IPAR

IPAR
Menghukum


__ADS_3

Delapan jam setelah tertidur, Aralia perlahan membuka matanya. Ia merasa sesuatu menempel di wajah dan tangannya yang membuatnya tidak nyaman.


Apa ini? Alat bantu bernapas? Selang infus? Aralia memutar bola matanya mencari keberadaanya.


Rumah sakit? Jadi aku benar-benar dirumah sakit? Bukannya aku tertidur dan bermimpi?


"K-kak Varga ...." gumamnya setelah menyadari kesendiriaanya diruangan itu.


Suara Bib terdengar dari monitor menandakan pergerakan yang ia buat. Perawat dan dokter masuk memeriksanya.


"Anda sudah bangun?" Dokter itu melakukan pemeriksaan pada bola mata pasien.


"Di-mana suamiku?" nyaris tak terdengar, bibirnya seolah terjahit oleh air liurnya yang kering.


"Kita lakukan pemeriksaan dulu ya," ujar Dokter, " Bagaimana perasaanya? Apa susah untuk bernapas? Sesak?" tanya dokter dan diangguki Aralia.


"Oke. Itu wajar, jangan banyak gerak dulu ya. Akan ada rasa nyeri pada dada setelah anastesinya hilang. Tapi jangan khawatir kita akan memberikan anti nyeri lewat infus."


"Suamiku?"


"Anda sangat merindukan suami anda rupanya," Dokter itu tersenyum ramah. "Oke perawat akan memanggilnya." Perawat langsung keluar dan memanggil walinya.


Varga masuk dengan menggunakan pakaian steril dan menghampiri Aralia.


"Hei, sayang ...kau sudah bangun?" Varga menggenggam tangan Aralia. Berjongkok di samping bangsal. Aralia mengedipkan matanya sebagai jawaban.


"Dokter bagaimana dengannya?"


"Pasien sudah siap dipindahkan ke ruang inap." Varga mengangguk dan mengecup punggung tangan Aralia lalu menempelkan telapak tangan istrinya itu di sisi wajahnya.


"Hanya kecelakaan kecil kan kak?" Tanya Aralia memastikan kenapa ia harus menggunakan alat penunjang kehidupan itu.


Varga mengangguk, tak ingin membuat Aralia panik.


"Baiklah, kalian bisa bercanda ringan di ruang inap ya. Kau bisa keluar." ujar dokter pada Varga.


"Iya dokter," Varga mengangguk. "sayang aku tunggu di sana ya." Aralia mengedipkan matanya. Saat keluar Varga merasakan lega dan menitikkan air matanya yang tertahan.


______________________________________________


Setelah menelisir apartemen Lisa dan ternyata kosong. Polisi berhasil menemukan wanita itu di bandara bersiap melarikan diri ke negara Singapore.


"Lisa Meral anda di tahan atas kecelakaan yang terjadi di jalan S hingga mengakibatkan korban masuk rumah sakit dan kerusakan pada kendaraan lainya karena kejadian itu." seorang pria bertubuh tegap memotong barisan cek-in dimana Lisa berada.


Lisa berdecak, ekpresinya datar dan meletakkan kopernya kecil yang ia tarik.


"Jangan memaksaku, aku akan berjalan baik-baik." Kata Lisa menolak di borgol.


Ponsel Varga berdering saat menemani Aralia di ruang inap. Ia menjauh dan mengangkatnya.


"Baiklah saya kesana." Katanya mengakhiri telpon itu. Varga tersenyum saat melihat Aralia melempar tanya lewat tatapannya.


"Bukan apa-apa," katanya mengusap kepala Aralia. "Mama, aku keluar sebentar ya. Mobil yang menabrak Aralia sudah ketemu." Sambungnya pada Nisa.


"Baiklah, hati-hati." ujar Nisa. Varga mencium kening Aralia.


"Jangan banyak gerak," kata Varga dengan nada mengancam.


"Kau juga akan menyuruhku tidur?" lirih Aralia cemberut. Varga terkekeh.

__ADS_1


"Baiklah, ada mama kau bisa bicara sepuasnya sampai aku pulang." Kata Varga.


Sebelum tabrakan terjadi.


"Pak Varga!" Lisa membanting pintu ruangan Varga, menerobos masuk tanpa mengetuk.


"Apa yang anda lakukan? Kenapa memutasi saya menjadi team CFO?" Lisa berang, memperlihatkan kontrak kerja yang harus ia tanda tangani jika mau.


"Itu posisi yang bagus Lisa, kenapa kau keberatan?" Varga menjawab santai tanpa menoleh aura suram Lisa.


"Saya tidak pernah mengecewakan anda dalam hal pekerjaan. Kenapa anda melakukan ini?"


Varga menarik napas, menatap Lisa. "Aku tidak nyaman bekerja denganmu," Varga kembali bekerja.


"Anda harusnya bisa memilah urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Lagipula saya sudah mendapatkan hukumannya. Pak Varga tidak pernah membawaku meeting dan sengaja menghilangkan peran saya sebagai sekretaris anda. Apa itu belum cukup."


"Lisa, aku tidak menendangmu keposisi yang rendah itu karena kinerjamu bagus. Bukankah seharusnya kau berterima kasih." Walau aku harus menyogok supervisor sialan itu.


"Tapi saya hanya ingin bekerja di sisi pak Varga," melembut dengan mata mengiba.


"Itu masalahmu, kau bisa keluar karena perhari ini kau bukan lagi sekretarisku."


"Pak,"


Varga bangun dari duduknya dan membukakan pintu, "keluar!" Katanya dengan nada datar.


Lisa menggeram, keluar dan merobek kontrak kerja yang belum ia tanda tangani.


"Baiklah, istrimu sudah menamparku, aku menahan diri karena dirimu. Dan sekarang? Kau mengusirku dari sisimu. Jika aku tidak bisa menjangkaumu wanita itupun tidak." Lisa keluar mengambil kunci kendaraan operasional yang diperuntukkan untuk mereka.


Lisa melajukan mobilnya membelah jalanan menuju kampus. Mencoba menghubungi Reven tapi tidak berhasil.


Lisa memasuki parkiran, saat keluar dari mobilnya Lisa melihat Aralia berjalan sembari memainkan ponselnya lalu masuk kedalam mobil.


Kekesalan Lisa semakin dalam, mengingat tamparan yang ia terima dari Aralia saat itu. Ia kembali masuk kedalam mobilnya dan mengikuti dari belakang.


Lisa kesal, dan menabrakkan mobilnya dari belakang. dan tidak menyangka kalau mobil yang di kendarai Aralia akan melaju cepat dan membelot masuk ke jalur lain hingga dihamtam mobil lain.


Lisa terkejut dan semua orang terfokus pada kejadian itu hingga meloloskan dirinya dari tempat kejadian.


Varga berjalan dengan raut dingin menghampiri Lisa yang lagi di interogasi penyidik. Begitu melihat kedatangan Varga, Lisa langsung berdiri dan hendak memohon.


"Pak Varga saya tida—,"


Plak ...


Tamparan keras mendarat di pipi Lisa, membuat wanita itu terhuyung. Varga menatap dengan aura suram membuat Lisa tak berdaya. Emosinya menutupi sosoknya yang baik.


"Jaga sikap anda ini negara hukum, anda bisa terkena pasal." Penyidik berdiri memberi jarak di antara kedua orang itu.


"Pasal apanya?" Sahut Varga mengabaikan penyidik yang sedang mengiterogasi Lisa.


"Kau! Kenapa kau melakukan itu? Kenapa menyakiti istriku karena kesal denganku? Istriku terbaring tidak berdaya karena ulahmu. Dia bahkan tidak bisa bernapas lega, Lisa. Kau benar-benar iblis. Aku ingin menghancurkanmu hingga menjadi remahan. " ancam Varga.


Lisa terdiam, menunduk dan tidak sanggup untuk bersuara.


"Istri anda sudah sadar?" Kata penyidik memberi isyarat untuk Varga duduk. Lisa mengangkat kepalanya penasaran.


"Dua jam yang lalu, kenapa?"

__ADS_1


"Kita butuh kesaksian darinya." penyidik menoleh pada Lisa yang masih mematung.


"Saya akan meminta pengacara saya untuk mengajukan tuntutan padanya kalau Bapak mau mendengar kronologi dari istri saya silahkan datang."


"Jadi apa ini tentang asmara pak Varga?" Penyidik bertanya dengan senyum jahil di wajahnya.


Varga menatapnya kesal, " Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan orang ini. Yang benar saja." gerutunya meninggalkan tempat itu.


_____________________________________________


Aralia menguyah makananya saat Nisa menyuapinya. Wanita berumur itu menatap lembut putrinya itu. Mama sangat takut Ra, sangat takut saat mendengar kabar darimu. Membatin seraya menyuapkan makanan itu pada Aralia.


Menyadari tatapan itu Aralia menitikkan air matanya. Ia tahu kalau ibunya menahan diri agar tetap tenang di samping Aralia.


"Maafin Ara mama, pasti Ara sudah membuat mama ketakutan bukan?" ujarnya pelan. Nisa menggeleng cepat berusaha tersenyum tapi tidak dengan bulir di kedua matanya itu.


"Kau harus sehat dan hidup lama, mengerti." ujar Nisa menyeka air mata Aralia. "Jangan menangis, dokter bilang tidak boleh, ketawa terbahak juga tidak boleh. Kau harus menahan diri dari sekarang supaya cepat pulih total." Aralia mengangguk.


Varga masuk membawakan buah." lagi makan?" Tanyanya meletakkan di atas meja kecil di ruangan itu. Aralia mengangguk.


"Bagaimana Varga?" Nisa penasaran sama penabrak putrinya itu.


"Sudah ditahan polisi, Ma." terdengar napas lega dari Nisa. Varga menatap Aralia. Tampak berpikir untuk memberitahukan kalau Lisa-lah dibalik kecelakaan itu. Tapi niatnya si urungkan Aralia belum bisa emosi berlebihan. baik itu marah ataupun kesenangan.


"Mama pulang saja, Ara biar aku yang nungguin." kata Varga, mengambil kotak makan dari Nisa.


"Jadi mama si usir nih," Nisa memasang wajah cemberut.


Varga terkekeh. "Iya mama, di usir." katanya bercanda.


"Ya sudah, mama akan kembali besok, Ra." Cium Nisa di pucuk kepala Aralia.


"Apa aku tambah jelek?" tanya Aralia penasaran membuat Varga kebingungan. Varga menggeleng cepat.


"Tapi hidungku rasanya besar sekali," Varga terkekeh, batang hidung Aralia memang bengkak dan memar.


"Iya kak?"


"Tidak sayang, meskipun hidungmu besar kau tetap cantik." Aralia berdecih.


"Kak," Varga mencium punggung tangan Aralia.


"Mmm," Aralia tersenyum ada sesuatu yang menggelitik hatinya.


"Kau sudah membuka pesanku?"


Varga menyugar rambutnya asal. Saat Aralia mengingatkan pesan yang ia kirim. Pesan itu dibuka Varga saat menunggu Aralia di ruang operasi. Membuat pria itu kaget, tertawa lalu menangis. Gif yang dikirim Aralia berhasil membuatnya seperti orang bodoh.


"Itu tidak adil, seharusnya kau memakainya di depanku," Aralia tersenyum dan tertawa kecil hingga membuat dadanya berdenyut.


"Ah ...," desahnya, Varga terlihat panik. "Ini menyebalkan padahal Ara ingin tertawa." katanya meraih wajah suaminya itu.


"Kau mengambilnya setelah aku membuangnya kak, jadi saat melihat di dalam lemari pakaianmu aku pikir kakak terobsesi." Tambah Aralia dengan suara pelan. Dadanya terasa sesak dan untuk menarik napaspun ia harus berhati-hati.


"Bodoh, aku mengambilnya kembali bukan untuk kau pakai. Hanya karena pakaian ini kita berlari dibawah hujan seperti orang bodoh. Bagiku itu hal yang paling romantis. Kain tipis itu pantas simpan jadi memori." ucap Varga menggigit-gigit jemari Aralia.


"Jadi bagaimana penampilanku?" Varga menempatkan wajahnya tepat ditelinga Aralia.


"Kau sangat nakal, dan aku ingin memakanmu." Aralia tersenyum, Varga menatap wajah Aralia lekat dan Muah! Istrinya itu mengecupnya di bibir.

__ADS_1


"Cepat pulih, aku sangat merindukanmu," kata Varga memberi seringai nakal di wajahnya.


__ADS_2