
"Haha," gelak tawa Aralia menggema di langit-langit kamar miliknya, membuat seisi rumah bertanya ada apa gerangan. Roland, bapak mertuanya menggelengkan kepala saat melintasi pintu kamar putranya itu.
Ele penasaran, hingga menempelkan telinganya di daun pintu berharap mendapatkan isi percakapan pasangan yang ada di dalam kamar hingga membuat menantunya itu terbahak.
Roland berdecak, menarik tangan istrinya menuruni anak tangga membuat Ele memerah malu.
Semenjak pasangan itu kembali
Aralia tergelak sesuka hati tanpa melihat tempat dan waktu. Varga? Pria itu selalu terlihat berseri-seri setiap hari.
Rumah itu kembali menjadi rumah hangat dan nyaman untuk penghuninya. Meski demikian Ele belum mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya. Kenapa menantunya itu berubah menjadi periang terlebih saat pasangan itu pulang dari kota yang mereka kunjungi.
Puluhan malam juga sudah mereka lewati di kamar itu. Kamar yang tadinya sepi karena adanya batasan tercipta pada penghuninya kini berubah hangat.
Roman-roman selalu terjadi di sana. Saling menggoda dan saling memberi kahangatan.
Varga lebih gila memuja tubuh Aralia dan tak juga ada rasa bosan pada tubuh istrinya. Aralia pun demikian. Acap kali ia menggoda Varga, melompat pada punggung lelakinya itu atau mengecupi rahang Varga tanpa rasa malu.
"Sayang lagi horny, ya?" tanya Varga sengaja lantaran Aralia menganggunya saat mengerjakan sesuatu di laptopnya. Tiduran di kaki pria itu seraya mengelus-gelus rahang Varga dengan jemarinya yang lentik.
Secepat kilat Aralia menggeleng tapi hatinya mengangguk. Varga tidak percaya, segera mengangkat Aralia melempar ke tempat tidur. Menggodanya dan mencumbu dalam hitungan detik Aralia lebih liar. Mendominasi dan lebih agresif, menelanjangi lelakinya yang tampan itu.
Seperti malam ini, setelah urusan ranjang mereka selesai, Varga memberi lengannya menjadi bantal Aralia, lalu membawa istrinya itu dalam dekapannya.
"Kau puas?" Goda Varga. Aralia tersipu memukul dada Varga lembut. Varga mengulang apa saja yang di desahkan Aralia selama adengan ranjang mereka.
"Makan aku, Varga sayangku, Tubuhmu sangat hangat." Meski merona tapi gelak tawanya pecah mengudang tanya pada pasangan tua yang tidak sengaja melintasi kamar mereka.
"Diam! Tidak, aku tidak mengatakan itu," Sanggah Aralia menengelamkan wajahnya di dada Varga. Tubuhnya bergetar menahan tawa disana. Entah kenapa saat sadar begitu ia tersipu. Semua karena Varga yang selalu mengajarinya mendesah.
Varga tersenyum, menatap langit-langit kamarnya. Dia teramat bahagia memiliki mantan adik iparnya ini.
Adik ipar? Varga teringat kata-kata itu mengingatkanya pada Rena mendiang istrinya. Varga menghela napas panjang. Mengambil tangan Aralia lalu menggenggam dan menatap jari-jari Aralia yang kurus dan berkuku panjang.
"Ra," suara terdengar ragu.
"Mmm," Aralia mendongak, mencari tahu kenapa suara suaminya itu terdengar ragu.
"Mau tidak menemani kakak jiarah besok?" Varga bertanya dengan nada kecil. Ia kembali meminta setelah beberapa kali gagal membawanya berkunjung ke makam Rena, istrinya itu selalu menolak dengan macam alasan.
Aralia mengangkat tubuhnya, menatap Varga yang berusaha memalingkan wajahnya. Takut Aralia marah dan menghidupkan kedua tanduk di kepalanya.
"Baiklah, ayo kita berkunjung besok," aku juga harus bicara dengannya.
__ADS_1
Varga melihat Aralia dengan tatapan tidak percaya, tapi istrinya itu menyungingkan senyum indah dengan bola mata cerah.
"Terimakasih sayang," Varga bergerak menindih Aralia. Muah, muah, muah. Mengecup bibir ranum istrinya itu dengan bahagia. Aralia terkekeh kemudian membalas satu kecupan sebagai tanda selamat malam.
Varga kembali ke posisinya, "Tidurlah, aku akan kembali menyelesaikan pekerjaanku." ucapnya menyelimuti tubuh Aralia yang polos. Aralia mengubah posisi tubuhnya meringkuk dan terpejam.
_____________________________________________
Varga dan Aralia berdiri disamping tanah bergunduk yang di tumbuhi rumput hijau, makam Rena.
Aralia mengedarkan tatapannya ke segala arah menapak balik dia berdiri di tempat itu saat mengantarkan jenasah Rena.
Varga membersihkan ramput yang terlihat panjang. Lalu mengusap nisan Rena seraya menggigit bibirnya. Rasa getir masih terasa di hatinya meskipun ini bukan yang pertama kalinya ia berkunjung.
Varga mendongak ke atas menahan air matanya biar tetap disana.
Aralia berdiri menatap nisan itu, lalu menitikkan air matanya.
Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah menjadi bintang sekarang? Kau pasti sangat bersinar bukan? Kau pergi seenakmu dan meninggalkan aku dengan segala keinginanmu.
Aralia menyeka air matanya. Mengingat perkataan konyol kakaknya bahwa semua orang yang meninggal akan menjadi bintang dilangit.
"Jangan menangis, kau merindukan ayah?" Saat itu Rena dengan lembut mengusap air mata Aralia karena merindukan ayahnya yang sudah tiada.
"Sungguh?" Pikiran polos dan penasaran, Aralia menatap langit di malam hari. Rena mengangguk. "Begitu banyak bintang disana,"
"Cari yang paling terang,"
"Apa itu dia?" Tunjuk Aralia pada satu bintang yang bercahaya terang.
"Yah, itu ayah. Kau bisa mengajaknya bicara setiap kali kau rindu padanya. Dia akan menjawab dengan sinarnya." Dan dari saat itu Aralia percaya kalau setiap orang yang meninggal akan menjadi bintang.
Kau pembual, aku tidak mau menatap bintang lagi karena pasti kau akan mengejekku dari sana bukan?
Rena yang berhati lembut dan dewasa selalu menjaga dan menggatikan peran ayah dan juga ibunya Nisa. semenjak ayah mereka meninggal Nisa bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dan tidak ingin melihat Aralia kehilangan kasih sayang itu dia mengambil sikap menjadi ayah dan kadang-kadang jadi ibunya. Hingga Aralia berusia remaja dan Rena menikah dia tetap memperhatikan Aralia layaknya seorang ayah. itulah yang memukul hati Aralia saat Rena pergi dengan cepat.
"Rena, aku datang tapi kali tidak sendirian. Aralia adikmu yang angkuh itu sudah mau ikut. Aku bahagia. Aku sengaja datang hari ini karena esok ulang tahun Bianca, putri kita. Putri Ara juga kan?" Varga melirik Aralia yang masih berdiri memandangi nisan Rena.
"Aku, aku tidak ingin sedih di hari lahir putri kita itu sebabnya aku datang lebih awal untuk bercerita tentangnya." Tambahnya.
"Bianca sudah bisa berjalan dan giginya sudah ada delapan. Dia memanggil Aralia Mami, dan aku Daddy. Bianca sangat mirip kamu terutama manik matanya." Menarik napas.
Rena, terima kasih karena sudah memilihkan istri untukku, terima kasih sudah menitipkan kami berdua pada Aralia. Aku janji akan menjaganya dan mencintainya dalam hidupkku, sepenuh hatiku seperti yang kau inginkan. Tenanglah disana! Jadilah bintang seperti yang kau bilang dan aku percaya kau memang menjadi bintang di langit sana. Varga tersenyum, mengingat ucapan Rena saat masih hidup.
__ADS_1
"Ara, kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Varga saat melihat Aralia hanya diam.
"Aku sudah bicara dengannya," ucap Aralia menipiskan bibirnya. Varga mengerutkan kening.
Kapan? kau hanya diam dari tadi. Batin Varga
Kakak, terima kasih kau sudah menitipkan aku pada malaikatmu itu. Dia pria yang baik dan maaf karena sudah membencimu. Kau menahan pria itu untukku dan menempatkannya disisiku. Tanpa titahmu hubungan kami tidak akan seperti ini. Meski di awal aku menentangnya. Tapi saat melihat cinta lewat tatapannya aku percaya kalau kau memberiku yang terbaik. Bahagialah disana. Jika ada kehidupan kedua tetaplah menjadi kakakku dan aku akan menyerahkan malaikatmu itu kembali padamu. Batin Aralia berjongkok dan mengikuti Varga menabur bunga dan mencuci wajah
Saat sesi jiarah usai Aralia melangkah berniat pulang tapi tangannya ditahan Varga. Membuatnya berbalik dan menatap pria dewasa itu.
"Ara, aku mencintaimu dan itu sangat. Maukah engkau berjanji akan menjadi rekan hidupku, teman gila-gilamu, dalam keadaan senang dan duka. Tetap berada di sampingku? Mendampingiku selamanya?" kata Varga disamping makam Rena.
"Apa kau melamarku?" Aralia tersenyum, " kita sudah menikah dan menikmati hari-hari yang baik dan kau masih ragu dengan cintaku?"
"Aku butuh jawabannya, di tempat ini di makan Rena kakakmu?"
Aralia tersenyum menoleh Nisan Rena seolah meminta ijin."Ya, aku mau." Aralia menjawab dengan tulus dari hatinya.
Varga tersenyum bahagia, mengambil tangan Aralia dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Cincin!" Seru Aralia tanpa suara. Menatap benda itu, benda yang di sematkan Varga di jemari manis Aralia saat pernikahan mereka.
"Maafkan aku," air mata Aralia berurai, tubuhnya gemetar menangis. Melihat benda yang diabaikan dan di lepas dimalam setelah mereka resmi menjadi suami istri. Varga menemukannya di kamar mandi terletak begitu saja seperti barang tiada arti.
"Maaf ...." Suaranya gemetar menahan tangis. Ia terlalu marah hingga tidak peduli pada benda lambang pengikat hubungan mereka.
"Tidak apa-apa," Varga menyeka air mata Aralia lalu menyematkan kembali cincin itu di jari manis Aralia. Varga membawanya kepelukannya. Disana di dada bidang itu Aralia sesegukan menyesali semuanya.
______________________________________________
Malam itu di Balkon Aralia menatap jemarinya yang sudah terselip cincin pernikahan. Di tengah ring emas itu ada benda bersinar. Apa ini berlian? Pikirnya lalu menggelengkan kepala, apapun itu Aralia tidak peduli dia lebih menikmati makna dari cincin itu dalam hubungannya dengan Varga.
"Itu berlian sayang," ujar Varga setelah memperhatikan Aralia mengamati benda itu dari dalam kamar. Aralia menolehkan kepala dan tergugup. Tangan pria itu sudah melingkar di pinggangnya dan kepalanya berada di bahu Aralia.
"Sungguh?" Aralia tidak menyangka begitu besarnya hati Varga melingkarkan cincin semahal itu, padahal mereka tidak saling mencintai saat itu.
"Iya," Desis Varga, Mengecupi leher Aralia dan menghirup-hirup aroma tubuh istrinya itu. Hal yang selalu ia sukai dan lakukan setiap kali berduaan.
"Kakak,"
"Mmm ...,"
Aralia berbalik bersender pada pembatas balkon dan melingkarkan tangannya di leher Varga. "Sejak kapan kau mencintaiku?"
__ADS_1