IPAR

IPAR
Tiap detakan napas


__ADS_3

Sosok Reven hadir mengejutkan Aralia. Ia datang membawa cake ulang tahun dengan lilin angka dua puluh menyala di atasnya.


"Apa yang kau lakukan disini, Reven?" tanya Aralia gugup. Wajahnya pucat dengan degupan jantung tak beraturan. Detakan jantung itu sangat berbeda dari yang ia rasakan sebelumnya. Terasa berkejaran hingga membuatnya ketakutan.


"Selamat ulang tahun Ara." Reven menyodorkan cake itu.


"Pergilah ...." Mohon Aralia dengan tatapannya. Ia hendak menutup pintu kembali tapi tertahan tangan Reven.


"Apa begini caramu menyambutku, Ara? Aku datang dari tempat jauh untukmu. Maaf ini agak terlambat tapi andai aku tahu kau disini lebih awal sudah pasti tepat di pergantian hari aku akan mengejutkanmu."


"D-dari mana kau tahu aku disini?"


"Tiup dulu lilinnya nanti habis terbakar. Buatlah permohonan sebelumnya." Reven tersenyum.


"Maaf, kau tidak perlu report memberi kejutan untukku. Aku sudah menerimanya dari suamiku." Aralia berujar.


"Ara!" Reven meninggikan suaranya hingga menggema di langit-langit koridor. "maaf," lirih Reven saat menyadari suaranya membuat Aralia ketakutan.


Reven tersenyum, "aku mohon," ujarnya.


Aralia keluar menutup pintu di belakangnya. Wajahnya pucat.


"Apa suamimu tidak ada? Dia boleh datang kesini untuk bergabung. Dia harus lihat bagaimana kita saling mencintai." ujar Reven memprovokasi.


"Hentikan Reven! Hubungan diantara kita sudah berakhir. Apa kau tidak mengerti apa yang aku katakan? Sudah ber ak hir! Aku tidak butuh perhatian atau kejutan seperti ini. Pergilah!"


"Waoh," Reven menarik tangan Aralia keras hingga membuatnya meringis. "Tapi aku tidak ingin putus. Aku akan membayangimu terus sampai kau merasa kalau akulah pria yang tepat untukmu."


"Lepaskan!" Kenapa bisa dia berubah begini? "Aou kau menyakitiku." Ringis Aralia.


Reven menarik Aralia semakin mendekat hingga sejangkauan jari dewasa.


"Tiup lilinnya!" Bisiknya di wajah Aralia.


"Baiklah, baiklah akan aku tiup." Aralia menitikkan air matanya yang sudah menggenang di sana. Reven mengusap air mata itu dengan jemarinya.


Reven mendekatkan cake itu, dengan ketakutan Aralia meniupnya. Butuh waktu lama melakukanya. Napasnya putus-putus sementara lilin sialan itu bergantian nyala setelah berhasil meniup satu, saat meniup yang satu lagi malah menyalakan yang lain. Aralia geram ingin menghancurkanya.


"Ye ...., Selamat ulang tahun sayang. Panjang umur ya. Kau mau lakukan apa di usiamu yang sekarang?" kata Reven setelah Aralia berhasil meniup lilinya.


"Menjauh darimu, itulah yang ingin aku lakukan."


Reven menarik kembali tangannya Aralia kencang. Ia berang, "Kau mencintaiku apa kau lupa dengan kata-katamu?" Menatap tajam dan dalam hitungan detik tersenyum manis. "Oh ya ... ciuman pertama? Tentu! Bagaimana kalau kita melakukannya. Aku tidak peduli meskipun pria itu mengambilnya. Bagiku itu akan selalu yang pertama untukku." Reven menarik pinggang Aralia membuatnya mendekat paksa.


"Aku tidak mencintaimu! Tidak lagi! Kau kenapa begini." Gertak Aralia berusaha menarik tubuhnya menjauh. Tapi Reven terkekeh membuatnya bergidik ngeri. Pria itu berubah, tidak seperti Reven yang pernah hadir dihatinya.


Reven tetap menahan Aralia dan bahkan hanya dengan satu tarikan saja. Wanita di hadapannya itu akan menghambur kepelukannya.


Ding pintu lift terbuka menunjukkan sosok Varga dengan ceriah secerah hari itu. Keluar dari dalam lift membawakan buket bunga.


Langkahnya terhenti, melihat adegan di depannya. Pria itu menarik paksa pinggang istrinya dan Aralia berusahan melepas tangan Reven.


"Apa yang kau lakukan? Varga bertanya dengan nada rendah dan dalam, kedua matanya menatap dingin dan suram pada Reven.


Seketika Reven melepaskan Aralia, hingga terbentur ke daun pintu. Aralia meringisi menahan sakit.


Reven menyeringai, menunjukkan kue ulang tahun di tangannya.


"Hanya memberi kejutan untuk orang yang aku cintai." Katanya santai. Varga tersenyum sinis. Aralia berlari ke arahnya.


"Kakak ...," Aralia merangkul pinggang Varga erat. "Aku tidak memintanya datang, aku tidak tahu kenapa dia bisa disini." Aralia mengaduh melihat sorot tajam Varga yang terarah pada Reven.


Rasa sakit yang begitu dalam di rasakan Reven saat melihat Aralia merangkul Varga, suaminya. Reven menyeringai sinis.


Varga mencium pucuk kepala Aralia, lalu menyerahkan bunga di tangannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Reven.


"Kau telah melewati batas Reven." ujar Varga, melepas pelukan Aralia. Mendekati pria yang tampak santai di sana.


"Kakak."

__ADS_1


"Diam!" Bentak Varga mengunci mulut Aralia yang berusaha bicara.


"Kau menganggu istriku sejauh ini. Hubungan kalian sudah berakhir. Dia membuangmu. Jadi menyingkirlah."


"Kau yakin dia membuangku?"


"Sangat yakin." Reven tersenyum kecut.


"Tapi sayangnya dia masih menerimaku, lihatlah dia bahkan meniup lilinnya." Reven terkekeh sinis. Menunjukkan lilin di cake itu. Menjadikannya senjata memancing amarah Varga.


Aralia menatap kesal Reven. Bagaimana pria itu menjadi sangat licik.


Varga menarik kerah baju Reven, menyudutkan pria itu ke dinding. Membuat cake ditangannya terjatuh ke lantai.


"Dengar baik-baik! Jangan menatap istriku dan jangan mendekatinya lagi! Kau sudah kelewat batas! Jika hal ini terjadi lagi aku tidak akan tinggal diam." Varga menekan Reven ke dinding dengan kuat.


"Ada istriku disini, selagi aku bermurah hati sebaiknya kau pergi! Atau aku panggilkan polisi." Dengan satu tendangan di dengkul. Reven berjongkok di hadapan Varga memekik.


"Sialan!" Umpat Reven menahan sakit, berusaha bangun. Aralia berlari ke belakang tubuh Varga. Tatapan sinis dari Reven membuatnya takut. Reven ingin membalas tendangan Varga tapi ia memilih meninggalkan tempat itu daripada berhadapan dengan polisi. Dia sudah datang kesana menjadi tamu Lisa.


Setelah Reven menghilang dari tatapan mereka, Varga membuka pintu dan membantingnya kasar.


Aralia terperanjat, dengan bunga di tangan. Mengikuti dan meletakkan bunga di atas ranjang.


Varga menyibak tirai dan berkacak pinggang menatap keluar, amarahnya tertahan.


"Kakak, aku minta maaf hiks." Aralia memeluk Varga dari belakang. "Aku tidak tahu kenapa dia bisa datang ke sini, hiks." Mengeratkan pelukannya. Varga terpejam, ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tidak hadir di sana.


"Ara minta maaf, sumpah Ara tidak pernah mengundangnya kesini."


"Tapi, Ra ...kenapa dia bisa disini? Di depan kamar hotel kita! Dari mana dia tahu kau ada disini?" Varga berbalik, Aralia melingkarkan tangannya dan sesegukan di dada Varga.


"Aku tidak tahu, aku pikir itu kakak jadi aku membukakan pintu. Ara minta maaf. Kakak percaya tidak sih sama aku?" Mendongak, bertanya dengan suara melengking.


"Pria itu, pria seperti itu yang kamu cintai Ara? Orang tidak waras begitu. Dia bahkan nekat menemuimu kesini. Dan aku tidak tahu apa yang dia lakukan jika aku tidak pulang!" kata Varga mengertakkan gerahamnya.


"Maafin Ara kak, hiks" gumamnya masih mendekap Varga.


"Kau! Aku hanya meminta hal kecil untuk kau lakukan dan kau mengabaikannya. Ara!" Mengeratkan pelukan, Varga menyugar rambutnya gusar. Berjalan ke ruang kamar Aralia mengikuti setelah Varga melepas tangan Aralia darinya.


Varga mengambil ponselnya dan mencari nama itu kemudian di blokir. Varga duduk di atas tempat tidur, tampak suram menatap Aralia berdiri di depannya ketakutan dengan wajah pucat.


"Ck, kemarilah!" Varga menarik tangan Aralia mendekat dan memposisikan istrinya itu di pangkuannya.


"Kau yakin tidak mencintainya lagi?" Cepat Aralia mengangguk. "Jangan mengangguk, jawab!" Varga tidak senang melihat anggukan Aralia.


"Iya aku tidak mencintainya." katanya yakin.


"Siapa yang kau cinta sekarang?" Tanya Varga menangkup dagu Aralia membuat keduanya bersitatap.


"Kak Varga,"


"Sebesar apa cintamu padaku?"


"Sebesar bumi ini," Varga menahan tawa jawabannya sungguh menyebalkan tapi membuatnya tersenyum simpul.


"Besar sekali ya, Ara." Aralia mengangguk. Varga terbahak.


"Kenapa kakak tertawa." Aralia bingung.


"Aku sangat senang kau mencintaiku sebesar bumi. Sangat luas rupanya." Nada meledek.


"Kak Varga meledekku ya?" Varga mengelengkan kepalanya. Menatap Aralia yang sembab. Riasanya pudar hitam-hitam, dasar Eyeliner murahan.


Hatinya melembut melihat tatapan istrinya yang sendu, "Kau suka bunganya?" tanya Varga saat melihat buket bunga di sampingnya, mencoba mengalihkan perbincangan tentang Reven.


Aralia mengangguk, "tapi itu bunga apa?" Tanyanya lirih.


"Edelweiss, bunga abadi." Varga mengambil bunga itu. "Cantik kan?" Aralia mengangguk. Lalu mengerutkan kening.

__ADS_1


Tidak cantik dan itu kering, "Kenapa tidak memberiku mawar seperti biasa -biasa yang di lakukan pasangan lainya."


"Karena bunga ini melambangkan cintaku padamu Ara. Cinta yang tidak tumbuh di sembarang tempat dan sekali bersemi bunganya akan abadi dan tidak pernah layu."


Aralia mengamati bunga itu lalu mengangguk paham "Kalau begitu aku tidak mencintai kak Varga sebesar bumi lagi." Tidak konsinten menarik kata-katanya kembali.


"Jangan coba-coba kurangin." Varga mengecup ceruk leher Aralia lembut.


"Tapi aku akan mencintai kak Varga disetiap detak jantungku, setiap hembusan napasku akan menyebut nama kakak. Hingga detik mereka meninggalkan jiwa ini." katanya sungguh-sungguh. Tatapan cinta yang di pancarkan bola matanya sangat indah dan penuh ketulusan. Varga terhayut berhenti mencicipi leher Aralia. Menatap Aralia yang duduk di pangkuannya lebih dalam.


Varga menyesap bibir Aralia lembut dan lama. Ciuman manis penuh cinta tanpa adanya hasrat disana.


"Nyonya Sadah terima kasih karena sudah mencintaiku sebesar itu. Jadi maukah kau berkencan denganku?" Tanya Varga setelah melepas ciumannya.


Aralia mengangguk semangat, " dengan senang hati suamiku," ucapnya menyusuri rahang Varga dengan jemarinya.


"Baiklah, bersihkan riasanmu dan jangan memakainya lagi. Kakak tidak suka."


"Kenapa? Aku sudah berusaha melakukannya." Aralia cemberut.


"Kau sudah sangat cantik tanpa itu. Cepatlah ini sudah jam tiga sore." Aralia tersipu malu, lalu mengangguk. Saat dia berbalik ada sesuatu yang masih menganjal hatinya.


"Kakak," lirihnya membawa Varga menatapnya.


"Mmm,"


Aralia menelan salivanya, membasahi kerongkongan yang seolah lama kering. "Aku tidak mengundangnya kesini, sungguh! Aku juga takut saat melihatnya di sana. Kakak bisa percaya kan sama Ara?" katanya dengan tatapan serius dan penuh rasa penyesalan.


Varga mengangguk, "Kakak percaya," ujarnya, membuat Aralia tersenyum dan menghampiri lalu menghadiahi Varga kecupan dibibir. Detak jantung Varga berkejaran. Meski hanya kecupan rasanya membuatnya melayang ke langit tujuh. ( lebay) Aralia berlari ke kamar mandi.


Dalam kesendiriannya Varga memikirkan bagaimana Reven bisa sampai di tempat itu. Dan kenapa pria itu begitu nekat menghampiri Aralia istrinya. Aralia dalam bahaya kalau Reven belum bisa menerima di tinggalkan. Ck!


______________________________________________


"Apa? Ya ampun pria ini. Kau seharusnya lebih nekat. Kalau kau tidak bisa menidurinya setidaknya cium paksa." Lisa kesal, saat mendengar cerita Reven.


"Apa maksudmu menidurinya?" Reven mengangkat kepalanya menatap wanita di depannya itu.


"Kau tidak akan mendapatkan Aralia dengan cara baik-baik. Paksa dengan menidurinya kau bisa menguasainya bukan?"


"Dasar wanita iblis! Kau pikir aku pria apaan. Aralia bahkan ketakutan melihatku. Aku sangat sedih." ucap Reven, sorot matanya sedih saat melihat Aralia berlari ke punggung Varga.


"Astaga Reven! Dengan memaksanya kau bisa memilikinya. Varga akan mencampakkanya setelah mengetahui istrinya di jamah pria lain. Apalagi dia tahu kau itu bekas pacarnya." Lisa menghasut dengan api dimatanya.


"Aku akan mendapatkan Aralia dengan cintaku, dengan caraku bukan dengan memaksanya. Kenapa bukan kau saja yang melakukannya? Tiduri pria itu, bereskan?"


"Ha ha, itu hampir terjadi kalau bukan karena kekasihmu itu menerobos masuk ke kamar ini." sahut Lisa kesal di awali kekehan geram.


Reven tergelak, bergema di ruangan itu menatap Lisa terlihat kesal.


"Memalukan sekali." ujarnya, mengambil jaketnya dari atas tempat tidur. "Bagaimana kau melakukannya?" Reven penasaran sembari menahan tawa.


"Bukan urusanmu." jawab Lisa kesal. Reven menggelangkan kepala, melihat ambisi Lisa.


"kau mau kemana?" tanya Lisa saat melihat Reven bangun dari duduknya.


"Memang mau ngapain lagi? Aku mau pulang."


Lisa menarik napas panjang. "Mari kita pulang bersama, aku juga akan pulang hari ini." ucapnya lelah, mengambil koper dan menariknya keluar kamar.


"Jangan samakan kau denganku, Lisa. Aku punya cinta untuk Aralia." ujar Reven.


"Ya, ya, lalu kau pikir aku tidak mencintai Varga?" Lisa menutup pintu.


"Cinta sepihak," ujar Reven meledek.


"Lebih baik daripada di campakkan bukan?" Lisa terkekeh.


Benar, itu lebih menyakitkan batin Reven mengikuti langkah Lisa.

__ADS_1


catatan : Terimakasih untuk partisipasinya sudah membaca cerita ini. Terimakasih sarannya. Jangan lupa like dan Vote ya untuk semua. Penuh harap nih Vote nya.🤗🤗🤗. Vote tiap hari minus 😭😭😭😭. Bantu saya kakak semuanya.


__ADS_2