
Varga menunggu Cayrol di depan gerbang kampus. Gadis itu antusias berlari kecil saat melihat Varga dari jarak jauh. Entah kenapa ..., tapi Cayrol memang suka bersikap centil pada setiap pria yang berparas tampan.
"Paman tampan," seru Cayrol, begitu melihat Varga melambaikan tangan padanya.
"Hei ... apa kabar Cayrol, kau terlihat cantik hari ini." Puji Varga.
Cayrol tersipu malu, Varga terkekeh mengambil ransel Aralia yang ada di pundak Cayrol.
"Baik paman tampan, oh iya Ara kenapa?" Cayrol menyerahkan ponsel Aralia.
"Demam, dia ada dirumah sekarang."
Varga memasukkan tas Aralia ke dalam mobil. "Oh iya Cayrol, terima kasih ya sudah repot ngantarin kesini."
"Nggak repot kok, Paman. Itung-itung bisa ketemu sama paman tampan."
Varga terkekeh, lucu sekali gadis yang ada di hadapannya ini.
Varga menghela napas panjang, lalu menatap Cayrol sejenak. Cayrol yang di tatap merasa salah tingkah dan beberapa kali menundukkan kepala malu. Apa yang dia harapkan?
"Oo, kemarin Aralia tidak masuk kuliah, apa kau tahu karena apa?" tanya Varga.
Aih aku kirain dia mau traktir aku.
Cayrol mengerutkan bibir, tampak memikirkan sesuatu.
"Tidak tahu paman, katanya sih ke taman kampus ketemu seseorang tapi habis itu dia malah menghilang."
"Ohh ..., apa dia punya teman selain kamu dan yang dua lagi?" Selidik Varga.
Cayrol menggeleng, mengetok-ngetok dagunya yang lancip seolah mengingat sesuatu.
"Setahu aku sih dia punya teman, namanya Reven anak fakultas hukum."
"Reven?"
"Mmm namanya Reven dan kalau nggak salah mereka dekat, seperti ...." Cayrol menautkan telunjuk dan induk jarinya mengartikan cinta.
Varga mengangguk, ia paham dan sekilas mengingat sipengirim pesan yang di beri nama emoji love oleh Aralia.
"Tapi paman, jangan bilang sama Ara ya. Tar dia marah dan bisa ditelan hidup-hidup aku paman."
Varga menepuk pucuk kepala Cayrol lembut sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
"Tidak akan." ucap Varga, hati Cayrol sudah meleleh dibuatnya.
"Ya sudah aku balik dulu ya, lain kali kita bisa ketemu dan aku akan traktir kamu makan."
"Serius paman?" Cayrol antusias, Varga mengangguk. "Jangan traktir makan ya, Paman." sambungnya.
"Terus apa dong?"
Cayrol mendekat, berjinjit lalu meraih dasi Varga membuat pria itu menunduk sedikit. "ajak kencan saja." bisiknya pelan tepat di telinga Varga.
Varga terkekeh, "baiklah, nanti kalau ada waktu kita kencan."
"Sungguh?" Mata Cayrol terbelalak dan Varga mengiyakan.
"Kalau begitu, aku pulang dulu."
Varga menepuk lengan Cayrol pelan, kemudian naik ke dalam mobilnya.
"Astaga dia sangat perayu, mudah -mudahan Aralia tidak sepertinya." gumam Varga bergidik ngeri.
Cayrol senyum-senyum melambaikan tangan ke arah mobil Varga yang sudah melaju.
"A ...ya ampun paman ... nomer ponselmu." Teriak Cayrol berlari kecil tapi sayang Varga tidak memperhatikannya. Cayrol mengeluh, " kencan apaan ... " Cayrol mendengus, memukul jidatnya karena sudah melupakan hal yang paling penting. Yaitu meminta nomer ponsel Varga.
Aralia memiringkan tubuhnya, menghadap Varga. Masih berkeringat dan sesekali Aralia meracau.
"Ara ..., hei bangun minum dulu ya." Varga menuangkan air ke dalam gelas, menaruh di atas nakas lalu membangunkan Aralia.
"Kak, Ara pusing." Kedua mata Aralia berair, suhu tubuhnya masih tinggi, meski sudah di kompres dan dibantu obat penurun demam. Bibirnya kering dan terlihat merah.
Varga membantu Aralia bangun, memberinya minum kemudian menidurkan istrinya itu pelan.
"Kita ke rumah sakit ya." ucap Varga. Aralia menggeleng kembali tidur.
"Bagaimana Ara, sudah mendingan?" Tn. Roland bersama istrinya Ele masuk ke dalam kamar.
"Masih tinggi panasnya, Pa." Jawab Varga khawatir.
"Kalau begitu kita kerumah sakit aja." Usul Tn. Roland.
"Kita lihat tiga jam lagi, kalau suhu tubuhnya masih tinggi, aku akan bawa ke rumah sakit." sahut Varga.
Tn. Roland mengangguk, menepuk lengan Varga. "Ya sudah, sering-sering kasih minum."
__ADS_1
"Iya pa, oh iya ma Bianca di mana?" menyadari ketidakhadiran Bianca di ruang itu.
"Bianca ada di kamar mama, kamu biar fokus sama Ara malam ini. Ingat kasih minum jangan sampai dehidrasi." jawab Ele.
"Ya sudah papa sama mama ke kamar dulu, kalau ada masalah bangunin papa, ya." Tn. Roland berujar.
"Baik pa. Malam pa, ma."
"Malam sayang."
Varga kembali memeriksa keadaan Aralia, saat telapak tangannya mendarat di kening istrinya, Aralia terperanjat membuka kedua matanya, meringsut sedikit menjauh menolak perhatian suaminya itu. Penolakan yang ditunjukkan Aralia tanpa sadar melukai perasaan Varga. Tapi kenapa? Pria itu masih saja bersikap lembut, naik ke ranjang mendekati Aralia, membantu bangun dan mendudukkanya kemudian berkata.
"Minum lagi ya," Varga menyenderkan tubuh Aralia, meraih gelas berisi air di atas nakas dan memberinya pada perempuan itu.
"Sudah," gumam Aralia, bibirnya yang kering kemerahan sedikit sulit terbuka.
"Habiskan," bisik Varga, melihat Aralia masih menyisakkan lebih banyak atau bisa di bilang Aralia hanya meneguk sedikit.
Aralia berdecak malas, meminum kembali sampai habis. "puas?"tanya Aralia, dasar memang, kepribadian Aralia sangat buruk. Varga tersenyum, kembali membaringkan Aralia tidur. Tapi saat tubuhnya hampir untuh berbaring, Aralia bergidik pori-pori di tangan dan wajahnya terbuka karena menahan sesuatu.
"Ada apa?"
Tanpa menjawab, Aralia kembali bangun dan menurunkan kakinya menginjak lantai. Berjalan pelan menuju kamar mandi.
"Butuh bantuan nggak?" Tanya Varga kembali, begitu melihat langkah Aralia lunglai.
Keras kepala Aralia masih di pelihara, menolak dengan wajah murungnya. Aralia merasa kepalanya pusing dan tatapannya kabur membuatnya hampir terjatuh beruntung dengan sigap Varga menopangnya.
"Keras kepala." Varga membawanya ke dalam kamar mandi dan menduduknya di toilet.
"Kau bisa membukanya?" tanya Varga, membalikkan tubuhnya seraya tersenyum.
"Aku bunuh kamu, kalau sampai melihatku." Desis Aralia, mengawasi Varga seraya menurunkan celananya dan merasa puas saat air seninya terbebas dari tubuhnya.
"Jangan khawatir, aku lihat juga itu sudah milikku bukan?" Varga terkekeh saat mengatakan itu.
"Ayo ...," Desis Aralia dengan suara seraknya, setelah menekan tombol penyiram toiletnya.
"Sudah? Cebok nggak?" Celetuk Varga, membuat geram Aralia dan memukul lengan pria itu setelah ia di pangku dari sana.
"Aduh ....," Pekik Varga pura-pura kesakitan.
Varga menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya lalu membawa Aralia ke tempat tidur, meletakkan istrinya itu di sana. Merapikan poni Aralia yang menutupi mata indahnya. Pandangan mereka bertemu, detak jantung Varga sedikit bergemuruh kala ia menatap wajah mungil Aralia dari dekat. Kelopak bibir itu merah meski dalam keadaan sakit, membuat gairah dalam dirinya Varga terpancing. Varga berlahan menurunkan kepalanya, dan hampir saja mencium bibir indah istrinya. Tapi kembali ia harus menelan rasa kecewa atas penolakan yang diterimanya, Aralia memalingkan wajahnya dan menarik selimut menutup diri. Varga, menghela napas berlahan.
__ADS_1
"Selamat malam, Ara. Tidurlah nanti aku bangunin untuk minum." ucap Varga lembut.