IPAR

IPAR
Aku juga mencintai kakak


__ADS_3

"Tidur Ara, ini sudah jam sepuluh malam," tegur Varga saat melihat Aralia menonton drama korea dalam ponselnya. Senyum-senyum sendiri juga kesal sendiri. Varga mengakhiri pekerjaanya dan menutup laptopnya. Varga penasaran dan tergerak melihatnya.


"Bentar lagi kak, tanggung lagi seru juga." sahut Aralia, mengganti posisi tidurnya dari telentang jadi tengkurap.


"Geser sana, kakak mau tidur. Kau sangat aneh nonton bisa berjam-jam begitu."


"Biarin," Aralia menggeser tubuhnya memberi ruang buat Varga.


"Kenapa kau suka drama korea?" Tanya Varga, menjadikan kedua tangannya bantal.


"Selain pemerannya tampan -tampan, alur ceritanya juga menarik."


"Actor Hollywood sama Bollywood juga tampan, Ra. Cerita mereka juga lebih menarik."


"Aku lebih suka korea kak, pria mereka itu sangat romantis, apalagi saat ciu—"


Varga menaikkan kedua alisnya, menunggu ucapan Aralia yang terputus. Aralia terlihat gugup, menggigit bibirnya. Sepertinya dia salah bicara.


"Apalagi saat apa?" Varga tersenyum, mengedipkan sebelah matanya menggoda Aralia.


Aralia menggeleng, mematikan ponselnya, mengubah posisi tidurnya telentang.


"Apalagi saat apa, Ra?" Varga sengaja memprovokasi.


"Mmm ...ciuman kak," lirih Aralia, menutup dirinya pakai selimut.


"Memangnya kalau mereka ciuman itu bagaimana sih?" Sekarang posisi Varga sedang tengkurap, dadanya terangkat ke atas menarik selimut yang menutup wajah Aralia.


"Ya ... begitu deh, halus sama mmm manis." Jawab Aralia malu-malu.


"Ciuman kakak juga manis kok, nggak cuma manis tapi juga lembut seperti cream strouberry."


"Bodo," Aralia mencebik bibirnya


"Mau coba tidak?"


"Ogah,"


"Ayolah, Ra ...." Varga tampak berpikir dan berniat mengerjai Aralia yang sudah merona.


"Apa sih kak, ih mesum benar."


Reflek Varga menindih tubuh Aralia, menjadikan kedua tangannya penyanggah, mengunci pergerakan Aralia yang memekik kaget.


Mata Aralia yang melotot perlahan terpejam dalam. Jantungnya berdetak cepat mengantarkan hawa panas keseluruh tubuhnya, ia tengang dan warna merah memenuhi wajahnya.

__ADS_1


Varga tersenyum jahil, melihat bagaimana kaku nya istrinya itu, ia bahkan merasakan detak jantung Aralia terpacu. Ada seringai di bibir pria itu, menunduk sedikit lalu berbisik tepat pada telinga Aralia, " Malam ini kakak akan memberimu ciuman romantis seperti pria korea," ucapnya sensual membuat Aralia terkesiap.


Terlebih dahulu Varga mengecup kening lalu beralih pada kedua kelopak mata, hidung, dan berhenti sesaat tepat ingin mengecup bibir mungil itu. Pandangan Varga fokus pada bibir kecil yang terkatup rapat milik Aralia.


Dalam kegugupan yang di rasakan Aralia, ia penasaran kenapa pria itu tidak melanjutkan aksinya. Aralia perlahan membuka sebelah matanya dan mendapati senyum nakal dari Varga.


Sial batinya.


Wajah mereka sangat dekat, napas beraroma mint yang keluar dari mulut Varga terasa hangat dan menggodanya.


Baru saja Aralia pasrah dan ingin menyerahkan dirinya pada suaminya itu, Varga kembali berbisik, "aku mencintaimu ... selamat malam sayangku." katanya lalu Aralia merasakan dahinya kembali di cium lembut.


Varga kembali ke posisinya, ia tidak ingin melanjutkan keisegannya mengingat Aralia belum siap, Varga memasukkan satu tangannya dari bawah tengkuk Aralia, menjadikan tangannya bantalan istrinya itu dan menariknya lebih dekat. Ia berharap malam ini mimpinya indah. Varga memejamkan matanya mendekap Aralia dalam pelukannya.


Aralia perlahan membuka matanya, wajahnya tepat pada dada Varga dan entah kenapa senyumnya terbit. "A-aku juga cin~ta sama kakak," gumamnya, kembali memejamkan mata menikmati hangatnya dekapan Varga.


_____________________________________________


Lisa mengemudikan mobilnya ke sebuah Bar yang ada di pusat kota, ia baru saja menerima info tentang kekasih Aralia. Saat di depan Bar, Lisa keluar dari mobilnya dan disambut petugas parkir valet. Lisa merapikan dres ketat bewarna merah yang melekat di lekukan tubuh seksinya.


Menjelajahi ruang remang dengan musik keras memekakan telinga mencari sosok Reven.


Senyumnya terbit saat melihat pria duduk di meja Bar dengan wajah tertunduk. Lisa menghampiri dan mengambil posisi duduk di samping pria itu.


"Satu yang special ," katanya pada Bartender yang bertugas. Bartender mengangguk meracik lihai Vodka dengan campuran lainnya.


"Silakan nona," Bartender menyerahkan segalas minuman yang sudah di racik.


"Thanks," katanya, mencicip minumannya, "Ah ...." berdecak saat minuman itu terasa membakar tenggorokannya.


"Hai tampan, diam aja, tersesat ya?" sapanya, Reven menoleh, Lisa tersenyum lebar namun pria disampingnya tidak tertarik sama sekali.


"Sebagian orang yang datang ke tempat ini untuk menghibur diri, menenangkan hati bukan untuk bunuh diri, seperti yang anda lakukan. Meneguk minuman tanpa henti


bisa membakar hati anda apalagi saat ini hati anda memang benar-benar sudah sakit."


"Apa maksudmu?"


Lisa tersenyum manis," hatimu sakit karena cintamu di putus, bukan?" Lisa terkekeh dengan nada mengejek . Reven lama menatap wanita seksi disampingnya, mencerna apa yang dikatakan wanita itu tentang dirinya.


"Sayang sekali tebakan anda salah," sanggah Reven, mengalihkan tatapannya dari Lisa. Wanita itu tersenyum kecut.


"Namanya Aralia sadah, istri dari Varga Sadah, bermain hati dengan dua lelaki. Yang satu suami dan yang satu kekasih. Aku penasaran siapa pemilik hati wanita itu sebenarnya. Suaminya atau kekasihnya?" Lisa meneguk kembali minumannya, melirik pada Reven yang sudah menatapnya sejak nama Aralia di sebut.


"Siapa kau?" tanya Reven dengan nada menekan.

__ADS_1


"Aku datang kesini sengaja mencarimu, menolongmu dari keterpurukan ini. Aralia butuh kamu, butuh cintamu."


Reven menilai wanita yang ada di sampingnya, kemudian terkekeh. Wanita itu lebih layak di sebut ular katimbang peri. Reven seharusnya menggodanya dan membawanya ke ranjang ketimbang menolong. "Anda tidak waras." kata Reven menahan tawa.


"Iya kau benar, aku memang gila, tapi aku tidak ingin terpuruk meratapi nasib cintaku. Aku ingin mengambilnya kembali. Aku ingin mengambil Varga ku dan menjadikannya suamiku." katanya menatap tajam Reven.


"Jadi itu alasanmu mencariku? aku rasa cintamu di tolak,"


"Bukankah kau juga di putuskan?"


"Benar ... namun ada alasan mulia dibalik itu. Bukan karena tidak cinta."


"Sayang sekali, aku terharu mendengarnya."


Reven kembali menambah minumannya, sementara Lisa hanya terdiam menatap pria itu.


"Jadi ...apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Reven, melirik Lisa setelah meneguk minumnya.


"Kerja sama,"


Reven tampak berpikir, "kau ingin aku membantumu mendapatkan cinta suaminya?"


"Tepat!"


"Aku tidak bisa, kalau kau ingin lakukan sendiri saja."


"Sayang sekali aku datang ke tempat yang salah, kau tidak lebih dari pecundang yang menyerah begitu saja. Padahal kalian saling mencintai." Lisa meneguk minumannya hingga tetes tarakhir, lalu mengeluarkan kartu tipis dari dompetnya. Membayar minumannya dan berlalu dari sana.


Pengecut?


Reven melakukan hal yang sama, membayar lalu mengejar Lisa keluar Bar dengan langkah berat, ia setengah sadar.


"A-apa yang harus aku lakukan?" tanya Reven menghentikan langkah kaki Lisa. Lisa menyeringai, akhirnya pria itu luluh juga.


"Namaku Lisa," katanya mengenalkan diri.


"Re-Reven." Balas Reven. Mereka berjabat tangan, sebagai awal jalannya rencana Lisa.


"Kau buat dia kembali untukmu, aku akan berusaha mengambil pria yang di sampingnya."


Reven tergelak, "kalau itu rencananya tanpa kau suruh aku sudah melakukan itu, aku sudah mengiba untuk kembali." kata Reven meremehkan Lisa.


"Memohon bukan langkah yang tepat, kau harus lebih agresif,"


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


Lisa mendekati, menatap wajah Reven layaknya penggoda. Lalu berbisik tepat di telinga pria itu. Reven tampak kaget mendengar saran wanita itu, ekpresi wajahnya yang menegang ia tampak berpikir keras.


"Kau pasti bisa melakukannya," katanya tersenyum penuh makna.


__ADS_2