IPAR

IPAR
Melepasmu


__ADS_3

Varga menghentikan gerakannya, melihat Aralia yang sudah bergelayut padanya.


"Kau ini," Varga mencubit hidung Aralia. Tapi Aralia malah memasang wajah mengiba dengan binar mata cerah layaknya anak kecil. "Memangnya buat apa kamu tahu," Varga mendekatkan wajahnya tepat di wajah Aralia.


Menggemasakan bangat sih. Batin Varga melihat tingkah sok imut istrinya itu.


"Sudah lama," ujarnya, membelai pipi Aralia. "Saat hari pernikahan kita," tambahnya.


"Sungguh?" Aralia membelalak tidak percaya spontan melepaskan tangannya dari leher Varga.


"Kenapa?" tanya Varga kebingungan, seolah ia memberi jawaban yang salah dan akan menerima hukuman.


"Se-secepat i-itu kak?" Aralia menutup mulutnya, jawaban suaminya itu mengejutkan. Bagaimana bisa Varga jatuh cinta secepat itu padahal tubuh istrinya saja belum rata pada tanah.


Varga mengangguk, "Yah, perasaan itu muncul di sana saat kakak menggandengmu mengikat janji di hadapan Tuhan." jawab Varga, mengambil tangan Aralia dan mengecupinya lembut.


"Tapi kak Rena—" Aralia terbata.


"Aku pikir juga begitu, bagaimana aku bisa jatuh hati pada kamu secepat itu. Aku menepisnya dan selalu menolak dari pikiranku. Aku menatap foto Rena setiap aku memikirkanmu seolah ingin mengatakan kalau Rena lah cintaku dan aku tidak akan melupakannya sampai kapanpun." Varga mengecup kelopak mata Aralia lembut.


"Suatu saat, aku mencetak photo berdua kalian dan memajangnya di atas meja kerjaku. Aku akan membandingkan kamu dengannya setiap kali aku mengingatmu. Rena yang lembut dan Aralia yang pemarah. Rena yang dewasa dan Aralia yang manja angkuh dan kekanak-kanakan. Aku berusaha menghilangkanmu tapi nyatanya mataku tetap melirik si gadis angkuh ini." Varga melingkarkan tangannya di pinggang Aralia. Mengangkat Aralia dan mendudukkannya di pembatas Balkon. Aralia melingkarkan kembali tangannya di leher Varga.


"Percayalah aku pernah menolak mencintaimu Ara, tapi kau terlalu memikat. Sihirmu terlalu kuat menarikku hingga sangat mencintaimu. Kau seperti madu yang menggiurkan." Varga memejamkan matanya, Aralia mengecup bibir suaminya itu penuh kelembutan.


"Lalu bagaimana denganmu? Kapan jatuh cinta padaku?" Aralia menunjuk dirinya sendiri.


"Aku?" Varga mengangguk bersemangat mendengarnya. "Aku tidak pernah mencintaimu." Terbahak.


"Apa?" Varga melebarkan matanya, mengangkat Aralia turun dari pembatas balkon lalu membawanya ke tempat tidur. Menggelitiki kakinya hingga membuat istrinya itu terpingkal-pingkal. "Kau belum mengakuinya juga?" Aralia berguling-guling di ranjang menahan geli pada kakinya.


"haha jangan, cukup, aku tidak kuat, kakak lepasin ...." pinta Aralia di sela-sela tawanya.


"Jawab dulu!" Varga semakin menggelitiknya, membuat Aralia mengangkat pinggannya, dan tidak sengaja menyibak piyama hingga mempertontonkan pusarnya. Varga naik ke atas ranjang, membungkuk di atas istrinya itu. "Katakan kau mencintaiku?" ucapnya dengan suara serak mengecupi ceruk leher dan kedua sisi wajah Aralia.


Tangannya sudah nakal kemana-mana, dan menyapu telinga istrinya itu dengan lidahnya, membuat Aralia menggeliat. Varga membuka kancing piyama Aralia.


"Kakak," Aralia menghentikan tangan Varga. Tatapan Varga yang sudah berkabut seolah bertaya apa? Aralia menggelengkan kepalanya dan berbisik. "Aku menstruasi."


"Eh?" Aralia mengangguk, dengan raut menyesal karena tidak bisa melayani suaminya itu. "dari kapan?"


"Tadi siang saat kembali dari makam," gumam Aralia dan langsung mendapatkan kecupan bertubi-tubi di bibirnya.


Muah, muah, muah, muaaaah ....


"Baiklah," Varga membaringkan diri di samping Aralia. "Tidurlah sayang, kakak akan kembali bekerja." bisiknya mendekap istrinya itu.


"Kak,"


"Iya,"


"Bagaimana dengan Lisa? Apa dia masih bekerja sama kakak?" Aralia memainkan jari-jarinya di atas dada Varga.


"Mmm, itu sudah tidak lama lagi kok. Kakak merekomodasikannya menjadi sekretaris CFO,"


"Kenapa selalu membawa pekerjaan banyak ke rumah? Aku mulai cemburu setiap kali kakak pulang akan sibuk dengan benda itu. Kalau Ara tidak menganggu saja pasti di suruh tidur mulu." Varga terkekeh, mendengar rajukan Aralia.

__ADS_1


"Maaf ya. Kakak menghukum Lisa dengan caraku sendiri. Aku mengerjakan semua pekerjaanya jadi secara tidak langsung aku memberhentikannya bekerja disampingku sampai rekomondasiku itu di tanda tangani." Varga menjelaskan dan Aralia mengangguk paham.


"Kau mau aku buatkan kopi?" tanya Aralia, Varga tampak memikirkan lalu mengangguk.


"Boleh sayang."


______________________________________________


Lisa berang, semenjak kejadian itu Varga tidak lagi memperhatikannya. Posisinya sebagai sekretaris terbaikan oleh Varga. Pria itu lebih memilih mengerjakan sendiri pekerjaanya dan langsung berinteraksi pada staf divisi finance yang ia pimpin.


Reven, masih terus berusaha mendapatkan perhatian Aralia. Pria itu menitipkan coklat, bunga pada Cayrol setiap hari untuk Aralia. Ponsel Aralia pun tidak lagi dapat ia hubungin. Aralia mengabaikannya. Cayrol, Lea dan Ilir lah yang paling diuntungkan. Makan coklat gratis.


Aralia merasa sedih, hatinya masih suka merasa menyesal karena sudah masuk ke dalam kehidupan Reven dan kemudian menyakiti pria itu.


Bianca hari ini satu tahun. Keluarga memilih merayakan di panti asuhan sekalian berbagi. Tidak mewah hanya ucapan syukur.


______________________________________________


Waktu berlalu cepat, musim hujan juga kembali tiba. Tapi tidak menyurutkan para penduduk bumi untuk bergerak. Melakukan pekerjaan masing-masing sebagai cara bertahan hidup.


"Sayang, pakaian aku sudah di siapin belum?" Varga keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.


"Ada di atas ranjang kak," sahut Aralia dari Balkon tempatnya berada. Menghampiri dan melihat penampilan Varga dari belakang. Ia menelan salivanya melihat pundak yang masih basah itu.


Aku ingin bersandar di sana? batinya dan sudah memeluk dari belakang. Merasakan lembab dan aroma itu membuatnya berdesir.


"Ra, jangan sekarang kakak mau kerja." Varga mengancingkan celananya.


"Eih, aku cuma peluk doang, jangan pelit, tubuh Ara aja habis kakak ciumin." rajuk Aralia memukul pundak itu.


"Ya sudah cium tuh, gratis." Eh benaran di kecupin dan terakhir di gigit saking gregetan.


"Aku kangen kak Varga," gumamnya manja. Varga mengangkat Aralia dan meletakkanya di atas meja rias.


"Aku ada disini sayang, cup." Varga mengecup kelopak mata Aralia lembut. Aralia menyungingkan senyum sembari memasangkan dasi Varga.


"Sudah," gumam Aralia dan di hadiahi kecupan lembut di bibir sebagai ucapan terima kasih.


Setelah mengantar ke depan rumah, Aralia kembali ke kamar. Tidak lama pelayan Asih yang bertugas mengurus pakaian di rumah itu masuk membawakan setumpuk pakaian yang sudah di setrika.


"Nyonya pakaian tuan," ujarnya menyerahkan beberapa pakaian yang sudah di hanger. Aralia menerimanya dan membuka lemari suaminya itu kemudian menyusun di sana. Saat hendak menutup ia melihat di bawah baju tergantung Bagpaper. Aralia mengambilnya dan tersenyum simpul.


"Kok bisa ada disini sih? Aku kan sudah membuangnya ke kotak sampah saat di kamar hotel. Kak Varga ambil lagi?" Mengeluarkan Lingerie dan mengamati kain itu.


"Asih, tinggalin saja biar aku yang menyusun pakaian aku." kata Aralia menghentikan pelayan itu dan dengan sopan mundur diri dari sana.


Aralia melempar kain vulgar itu ke tempat tidur.


"Eih, pakaian norak. Warnanya juga menyala begitu. Apa perancang pakaian ini seorang perempuan? Pasti lelaki yang memiliki tingkat mesum sedunia." Tapi berniat mencobanya. Aralia menutup pintu kamarnya dan membawa kain menerawang itu ke kamar mandi setelah mendapatkan ide yang jahil di kepalanya.


Setelah mengenakan pakaian itu, Ia melihat tampilannya di cermin kemudian histeris sendiri. Tubuhnya terekspos.


Baiklah ayo kita kepemotretan ....


Keluar dari kamar mandi dan mengambil ponsel, duduk di atas tempat tidur menirukan gaya wanita nakal lalu merekam video pendek untuk di ubah berupa Gif.

__ADS_1


Menaruh tangan di atas kepala, meleletkan lidah seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Hahaha aku rasa aku sudah tidak waras." tertawa melihat hasil rekamannya kemudian berlari ke kamar mandi.


_____________________________________________


Bagaimanapun Aralia menghindari Reven tetap saja bukan cara yang tepat. Nyatanya pria itu tidak berhenti membuatnya terus merasa bersalah.


"Ara," panggil Reven saat Aralia dan ketiga temannya itu berjalan beriringan sambil tertawa.


Aralia menghentikan langkahnya. Wajahnya seketika pucat dengan sorot minta tolong.


"Jangan menggangunya," Cayrol menghalangi Reven.


"Sebentar saja Ra, aku hanya ingin mengkofirmasi sesuatu." Reven mengabaikan ucapan Cayrol.


"Baiklah," suara itu gemetar. Ketiga temanya itu menatap Aralia bingung. Aralia mengangguk seolah mengatakan oke aku baik baik saja. Mengikuti langkah Reven ke perpustakaan.


Begitu sampai Reven menarik Aralia kepelukannya. membuat Aralia terkesiap dan melebarkan matanya seraya mendorong tubuh Reven.


"Sebentar saja, Ra. Tiga puluh detik." Aralia menarik dirinya tapi sia-sia. Reven terlalu kuat untuk ia kalahkan


"Reven lepasin! Aku mohon." Pinta Aralia menangis berontak.


"Diam Ra! Jangan bergerak kalau tidak ini akan lama." Balas Ra pelukan aku. Aku mohon ....


Aralia pasrah diam tanpa membalas pelukan itu hingga detik akhir. Reven kecewa, melepas pelukannya dan menatap Aralia yang menangis.


disekaya air mata itu dengan jemarinya, lalu bertanya, "Apa kau bahagia dengannya?" Aralia mengangguk.


"Kau mencintainya?" Aralia kembali mengangguk, entah kemana suara wanita itu hilang dadakan.


Reven menghela panjang, dalam beberapa hari ini Reven mengikuti Aralia diam-diam. Wanita itu tampak bahagia dan ia kecewa kebahagian Aralia bukan berasal darinya melainkan dari Varga.


"Kau menghidariku, menjauh dan takut. Apa kau pikir aku pria jahat?" Reven menangkup dagu Aralia membuat mereka bersitatap.


"Bagaimanapun kita pernah saling mencintai dan hingga sekarang aku masih mencintaimu, Ra. Jantungku berdetak dua kali cepat saat melihatmu."


"Maafkan aku, Re." lirih Aralia suaranya terdengar serak.


"Kebahagianmu adalah yang utama bagiku, aku tidak bisa menahanmu apalagi memintamu untuk kembali. Itu pasti percuma karena kau sudah membuangku." Aralia mendongak menatap Reven. Kata-kata membuang terlalu menyayat hatinya.


"Kau bebas. Pergilah dan bahagia bersamanya."


"Reven ...." lirih Aralia menatap pria di depannya itu dengan tatapan bahagia.


"Jangan menatapku begitu," Reven menyentil kening Aralia. "pergilah sebelum aku menciummu." perintahnya.


"Reven kau juga harus bahagia, Oke!" teriak Aralia berlari. Reven tersenyum baginya Aralia adalah kekasih yang paling berkesan dalam ingatannya.


Aralia mengecek ponselnya, Gif yang ia kirim pada suaminya belum di baca padahal sudah satu jam setelah dikirim. Ia mencebik bibirnya, menuju parkiran dan melempar tasnya ke jok penumpang. Ia menghidupkan mobilnya dan keluar dari area kampus.


Belum jauh ia menyetir, dan memasuki jalan ramai sesuatu menghantam mobilnya dari belakang membuatnya panik dan salah menginjak pedal gas.


Brak ....

__ADS_1


Kepala Aralia membentur stir dan kakinya menginjak pedal gas hingga membuat mobil itu terus berjalan ke tengah jalan dan di hantam mobil yang lainnya.


"Tolong." gumamnya sebelum matanya terpejam dan kegelapan menyelimutinya.


__ADS_2