IPAR

IPAR
Aku suka rambutmu di cepol


__ADS_3

Aralia dikejutkan dengan kedatangan Nisa, ibunya. Ia berlari kecil menuruni anak tangga dan langsung menghambur kepelukan Nisa.


"Ya ampun ...putriku ini." Nisa membalas pelukan itu.


"Mama kenapa nggak bilang kalau mau kesini?" Tanya Aralia melepas pelukannya.


"Kejutan sayang." Jawab Nisa mencubit hidung Aralia.


"Ayo kita duduk besan." Ele mengarahkan ke ruang tamu, " Bibi buatkan kopi juga kudapan mertua Varga datang."


"Mama bawa mobil sendiri?" Aralia menaikkan alisnya bertanya penasaran.


"Tentu saja sayang,"


"Ck, mama harusnya cari supir kalau tidak naik daring aja. Mama kan sudah suka kagetan."


Nisa tergelak, "Lihatlah besan, dia meremehkan kita yang sudah tua ini." ujarnya pada besannya itu.


"Bukan meremehkan mama tapi khawatir." Sahut Aralia sebal.


"Dia nggambek," Ele tersenyum melihat ekspresi Aralia yang melipat tangan di dadanya seraya memanyunkan bibir.


"Varga mana?" Tanya Nisa mencari keberadaan menantu tercintanya itu.


"Mama lupa kalau dia harus menghidupi anak istrinya?"


"Astaga putri siapa ini? Aku tidak pernah melahirkan anak seperti ini besan." Mendengar jawaban Aralia membuat kedua orang tua itu semakin terbahak.


"Baiklah, baiklah, jangan marah lagi." Nisa mengelus lengan Aralia pelan. "Mama bawa makanan kesukaan Varga, sepertinya kalau nunggu sampai sore, mama takut rasanya jadi tidak enak." ujar Nisa,


"Biar aku telpon, suruh pulang makan siang," kata Ele mengabil ponselnya.


"Jangan besan, aku nggak mau pekerjaanya terganggu. Begini saja, biar Ara yang antar sekalian kuliah. Bagaimana, Ara?"


"Aku?" Ara yang sedari tadi bermanja-manja di bahu Nisa bertanya.


"Iya, tidak apa apa kan? Mampirlah sebelum kuliah." Aralia tampak berpikir menimbang ide ibunya.


"Ya udah deh, tapi mama tidak cuma bawain makanan kesukaan kak Varga, kan? Kesukaan Ara juga ada, kan?" tanyanya dengan nada menyelidik.


"Bisa-bisa perang kalau kau dinomor duakan." Jawab Nisa ketawa. Aralia tersipu.


"Ya udah aku ke atas, Ma. Mau ganti pakaian sekalian berangkat ke kampus,"


Aralia meninggalkan Nisa dan Ele mengobrol di sana.


_____________________________________________


"Lakukan dengan benar! dan aku ingin hasilnya secepat mungkin." Lisa memutus sambungan telponnya kesal lantara orang suruhannya belum mendapatkan info tentang pria yang dikencani Aralia istri atasannya itu.


Hatinya bergejolak, beberapa waktu yang lalu, saat Lisa mengantarkan laporan pekerjaanya pada Varga. Ia tidak sengaja melihat wallpaper ponsel Varga.


Sial! Bukannya berpisah malah bisa-bisanya pak Varga masang foto berdua di layar ponselnya. Batinya melempar bolpoin yang ada ditangannya ke sembarang tempat meluapkan kekesalannya.


Perempuan itu bahkan tidak sebanding denganku, apa yang dilihat pak Varga darinya.


Lisa berdecak berulang kali, membayangkan wajah bahagia Varga sejak masuk kerja.


Aku harus memisahkan dua orang itu, kalau tidak pak Varga tidak akan pernah jadi milikku. Hanya satu cara untuk masalah ini. Pacar Aralia akan jadi solusinya ...."


______________________________________________

__ADS_1


Aralia keluar dari mobil setelah memarkirkannya di area parkiran gedung tempat Varga bekerja. Bank terbesar yang jadi pusat di kota ini memiliki 85 lantai.


Aralia menenteng bag paper berisikan kotak makan titipan Nisa untuk menantunya itu. Aralia memasuki lobi dan langsung menuju bagian informasi.


"Permisi, saya mau bertemu dengan pak Varga Sadah. Apa orangnya ada?" Tanya Aralia sopan pada bagian resepsionis gedung itu.


"Atas nama siapa?" Wanita yang bertugas di tempat itu bertanya ramah.


"Aralia," tampak wanita itu menekan tombol tujuannya lalu menunggu beberapa detik hingga terjawab.


"Ibu Lisa, saya mau melaporkan ada tamu untuk pak Varga. Apa pak Varga bisa menerimanya?" wanita itu melihat Aralia sambil menautkan alisnya. Lalu bertanya pada Aralia.


"Sudah buat janji belum?" Tanyanya seraya menjauhkan telpon ditanganya.


"Saya istrinya," wanita itu langsung memberi hormat lewat gestur tubuhnya membungkuk sedikit. Aralia membalas senyum.


"Bu Lisa maaf, ini istri pak Varga."


....


"Baiklah, terimakasih." tutup wanita itu lembut.


"Silakan, saya antarkan ke ruangan pak Varga ." wanita itu memberi arahan pada Aralia, memimpin jalan di depan.


Tidak lama kemudian mereka sampai di tujuan, Aralia mengikuti langkah wanita itu melewati beberapa bilik kerja para staf. Beberapa pasang mata melihat ke arah Aralia, penasaran.


"Pak Varga lagi ada meeting di ruang lain, Nyonya bisa menunggunya di dalam saja." ujar resepsionisnya membukakan pintu dan Aralia mengangguk mengiyakan.


"Terimakasih," lirih Aralia sebelum wanita itu kembali ke tempat kerjanya.


Aralia masuk dan menutup pintu di belakangnya, berjalan ke tengah ruangan. Melihat-lihat sekelilingnya. Ruangan itu tertata apik dengan interior menawan. Posisi meja kerja Varga menghadap langsung ke arah pintu masuk sementara di belakannya diberi ruang untuk leluasa menatap ke luar gedung.


Aralia tertarik pada potret yang di pajang di meja kerjanya itu. Fotonya bersama Rena. Saat tangannya mau tergerak mengabil foto berbingkai itu, ia mendegar suara detak kaki mendekat ke arah ruangan itu.


Ceklek!


"Atur lagi deh Lis pertemuan kita sama Tn. Aldean," ujarnya membuka pintu lebar. Saat masuk ke dalam Varga tercengan melihat keberadaan Aralia di dekat meja kerjanya.


"Ara? Hei kau kesini?" Varga berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Oh iya pak saya lupa beritahu pak Varga kalau istri anda berkunjung." ujar Lisa, tersenyum berasa bersalah.


"Oh tidak apa-apa,"


Varga menghampiri Aralia dengan tatapan terpesona. Istrinya itu sangat cantik, rambutnya di cepol dengan bibir basa bewarna pink. Aralia juga tampil modis dengan gaya berpakaian ala-ala gadis korea. Ia mengenakan blouse oversize lengan panjang dipadu dengan hot pants. Pemilik tubuh petite itu terlihat seksi mempertontonkan kaki jenjangnya.


Sesuatu hal yang belum Varga pernah lihat. Aralia biasanya mengenakan T-shirt dipadu dengan celana panjang dan selalu mengerai rambutnya. Varga tidak tahu kalau istrinya ini akan sangat cantik saat rambutnya di ikat.


"Ra, ada apa kau kesini?" tanya Varga menjelajah penampilan Aralia dengan matanya.


"Antarin makanan, dari mama Ara," Aralia menunjukkan Bag paper di atas meja Varga.


"Mama ke rumah?"


"Mmm ...,"


"Sendiri?"


"Mmm ...,"


Aralia melirik Lisa lewat sudut matanya yang masih berdiri di belakang Varga.

__ADS_1


"Kamu sendiri kesini naik apa, Ra?" Tanya Varga membuka kotak makan yang dibawakan Aralia.


"Waoh ...," Varga takjub dengan tataan lobster panggang keju mozarella. Dan di kotak lain ada nasi juga beberapa macam irisan buah.


Seketika aroma makanan membaui ruangan itu,


"Pak Varga mau makan disini atau di pantry?" Tanya Lisa.


"Disini aja,"


"Aku bawa mobil mama," ujar Aralia yang menjawab pertanyaan suaminya itu tadi.


"Kamu sudah makan belum? A--apa katamu? Kau bawa mobil mama?" Aralia pusing, melihat tingkah Varga, bertanya tidak secara teratur lalu sesaat cemas dan kembali lagi ke makananya.


"Mmm ...,"


"Tapi sayang kau belum punya sim loh, nanti kalau ada apa-apa Ara yang tetap disalahkan."


"Sudah makan aja," Aralia mengabaikan kekhawatiran suaminya itu, ia nyakin Varga sudah tidak sabar menghabiskan makanan itu.


Aralia berjalan-jalan di ruangan itu, sambil melihat-lihat. Lisa sudah tidak ada disana, entah sejak kapan. Varga menusuk lobsternya dengan garpu dan mulai menikmatinya.


"Mmmm ini enak sekali, Ra, mama memang yang terbaik." Aralia tersenyum, semenjak menjadi bagian kelurga, Nisa selalu memperlakukan Varga seperti anak sendiri. Mungkin karena ketidak adaan laki-laki di rumah mereka.


"Hati-hati kak," ujar Aralia melihat Varga begitu antusias memakannya. Varga mengambil satu dan memisahkan cangkang dengan danginya lalu menusuk pakai garpu dan menghampiri Aralia yang tengah melihat-lihat lemari tempat penyimpanan file.


"Coba Aaa ...," Varga menyuruh Aralia membuka mulutnya tapi Aralia menutup mulutnya dengan dua tangan.


"Tidak mau, amis. Ara mau kuliah." katanya menghindar.


"Tidak apa-apa Ra, enak sayang. Coba aja," Varga memaksa sedikit dan mau tidak mau Aralia membuka mulutnya dan disaat momen itu Lisa masuk membawakan air mineral untuk Varga. Rautnya masam, di ruangan itu dia seolah pelayan yang melayani majikanya.


"Minum nya pak," ujar Lisa, dan bersiap keluar.


"Oh ya, Lis daripada kau makan di luar mendingan kau makan ini juga. Aku tidak akan habis ini. Banyak soalnya," ujar Varga, kembali kemejanya setelah mengusap sudut bibir Aralia dengan jemari ibunya lembut.


"Terima kasih pak, tapi saya makan di ruangan saya aja. Aku takut menganggu kebersamaan pak Varga dengan istri anda." katanya sengaja. Sebenarnya ia ingin Aralia atau Varga menolak dan memintanya tetap tinggal ditempat itu.


"Tidak apa-apa, makan disini aja. Iya kan sayang?" Varga meminta pendapat Aralia dan istrinya itu mengangguk kecil.


Baguslah, setidaknya dengan adanya aku mereka tidak ada kesempatan bermesraan.


Lisa malu-malu mengambil makanannya dan mencicipnya lalu memuji. Aralia menilai dari atas hingga bawah. wanita ini cukup menghargai penampilannya. Modis dan seksi.


Saat Varga menyuapkan lobsternya kemulutnya sendiri, ada sedikit lelehan keju menempel disudut mulut Varga. membuat Lisa reflek mengelapnya dengan jari tengahnya. Aralia melihatnya dari tempat ia berdiri. Varga spontan terkejut menarik diri dan melihat ke Arah Aralia. Berharap istrinya itu tidak melihat adengan memalukan itu dan benar saja Aralia langsung mengalihkan perhatiannya ke tempat lain, pura-pura tidak lihat.


Namanya Lisa. Aku bisa melihat tatapan wanita ini sama kak Varga. Tatapan cinta. Aralia menyeringai geli.


"Eh maaf pak saya spontan melakukannya." ujar Lisa, meminta maaf dengan sudut mata mengintip ke arah Aralia. Varga mengangguk.


"Tidak apa-apa," Varga menghampiri Aralia membawa istrinya itu ke dekat jendela meja kerjanya. Varga menyibak tirai memperlihatkan jalanan yang terlihat kecil dari tempat mereka berdiri.


"Lain kali aku akan membawamu kesini di malam hari, sangat indah. jalanan bewarna dengan lampu-lampu kendaraan." katanya memeluk istrinya itu dari belakang.


Sebenarnya Aralia sedikit risih karena adanya Lisa di sana tapi mengingat bagaimana Lisa memperhatikan Varga membuatnya tetap diam dalam pelukan Varga.


"Hari ini kau sangat cantik, Ra. Aku suka rambutmu di cepol tapi saat ada aku saja ya. Aku tidak mau pria di luaran sana melihat lehermu yang indah ini." ucapnya pelan di ceruk leher Aralia membuat gadis itu merinding. Rasanya ia ingin menyikut Varga yang seolah memanfaatkan situasi.


"I love you Aralia," bisiknya, napasnya yang bau amis terasa di kulit Aralia. Aralia berusaha diam memejamkan matanya, mempertontonkan betapa romantisnya pria sialan ini hingga tidak tahu malu.


Sementara Lisa kecewa, memakan manakannya tanpa menikmati. Menyebalkan! dasar tidak tahu malu. Ternyata pak Varga sangat menggilai wanita ini meski sudah tahu selingkuh tetap saja mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2