
Saat Varga merasa kesakitan di hati, posel Aralia berdenting pertanda pesan masuk. Varga melirik ke arah benda tipis bewarna biru itu. Sebuah emoji berbentuk hati merah sebagai nama pengirim. Mengirimkan pesan yang entah apa isinya. Pria itu menggigit bibir bawahnya berpikir ingin membaca isi pesan itu. Tangannya hampir menyentuh benda itu tapi sayang kesempatan itu hilang saat Aralia tiba-tiba datang. Masih dengan raut kesal, Aralia meraih ponselnya dan berjalan menuju balkon.
Varga memejamkan netranya, menahan sesak di dalam dada dan berusaha tegar.
Bagaimana aku bisa lalai seperti ini, Tuhan. Aku membiarkan istriku memiliki hubungan dengan pria lain. Batin Varga, melihat ke Balkon dimana Aralia terlihat senyum dan mengetik di ponselnya.
Varga menyeringai, betapa konyolnya dirinya saat ini. Tanpa sadar tatapannya berhenti pada sebuah potret pernikahannya. Pria disana terlihat bahagia dengan binar mata yang cerah sementara pasangan yang ia gandeng itu hanya menipiskan bibir dengan sorot kesedihan.
Ya ..., Aku yang berharap untuk cintanya. Batin Varga. Menepuk kedua pahanya. Berdiri lalu menghampiri Aralia ke balkon.
"Ara ...," Aralia sedikit terkejut, ia menekan tombol of ponselnya. Menatap Varga tajam dengan sorot kesal.
"Apa?"
Varga menghela napas berat. Sebenarnya ia sangat kesal saat ini, tapi sebagai pria dewasa Varga tahu kalau mengalah adalah jalan terbaik untuk berdamai dengan Aralia.
"Dengar, aku minta maaf. Oke! Aku janji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, Umm ...," ujar Varga mendekat.
Aralia meliriknya sinis dan di balas tatapan hangat dari Varga. Perempuan itu masih saja menunjukkan rasa kesalnya.
"Bagaimana caraku meminta maaf supaya kamu bisa memaafkanku?" Varga membenarkan poni Aralia yang di mainkan angin malam.
"Jangan menyentuhku!" Gertak Aralia menepiskan tangan Varga, menatap sengit suaminya itu.
"Sttt ..., Oke!" Varga tetap bersikap tenang. Memberi isyarat lewat jarinya agar Aralia mengecilkan suaranya " Baiklah aku tidak akan menyentuhmu. Jangan marah dan tolong suaranya kecilin. Mama sama Papa mungkin masih belum tidur. Aku nggak mau mengundang mereka kesini."
Aralia berdecak dengan kening berkerut. Rengekan bayi terdengar dari dalam, mungkin Bianca terbagun karena gertakan Aralia.
Aralia segera masuk, dan di ikuti Varga dan benar saja Bianca yang ada di ranjangnya terjaga.
"Oh ... sayang ... kenapa bangun? Kamu pasti kaget ya. Maaf ya." Lirih Aralia mengambil Bianca lalu menimangnya.
"Hei cantik ... kau terbangun?" Varga mencubit pipi Bianca gemes. "Akan aku buatkan susu untuknya." sambungnya melirik Aralia.
"Aami ...,(mami)" Bianca mengoceh
"Yei ... bilang apa sayang .... Mami?" Aralia senang mendengarnya.
"Ma mi ...," ulang Aralia mencium Bianca yang sangat lucu.
"A mi..."
"Iya mami bukan Daddy." ulang Aralia senang.
"Hei apa maksudnya bukan Daddy?" Protes Varga menyerahkan botol susu pada Aralia.
"kata Bianca dia nggak suka sama Daddy nya." Aralia menjulurkan lidahnya ke arah Varga. Bukanya marah Varga malah menyikapi dengan kekehan ringan.
"Dasar kau ini, satu-satunya orang yang paling di cintai putriku itu adalah Daddy nya. Kau harus tahu itu."
"Apaan ..." Protes Aralia meletakkan Bianca kembali ke tempat tidurnya, memberi bayi itu susu dan Varga menyalakan musik pengantar tidur bayi yang terpasang dalam ranjang Bianca.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bianca tertidur, Aralia mematikan musik itu dan hendak berjalan ke tempat tidurnya. Varga menahan Aralia di pergelangan tangannya.
"Apa ...," Geram Aralia tanpa suara, tak ingin Bianca terbangun kembali.
"Ayolah ... kau tidak ingin memaafkan aku?" Mohon Varga setengah berbisik. Aralia berjalan ke balkon. Menyederkan punggunya di batasan balkon, mengangkat kepala dengan sangat angkuh.
Varga meringis melihat tingkah sombong istrinya. Baginya masalah hari ini akan ia selesaikan hari ini juga dan itu sudah menjadi kebiasaannya. Tapi perempuan disana begitu angkuh. Varga mengeryitkan kening bertaya dalam hati. Sebenarnya kesalahan apa yang ia lakukan hingga harus seperti pengemis jalanan mengiba demi sebutir nasi.
Varga menghampiri, "maaf ...," Lirihnya memasang wajah penuh harap.
Aralia berdecak sebal, sebenarnya dia hanya ingin memancing Varga marah supaya pria itu memusuhinya hingga menaruh rasa benci padanya. Itulah yang dia inginkan dari Varga.
Aralia ingin Varga membencinya dan mungkin saja itu menjadi jalan berpisahnya mereka. Tapi Aralia harus menelan rasa kecewa. Pria itu dewasa dan lihatlah bagaimanapun Aralia menatapnya tetap saja cahaya mata terang Varga meluluhkan hatinya.
"Baiklah aku maafkan." Aralia menghela napas lelah.
"Sungguh?" Seru Varga, dia seperti anak kecil yang mendapatkan sesuatu kesukaanya. Varga lupa, hendak memeluk Aralia namun gadis itu melangkah mundur sembari memberi isyarat lewat jarinya.
Varga berhenti di tempat dan menjaga jarak setengah meter. Melihat itu mulut Aralia melengkung membentuk senyuman.
Lima menit mereka berdiri di sana, Aralia menatap lurus ke depan begitu juga dengan Varga. Malam semakin larut rasa dingin juga mulai menusuk sendi. Varga melirik Aralia dan ...
"Ini sudah larut, kau tidak tidur?" tanya Varga.
Tidak menjawab Aralia bergerak masuk ke dalam. Meletakkan ponsel di atas nakas lalu naik ke atas ranjang
Varga mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur membuat ruangan itu menjadi remang.
Malam itu Varga tak sedikipun memejamkan mata, ia berusaha namun gagal setiap kali matanya terpejam.
Arrh... keluhnya, setiap memejamkan mata yang ia lihat adalah bayangan love yang mengirim pesan pada Aralia.
Apa-apaan ini? Aku bisa mati penasaran!
Varga sontak bangun dan menoleh ke arah Aralia. Gadis itu tengah tidur nyenyak.
Varga menghampiri dan memperhatikan begitu tenangnya tidur Aralia. Menggemaskan batinya
Varga ingin sekali membelai pipih polos Aralia dan mengecupnya. Tanpa sadar Varga sudah mendekatkan diri dan hampir saja melakukan itu.
Apa yang aku lakukan? Aih ... aku sudah seperti pria brengsek saja.
Varga tersadar dan menarik diri, sebelum kembali ke sofa ia tertarik dengan ponsel Aralia yang ada di atas nakas. Varga mengambilnya dan mencoba membuka.
Sial! Ponsel itu minta sandi atau sidik jari.
Varga mendesah putus asa. Sebenarnya dengan tingkat kemampuan otaknya bisa saja ia membuka kunci telpon itu tapi ia tak ingin menghabiskan waktunya untuk itu meski rasa penasaran masih menghantuinya.
Varga meletakkan ponsel itu kembali, menatap istrinya itu sejenak. Merapikan selimut Aralia yang tertendang.
______________________________________________
__ADS_1
"Hai sayang," Reven menyapa Aralia yang tengah duduk di bangku panjang taman kampus.
"Hai ...," Aralia tersenyum membalas sapaan itu. Reven duduk disampingnya, mengambil tangan Aralia dan mengenggamnya.
"Kau mau berkencan?" Tanya Reven.
Aralia menganga tidak percaya, Reven mengajaknya berkencan.
"Jangan konyol," jawab Aralia dengan kekehan ringan.
"Apanya yang konyol?" Reven tertawa kecil.
"Aku masih ada mata kuliah di jam sebelas, dan kau malah mengajakku berkencan."
"Oh ... maafkan aku, sayang. Tapi, apa kau tidak merasa bosan dengan buku-buku itu? Kau sudah belajar dari usia dini sampai sekarang dan itu melelahkan bukan?" Reven, memainkan ujung rambut Aralia.
"Itu karena aku punya mimpi, Re."
"Ayolah ... Ara, tiga jam tidak akan mengubah mimpi itu kan?"
Aralia mendesah, menatap Reven yang memberi tatapan penuh harap.
"Baiklah," sahut Aralia memustuskan, dan terdengar sorakan yes dari Reven penuh semangat.
"Kemana? Mall, Pantai, Museum?" Reven memberi pilihan.
"Biasanya pasangan selingkuh berkencan kemana ya?"
"Hotel." Jawab Reven membuat Aralia melotot.
Reven terkekeh menepuk-nepuk kepala Aralia lembut. Aralia mengerucutkan bibir memasang wajah masam.
"Aku tidak suka kalau hubungan kita di sebut pasangan selingkuh, Ara." Protes Reven, entah kenapa dirinya tidak suka mendengar dua kata itu.
"Maaf," sesal Aralia menundukkan kepala.
Reven mengedipkan matanya, menangkup dagu Aralia dan menatap kedua bola mata gadisnya itu. Reven tersenyum lalu berdiri mengulurkan tangannya. "Ayo kita pergi."
Aralia menggigit bibir bawahnya, lalu bertanya " jadi kita kemana?"
Reven terkekeh, melihat keraguan di wajah Aralia. "Percayalah aku tidak akan membawamu ke hotel." katanya
"Yang benar saja." Aralia menyambut tangan Reven dan keduanya berjalan ke area parkiran. Reven mengambil helem dan memberikannya pada Aralia dan ia juga memakai satu untuknya.
"Jadi kau sudah merencanakan ini?" Tanya Aralia memperhatikan helem yang diberikan Reven padanya.
"Tentu, sayang. Naiklah!"
Aralia tertawa kecil, ia tak menyangka dengan rencana konyol pacarnya itu.
Aralia segera naik, duduk seraya mengenakan helem lalu mengalungkan kedua tanganya pada pinggan Reven.
__ADS_1
Motor ducati milik Reven meluncur meninggalkan area kampus menuju ke suatu tempat.