
Varga terkekeh melihat Aralia menguap lebar-lebar dengan rambut berantakan. Varga duduk di tepian ranjang, mengamati lama sebelum akhirnya ia membangunkan Aralia yang entah sudah berapa lama terlelap.
"Kakak sudah pulang?" Tanya Aralia bersamaan mulutnya melebar menguap.
"Sudah berapa lama kau tertidur?" Aralia tampak berpikir, lalu tersenyum menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
"Oh ya ampun, semenjak sampai Ara langsung rebahan dan aku tidak menyangka kalau kasur ini membawaku ke alam mimpi," Katanya terkekeh."bagaimana kakak bisa masuk?" tanya nya penasaran, sebab akses masuk ke dalam kamar ada di tangan Aralia.
"Aku ambil di Resepsionis, jadi kau tidak makan?" Varga bertanya dengan raut bingung. Aralia mengangguk, meletakkan tangannya pada perutnya.
"Aku bahkan tidak merasa lapar sampai sekarang." Katanya, menyengir.
Varga mengelengkan kepala melihat konyolnya istrinya itu. "Aku akan pesankan makan malam, mandilah." Katanya, kemudian berjalan ke ruang tengah. Mengambil katalog di atas nakas tepat berada di samping telpon kamar itu. Lalu menghubungi bagian service room.
"Halo, saya ingin pesan makan malam," Varga menyahut saat room service menjawab telponnya.
"Tentu, atas nama siapa dan kamar berapa?"
"291, atas nama Varga Sadah."
"Terimakasih, apa yang anda inginkan tuan Varga?"
"Saya pesan omelet lengkap dengan topping keju mozerella, jamur dan asparagus. Fettuccine, minumnya orange juss sekalian pencuci mulut puding strwaberry. Antarkan untuk dua orang."
....
"Baiklah saya tunggu." Varga mengakhiri telponnya dan membuka tirai balkon yang menghadap kolam renang.
Varga duduk di sofa, menunggu makan malam dan juga Aralia selesai mandi, ia mengakses internetnya, mencari sesuatu di sana. Pusat perbelanjaan yang masih buka dan tidak jauh dari tempat itu.
"Kak Varga makananya sudah datang belum?" tanya Aralia yang tiba-tiba menghampiri.
(foto gugel)
Varga seketika mematikan ponselnya, menoleh pada Aralia dan menatapnya dalam tiga detik. Aralia mengenakan T-shirt rajut bewarna garis putih hitam membingkai penampilannya yang natural.
( foto gugel)
"Belum, duduklah." Kata Varga mengendikkan dagunya pada sofa yang berhadapan langsung padanya.
"Setelah mandi laparnya terasa." gumam Aralia, mendudukkan dirinya dengan anggun di sofa, lalu meraih katalog yang ada di atas meja dan membacanya.
Varga menatap Aralia dalam, membaca penampilan istrinya itu, meski tanpa make up ia selalu tampil mempesona. Satu lagi bibir Aralia terlihat sangat menggoda saat dilihat dari samping.
Ting tong.
Bel pintu terdengar, Varga bangun dari duduknya dan membukakan pintu. Setelah menunggu satu jam makanan yang ia pesan baru tiba.
"Makan malamnya, Tuan." ujar petugas mendorong meja kecil beroda masuk kedalam setelah Varga membukakan pintu lebar.
"Letakkan di dekat jendela balkon saja." Kata Varga memberi arahan pada pengantar makanan itu. Ia ingin menikmati makan malam bersama Aralia sembari menatap kolam renang yang terlihat indah dengan hiasan lampu kerlap-kerlip.
"Saya permisi tuan," ucap petugas itu mengundurkan diri dengan ramah. Varga menutup pintu setelah petugas hotel keluar.
Aralia sudah duduk dan membuka penutup makanan, mulutnya mengaga lebar, bahagia saat melihat menu yang disajikan Meski olahan telur akan tetapi yang menjadi spesial adalah topping yang diminta Varga. Aralia menyukai semua topping itu terutama asparagus.
"Kakak aku menyukaiya." Wajah Aralia berbinar, menatap Varga yang sudah duduk dihadapannya.
__ADS_1
"Makanlah." kata Varga.
Aralia menyendokkan ke mulutnya dan menikmati rasanya. Varga tersenyum, saat melihat Aralia terpejam layaknya kritikus makanan.
"Bagaimana dengan ini?" Tanya Varga menunjuk Fettuccine. Makanan itu sejenis pasta yang populer di italia.
Aralia menusuk dengan garfunya dan memutar lalu menyuapkan kemulutnya.
"Mantap kak," puji Aralia setelah melakukan gigitan ke tiga.
"Itu karena kau lapar, jadi semua makanan yang kau makan itu pasti enak." ujar Varga terkekeh. Aralia mencebik bibirnya yang mana membuat Varga merasakan desiran di dalam tubuhnya. Varga menelan salivanya lalu menghembuskan napasnya berlahan.
"Makanlah jangan sampai tersisa." ujar Varga, menggigit bibirnya sendiri menahan diri ingin meraup mulut Aralia yang penuh dengan makanan.
Varga menatap fokus bibir Aralia dan berpikir kenapa danging kenyal itu begitu mengairahkan saat penuh makanan begitu.
"Kak Varga makan!" Aralia menyadari Varga menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Varga menyendok makananya untuk suapan pertama setelah Aralia menghabiskan setengah makanannya.
"Ra, kakak mau kesuatu tempat," kata Varga setelah mereka mengakhiri makan malam itu. Aralia berdecak menunjukkan mimik tak suka.
"Kemana kak? Apa Ara nggak bisa ikut?" Aralia mengalihkan tatapannya dari Varga, melipat tangan di dadanya.
"Jangan, besok kakak janji akan bawa Ara jalan-jalan setelah urusan kakak selesai ya." bujuk Varga menyelipkan rambut Aralia kebelakang telinganya.
"Tapi aku pengen ikut sama kak Varga sekarang, kakak bawa aku kesini mau dikurung aja?" rajuk Aralia menghempaskan tangannya.
"Ra, kakak janji besok kita jalan-jalan ya." Bujuk Varga, Aralia berdecak sebal.
"Selesaikan cepat urusan kakak dan cepat pulang aku bosan sendirian."
"Baik tuan putri," Aralia berdecih, sebelum pergi Varga mencubit pipi Aralia membuat istrinya itu tersipu malu.
Tidak butuh waktu lama, taksi yang di pesan Varga sudah tiba di pintu masuk dan Varga segera masuk memberi arahan pada supirnya agar mengantarnya ke sesuai titik aplikasi.
Mobil membelah jalanan, tidak terlalu macet hingga mobil bisa bergerak lebih kencang.
Sesampainya di tujuan Varga turun.
"Terimakasih, tips nya lewat aplikasi ya pak."ujar Varga dan terlihat senyum rasa terimakasih dari pengemudinya.
Varga memasuki mall dan mencari petunjuk tempat yang ia tuju. Lantai tiga, Varga melihat toko itu masih buka. Toko perhiasan.
"Selama malam pak, ada yang bisa saya bantu?" Dengan rama penjaga toko bertaya. Varga melihat isi etalase yang berkilau penuh dengan perhiasan emas.
"Buat Bapak atau hadiah?" tanya karyawan itu kembali.
"Aku mencari kalung lengkap dengan liontin untuk perempuan." Kata Varga.
"Yang glamor atau polos pak?" Tanya karyawan itu seraya mencari dalam etalase itu.
Varga tampak berpikir, mengingat Aralia tidak pernah mengenakan benda yang menonjol dalam dirinya.
Varga menjelajahi etalase itu dengan seksama. Lalu matanya menangkap kalung bewarna putih dengan liontin berbentuk kupu-kupu bewarna biru. Tipis tapi sangat elengan.
Aralia pasti cantik mengenakan ini. Batinya dan meminta Karyawan itu mengeluarkan dari etalase.
"Sangat cantik pak, cocok untuk hadiah buat istri atau kekasih." kata karyawan itu.
"Baiklah, saya ambil." Karyawan itu menimbang dan menulis notanya lalu menyerahkan pada Varga.
__ADS_1
"Waoh ...," Gumam Varga takjub pada harga benda itu. Hampir seratus juta harganya.
Varga menyerahkan kartu Atm nya, saat ia melakukan transaksi tiba-tiba ponsel Varga berdering. Lisa, memanggilnya.
Varga mengangkatnya,
"Pak Varga ...," sahutnya dari seberang, Varga mendengar suara riuh.
"Lisa? Ada apa?" Varga mengambil barang bersamaan dengan Atm nya kembali. Karyawan itu mengucapkan terimakasih dan di angguki Varga.
"Pak ... aku, aku ingin pulang tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Kepalaku berdenyut ...."
"Kau di mana?" tanya Varga melangkah keluar dari mall. Lisa menyebutkan nama Bar tempatnya berada. Varga menghela berat. Wanita ini kenapa bisa mabuk di tempat yang bukan wilayahnya. Varga mengeluarkan kota kecil yang ia beli dan memasukkan ke dalam saku celananya. Menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Lisa teman kerjanya ia tidak mungkin mengabaikan saat wanita itu minta tolong.
Taksi yang di tumpangi Varga berhenti di sebuah gedung. Varga menghembuskan napasnya, ia sudah sangat lama tidak ke tempat seperti ini. Varga ingat setelah berpacaran dengan Rena mendiang istrinya hingga saat ini.
Varga melangkah masuk dan langsung di hadapkan dengan musik dan lampu gerlap-gerlip, ia mencari sosok Lisa di antara puluhan orang di sana. Tempat itu belum terlalu ramai mengingat malam belum tua.
Varga menuju Bar dan mendapati Lisa terlihat mabuk.
"Lisa ...," Sapa Varga, suaranya di besarkan dan menarik tangan wanita itu untuk meninggalkan tempat itu.
"Pak Varga kau datang? Kau datang? Aku sudah mendunganya kau pasti datang." Soraknya menghambur memeluk Varga. Pria itu sedikit gamang.
"Ayo kita pulang," ujar Varga, di belakang Lisa menyeringai ia sama sekali tidak mabuk.
"Jangan begini pak, aku ingin bahagia dan merasa damai. Ayo kita minum," kata Lisa, melepas pelukannya. Duduk kembali ke kursinya dan memesan dua gelas minuman pada Bartender. Lisa mengedipkan sebelah matanya memberi isyarat pada Bartender yang sebelumnya sudah ia ajak bekerja sama. Bartender itu mengangguk kecil kemudian meracik minuman itu.
"Lisa kita pulang oke. Istriku menunggu." Kata Varga, menarik Lisa tapi wanita itu tetap kekeh tidak menggerakkan tubuhnya.
"Minumlah pak walau segelas saja, sebagai ucapan terima kasihku karena pak Varga sudah datang menjemputku."katanya menarik-narik tangan Varga.
"Astaga Lisa, ayolah kau tidak bisa seperti ini, kita datang ke kota ini untuk urusan kerja." Varga menyugar rambutnya, ditatapnya waktu dalam arlojinya. Jam 22.00. ini bahkan belum larut malam si Lisa sudah masuk ke Bar dan mabuk-mabukan.
"Tidak pak, saya tidak akan pulang sebelum anda menerima ucapan terima kasihku," ujar Lisa, menyerahkan segelas minuman yang sudah tercampur kandungan meningkatkan hormon pria.
Varga menyerah, tidak ingin berlama-lama di tempat itu dan juga rasa khawatirnya pada Aralia yang sedang menantinya dihotel.
"Baiklah," kata Varga menerima gelas bening berisi minuman itu tanpa memikirkan hal buruk yang akan terjadi padanya. Varga meneguknya hingga tetes terakhir dan meletakkan gelas di atas meja.
"Kita pulang, oke?" Varga menarik tangan Lisa, membawa wanita itu keluar dari sana. Sebelum Lisa mengikuti langkah Varga, ia memberi jempol kepada Bartender yang sudah bersedia menbantunya. Pria tukang racik minuman itu tersenyum simpul.
Varga menghentikan taksi, memberi jalan Lisa masuk, wanita itu masih saja berpura-pura mabuk. Hingga membuat Varga kesulitan memasukkan Lisa masuk kedalam taksi.
"Astaga Lisa ...." gumam Varga, mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berdenyut dan darahnya seolah berdesir. Pengaruh obat yang dimasukkan Lisa pada minuman itu mulai bereaksi.
Varga masuk dan memberi alamat pada pengemudi taksi dan bersiap membawa dua orang itu ketempat tujuannya.
Lisa bergelayut di bahu Varga yang sudah mulai merasakan aneh pada dirinya. Panas yang membakar dan didihan darah mengalir hingga menaikkan libido pada tubuhnya secara paksa dan tiba-tiba membuatnya gusar. Apalagi Lisa sengaja menempel dan menggigit bibir berlipstinya dengan sensual.
Seringai dibibir Lisa tercetak jelas, malam ini pria ini miliknya, ia akan bersenang-senang tanpa gangguan siapapun.
(foto gugel)
Catatan : Terima kasih buat yang masih baca. Sempat malas melanjutkanya karena kebijakan dari MT kalau author tanpa kontrak tidak mendapatkan apapun selain pembaca memberi tips berupa koin.
tapi semangat lagi, karena memang tujuan awal saya menulis di MT. untuk belajar kali aja bisa benaran bikin buku persi cetak.
Saran dan kritik yang membangun diterima kok, silakan tuliskan jika ada yang salah dalam penulisan terutama di alur cerita, masuk akal atau menghalu benar.
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan Like, Komen, Vote, Kasih Rate bintang lima juga ya😁 hanya itu yang saya harap sebagai penulis gratisan di MT.
Makasih.