IPAR

IPAR
Berkencan dengan suami


__ADS_3

"Main ice skating ya?" ajak Varga saat pasangan itu melintas di Arena ice skating yang ada di mall tempat mereka kencan.


"Tapi Ara tidak bisa kak,"


"Tidak apa-apa kakak ajarin." Varga menarik tangan Aralia membeli tiket dan mengambil sepatu yang di sewakan.


Varga membantu Aralia mengenakan sepatunya dan meletakkan tangan Aralia di pembatas Area untuk berpengang, sementara Varga mengenakan sepatu miliknya.


"Ayo jalan," Varga mengulurkan tangannya untuk berpengangan, dan membawa Aralia masuk ke arena ice skating.


"Ikutin gerakan seperti yang aku buat," ujar Varga menggerak-gerakkan kakinya maju mundur.


Aralia mengikuti sesuai intruksi yang di ajarkan Varga." Wah, haha Ara bisa kak," Aralia bersemangat.


"Nah, coba kemarih." Varga meluncur menjauh satu meter dari Aralia.


Perlahan Aralia melepaskan penganganya pada besi pembatas dan menggerakkan kakinya pelan.


"Ayo sayang ayun kakinya." Seru Varga membentangkan kedua tangannya bersiap menangkap Aralia.


Aralia mendorong tubuhnya kedepan, berusaha meluncur tapi belum apa-apa sudah terjatuh.


Brakk!


Tubuh Aralia membentur lantai es yang dingin.


"Hei ...," Varga menghampiri, "tidak apa-apa kan sayang?" Varga membungkuk mengulurkan tangannya.


"Sakit ah," Aralia meringis dan suaminya itu malah tersenyum.


"Tidak apa-apa sayang, memang harus begitu dulu kan? Namanya juga baru pemula." Varga membantu Aralia berdiri.


"Kita coba lagi ya," ujar Varga meletakkan kedua tangan Aralia di pinggangnya. "Coba melangkah pelan ." Pintanya.


"Tidak mau!" Aralia menolak dia malah memeluk Varga.


"Ra ... Percaya sama kakak Ara pasti bisa."


"Tidak mau! Bawa Ara keluar dari sini. Badan Ara sakit waktu jatuh tadi."


"Ayolah sayang," bujuk Varga mengelus kepala Aralia. Istrinya itu menggeleng.


"Ya sudah, kakak tuntun ya." Varga memeluk Aralia dari belakang, dan mendorong pelan tubuh Aralia maju.


"Kak jangan lepasin ya," Aralia ketakutan.


"Tidak akan."


Berseluncur dengan gerakan lambat, membuat Aralia merasa tenang, Varga ada di belakangnya.


"Aku lepas ya," Varga melepaskan tangannya dan karena panik Aralia terjatuh lagi.


Gubrak


"Kau ingin mati ya!" Teriak Aralia, Varga tertawa keras.


"Jangan panik dong, ah kau ini." Varga mengulurkan tangannya membantu Aralia bangun.


"Pengang tanganku saja," Varga menggenggam erat tangan Aralia, lalu membawanya bergerak.


"Ayo melangkah pelan," baru dua langkah Aralia hampir terjatuh lagi, beruntung Varga sigap menangkapnya. Menahan Aralia dan membawanya kepelukannya.


Aralia mendongak pada Varga, "aku takut dan disini dingin sekali, kita main di tempat lain aja kak,"


"Uh ... kau ini. Aku akan membawamu berputar setelah itu kita keluar dari sini ya."


"Tidak mau!"


"Nih pengan pinggang kakak, jangan lepas kalau kau tidak mau jatuh. Satu putaran aja." Varga menempelkan tangan Aralia ke pinggangnya dan membawanya ke tengah Arena. Berseluncur berlahan dari gerakan lambat hingga ia merasakan kalau Aralia sudah merasa nyaman Varga bergerak cepat


"Aaaaa .... Hahaa." Gelak tawa Aralia menggema di udara. Ia memeluk Varga dari belakang setelah sampai ditempat semula.


"Bagaimana?" Tanya Varga berbalik melihat Aralia. Istrinya itu pucat dan bibirnya gemetar. "Ra, kau kedinginan." Aralia mengangguk cepat.


"Kemarilah," Varga menangkup wajah Aralia dengan kedua tangannya, meraup bibir gemetar milik Aralia. Memberi rasa hangat disana. Aralia membelalak. Ia merona dan tidak menyangka kalau Varga akan melakukan hal seperti itu di depan umum. Lama menyesapnya dengan mata terpejam.


Aralia menepuk dada Varga. Ia terlalu malu dan takut kalau Varga hilang kendali. Sorak dan siulan terdengar dari beberapa orang dan ada juga yang menatap tidak senang.


Varga tidak peduli, "sudah tidak dingin kan?" tanyanya menatap Aralia.


Apaan? Aralia mengangguk.


"Ya sudah kita keluar dari sini." Varga membantu Aralia keluar dan melepaskan jaket dan juga sepatu yang di sewa.


______________________________________________


"Kopi?"

__ADS_1


"Mau," Sahut Aralia menggenggam erat tangan Varga. Mereka melangkah ke satu kafe.


"Mau cake sekalian?" Aralia mengangguk." Ya sudah kau cari tempat duduk," tambahnya.


"Jangan aku pengen jalan-jalan kak, pesan di paper cup aja."


"Cake nya bagaimana?"


"Tidak usah kalau begitu, aku mau jalan-jalan. Cepat!" Varga mengangguk dan berjalan ke arah kasir.


Memesan dua capucino panas kemudian membayarnya.


"Mau kemana?"


"Keliling aja,"


"Mau nonton?"


"Ara tidak suka," bukannya perempuan biasanya pada suka ya di bawa nonton? Ara memang beda dan Varga bersyukur karena dia juga tidak suka nonton di bioskop.


"Belanja pakaian?" Aralia mengangguk cepat, uh tidak akan menolak.


Di toko pakaian yang terkenal dengan nama 'sun' itu, Aralia berjalan menyusuri berbagai pajangan. Tapi tak satupun yang menarik hatinya. Varga membantu menunjuk satu persatu yang di pajang pada patung. Aralia menggeleng, kadang Varga menunjuk pakaian yang minim hingga membuat keduanya tergelak.


"Ra, dari sebanyak pakaian di toko ini tidak ada yang menarik hatimu?" Aralia menggeleng lalu terkekeh.


"Uh kau ini, kakak capek tahu." Varga mengecup kening Aralia. Lalu tersenyum usil saat matanya melihat sesuatu yang menggelitik hatinya.


"Ayo cari kesana," Varga menarik tangan Aralia ke suatu tempat.


"Sepertinya kau cocok pakai itu, Ra. Kakak mau lihat." Tunjuk Varga pada patung yang mengenakan Lingerie lengkap dengan sepasang dalaman bewarna ungu. Aralia membelalak spontan mendorong Varga hingga menubruk patung itu.


Brakkk


Varga menindih patungnya membuat pengunjung yang ada disana melihat ke arahnya. Aralia berbalik menahan tawa bersembunyi di deretan baju.


Aralia! Spontan Varga terbangun dan mendirikan patung itu kembali ke asalnya. Orang-orang menatapnya dengan tatapan geli. Ada yang berdecak dan juga menertawakannya. Raut Varga merona salah tingkah.


"Itu patung loh pak bukan boneka sek," ujar karyawan pria toko itu. Varga makin malu dan membungkuk minta maaf.


Maaf, maaf, maaf. ucapnya tanpa suara.


Aralia terduduk menahan sakit perut karena ketawa di deretan pakaian yang tergantung.


"Saya mau beli itu," Tunjuk Varga pada patung itu. Karyawan menatapnya dengan mulut mengaga. Tidak percaya dan menggelengkan kepala menatap Varga layaknya manusia termesum sedunia.


"Siapa yang mau beli patungnya," Bodolah sekalian malu, malu ajalah. Awas kau Ara....


" Saya tidak bernafsu. Saya lebih tertarik dengan pakaian tembus pandang berenda warna ungu itu." tambahnya dengan cepat.


"Oh baik pak," aneh ... pria aneh kelainan sek, untung tampan kalau jelek sudah kena bully. karyawan itu merinding.


"Maaf patung orang itu menyukai pakaian seksimu ini. Nanti aku pakaian dengan pakaian yang lebih seksi lagi." Gumam karyawan seraya menelanjangi patung itu.


"Ini pak bayarnya ke kasir." Varga mengambilnya dan membawanya ke kasir. Beberapa mata menatapnya dengan senyum-senyum.


Varga membayarnya, Aralia masih bersembunyi di tempatnya.


"Ayo pulang Ara." ucap Varga dengan nada datar. Aralia mendongak, mengulurkan tangan Varga meraihnya membantu Aralia bangun.


"Apa itu?" tanya Aralia masih menahan tawa.


"Uh kau ini," Varga menjentikkan jarinya ke dahi Aralia. "Untukmu!"


"Apa?" Varga terkekeh meninggalkan Aralia mematung melihat kain yang ada di Bag paper. "Dia membelinya." gumam Aralia, berlari kecil mengejar Varga.


"Kita pulang, aku sudah tidak sabar melihatmu mengenakan itu." ujarnya melangkah terus ke arah lift.


"Tidak mau."


Varga menarik lengan Aralia, membuatnya mendekat kemudian berbisik. "Itu hukuman karena sudah mempermalukan aku tanpa menolongku tadi."


Aralia tergelak, mengingat bagaimana Varga menindih patung seksi yang mengenakan pakaian tembus pandang itu.


"Malam ini kau harus bekerja keras." Desis Varga, lalu masuk ke dalam lift.


"Tidak mau ...." gumam Aralia menggenggam tangan Varga menahan tawa.


Saat pasangan itu berada di pintu Mall, ternyata hujan turun.


"Hujan kak, bagaimana ini?" Aralia bergelayut manja di bahu Varga.


"Tidak apa-apa kan kita naik taksi," Varga mengeluarkan ponselnya.


"Kak ayo kita pulang jalan kaki aja," Aralia berlari kehujan.


"Ara ...," Panggil Varga memasukkan kembali ponselnya ke saku celana, berlari mengejar Aralia.

__ADS_1


"Taruhan yo kak,"


"Taruhan apa?"


"Pakaian ini. Siapa yang belakangan sampai di minimarket itu dia yang akan pakai ini.


"Sungguh?" Varga semangat, keduanya sudah basa kuyub terkena hujan.


"Satu, dua , tiga." Ara mencubit perut Varga kemudian berlari duluan. Dia tahu langkah Varga panjang dan akan mengalahkannya.


"Auh sakit sayang ...." Pekik Varga menahan nyeri. Aralia tergelak dia sudah jauh tapi Varga baru memulai larinya.


Aralia berlari dibawah hujan, melewati toko-toko yang sebagian sudah tutup. Rambutnya yang panjang membawa air mengenai punggungnya.


Hampir sampai, Varga menarik Aralia mengangkatnya dan membawanya kembali kebelakang.


"Eih ... kak Varga curang." Protes Aralia menahan pinggang Varga. Keduanya terkekeh dan terjatuh ke jalan.


Aralia berusaha bangun, sungguh ia tidak mau mengenakan pakaian norak itu. Varga menariknya hingga terduduk dan kepalanya membentur dada Varga. Mata mereka bersitatap, Varga meniup lembut wajah Aralia membuatnya terpejam dan kesempatan itu digunakan Varga bangun dan lari ke minimarket.


"Kak Varga curang! Itu tidak adil." Teriak Aralia melempar Bagpaper ditanganya merajuk.


Varga masuk ke minimarket mengambil kopi lalu menyeduhnya. Menunggu Aralia sampai.


"Jahat!" Intonasi tinggi, melempar Bagpaper ke arah Varga. Pria itu terkekeh melihat Aralia mengambil mie dan menyeduhnya.


"Kau makan itu?" Tanya Varga mengerutkan kening.


"Bodo,"


"Sayang kita bisa beli makanan yang lain."


"Memangnya ini racun apa?" Aralia mengaduk lalu menutup kembali." Bayar aku tunggu di luar." katanya kesal.


"Astaga pemarah," Varga ke kasir dan membayarnya.


Varga menghampiri Aralia yang tengah duduk menikmati pop mie. Mencecap dan menyeruput kuahnya lalu berdecak nikmat. Hangat menjalar ke perutnya yang terasa lapar.


"Sudah?" tanya Varga, "naik taksi atau masih lari-larian?" Varga menahan tawa, Aralia masih cemberut lantaran kalah taruhan.


"Mana ada taksi yang mau bawa orang basah kayak gini," Aralia menoleh pada Varga yang berdiri di sampingnya. Menelan ludah melihat dada bidang Varga ter-ekspos. "Naik ojek online aja." Aralia menggigit bibirnya sendiri.


Varga memesan untuk dua orang, selama menunggu Aralia menyenderkan kepalanya di lengan Varga. Dua motor tiba, Varga menghampiri mereka dan berbincang. Setelah itu ia memanggil Aralia.


"Kakak Varga yang bawa?" Tanya Aralia melihat Driver berpindah tempat.


"Mmm,"


Aralia tersenyum, melingkarkan tangannya di pinggang Varga seraya menyenderkan kepalanya di punggung suaminya itu.


Perjalanan memakan waktu hanya lima belas


Tak jauh dari hotel, Varga menepikan motor yang ia bawa. "Ayo turun, Ra," ujarnya, menunggu Driver dan memberikan tips pada kedua driver ojek itu.


"Terima kasih pak," ucap keduanya, dengan raut senang. Varga mengangguk.


______________________________________________


"Kak, aku duluan mandi ya." Aralia membawakan handuk dan pakaian ke kamar mandi.


"Mandi bersama aja," Varga mengikuti.


"Tidak mau," Aralia berlari hendak menutup pintu tapi Varga menahan dengan sigap.


"Kakak!" Teriak Aralia merajuk. Varga menarik tangan Aralia ke shower dan menyalakan airnya. Mengizinkan air membasahi keduanya.


Varga menangkup wajah Aralia membuat istrinya mendongak. "Pemarah," katanya, lalu mengisap bibir istrinya itu lembut. Aralia berjinjit melingkarkan tangannya di leher Varga. Membalas tanpa ragu walau kadang menabrakkan giginya pada gigi Varga. Ciuman itu semakin panas dan masih di bawa siraman air membuat keduanya bersemangat.


Varga mengangkat tubuh Aralia dan dengan sigap Aralia melingkarkan kakinya di pinggang lekakinya itu. Mengusap kepala Varga penuh emosi hasrat begitu juga dengan Varga ia menjelajah lekukan leher Aralia. Menggigit telinga merah itu lembut dan menghujani kecupan di seluruh wajah Aralia.


Varga membawa Aralia keluar kamar mandi dan membaringkan di sofa. Keduanya melepas pakaian dan kembali bercumbu dengan panas. Aralia mulai lihai dan tidak lagi canggung meski kerap melakukan kesalahan dalam sentuhannya.


Dibawah sana, di taman surga dunia itu pria berdada bidang bermain dengan mulutnya. Menyapu dan memberi pijitan-pijitan kecil dengan perasanya hingga si empunya taman terengah dengan menggigit bibirnya yang terasa kering.


Tangannya terulur menarik rambut si nakal yang menyiksaknya dengan rasa nikmat. Membawanya naik, meminta setitik air membasahi mulutnya yang terasa kering. Menjulurkan alat perasanya untuk di manja sang pujaan hati sementara tangannya yang satu mencari pedang yang siap bertempur di bawa sana.


Si Hawa itu meraihnya dan mengarahkan, dengan susah payah si empunya pedang berusaha mendorong lebih dalam lagi.


"Ah ...," Leguhan panjang terdengar dari mulut manis belahan jiwa, saat pedang berhasil memasukinya lebih dalam.


Pemilik pedang berbisik dengan nada sensual, penuh kabut hasrat di telinga Hawanya untuk memanggil namanya saat keduanya bekerja keras untuk mendapatkan kemenangan.


Senyum terukir indah di wajah itu sebagai jawaban, Tangannya melingkar di punggung, mengusap memberi semangat sembari menahan erangan dibibirnya yang mungil itu. Gerakan itu perlahan cepat dan berhasil meloloskan nama si empunya pedang dari mulutnya.


"Varga ...."


Mereka menghabiskan malam yang dingin penuh peluh atas nama cinta.

__ADS_1


__ADS_2