti seolah ada yang menahannya dan berpikir apa yang ia lakukan hingga mencari pria ini dan bahkan melepas infusnya.


Apa yang aku lakukan? Kenapa aku disini? Aku sudah membahayakan diriku hanya untuk menemuinya, tapi untuk apa? Ini aneh, ada apa dengaku? batin Aralia menatap punggung pria itu.


Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan ia segera berbalik meninggalkan tempat itu naik ke ruangannya.


Tidak! Ini karena aku melepas infusnya, jadi detak jantungku bekerja lebih cepat.


Aralia menekan tombol memanggil perawat dan tidak lama kemudian perawat datang.


"Ada yang bisa saya bantu, O... ada apa? Kenapa jarum infusnya lepas, Nyonya?" perawat itu bertanya dengan rasa cemas begitu melihat apa yang terjadi pada Aralia. ia segera keluar membawakan jarum yang baru .


"Kenapa bisa begini?" tanya perawat itu, rautnya sedikit kesal.


"Aku mau mandi tapi ini sangat menganggu." jawab Aralia berbohong.


"Nyonya, kalau mau mandi tinggal bawa tiang infusnya aja ke dalam kamar mandi. Jangan melepas jarumnya ini sangat berbahaya. Bukannya Nyonya ada walinya?" perawat itu bertanya seraya menusuk jarum ke nadi Aralia.


Aralia juga berpikir demikian, ia bukan orang bodoh tapi saat ini akalnya hilang entah kenapa.


Terdengar pintu terbuka, yang datang Varga si pria jangkung pemilik brewok tipis itu menghampirinya.


"Ada apa?" Tanya Varga bingung melihat perawat memasang kembali jarum yang baru .


"Tuan, istri anda mau mandi jadi dia melepas infusnya. Pasien masih sangat lemah tolong jangan ditinggalkan." ucap perawat dengan nada kesal.


"Maaf," lirih Varga menatap Aralia yang sudah menunduk.


"Jangan di lepas lagi ya." kata perawat, mengecek apakah obat itu mengalir atau tidak. Setelah itu ia mengundur diri dari sana.


"Ra ... kau mau mandi?" tanya Varga, ada rasa menyesal kenapa ia mengabaikan telpon istrinya itu.


"Tidak jadi." ketus Aralia, membaringkan diri dan menghadap ke arah lain menghindari Varga.


Varga menghela napas panjang. lagi dan lagi seperti ini. Apa dia tidak bisa bersikap dewasa. Varga memijit dahinya ia kembali menghela panjang.


"Maaf Ra." dan beginilah Varga akan selalu merendahkan diri di hadapan Aralia demi sebuah kedamaian.


"Ra ...." Varga duduk, membelai rambut panjang Aralia yang terjatuh di pada bantalnya. "maaf ya," gumam Varga membujuk.

__ADS_1


Aralia bingung, apa yang terjadi dengan jantungnya hingga saat ini masih berdentak tak karuan.


"Kak, Ilir sama yang lain mau datang bisa kan?" ucapnya pelan.


__ADS_2