IPAR

IPAR
Karena aku mencintaimu


__ADS_3

Varga enggan melepaskan tangan Aralia, ia menggenggam selama perjalanan menuju area parkiran. Saat Aralia membuka pintu mobilnya, Varga sengaja memutar tubuh Aralia menghadapnya. Diciumnya kening istrinya itu dengan sangat lembut sementara satu tangannya melepas ikat rambut Aralia.


"Apa yang kakak lakukan?" tanya Aralia kaget, rasa kaget yang ia tujukan bukan pada ciuman itu melainkan rambutnya yang di lepas dari ikatannya.


"Aku sudah bilang, kau boleh mengikat rambutmu kalau lagi bersamaku," Desis Varga mencondongkan tubuhnya, menatap wajah Aralia.


"Kembalikan!" Protes Aralia berusaha mengabil benda itu dari tangan Varga , namun gagal setelah Varga berdiri tegap dengan tangan terangkat keatas.


Aralia tersenyum kecut, "Kenapa aku harus melakukan itu untukmu?" Katanya sambil berdecih.


"Karena aku mencintaimu,"


"Itu masalahmu bukan masalahku,"


"Aku harus melindungi istriku dari mata pria nakal di luar sana."


"Kakak sangat aneh, aku hanya mengikat rambutku,"


"Kau tidak ingin terlambat kan?" Varga bertanya, menaikkan kedua alisnya, mengendikkan dagu ke arah mobil Aralia.


"Kembalikan ikat rambutnya!" Aralia masih saja, bersikeras mengambil benda itu dari tangan Varga. Ia berjinjit, melompat-lompat untuk mendapatkannya. Varga terkekeh betapa menggemaskannya Aralia mungilnya itu.


Aralia mendengkus, melotot dengan bibir mencebik.


"Sudah sana," Varga mengacak acak poni Aralia dengan satu tangannya dan itu semakin membuat Aralia geram.


"Kakak! Kau sangat menyebalkan!" Katanya tegas.


Seperti biasa dengan keras kepala Aralia melompat ingin mendapatkan apa yang ia inginkan. Aralia berjinjit berusaha menggapai tangan Varga dan entah karena apa Aralia kehilangan keseimbangan pada tubuhnya hingga nyaris terjatuh beruntung Varga sigap menahan pinggan Aralia, sesaat tatapan mereka bertemu dan menciptakan debaran pada jantung mereka.


"Kau tidak apa-apakan?" Tanya Varga setelah mengembalikan posisi mereka ke semula.


Aralia terdiam, masuk kedalam mobilnya, ia sangat gugup, tatapan Varga yang penuh kabut pesona membuat jantungnya nyaris pecah di dalam dadanya.


"Ara ...,"panggil Varga dengan nada rasa bersalah, ia hanya menggoda Aralia tapi pada nyatanya istrinya itu malam merajuk.


Aralia menyalakan mesin mobil, lalu membuka jendela mobilnya, "Aku tidak peduli, aku akan mengikat rambutku setibanya di kampus nanti." katanya meleletkan lidahnya ke arah Varga kemudian mejalankan mobilnya meninggalkan Varga berdiri melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum.


Setidaknya dia masih marah padaku, kalau sampai Aralia diam itu akan sulit. Batin Varga memasukkan ikat rambut Aralia ke dalam saku celananya.


______________________________________________


"Waoh ...apa yang terjadi denganmu teman?" Tanya Cayrol begitu melihat penampilan Aralia yang tampil berani, gadis itu berdecak.


"Kau lagi jatuh cinta ya?" Tambah Ilir menatap dari atas hingga bawah.


"Jangan bilang kau jatuh cinta sama suamimu itu," Celetuk Cayrol penasaran.

__ADS_1


"Apa apaan ini. Kalian menatapku dengan aneh, emangnya salah kalau kita tampil beda."


"Cantik, Ra." Puji Lea. "Tapi serius, kau tidak pernah secantik ini ke kampus Ra. Pasti sesuatu terjadi." Tambahnya.


"Dia pasti jatuh cinta sama suaminya." Cayrol dengan sikap kegilaanya berujar.


"Jangan gila, aku tidak perlu melakukan itu untuk mendapatkan cintanya." Sanggah Aralia memukul bahu Cayrol yang semakin menyebalkan.


"Aku tidak percaya ....," Celetuk Cayrol.


"Terserah kalian kalau tidak percaya." Aralia pasrah.


"Kaki panjang ... Betis putih ...." Ilir menatap bagian kaki Aralia yang terekspos.


Aralia lelah, ia bahkan menyesal mengenakan pakaian itu, dimulai dari Varga yang memuji dengan nada menggoda dan sekarang ketiga temannya ini juga ikutan pula.


Aralia melebarkan langkah kakinya, ingin cepat cepat tiba di kelas. Suasana hatinya sangat buruk. Tapi memang sudah di takdirkan kalau Aralia akan mengalami hari menyedihkan, langkah kakinya terhenti menyadari Reven berdiri di depan pintu kelas mereka.


Pria itu tampak kurus dan juga urakan. Lingkaran matanya menghitam juga bengkak.


Ilir, Lea dan Cayrol berdiri di belakang Aralia.


"Jangan macam-macam, Ra atau aku aduin sama paman tampan." gumam Cayrol dengan nada mengancam.


"Hai, Ra," sapa Reven menghampiri, suaranya berat seperti kena radang.


"Aku akan bicara dengannya."kata Aralia, meninggalkan tempat itu dan Reven mengikutinya dari belakang.


Saat ini mereka duduk di bangku taman. Hening tanpa suara seolah enggan untuk memulainya. Keduanya saling menatap ke depan. Aralia duduk bersandar pada sandaran bangku sementara Reven mencondongkan tubuhnya kedepan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Reven memecah keheningan diantara mereka.


"Baik, kalau kau, Re? Ke--kenapa kau kurusan?" Suara Aralia terdengar gugup dan khawatir.


"Aku nggak kenyang-kenyang makan hati, Ra." Lirih Reven, dengan artian sakit hati yang ia rasakan membuatnya kurus.


"Maaf," lirih Aralia menunduk penuh penyesalan.


"Kau makin cantik, Ra." Puji Reven menilai penampilan Aralia yang kian mempesona.


"Tidak, aku ... maksudnya terima kasih." ujar Aralia gugup.


"Pasti ada sebabnya bukan?" Reven mengkulum bibirnya yang terlihat pecah-pecah kering. "Apa yang mereka bilang itu benar, kalau kau sudah mencintai suamimu?" Tanya nya menyelidik.


"Ti-ti-tidak aku, aku tidak tahu. Itu tidak ada hubungannya dengan penampilanku."


Reven tersemyum pilu, ini tidak adil hatinya patah dan sekarang harus mendengar dan melihat perempuan yang ia cintai jatuh hati.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Re. Tapi a-apa ada yang ingin kau sampaikan, kalau tidak ada aku akan kembali ke kelas," tanya Aralia.


Reven menatapnya lalu terdengar helaan panjang darinya.


"Aku tidak bisa melupakanmu, Ara. Aku sudah coba dalam beberapa hari ini tapi aku sama sekali tidak bisa." katanya setelah memberanikan diri.


"K-kau pasti bisa melakukannya."


"Sungguh aku tidak bisa, Ara. Bayanganmu selalu menghadiri pikiranku. Aku masih mencintaimu dan itu sangat. Kau juga masih mencintaiku kan?" Raut Reven menyendu saat mengatakannya.


"Ti-tidak lagi, Re."


"Tidak mungkin Ara, kita jatuh cinta pada tatapan pertama. Kau bilang begitu karena pria itu kan?"


"Aku harus pergi," Aralia menolak menjawab.


"Please, Ara ..., Ayo kita balikan lagi, aa-aku tidak bisa melupakanmu, Ara." Mohon Reven meraih tangan Aralia, spontan Aralia menjauhkanya. Ia harus tegas, meski ini adalah salahnya.


"Reven jangan begini, aku bilang aku tidak mau. Aku tidak mencintaimu lagi. Mungkin kedengarannya egois tapi itulah kenyataanya. Maafkan aku Reven jatuh cinta tidak cukup untuk membuat kita bahagia." Aralia bangun dari duduknya, menatap Reven yang menatapnya penuh harap.


"Nenek ingin bertemu denganmu ...," Kata Reven, ia berharap dengan membawa neneknya Aralia akan luluh. Aralia menelan air ludahnya, mengairi bibirnya dengan melipat ke dalam.


"Sampaikan maaf padanya, ia pasti mengerti dan untuk menggantikanku kau bisa bawa gadis lain untuk menemui nenekmu. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak bisa menyakiti keluargaku demi cinta kita Reven. Aku tidak bisa lakukan itu. Salahkan aku untuk ini, kutuk jika itu maumu aku tidak perduli." Aralia mengakhiri pertemuannya, ia meninggalkan Reven di sana kembali menyediri.


"Aralia ...." Panggilnya menahan tapi Aralia sudah kekeh dengan keputusannya.


Di dalam kelas, Aralia menangis menceritakan kronologi putusnya cintanya dengan Reven. Air matanya meleleh jatuh tak terbendung. Beruntung dosen mereka mengulur waktu masuk, jadi Aralia bisa bercerita tentang hatinya yang pilu.


"Sudah jangan nangis, sudah seharusnya begitu. Dia pasti bisa lupain kamu," kata Lea mengusap lengan Aralia lembut.


_____________________________________________


Lisa menyeringai begitu menerima foto-foto pertemuan Aralia dengan seorang pria di taman kampus. Kerja bagus, katanya. Bersamaan senyumnya mengembang ponsel yang ia pengan berdering.


"Aku sudah mendapatkan laporan dari suruhanku bahwa apa yang kau inginkan sudah kau dapatkan. Lalu —,"


"Ha ha ha, aku akan melunasinya sekarang juga." Lisa tergelak, iya tahu apa maksud pria yang memiliki pekerjaan kotor di seberang sana. Lisa bukanlah wanita yang begitu saja lupa dengan kewajibannya. Hingga di takuti lari dari tanggung jawabnya.


"Terimakasih, Nyonya." suara tawa dari telponya terdengar renyah.


"Aku juga butuh info tentang pria yang ada di dalam foto ini. Carikan alamat atau dimana pria itu berada sekarang. Aku ingin menemuinya sesegera mungkin." Kata Lisa dengan nada memerintah tatapannya menajam.


"Apapun yang Nyonya minta akan kami sanggupi."


Lisa mematikan ponselnya, lalu terkekeh melihat foto-foto itu.


Aku menemukan senjataku. Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2