IPAR

IPAR
Siapa pria itu?


__ADS_3

Sampai sore hari, Aralia tak kunjung pulang. Panggilan dari Varga yang kesekian kalinya ia abaikan. Perempuan itu kini berada di ruang perpustakaan. Menyendiri tanpa satu buku di meja. Ia memejamkan mata dengan kepala mendongak keatas, kedua tangan terlipat di dada. Pikirannya hanya pada Reven kekasihnya. Bahkan Aralia tidak mengikuti pelajaran dan ketiga temannya tak satupun yang tahu kalau dirinya berada di ruang baca.


Ck brisik, mengganggu saja benaknya merasakan getar ponsel di dalam saku jaket yang ia kenakan.


Sementara di tempat lain, Varga memarkirkan mobilnya di area parkiran kampus. Mencari Aralia di sekitar kampus. Beruntung Ilir dan Lea berpapasan dengannya dan langsung menyapa.


"Paman ...," Serentak Ilir dan Lea memanggil, membuat Varga berbalik.


"Hai, Ah kalian temannya Ara, kan?"


"I-iya Paman ...," jawab Ilir, "eh ...maaf Pa-man." Ilir mengetok mulutnya, tak enak hati memanggil pria tampan itu dengan sebutan Paman.


"Terserah manggil apa," Varga tersenyum ramah.


"Kalau manggil sayang bisa?" Tiba-tiba saja Cayrol yang baru datang dengan gaya centilnya berujar.


Varga terkekeh, "Jangan dong ...saya suami teman kalian loh," ujar Varga dan membuat Cayrol tampak mencibir.


"Tapi kan Aralia tidak suka sama Paman tampan. Buktinya dia dah punya pac—," Lea membungkam mulut Cayrol yang hampir saja mengatakan kalau Aralia memiliki Pacar.


"Paman cari Aralia? Dia tidak masuk hari ini." Sahut Ilir.


" Tidak masuk?" Varga bingung.


"Iya Paman, hari ini dia tidak kekampus." ujar Ilir.


Varga mengangguk, ia melihat ke arah Lea yang masih menutup mulut Cayrol dengan tangannya.


"Lepasin, nanti temannya kehabisan oksigen." ucap Varga tersenyum.


"Eh?" Lea spontan melepas tangannya dan membuat Cayrol bernapas lega.


"Sial ...," Umpat Cayrol kesal.


"Kalau begitu saya permisi ya." Varga melambai pada ketiga gadis itu dan beranjak dari sana kembali ke mobilnya.


Dia ingat apa yang dikatakan Cayrol teman Aralia. Meski tidak jelas tapi ia paham dan mengerti. Kalau istrinya itu sekarang memiliki hubungan dengan pria lain.


Tch, Bahkan dia tidak kekampus. Batin Varga menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Jam tujuh sore, Varga kembali kerumah tanpa Aralia. Kali ini nomer yang ia hubungi sedang tidak aktif.


Ia tampak kesal, berdiri di belakang pintu masuk rumah itu. Menunggu perempuan itu kembali. Seharusnya mereka akan pulang ke rumah mereka.


"Ara belum pulang juga, Varga?" Nisa keluar dari dalam rumah, ia terlihat cemas putrinya itu belum juga kembali dari luar sana.


"Mungkin sebentar lagi, Ma." jawab Varga mencoba menunjukkan raut tenang.


"Nomernya juga nggak aktif, anak itu bikin kesal aja sih."


"Jangan cemas, Ma. Tadi aku dah kekampus kok. Ara memang lagi ada tugas banyak." ujar Varga mengarang.


"Kan bisa di rumah di kerjain, Varga."


"Seharusnya sih,"

__ADS_1


Satu jam kemudian ...


Sebuah taksi berhenti di depan rumah, Aralia keluar dari dalam dan mendapati Ibunya dan suaminya berdiri menunggu.


"Mama ...," sapa Aralia hendak mencium pipi Nisa. Tapi wanita paruh baya itu menarik diri dan dengan ketus mengatakan.


"Menyebalkan! Urus istri kamu Varga! Mama kesal melihatnya." Nisa berbalik masuk kedalam rumah seraya membanting pintu.


Aralia terkejut, ia melirik ke arah Varga yang sudah menatapnya dingin dan membuatnya bergidik ngeri.


"Kau dari mana?" Tanya Varga.


"Kampus lah, dari mana lagi," jawab Aralia acuh. Varga tersenyum kecut.


"Kau yakin?" tanya Varga.


"Mmm...," Varga tampak muram, ia menarik tangan Aralia berjalan ke taman belakang, menjauhi tempat itu. "Apa-apan sih. Lepasin!" pekik Aralia berusaha melepas genggaman Varga pada pergelangan tangannya.


Varga melepasnya dengan kasar, "katakan kau dari mana?"


"Aku sudah bilang dari kampus."


"Ara!" Bentak Varga, suaranya membuat Aralia terkejut ditambah dengan tatapan Varga yang dingin menusuk.


"Apa?"


"Kau sungguh dari kampus atau pergi dengan pria lain?"


"Apa maksudmu?" Gertak Aralia balik.


"Menyebalkan."


"Aku yang menyebalkan atau kau?!" Varga menangkup dagu Aralia, membuat gadis itu menatapnya. "Pesanku di abaikan dan juga panggilan kau abaikan, dan kau bilang aku yang menyebalkan? Suami yang mana yang bisa menerima ini, Ara?" Varga melepaskan tangannya dengan kasar, membuat Aralia kesakitan.


Varga kembali menarik Aralia, dengan melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu, mengangkat tubuh mungil Aralia sedikit ke atas. Mendekatkan wajahnya pada Aralia dengan sangat dekat.


"Katakan siapa pria yang kau temui!" Varga mengeratkan pelukannya membuat Aralia sedikit susah bernapas.


"Lepasin!" Aralia sontak kaget mendengar ucapan Varga.


"Katakan!" Varga semakin mengeratkan pelukannya.


"Itu bukan urusanmu,"


"Benarkah? Tapi sayangnya aku masih suamimu dan terpaksa itu menjadi urusanku," desis Varga mendekatkan wajahnya pada Aralia, dan ia bisa merasakan hangatnya napas istrinya itu.


"Kita sudah sepakat hal itu,"


"Sepakat? Aku tidak pernah sepakat jika ada orang ketiga di hubungan kita. Mengerti?" Kata Varga dengan nada penekanan.


"Katakan! siapa pria itu?" tanyanya lagi, sementara tangannya yang satu menahan dagu Aralia agar tetap melihatnya.


"Ti- tidak ada kak." desis Aralia, suaranya terdengar gemetar seperti hendak menangis.


Varga kecewa, ia melepaskan tangannya dari pinggang Aralia. Perempuan itu ketakutan dan menundukkan kepala di depan Varga.

__ADS_1


"Aku tahu kau berbohong, aku akan memberimu waktu untuk merenung tentang hari ini, dan pikirkan baik-baik bagaimana khawatirnya mama saat tak ada kabar darimu." ucap Varga, "Maaf," Lirihnya merasa menyesal atas sikap kasarnya pada istrinya.


Varga menyugar rambutnya dengan jemari. Mencoba menenangkan diri, seharusnya hal ini tidak perlu terjadi kalau saja Aralia memberi alasan yang bisa menukar kemarahannya.


"Aku mau masuk dulu," gumam Aralia seraya menghindari tatapan Varga.


"Ara ...," Panggil Varga dengan lembut tapi Aralia memilih mengabaikannya dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Saat hendak naik tangga, Aralia melihat ibunya duduk di meja makan dengan tangan mengepal. Aralia membatalkan naik dan menghampiri Nisa di meja makan.


"Ma," Lirih Aralia, membawa Nisa dari pikirannya. Begitu melihat Aralia wajah masamnya kembali lagi.


"Aku minta maaf sudah membuat mama cemas,"


"Tentu saja kau harus minta maaf, Ara. Dan bukan hanya pada Mama tapi suamimu yang sudah menghabiskan waktu menunggumu dengan cemas. Mama mau tanya, apa kelakuaanmu begini juga di rumah mertuamu?"


"Ma ..., Ak-,"


"Sudahlah. Mama kecewa padamu." Nisa beranjak dari sana meninggalkan Aralia ke ruang tamu.


Kembali duduk di sofa, menarik napas dan mencoba menenangkan pikirannya.


"Mama belum tidur?" Varga yang baru saja dari luar, bertanya seraya menghampiri Nisa, mertuanya.


"Oh kau Varga?" Nisa menarik napas lalu menghembuskannya kasar. "Aralia bikin aku kesal saja."


"Sudah ma, Ara sudah jelasin kok. Ada tugas kuliah yang harus di kumpulkan hari ini dan dia sama teman-temannya mengerjakannya sampai selesai." Varga mencoba menangkan hati mertuanya meski harus berbohong.


"Tetap aja mama kesal melihatnya. Sikapnya itu angkuh. Varga aku rasa Aralia tidak perlu kuliah deh, mending ..., bagaimana kalau kaliaan nambah anak saja."


"Eh ..." Varga kaget.


Aralia diam -diam sengaja mendengar perbicaraan itu merasa kesal. Ia segera meninggalkan tempat itu naik ke kamarnya.


"Lagian Bianca juga sudah mau setahun, Bianca bisa di rawat sama besan dan aku bergantian. Bagaimana?" Tanya Nisa menatap Varga.


"A-aku rundingin dulu sama Aralia, Ma. Bagaimanapun dia yang akan mengandung." Astaga bagaimana mau punya anak, hubungan kami saja rumit.


"Kamu bagaimana sih Varga? Usahakan saja sendiri, dia tidak bakalan setuju. Buat seolah -seolah ini kecelakaan."


"Ah ...?"


"Ah kau ini, jangan pakai pelindung." ujar Nisa, meninggalkan Varga terdiam seperti orang bodoh.


Aralia menyisir rambutnya yang masih basa, dari ujung rambut gadis itu masih ada tetesan air yang membuat baju di bagian pundakkanya basah.


Varga masuk ke kamar, melihat ke arah Aralia yang masih berdiri di depan cermin dengan mimik sedih dan juga rasa takut. Varga menghampiri dan mengambil handuk yang tergantung di sandaran kursi. Varga mengeringkan kembali rambut Aralia. Perempuan itu sempat menolak tapi dengan memaksa sedikit Varga berhasil meluluhkan Aralia.


"Eih, keringkan sampai benar-benar kering kalau tidak kau bisa masuk angin nanti. Jangan selalu menyebalkan, mengerti?"


Setelah selesai mengeringkannya, Varga menyibak rambut Aralia. Merapikan poni istrinya lalu menatap Aralia yang juga menatapnya lewat cermin. Tatapan mereka sekejab bertemu tapi Aralia langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Varga tersenyum, "tidurlah, kau pasti lelah." ujar Varga, menarik napas seraya mengambil bantal dan beranjak ke sofa. "Malam, Ara." gumamnya sembari memejamkan mata mencoba tidur.


Aralia melihat ke arah Varga, ia mengingat bagaimana pria itu marah tapi dengan sekejab pria itu bisa melembutkan hati.

__ADS_1


"Orang macam apa dia?" Gumam Aralia, duduk di ranjang seraya menatap ke arah Varga.


__ADS_2