IPAR

IPAR
Video


__ADS_3

"Astaga Ara ...." Varga menyugar rambutnya ke belakang, " aku pikir dengan kau mengatakan menjadi istri penurut akan mengubah segalanya. Nyatanya kau masih menemui pacarmu itu. Kau anggap apa aku ini, Ara ...." gumamnya seraya membuka kancing atas kemejanya dan melonggarkan dasi yang serasa mencekik lehernya.


Varga melihat arloji yang melingkar apik di pergelangan tangannya, kemudian berpikir sejenak untuk menemui Aralia pada jam makan siang.


Varga meraih kunci mobil dari dalam laci meja kerjanya, kemudian memutuskan menemui Aralia. Sambil menunggu pintu lift terbuka Varga mengirim pesan terimakasih pada Cayrol.


Pintu lift terbuka dan disana ada Lisa.


"Pak Varga mau keluar?" tanya Lisa begitu Varga masuk kedalam lift.


"Kau tidak keluar, Lis?" Varga mengerutkan kening saat Lisa menekan tombol menutup.


"Tapi pak Varga mau kemana?"


"Makan siang."


Lisan memperhatikan raut Varga yang masam dan juga lelah. Wanita yang mengenakan hak tinggi 12cm itu sudah mencurigai Varga selama seminggu ini. Terlebih saat Varga mendapatkan lebam di wajahnya. Ia sangat penasaran apa yang terjadi tapi wanita itu sangat minim info karena Varga tidak pernah cerita atau membahas hal-hal lain selain pekerjaan.


"Mau di temanin nggak pak?" tanya Lisa setelah beberapa saat terdiam.


"Oh tidak usah, ada sesuatu yang ingin aku kerjakan di luar selain makan siang." Lisa mengangguk paham.


Pintu lift terbuka, Varga segera keluar dan meninggalkan Lisa disana dan sebelum pintu itu menutup kemabli Lisa segera keluar, memperhatikan Varga keluar lobi menuju parkiran.


Sepertinya pak Varga lagi ada masalah, kelihatan dari aura yang ia pancarkan, suram. Aku harus mengikutinya dan cari tahu apa yang terjadi.


Lisa bergegas menuju parkiran begitu melihat mobil Varga keluar dari gedung itu. Tak ingin kehilangan jejak, Lisa segera menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti Varga dari jarak jauh.


Perjalanan hanya memakan lima belas menit, tujuan Varga adalah kampus tempat Aralia kuliah.


Inikan kampus ..., Apa yang pak Varga lakukan? Batinnya, Lisa menghentikan mobilnya tidak terlalu jauh dari mobil Varga.


"Aku tidak mungkin masuk kedalam, mendingan aku tunggu disini aja tapi apa yang dilakukan pak Varga disini? Apa istrinya itu kuliah ditempat ini?" Lisa berbicara sendiri seraya memperhatikan gerak-gerik Varga dari mobilnya.


Varga keluar, berjalan memasuki area kampus, dengan penampilannya yang formal, membuat beberapa mahasiswi berdecak kagum. Sebagian diantara mereka berpikir kalau pria yang mengenakan kemeja putih mengepas di lekuk badannya yang ramping itu seorang dosen.


Varga menanyakan jurusan akuntansi pada seoarang mahasiswa dan terlihat pria itu mengarahkannya. Varga bertemu Cayrol dengan Ilir di koridor kelas mereka.


"Cayrol," panggil Varga, membuat gadis itu tercengang seolah mendapatkan air di padang pasir.


"Paman." Seru Cayrol, menghampiri Varga.


"Ara dimana ya?" Cayrol berdecak, kecewa. Berharap dialah yang dicari pria itu.


"Ada di perpustakaan, Paman." sahut Ilir, Cayrol melipat bibirnya kedalam dan itu membuat Varga tersenyum padanya.


"Boleh antarkan aku? Soalnya disini terlalu banyak ruang."


"Ayo paman." Ilir memimpin jalan dan diikuti Varga, sementara Cayrol melangkah malas-malasan tepat di belakang Varga.


Aku sama sekali tidak di pandang, ucapin terima kasih aja nggak. Batin Cayrol menatap punggung pria itu dari belakang.


"Cari di sana aja paman,"


"Apa dia sering kesini?


"Hahaha, rajin."

__ADS_1


"Kalian nggak?"


"Ngapain? Kalau hanya mau tidur dan baca komik, di kelas juga bisa."


"Eh?"


"Masuk aja paman."


Ilir berbalik dan Cayrol masih menatap pria itu hingga masuk ke dalam dan mencari Aralia.


Ruangan itu sepi, tidak banyak pengunjung hanya ada beberapa siswa dan penjaganya.


Varga memindai satu persatu orang di sana dan terhenti pada sudut ruangan itu.


Aralia memejamkan matanya, melipat kedua tangan didada dengan kepala sedikit mendongak.


Varga berlahan menghampiri, dan menggelengkan kepala. Ucapan Ilir benar, ponsel Aralia yang ada di atas meja masih menampilkan komik. Aralia memang penyuka komik, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam bahkan mengabaikan panggilan orang hanya demi cerita bergambar itu.


Aralia ketiduran mungkin karena matanya kelelahan. Varga, menyentuh lengan Aralia. Membuat istrinya itu terkesiap dan melihat samar Varga dihadapannya.


Aralia mengucek matanya guna memastikan kalau yang ia lihat itu nyata.


"Kak!" Sorak Aralia menggema membuat pengunjung mengudang tatapan pengunjung pada mereka.


"Ikut aku," ujar Varga menarik pergelangan tangan Aralia, membawa istrinya itu keluar dari sana dan langsung menuju gerbang kampus tempat Varga memarkirkan mobilnya.


"Pelan-pelan kak, orang-orang pada lihatin." ucap Aralia berlari kecil mengimbangi langkah lebar Varga.


Beberapa pasang mata melihat pasangan itu, ada yang bingung dan juga ada yang berdecak kagum pada Varga si pria jangkung dengan postur tubuh profosional.


Varga terus berjalan, menarik tangan Aralia keluar area kampus tak peduli dengan tatapan orang atau ringisan Aralia pada pergelangan tangannya yang di genggam erat Varga.


"Apaan sih kak?" Aralia cemberut membuka pintu mobil dan masuk kedalam.


"Sakit tahu nggak!?" ucap Aralia kesal, menatap Varga yang sudah duduk di kursi pengemudi.


"Sakit? Itu nggak seberapa dengan sakit yang aku rasakan. Paham?" Bentak Varga. Aralia menatap Varga bingung.


"Selain tidur dan baca komik apa lagi yang kau lakukan di kampus ini?" Tanya Varga, menyalakan mesin mobilnya.


"Belajar!"


"Kau nyakin?"


"Mmm ..."


"Kau nyakin hanya itu yang kau lakukan? Oh aku lupa kalau kau punya kekasih? Tentu tujuan utamamu kesini adalah bertemu dan bermesraan. Iya kan Ara?" Tanya Varga, menginjak pedal gas mobilnya.


Lisa mengikuti dari belakang.


"Maksud kak Varga apa ya?" Aralia mengerutkan dahi, bingung.


"Jangan bertingkah bodoh, kau jelas tahu apa yang aku maksud," ujar Varga mengemudikan mobilnya.


"Oh, tidak, tidak, tidak. Aku tidak tahu apa yang kakak maksud. Kau datang kekampusku, menarikku kasar, marah-maran dan mengatakan hal konyol ini. Sungguh aku butuh penjelasan, oke?" Aralia melipat tangan di dada, menuntut penjelasan.


"Apa memang begini kepribadianmu, Ara? Setelah melakukan kesalahan dan kau bisa melupakan dalam sekejab?"

__ADS_1


"Oh ya ampun kak! Please! Jangan bikin aku pusing, memang kesalahan apa yang aku buat hingga menarikmu kesini?" Geram Aralia.


Varga membuka ponselnya dan membuka video yang otomatis tersimpan di memori telponnya.


"Kau bisa jelaskan ini?" Varga menunjukkan video yang dikirim Cayrol hingga membuat Aralia terkejut.


"Apa ..., memang apa yang terjadi di video itu? Tidak ada yang aneh kan?" Sanggah Aralia, membuat Varga tercengang pada sikap keras kepala Aralia. "Tunggu!" Aralia merebut ponsel Varga "Kau ...,memata-mataiku? Kau menyuruh orang untuk menguntitku?" Tanya Aralia penasaran, menatap tajam Varga yang lagi menyetir.


"Aku tidak pernah melakukan itu," sahut Varga.


" Lalu dari mana kau dapat video ini?"


"Kau tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya."


Apa profesor Hanry? Tidak,tidak,tidak. Profesor Hanry tidak mungkin memata-mataiku, itu bukan gayanya.


"Kembalikan ponselku Ara!" Varga berusaha merebut ponselnya, dengan cepat Aralia menjauhkan tangannya. Menatap Varga yang terlihat bingung. Pria itu takut kalau Aralia mengetahui dan membaca nama sipengirim pesan.


Aralia membuka whatsApp dan menemukan pengirim paling atas dengan nama Cayrol. Aralia membelalak terkejut dengan isi pesan Cayrol.


"Kau meminta Cay memata-mataiku, kak?" Aralia terkekeh, ia tak menyangka kalau suaminya itu meminta Cayrol mengikutinya.


"Aku tidak pernah mintanya," sanggah Varga, mulai menepikan mobilnya.


"Lalu ini apa?" Aralia menyipitkan mata, melihat Varga yang tampak bingung. "Dia melakukanya dengan sukarela?" tanya Aralia lagi.


Varga memejamkan matanya, mengusap wajahnya, menghela napas berat kemudian melihat Aralia dengan tatapan kecewa.


"Masalah Cayrol kita bisa bahas lain waktu, sekarang yang perlu kita bahas adalah isi pesan itu." ucap Varga.


"Aku rasa tidak perlu dibahas—"


"Perlu Aralia, dan sangat perlu! Aku pikir dengan kau mengatakan akan menjadi istri penurut kau bisa berubah dan tidak lagi menemui pria itu."


"Iya aku memang mengatakan itu," Aralia mengendikkan bahunya, santai.


"Tapi kenapa kau menemuinya?"


"Aku perlu bicara padanya."


"Tentang apa? Hubungan kalian?"


"Ya, kakak benar. Kami membahas tentang hubungan kami. Kau ingin tahu?" Jawab Aralia tersenyum, sengaja memancing kemarahan Varga. Aralia kesal karena sudah meminta Cayrol menguntitnya.


Alis Varga bertautan, menatap sikap tenang istrinya itu tanpa sedikitpun rasa bersalah.


"Keluar!" Perintahnya


"Tidak. Antar Aralia ketempat dimana kakak menjemputku." Aralia menatap lurus Varga dan ia bisa melihat senyum sinis suaminya itu.


"Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran, mendingan kau keluar!"


Aralia berdecih mengejek ancaman Varga. Aralia diam duduk dan mengabaikan tatapan dingin suaminya itu.


Varga mengangguk, "baiklah, sepertinya kau mengiginkan cara kasar, Aralia." ujar Varga, keluar dari mobil dan berlari mengitari mobilnya lalu membuka pintu dan menarik paksa Aralia keluar.


"Kak!" Teriak Aralia, melawan tapi tenaga Varga yang bercampur emosi lebih kuat. Aralia keluar dan Varga menutup pintu mobil lalu mendekatkan diri pada Aralia, berbisik tepat diwajahnya.

__ADS_1


"Sudan kuperingatkan jangan membangunkan iblis yang ada di hatiku." desis Varga, kemudian meninggalkan Aralia di tengah jalan. Aralia teriak kesal dan dari tempat lain Lisa tersenyum. Meski belum jelas tahu apa yang diperdebatkan pasangan itu.


"Cay, sialan kau!" Gumam Aralia mengepalkan tangannya erat.


__ADS_2