IPAR

IPAR
Rupaya kakak mesum ya


__ADS_3

"Cih dasar wanita tidak tahu malu," gumam Aralia mengenggam tangan Varga erat. Mereka baru saja keluar dari lift.


Genggaman itu semakin mengetat dan mampu mengalihkan tatapan sibuk Varga dari ponselnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Varga mengikuti arah tatapan Aralia.


"Tidak apa-apa kak," sahutnya menatap lurus dimana Lisa menunggu Varga di lobi hotel.


Varga tersenyum, jadi itu alasannya ia mengeratkan genggamannya? " Kau mau aku naik taksi online saja?" Tanya Varga menghentikan langkah kakinya.


"Jangan! Aku percaya kok sama kakak," Aralia menyengir manis. Sangat manis sampai-sampai darah Varga mendesir seketika. Entah kenapa setelah merasakan tubuh istrinya ia berubah jadi nafsuan. Varga menggelengkan kepala. Varga harus fokus kalau tidak dia bisa balik lagi ke kamar dan menghajar istrinya itu.


"Kau yakin?"


"Yakin..." Mengikuti langkah Varga menghampiri mobil yang akan membawa mereka ke tempat kerja.


"Pagi pak Varga." Sapa Lisa membukakan pintu untuk pria itu. Padahal sebelumnya itu tidak pernah terjadi. Lisa sekretarisnya bukan supirnya, Aneh.


Aralia menatap Lisa dengan tatapan cemohan, menilai penampilan wanita tidak tahu malu itu. Lalu mendengus. Seolah ingin mengatakan kenapa kau seksi begitu bodoh?


Varga mengabaikan sapaan Lisa, mencium kening Aralia lembut lalu berujar di belakang telinganya." Buang nomer pria itu dari ponselmu dan jangan angkat panggilannya. Paham ...?" Aralia terperanjat, tapi mengangguk patuh.


Lisa memutar bola matanya malas melihat adegan romantis. Dimana sang istri mengantar suami ke depan pintu dan suami melabuhkan ciuman di kening lalu si supir membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Apa! Jadi aku supirnya? Batin Lisa kesal sendiri sama lamunanya.


Aralia melambaikan tangan ka arah mobil yang membawa dua orang itu keluar hotel.


Apa! Apa dia menyelisir isi ponselku? Tapi kapan? Ah aku bahkan belum menyentuh ponselku pagi ini.


Aralia melangkah menghampiri lift dan ingin cepat-cepat baringan di kamarnya. Sebenarnya Varga sudah bilang kalau istrinya itu tidak perlu mengantarnya sampai lobi, tapi Aralia kekeh menyeret kakinya turun meski seluruh tubuhnya remuk dan jalannya sedikit menyusahkan hanya untuk melihat Lisa.


Nyatanya Lisa memang bermuka tembok, wanita itu tampil cantik dengan dress merah melekat di lekukan tubuhnya yang seksi.


Lisa pasti sengaja mengenakan pakaian seksi, dadanya saja membusung minta di perhatiin, ah sebalnya.


Aralia melempar dirinya ke kasur meraih guling dan memeluknya erat. Dirinya sangat lelah setelah melewati pagi yang panjang. Si pria itu berubah menjadi pria mesum setelah Aralia menyerahkan dirinya. Seolah tidak ada hari esok hingga menganggu istrinya sepanjang pagi.


Dia tidak tahu apa aku ini masih perawan dan butuh waktu untuk beradaptasi? Gumam-guman Aralia mengingat bagaimana Varga mengajaknya mandi bersama di pagi buta lalu berakhir dengan adegan panas.


Muah, muah, muah ... kecupan bertubi-tubi pada bibir, pipi dan menggigit kecil leher Aralia, membuat istrinya itu tergelak merasakan geli-geli aneh pada sentuhan itu.


"Kakak!" Protes Aralia, di sele-sela tawanya.

__ADS_1


"Ayo bangun, temanin kakak mandi." Meminta tanpa rasa malu, dan apa itu? Apa dia semesum itu?


"Eh?" Aralia menaikkan selimut yang membungkus dirinya untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Tidak mau Ara masih mengantuk." jawabnya malas.


Tiba-tiba Varga menyibak selimut yang membungkus Aralia, menunjukkan tubuh polos istrinya itu. "Kakak!" Teriaknya menutup dadanya dengan kedua tangan menyilang disana."Wah rupanya kakak mesum ya?" Varga menyeringai penuh misteri lalu menghujani ciuman di wajah Aralia.


Bagaimanapun Aralia menutupi tubuhnya, Varga tetap menyingkirkan penghalang matanya untuk memindai istrinya itu. Melukis tubuh itu dalam ingatannya, permanen.


Peluk cium, peluk cium, begitu cara Varga menyiksa Aralia.


Varga menatapnya penuh puja, lalu menunduk mengangkat tubuh Aralia membawanya ke kamar mandi, mengabaikan penolakan Aralia.


Meletakkan Aralia pelan dalam bathup yang sebelumnya sudah di isi air lengkap dengan minyak aroma kelopak mawar. Aralia terkesiap menahan dingin menusuk kulitnya.


"Sudah gila ya?" Teriak Aralia menatap suaminya itu kesal. Varga semakin iseng dengan masuk ke dalam bathup dan mengecupi seluruh tubuh istrinya itu dengan mata berkabut penuh gairah.


"Mmm ... siapa suruh punya tubuh seindah ini ..." Meracau menjelajahi tubuh Aralia dengan mulutnya.


Jadi itu salahku? Kau sangat nakal rupanya.


"Ara lelah, masih banyak hari untuk melakukan —" banyak bicara. Varga menyumpal mulut Aralia dengan lidahnya. Mendorong masuk lalu menjelajah di setiap sudut. Menarik kembali dan berpindah ke bagian leher menggigit disana dan menyapukan lidahnya pada telinga Aralia. Aralia menggeliat, " Geli kakak ...."


Jangan lakukan disitu!


Varga sudah mengecupi perut datar Aralia, membuat istrinya itu mendesah.


Sentuhan-sentuhan nakal yang dilakukan Varga pada akhirnya membuat Aralia menyerah dan bahkan ikut menggila mengabaikan rasa perih di area sensitifnya.


Pagi itu pasangan itu kembali menyatukan diri dan berakhir mandi bersama, Varga mengusap punggung putih Aralia lembut dengan busa sabun. Sesekali menggigit pundak istrinya itu geregetan hingga Aralia mengaduh.


Varga memperlakukannya layaknya seorang ratu, dari mengeringkan rambut, tubuh. Sambil berceloteh. Ini milikku, Ara sayangku, Cintaku. Kau tahu ? Ada tiga tahi lalat di punggungmu mereka sangat cantik disana.


Apa cantinya tahi lalat ....berhenti memuja tubuhku! kakak memuji atau mengejek sih?


Lalu membawanya kembali ke ruang kamar, membantu mengenakan pakaian, saat sadar tanpa hasrat Varga tergelak menyadari bagaimana ia bisa melakukan itu. Memberi cap di seluruh tubuh Aralia.


"Terima kasih sayang. Muah ...." Ciumnya panjang di bibir Aralia sebagai rasa puasnya.


"Kak Varga kerja?" lirih Aralia memeluk guling duduk di atas kasur. Varga sedang mengenakan pakaianya di depan cermin.


"Mmm ..., nanti sore kakak janji bawa Ara main keluar ya." katanya memasang dasinya.


"Kapan kita pulang?"

__ADS_1


"Besok siang,"


Cup! Satu kecupan lembut di pucuk kepala Aralia.


"Tidurlah kau pasti lelah." katanya lembut membantu Aralia berbaring.


"Aku mau antar kakak ke lobi." *Sekalian mau lihat wanita itu. Apa dia masih punya nyali muncul di hadapan pria mesum ini*.


"Bahkan dia sudah lupa kalau semalam dia gila." gumam Aralia, menoleh ke arah Varga yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Apa sayang ...?" Aralia cepat menggeleng.


"Aku sudah pesanin sarapan pagi kamu, nanti jam delapan diantar. Makan! Istirahat! Itu tugasmu hari ini." Katanya memberi perintah.


"Mmm ...aku antar ke bawah ya."


"Tidak perlu, istirahat aja."


"Aku antar!" Nada maksa.


"Baiklah sayang," Lembut takut di makan hidup-hidup. Membatu Aralia turun dari tempat tidur dan mengenggam tangan istrinya itu keluar kamar. begitu kisah mereka di pagi hari hingga berpisah di lobi.


Apa? Apa tadi kak Varga bilang?


Reflek Aralia bangun dan mengambil ponselnya dari atas nakas, dibacanya lima panggilan Reven.


Ah ... Reven ini! Bahagialah kau disana cari pacar baru. Aku mohon ....


Aralia melempar asal ponselnya di atas tempat tidur.


___________________________________________


Varga terlihat sibuk mengerjakan sesuatu dalam ponselnya mengabaikan Lisa yang duduk di sampingnya. Wanita itu melirik-lirik dari ekor matanya. Salah tingkah karena semenjak naik ke mobil dan hingga detik itu Varga tidak menolehnya atau bersuara.


Hanya satu yang di tanggap Lisa dari Varga. Wajah pria itu berseri-seri layaknya remaja jatuh cinta yang baru saja melakukan ciuman pertama.


Aku harus mengatakan apa? Apa si Aralia itu mengadukan yang aku katakan tadi malam? Ah ...masa bodoh aku harus membela diriku.


"Pak Varga masalah tadi malam saya minta maaf, saya tidak bermaksud mem—


"Stss, jangan menganggu suasana hatiku yang lagi sa .... ngat baik ini, Lisa." Varga tersenyum tanpa menoleh pada Lisa.


Entah kenapa Lisa merinding di buatnya seolah ucapan itu membawa hawa dingin menyerbu tengkuk Lisa membuatnya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kita bahas itu nanti setelah pekerjaan ini rapi. Aku tidak ingin gagal karena masalah itu." Varga tetap menatap kedepan.


"Carikan jenis minuman yang bisa membuatku mabuk hilang kendali saperti yang kau pesan tadi malam. Aku ingin kau mencobanya di depanku setelah urusan kita selesai di kota ini." ucap Varga santai, membuat Lisa tergugup. Kaku diam di tempatnya tanpa sepatah katapun.


__ADS_2