
Aralia perlahan membuka matanya, lalu menguap lebar seraya menggaruk rambutnya yang berantakan.
Mengubah posisi tidurnya menghadap Varga yang masih tertidur di sampingnya. Lama ia mengamati ekpresi wajah suaminya itu,
Tunggu sampai aku mencintaimu, kak. Aralia membatin, mengulurkan tangan ingin menyentuh wajah polos Varga tapi ada keraguan. Perlahan ia menarik kembali. tangannya, tersenyum.
Aralia turun dari ranjangnya, menghampiri tempat tidur Bianca. Aralia mengerutkan kening melihat Bianca sudah terbangun, sedang menyusu. Aralia menolehkan kepala ke tempat tidur. "Kak Varga yang buatin susu Bianca? berarti sudah bangun dong tadi?" Tanyanya dalam hati, pelan mengambil Bianca dan membawanya keluar kamar.
Varga tersenyum, saat mendengar pintu tertutup. Menyamping memeluk gulingnya. Hatinya kini menggila, merasakan bagaimana Aralia menatapnya. Beberapa saat lalu dia ada di posisi itu. Posisi mengamati Aralia yang lagi tertidur setelah membuatkan susu Bianca.
"Pagi semuanya," sapa Aralia, menyerahkan Bianca ke tangan susternya untuk di mandikan.
"Pagi Nyonya," dua pelayan dan satu suster balik menyapa.
"Nyonya menu sarapan pagi ini apa?" tanya pelayan berbadan tambun dengan sopan.
Aralia tampak berpikir, "buatin roti isi kacang merah sama sosis panggang aja, Bi." ujarnya, kedua pelayan itu mengangguk dan melakukan seperti yang diperintahkan Aralia. Bukan hanya memberi perintah, Aralia juga turut membantu.
Selesai berkutat di dapur, Aralia menyajikan makanan di meja.
"Sarapan apa, Ra?"tanya Ele dan Roland menghampiri Aralia di ruang makan.
"Roti isi kacang merah sama sosis panggang, Ma. Nggak apa-apa kan, Ma?"
Ele terkekeh, "Nggak apa-apa sayang, maaf ya mama telat bangun. Varga mana?" Ele menarik kursi untuknya lalu menyajikan makanan untuk suaminya.
"Masih tidur ma, mungkin karena libur kerja."
"Libur atau kerja bukan berarti bisa malas-malasan," sahut Roland. Aralia terdiam, hatinya berdenyut. Semua karena salahnya.
"Papa ..., biarin aja Varga bukan anak kecil lagi kok." Ele menghela napas menatap suaminya kecewa.
"A-aaku bangunin kak Varga dulu ma, pa." gumam Aralia, melepaskan celemek yang ia kenakan.
"Kalau susah, Ra. Siram aja." Aralia menarik sudut bibirnya sementara Ele mengeleng-gelengkan kepala melihat suaminya yang selalu menunjukkan sikap permusuhan pada Varga.
"Hai sayang ..., ayo kita bangunin Daddy." Aralia mengambil Bianca dari tangan susternya, "Makasih sus," Aralia menggelitik perut Bianca, membuat putrinya itu tertawa-tawa sambil menaiki anak tangga.
Sesampainya di kamar, "ayo sayang, bangunin Daddy." Aralia meletakkan Bianca di dekat Varga dan seolah mengerti, Bianca menaiki punggung Daddy nya itu.
Aralia menyibak tirai, membiarkan matahari pagi menembus masuk ke dalam. Aralia berdecak melihat Varga yang masih saja tidur meski cahaya silau masuk dan menganggunya bahkan gangguan dari Bianca seolah tidak berarti.
"Kakak bangun ...," Aralia menepuk pundak Varga pelan. "Kak Varga bangun ...," Varga bergeming tidurnya sangat pulas.
"Kakak!" Teriak Aralia. "Tidur kok kayak mau belajar mati, Kak. Ayo bangun, sarapan ...," Aralia menekan ibu jari kaki Varga hingga tiga puluh detik dan itu berhasil. Varga terbangun, menganggkat kepalanya dari bantal.
"Da dy ...." Bianca mengoceh menarik-narik baju Daddy nya.
"Hei, putri Daddy..." Varga bangun perlahan, melihat Aralia cemberut.
"Ada apa, Ra? Pagi-pagi mukanya sudah kelipat-lipat gitu." kata Varga dengan suara khas orang baru bangun memeluk Bianca.
"Nggak tahu ah, kesal." ucapnya malas berjalan ke arah lemari miliknya kemudian mengeluarkan pakaiannya.
"Ada apa sih, Ara ...?" Tanya Varga dengan nada halus, mencium Bianca lalu menaruhnya ke tempat tidurnya.
"Malas." Ketus Aralia, membawa pakaiannya hendak ke kamar mandi. Varga menahan tangan Aralia.
"Jangan begini sayang ... ini masih pagi loh. Tar cepat tua." Aralia mendongak, melebarkan matanya.
"Jangan panggil-panggil sayang!"
"Lah tadi malam katanya mau di panggil sayang." Varga terkekeh, menyelipkan rambut Aralia kebelakang telinganya. "Maaf..., kakak juga nggak tahu kenapa pagi ini tidurnya sangat nyenyak." lirih Varga menjatuhkan tatapannya pada Aralia.
"Kak," gumam Aralia, sebenarnya Aralia cemberut bukan karena Varga yang terlambat atau susah di bangunin. Tapi melainkan merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab rusaknya hubungan Varga dengan papa mertuanya. Aralia menahan air matanya agar tetap diam di tempatnya. Akan tetapi Varga menyadarinya. Pria itu menangkup dagu Aralia agar mendongak.
"Ada apa?" tanya Varga, hatinya berdenyut melihat air mata yang sudah mau tumpah itu.
"Semua karena Ara. Papa jadi benci kakak. Semua salah Ara. Harusnya kakak bilang saja kalau Ara yang —"
"Sttsss ....," Varga meletakkan jari telunjuknya di bibir Aralia. Menghentikan bicaranya.
"Kemarilah," lirihnya, membawa Aralia kedalam pelukannya. Aralia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Varga sambil sesegukan. Varga mengusap lembut kepala Aralia.
"Jangan menangis, kakak akan bicara sama papa." ucapnya lembut.
______________________________________________
Cayro memamerkan ponsel barunya pada Lea dan Ilir. Ponsel produksi amerika yang bermotip apel bekas gigitan itu membuat kedua temannya iri.
"Wao ..., Serius ini dari pacarmu?" Tanya Ilir memperhatikan benda tipis yang ada di tangan Cayrol.
" Iya dong." Cayrol memperhatikan waktu lewat arlojinya. Kenapa belum datang juga sih Ara. Apa hari ini dia nggak kuliah. sudah nggak sabar lihat mukanya Aralia.
"Kemarin kamu hilang begitu saja, kemana?" Tanya Lea, mengingat Cayrol tidak masuk pada mata kuliah yang mereka ambil.
"Pacar aku jemput jadi kabur aja, " ucapnya berbohong dan mendapat ledekan dari Lea dan Ilir.
"Cieee ....
"Cieeee...
Varga menepikan mobilnya saat di depan gerbang kampus, melihat Aralia menyampirkan ranselnya kemudia turun tanpa sepatah kata. Varga tersenyum, selalu ada kejutan dari istrinya itu. Dimalam hari mendadak manis, pagi hari menangis dan sekarang membisu. Aralia menutup pintu mobil dan ingin pergi begitu saja. Varga menurunkan jendela mobilnya.
"Ra, nanti kakak jemput ya? Tanya Varga, terlihat Aralia menimbang lalu mengangguk.
__ADS_1
Varga mengerjap, berdecak tidak puas dengan jawaban Aralia yang hanya mengangguk. Varga keluar dari mobil lalu menghampiri.
"Jangan malas begitu mukannya, Ra. Jelek tahu," ujar Varga menghentikan langkah kaki Aralia, menangkup wajah simungil keras kepala itu lalu mengecup dahi Aralia dengan lembut. Aralia mengerjap terkejut atas perlakuan Varga yang mendadak
"Kak malu kak dilihat orang!" Rona diwajahnya bersemu, sambil memperhatikan orang yang lalu lalang.
"Kenapa? Aku mencium istriku kok bukan istri orang." dicubitnya hidung Aralia gemes. "Sudah sana. Kabarin aja sebelum pulang tar kakak jemput ya ...sayang." ujar Varga sengaja melembutkan suara pada kata terakhir. Aralia tersipu mengangguk kemudian meninggalkan Varga.
Apa ini? Jantungan lagi? Aralia menempelkan tangannya pada detak jantungnya yang memburu.
Melihat Aralia datang Cayrol langsung memainkan ponselnya, sengaja memamerkannya. Aralia melihatnya dan mengabaikannya.
"Cayrol ganti ponsel loh, dibeliin sama pacarnya." Ilir berujar menghebo-hebohkan.
Aralia menatap tajam pada Cayrol. kemudian menyeringai sinis." Pacar apaan? Palingan hasil malak." Kata Aralia, duduk di kursinya.
Lea dan Ilir terkekeh," iya kali Cay, masa iya baru pacaran sudah beliin ponsel kecuali kau kasih plus-plus nya."
"Nggak mungkin!" Teriak Aralia, "siapa juga yang mau sama orang kayak dia."
Ilir dan Lea terdiam, melihat Aralia marah seolah tidak menerima apa yang mereka katakan. Cayrol tersenyum culas.
"Kenapa Aralia Sadah ...?" Lea bertanya penasaran.
"Nggak kenapa, cuma kesal aja ama seseorang. Ngaku di kencani laki orang, ngaku dicium laki orang, eh nyatanya cuma ngarang."
Cayrol mendelik, wajahnya kini memerah. ah sialan sipaman itu terlalu jujur. batinya
"Siapa, Ra? tanya Ilir bingung lalu mereka menatap Cayrol yang sudah menunduk. Lea curiga lantaran kedua temannya ini saling melirik diam-diam.
Bel berbunyi, membuat mereka harus fokus dan mengeluarkan alat-alat belajarnya.
"Aku curiga Cayrol sama Aralia lagi ada masalah," bisik Ilir dan segeraa di iyakan Lea.
"Sama, tapi masalah apa ya?" bisik Lea, melirik dari sudut matanya ke arah Aralia yang sedang menatap tajam Cayrol.
"Jangan-jangan Cayrol pacaran sama suaminya Aralia." Tebak Ilir dan langsung mendapat cubitan dari Lea.
"Nggak mungkin bodoh."
"Siapa tahu,"
___________________________________________
Lisa berjalan cantik di area kampus. Ia mengenakan sepatu hak tinggi dengan gaung mini seksi berleher V menambah kesan seksi pada dadanya yang sedikit membusung.
Lisa sengaja datang menyamarkan diri sebagai mahasiswi di kampus itu guna mencari tahu siapa pria yang lagi dekat sama istri bos nya itu. Mengingat Varga menceritakan kisah temannya yang sangat menyedihkan, diselingkuhi.
"Menurutmu apa yang harus teman saya lakukan?"
"Cinta mereka sepihak, Lisa."
"Saya rasa jalan terbaik ya berpisah. Teman anda nggak akan bahagia jika hidup bersama orang yang tidak mencintainya."
"Begitu ya?"
"Ini sih menurut aku pak."
Begitu cara kerjanya Lisa mengetahui titik masalahnya. Sembari menunggu perkembangan Lisa mencari celah agar leluasa masuk kedalam masalah itu.
Lisa menyusuri kampus, bermodalkan sedikit info yang ia temukan dari ruang kerja Varga.
______________________________________________
Cayrol, aku ada perlu sama kamu, nanti sepulang kampus kita bertemu. Aku akan menjemputmu
Cayrol membelalak membaca pesan masuk dari Varga. Ia melirik Aralia yang tengah fokus belajar. Cayrol membalas 'oke'
Cayrol sudah tidak sabar, Ia ingin sekali memutar waktu agar cepat berjalan cepat. Saat jam belajar selesai. Ia langsung keluar lewat pintu belakang. Aralia mencemohnya lewat tatapannya.
"Kak sudah jemput belum?" Aralia mengirim pesan kembali setelah lima belas menit yang lalu. Ia menyampirkan tasnya di pundak dan berjalan bareng Ilir dan Lea.
"Cayrol kemana?" Tanya Ilir mengedarkan tatapannya mencari temannya itu.
"Iya dah hilang aja kayak jin." Tambah Lea.
"Palingan di jemput pacarnya."
"Nggak mungkinlah, aku duluan ya. suami aku sudah jemput." kata Aralia meninggalkan kedua temannya itu saling pandang, bingung melihat sikap Aralia dari tadi.
Aralia menelpon Varga, dan dalam deringan pertama langsung di angkat.
"Kak dah jemput belum, kalau nggak biar Ara naik taksi aja."
"Aku sudah di depan kampus kok."
Aralia menutup telponnya lalu melanjutkan langkahnya.
"Hai paman," sapa Cayrol dengan wajah cemerlang, menatap Varga yang mengenakan pakaian santai membuat pria itu terlihat kren. Celana pendek selutut dan t-shir bewarna putih sempurna melengkapi kulitnya yang putih.
"Naik di kursi belakang ya." Varga membukakan pintu untuk Cayrol. Gadis itu benar-benat melayang. Sial sekali suami orang.
Varga masih berdiri di depan pintu pengemudi, menunggu kedatangan Aralia. Dari jarak sana ia melihat istrinya itu berjalan, malas malasan.
Varga nggak sabar, ia langsung menghampiri . "Cemberut aja." katanya, mencium kening istrinya itu lembut.
__ADS_1
"Kak itu si Cay ...,"ucap Aralia dengan nada malas.
" Nanti kita bahas," Varga menarik tangan Aralia agar berjalan lebih cepat.
Ah sialan! Jadi si paman itu ngajak ketemu untuk Ara. Cayrol mengumpat begitu melihat adengan romantis yang dilakukan Varga, ia berusaha membuka pintu dan tidak berhasil karena terkunci secara otomatis.
Aku di jebak. Katanya pasrah.
Aralia membuka pintu dan tercengang melihat Cayrol di dalam mobil Varga.
"Kau!" Aralia menarik baju Cayrol dan gadis itu berusaha menjauh mentok ke pintu disampingnya. "Kakak!" Kesalnya menatap Varga.
"Sudah naik aja, nanti kita bahas." ujar Varga melembut, sementara Cayrol sudah ketakutan di dalam sana.
"Nggak mau!" Menepiskan tangan Varga yang menyentuhnya.
"Please....," Mohon Varga, iya harus mempertemukan kedua orang ini untuk menyelesaikan salah paham di antar mereka.
Aralia berdecak, wajahnya cemberut tapi menurut.
Begitu keduanya sudah di dalam, kini giliran Varga naik dan menjalankan mesin mobilnya.
"Mau makan dulu atau bagaimana nih?" Varga membenarkan spion untuk melihat kedua orang di belakangnya.
"Nggak," serentak keduaya menjawab sama. Varga menahan senyum.
"Ya sudah kita ke suatu tempat dulu ya." ujar Varga melajukan mobilnya lebih cepat.
Sesampainnya di tempat tujuan, Varga keluar mobil. Aralia juga Cayrol mengikuti.
Sebuah taman yang indah milik pemerintah di pusat kota itu. Bunga bewarna-warni di bentuk jadi huruf-huruf terlihat menawan, di tempat itu juga ada air mancur yang tinggi menyerupai milik negara Barcelona yang terkenal indah. Sayangnya mereka datang di siang hari jadi tidak terlalu menikmati keindahan dari air mancur itu.
Sejenak mereka takjud melihat pemandangan dan tanpa sadar saling menatap.
"Waoh indah ya?" Tanya Cayrol dan dianggukin Aralia. Varga tersenyum melihat kedua orang itu. Mereka berkeling, menyusuri tempat, kadang Cayrol minta di photo pada setiap objek yang menurutnya bagus.
Varga mengulurkan tangannya pada Aralia, mengajaknya bergandengan. Ragu-ragu Aralia menerimanya tapi saat Aralia putuskan, Cayrol langsung memisahkan keduanya. Hadir di tengah-tengah memberi jarak di antara mereka. Varga tersenyum, Cayrol memang usil.
"Sini photo sama kakak." Aralia mendekat tersenyum kaku melihat ke arah kamera.
satu dua tiga senyum. ujar Varga dan cekrek. Varga melihat hasilnya lalu terkekeh, senyum Aralia seperti dipaksakan. Varga merapikan poni istrinya, ingin sekali memeluknya atau mengandeng erat tangannya Aralia tapi urung ia lakukan. Varga ingin perlahan mendekati Aralia hingga mendapatkan cinta yang tulus darinya.
"Kak pulang aja yo, Bianca tar nyariin." ujar Aralia melihat waktu di ponselnya.
"Nggak mau nunggu sampai malam, Ra? Sayang loh pertunjukan air mancurnya."
"Itu masih lama kak, jam delapan malam. Lagian ...." Aralia melirik Cayrol yang lagi photo-photo. "Aku nggak suka sama dia."sambungnya dengan tatapan kesal.
Varga terkekeh menepuk lembut pucuk kepala Aralia.
"Cayrol, kemarilah..." panggil Varga. Gadis itu berlari kecil menghampiri.
"Kau mau kan maafin dia ya? tanya Varga, Aralia langsung mendengus
"Cayrol?" Sama halnya dengan Aralia, Cayrol juga enggan.
"Baiklah." kata Varga "Cayrol, Ara sampai kapan kalian begini? Musuhan hanya karena salah paham."
"Kak, aku nggak salah paham, tadi aja dia pamer ponselnya dan bilang kalau itu dari pacarnya."
"Terus kita bagaimana dong? Sudah jauh -jauh datang kesini ngademin hati tapi nggak ada hasilnya."
"Kakak sih buang-buang waktu saja." ujar Aralia menarik T-shirt Varga "ayo pulang!"
"Cayrol," Varga bertaya penuh harap sebelum Aralia menariknya lebih kuat lagi.
"Aralia, aku sangat membecimu, sialan?" teriak Cayrol, menghentikan langkah Aralia. Varga terkejut dengan sikap kasar Cayrol.
Aralia berbalik, dan tiba-tiba saja Cayrol berlari mendekat kemudian menarik rambut belakang Aralia.
Aralia memekik, Varga berusaha melerai. "Sakit kan? Beginilah rasanya kau menjambakku kemarin. Bodoh." umpat Cayrol melepaskan tangannya.
"Ra, sayang. Nggak apa-apa kan?"
"Apanya nggak apa-apa?Kepalaku sakit tahu?" ketus Aralia. Varga ingin memarahi Cayrol karena sudah bertindak kasar pada istrinya, namun ia kembali di kejutkan Aralia sudah mendorong Cayrol hingga terjatuh.
"Jangan pernah mengakui suamiku pacarmu lagi, karena kalau itu terjadi aku akan merobek mulutmu." Ancam Aralia.
Varga menutup wajahnya, berantakan sudah rencana mendamaikan malah berujung gaduh.
"Baiklah, ayo kita pu—" Varga kembali di kejutkan, Aralia mengulurkan tangan membantu Cayrol berdiri.
"Teman?"tanya Aralia dan dianggukin Cayrol. "Teman." jawabnya kemudian keduanya berpelukan.
"Eh?" Varga kebingungan dibuatnya, perdamaian macam apa itu? Saling menyerang dulu baru berdamai.
Lalu keduanya menatap Varga yang berusaha mencerna apa yang tejadi barusan. Hayalan atau entahlah dia benar-benar bingung.
"Ayo pulang," ujar Aralia.
"K-k-kalian sudah berbaikan?"
Keduanya mengangguk. Begitulah caranya mereka berdamai. Aneh tapi ya sudahlah.
Di perjalanan kedua orang itu cekikan membunuh waktu menonton drama lewat ponsel Cayrol yang di belikan Varga. Lalu sesekali menutup mata saat ada adengan hot. Kemudian tertawa mengabaikan Varga yang menyetir.
__ADS_1
Apa aku terlalu tua untuk memahami anak remaja sekarang? Batinnya melirik kebelakang.