
Varga berjalan ke sofa, duduk menyenderkan tubuhnya. Melipat tangan di depan dada dengan mata terpejam.
Aneh, kalau Aralia benar-benar selingkuh, bukankah seharusnya pria itu menelpon atau sekedar mengirimkan pesan. Dari siang hingga malam ini aku belum mendengar ponsel itu berbunyi. Batin Varga, membuka matanya menoleh ke arah Aralia.
"Padahal aku sangat bersemangat menunggunya." gumamnya kembali memejamkan mata dan malam gelap membawanya ke alam mimpi.
Pada jam dua pagi, Varga terjaga dari tidurnya. Duduk sembari menguap mengangkat kedua tangannya ke atas.
Bagaimana denganya? Batin Varga, bangun menghampiri Aralia yang masih tertidur. Varga menyentuh dahi Aralia, masih hangat tapi tidak seperti delapan jam yang lalu.
Varga mengisi air ke dalam gelas, menarik kursi meja rias ke samping ranjang lalu duduk.
"Ra, hei ... bangun minum dulu," Aralia malas malah kembali meringkuk ke dalam selimutnya. Varga mendesah menarik selimut, mengangkat kepala Aralia pelan memaksa istrinya membuka mata.
"Minum biar cepat pulih," ujar Varga, meraih gelas di atas nakas dan memberinya pada Aralia.
Aralia menghabiskanya kemudian kembali tidur.
Varga masih duduk disana, pelan mengambil tangan Aralia meletakkanya di telapak tangannya yang bidang. Varga tersenyum, "mungil sekali," gumamnya, seraya mengenggam pelan tangan itu.
Entah bagaimana Varga akhirnya tertidur, tangan Aralia masih dalam genggamanya sementara ia tertidur dengan posisi duduk dan menelungkupkan badan ke tempat tidur Aralia.
Aralia membuka matanya berlahan, posisi tidurnya yang miring dan menghadap Varga membuatnya sedikit terkejut. " Apa semalaman dia tidur begini?" batin Aralia menarik tangannya pelan dari genggaman suaminya itu.
Aralia menarik napas, menjadikan kedua tangannya bantal memperhatikan Varga tertidur pulas dengan raut polos. Sudut bibir Aralia tertarik, "dia menyiksa dirinya sendiri," batinya, "tapi apa dia setampan ini?" Aralia bergumam pada diri sendiri, memandangi raut Varga dari jarak dekat.
Entah keberanian dari mana Aralia mengeluarkan satu tangannya yang ia jadikan bantal, terulur untuk menyentuh wajah Varga, namun saat tangannya sudah mendekat pria itu terbangun dengan sigap Aralia menarik kembali dan memejamkan mata. Mengecam diri sendiri karena hampir melakukan tindakan konyol.
Varga menggeliat, mengumpulkan semua kesadarannya. Pinggannya terasa pegal namun, pria itu sama sekali tidak mengeluh atas apa yang ia rasakan saat ini. Yang utama baginya adalah kesehatan Aralia, istri yang sampai saat ini belum bisa menerima dirinya.
Varga menegakkan duduknya, mengulurkan tangan memeriksa ke adaan Aralia.
"Syukurlah," gumamnya, suhu tubuh Aralia sudah membaik. Varga berjalan ke arah balkon, menyibak gorden membiarkan cahaya matahari menembus kaca masuk ke dalam kamar.
Varga menatap ke halaman, menguap lebar sebenarnya rasa kantuk masih menghinggapinya.
Ketukan dari luar kamar membuat Varga lebih sadar lagi. Varga berjalan menuju pintu dan membukanya. Ele membawakan segelas teh dan semangkok bubur masuk kesana.
"Bubur untuk Ara, sudah bagaimana? Masih demam?" kata Ele, mengambil ponsel Aralia yang ada di atas nakas memberinya pada Varga lalu meletakkan nampan berisi sarapan itu di sana.
"Aku rasa sudah baikan, tapi biarin aja istirahat dia nggak usah kuliah hari ini." Kata Varga, memeriksa ponsel Aralia memastikan kalau pria itu menelpon atau mengirim pesan pada Aralia. Tapi sama sekali tidak. Varga tersenyum simpul, meletakkan ponsel itu di atas meja rias.
Ele memeriksa keadaan Aralia dengan menyentuh dahi menantunya itu lalu mengangguk setelah merasa kalau Aralia sudah membaik.
"Buburnya masih panas, bangunin saja dan kasih dia sarapan." ucap Ele, keluar meninggalkan tempat itu dan Varga hanya mengangguk meng iyakan.
"Ga ..., kerja nggak?" Sebelum Ele menutup pintu ia bertanya.
__ADS_1
"Kerja ma. Ada meeting sama klien yang sudah di jadwal jauh hari. Mungkin istirahat makan sian Varga pulang." Sahut Varga.
" Ya sudah, mandi dan turun sarapan." ujar Ele menutup pintu.
Varga melangkah menuju kamar mandi, menunggu Aralia bangun ia berpikir mandi terlebih dahulu.
Mendengar pintu kamar mandi terbuka lalu tertutup lagi, Aralia membuka mata menyadari betapa bodohnya dirinya saat ini. Aralia bangun dan duduk bersandar menatap ke arah pintu kamar mandi lalu beralih pada sarapan yang di atas nakas.
Aralia merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya, dan betapa jahatnya dirinya selama ini. Berpura-pura pada keluarga ini. Keluarga yang sudah memberinya cinta dan perhatian yang belum pasti ia dapatkan dari orang lain.
Meski belum ada kata cinta yang terucap langsung dari mulut Varga tapi tindakan yang ia lakukan sudah melebihi itu. Ele dan Tn. Roland juga begitu, menantunya itu diperlakukan sangat baik.
Rasa sesak menyeruak pada dadanya, ia ingin melepaskannya tapi lupa caraya.
Karena lupa membawa pakaian ke kamar mandi dan mengira Aralia masih tidur. Varga keluar dari sana hanya menggunakan handuk melilit tubuhnya, menunjukkan dada bidannya yang lembab dan rambut tebal hitam tersisir asal kebelakang membuatnya tampak seksi.
Aralia membisu, menelan salivanya diam-diam berdecak kagum sebelum kesadarannya berubah menjadi histeris.
"Aaaaa ...." Jerit Aralia, melotot tepat ke bagian perut Varga yang berkotak-kotak.
"Eeeh ...maaf, Ra." Varga kembali ke kamar mandi, menutup pintu.
Aralia mengelus dadanya, "Ra, kakak lupa bawa pakaian, bisa tolong ambilin nggak? Kemeja putih, celana hitam sama ... mmm celana dalam satu." kata Varga dari dalam sana dan mengecilkan suara di bagian akhir katanya.
Aralia berdecak malas menoleh ke arah lemari besar milik suaminya itu, "nggak mau, ambil aja sendiri." sahutnya dengan suara serak khas orang sakit." Masuk aja." Sahutnya lagi.
Mendingan masuk sekalian daripada aku repot, lagian mana tahu di mana letak itu semua. Batin Aralia meringsut masuk ke dalam selimut dan menutup diri.
Varga bergegas mengambil semua yang ia butuhkan dalam lemari, lalu kembali ke kamar mandi. Berpakaian di sana dan keluar setelah rapi.
Aralia mendengar pintu kamar mandi terbuka, ia menurunkan selimutnya melihat ke arah Varga yang sedang merapikan rambut.
"Sudah bagaimana perasaannya?" tanya Varga, kini tangannya bergerak memasang dasi di depan cermin.
"Masih pusing ...." Varga menoleh.
"Jangan kuliah, istirahat di rumah. Jam makan siang aku balik, kalau masih pusing kita ke dokter, ya." Aralia mengangguk.
Varga duduk di kursi meja rias, mengambil nampan berisi sarapan." mau di suapin atau makan sendiri?" Aralia melirik ke arah makanan yang ada di tangan Varga, malas dan tak berselera air liurnya terasa pahit.
"Belum pengen makan. Nanti aja Ara makan." gumamnya pelan.
"Orang sakit emang nggak berselera makan, Ara ..., harus di paksaain kalau nggak bisa tambah parah tar. Aa ...." Varga menyendok bubur dan menyuapi Aralia. Meski Aralia berusaha menolak Varga tetap menyodorkan sendoknya.
"Minum," minta Aralia dan segera Varga memberinya teh manis yang masih hangat.
Aralia meminumnya, dan meletakkan kembali gelas yang masih ada tersisa.
__ADS_1
"Biar Ara aja kak, nanti kakak terlambat." Varga tersenyum, sekilas masa lalunya terlintas dalam ingatannya. Rena saat sakit persis seperti Aralia, rewel dan manja. Ia ingat waktu itu mendiang istrinya itu saat demam malah minta di gendong sepanjang hari dan terpaksa Varga harus mengambil libur untuk itu. Kenangan yang manis baginya sayang andai iya bisa melakukan itu saat Rena kesakitan di akhir waktunya dulu. Tak terasa bulir di kedua sudut mata pria itu hampir jatuh membuat Aralia sedikit bingung. Berpikir kalau dialah penyebabnya.
"Kak ...." Aralia menjentikkan jemarinya di depan Varga, membangunkan pria itu dari lamunannya.
"Eh ..., kenapa Ra?" Varga mengerjap memecah bulir itu disana dan menghentikannya terjatuh.
"Ih ..., mikirin apa sih, malah melamun pasti kakak mikirin perempuan lain."
"Emang kamu mau kalau kakak pikirin kamu?" Varga tersenyum, menyingkirkan poni yang menutup wajah Aralia.
"Nggak!"
"Makanya jangan ribut kalau kakak lagi mikirin siapapun." Aralia mendelik, mengambil nampan dari tangan Varga.
"Sudah sana, biar bebas mikirin orang lain." Ketus Aralia.
"Nah gitu dong." ujar Varga tidak mau kalah. Tersenyum bangun dari duduknya. Ia sudah berhasil mengeluarkan macan yang ada di dalam diri Aralia.
Menyebalkan, kenapa juga aku harus bilang itu. Kesannya aku peduli sama dia. batin Aralia, menyendok makanannya ke mulut.
"Ya udah, kakak pamit ya. Jangan mandi dulu dan satu lagi istirahat." Pesan Varga, meraih poselnya di atas meja dan mengecek jadwal kerja yang sudah di kirimkan Lisa sekretarisnya lewat pesan.
Melihat Varga memainkan ponselnya, Aralia menyadari kalau dari kemarin ia belum memberi kabar pada Reven.
"Reven ..., pasti dia khawatir." gumam Aralia meletakkan nampan di atas nakas dan bertanya.
"Kak ponsel Ara mana?" tanya Aralia sebelum Varga keluar.
Varga berjalan ke arah meja rias dan mengambil ponsel yang ada di sana. Varga mengangkat benda itu tinggi di antara jarinya.
"Aku tahan sampai kamu sembuh."kata Varga, Aralia terlihat panik.
Itu nggak boleh, bagaimana kalau Reven menghubunginya. "Bagaimana kalau Ara bosan." rajuk Aralia.
"Turun ke bawah dan nonton tv."
"Acaranya ngebosanin, aku juga mau nelpon teman-teman." Aralia mengiba.
"Cayrol sama yang lain tahu kalau kau sakit, mereka tidak akan menganggu."
Ah .... batu.
"Kakak ... ummm pusing Ara bisa bertambah nanti kalau merasa bosan. Please ...." Aralia merajuk dengan nada manja, tingkah yang belum pernah Varga lihat membuat pria itu menarik sudut bibirnya. Tapi dia tetap kekeh menahan benda itu tetap bersamanya.
Astaga dia begitu manis.... benaknya, Varga merasakan detak jantungnya mulai bergejolak. Varga menghampiri Aralia. Gadis itu berbinar mengulurkan tangannya. Penuh harap ponselnya kembali.
Cup
__ADS_1
"Eeh?"
"Istirahat kalau ponselmu ini mau cepat balik." Titah Varga setelah mendaratkan ciuman di kening Aralia kemudian tersenyum melenggan dari sana berhasil membuat Aralia kesal dan melemparkan tatapan sinis ke arahnya yang sudah menghilang di balik pintu.