
"Boleh, tapi jangan sampai menganggu istirahatmu, ya." Imbuhnya halus.
"Mmm ..." desis Aralia.
Seketika ruangan itu senyap, Aralia mengatur napas yang membuat dadanya sesak. Sementara Varga menatap kosong ke arah pintu masuk. Pikirannya terbawa dan isinnya samar -samar.
Aralia menarik napas pelan, sekarang detakan jantung itu sudah normal dan itu membuatnya tenang. Aralia pastikan jantungnya berdetak cepat sebelumnya itu karena efek dari obat yang masuk kedalam tubuhnya.
Benar ini bukan karena kak Varga ...
"Kak, aku mau mandi bisa keluar sebentar?"
"Kau bisa sendiri?"
"Mmm ...,"
"Baiklah, telpon aku kalau kau butuh sesuatu dan hati-hati dengan tanganmu yang di infus jangan sampai selangnya kemasukan air." ucap Varga, sebelum pergi Varga membantu Aralia bangun dari tidurnya.
Meski kesulitan menanggalkan pakaiannya tidak menyurutkan semangat untuk membersihkan diri. Badannya terasa lengket membuatnya tidak nyaman.
"Akhirnya ...." Aralia bernapas lega setelah berhasil melucuti pakaiannya satu persatu.
Telpon aku kalau kau butuh sesuatu ...
"tidak akan!" Tegasnya angkuh seraya menyiram tubuhnya dengan shower menggunakan tangan satu sementara tangan yang lain di angkat tinggi-tinggi menghindari air.
"Aku nggak butuh bantuannya." ucapnya lagi, kali ini ritual mandinya sudah selesai. Tinggal mengenakan pakaian bersih yang sebelumnya ia bawakan ke kamar mandi itu.
Pakaian dari pusar ke bawah berhasil ia kenakan, tapi saat mengenakan bra ia baru merasakan kesulitan yang sebenarnya.
"Astaga ini melelahkan!" Gerutunya dan menyerah, ikatan itu tak bisa disatukan.
Telpon aku kalau butuh sesuatu ..., lagi ia mengingat pesan Varga yang belum lama ini ia remehkan.
Apa? Jadi aku harus meminta bantuannya? Aralia membatin geram. Lelah dan menyerah Aralia mengenakan Bra itu tanpa di kaitkan kemudian mengenakan kemeja putih dan mengancing pelan-pelan.
Aralia duduk di tepi tempat tidurnya, perasaanya saat ini tidak nyaman. Bra hitam tanpa kaitan itu penyebabnya.
"Astaga ...," Aralia jengkel, berbaring menutup dirinya dengan selimut. Suara langkah kaki terdengar mendekat di luar pintu rawat inapnya membuatnya sedikit kaku.
Ceklik
Pintu terbuka, menunjukkan sosok Varga melangkah santai menghampiri Aralia.
"Sudah selesai mandinya?"
Aralia tidak menanggapi, ia malah menutup dirinya dengan selimut merasa risi karena saat ini Bra yang ia kenakan kini naik meninggalkan kedua gundukan di dalam dadanya.
Varga menaikkan kedua alisnya bingung. Merasa di abaikan ia menarik selimut Aralia dengan jengkel.
"Kakak!" Aralia terkesiap kembali menarik selimut dan menutup dirinya.
Cukup! Ini sudah keterlaluan.
Varga geram, kembali menarik selimut itu lalu melemparnya ke lantai.
__ADS_1
"Apa masalahmu?" tanya Varga dengan suara mendominasi, tatapan dingin dan raut datar. Aralia repleks duduk, wajahnya pucat bukan karena sakitnya tapi tatapan Varga yang tajam berhasil menusuk kalbunya.
"Kalau ada orang bertanya. Jawab! Jangan diabaikan!" ucapnya penuh penekanan pada setiap kata di sana.
Aralia merasakan jantungnya berdebar ketakutan. Wajah Varga kini sangat dekat dengan wajahnya, pria itu memaksa Aralia menatapnya menahan dagunya dengan jemari tangannya.
Tatapan tajam dari Varga membuat dirinya mengutuk diri sendiri, andai saja ia tidak mengabaikan pertanyaan kecil pria ini.
Varga menekan dagu Aralia dengan jemarinya, membuat istrinya itu mendongak sedikit keatas dengan bibir terbuka. Seksi, membuat Varga ingin mengulumnya.
Tanpa sadar hidung keduanya sudah saling menyentuh, Varga menelan salivanya mencium napas hangat Aralia.
Sedikit lagi, hanya berjarak seinci Varga akan menyentuh bibir itu tapi gerakan pintu terbuka membuyarkan semuanya.
"Pak Varga."
Varga melepas dagu Aralia dari cengkramannya, menolehkan kepala pada asal suara dari pintu.
"Oh, kau sudah datang Lisa?" Segera Varga mengambil selimut yang ada di lantai dan menyelimuti kaki Aralia tanpa peduli bagaimana Aralia menatapnya.
Apa ini ...? jantung Aralia kembali berdetak cepat, bulir di kedua sudut matanya hampir jatuh dan cepat ia menyekanya dengan punggung tangannya.
Lisa, sekretaris Varga di kantornya sedikit melirik ke arah Aralia penasaran.
Jadi ini istrinya pak Varga? Cantik juga.
Ada rasa cemburu pada wanita cantik pemilik body seksi dengan tonjolan dada dua kali lebih besar dari milik Aralia.
"Makasih Lisa sudah menghandle pekerjaanku beberapa hari ini." ucap Varga, setelah menanda tangani beberapa berkas yang di bawakan Lisa kesana.
Aralia tidak peduli apa yang mereka bicarakan, ia lebih tertarik bagaimana caranya mengikat rambutnya yang sedikit menganggunya.
"Tapi tetap saja aku sudah merepotkanmu." Lisa tersenyum, ia melihat ke arah Aralia yang kesulitan mengikat rambutnya ke atas, begitu juga dengan Varga ia mengikuti arah tatapan Lisa.
"Oh ya kau belum kenal sama istriku bukan? Namanya Aralia." ujar Varga, membawa Lisa menghampiri Aralia.
"Ara kenalin dia sekretaris aku, namanya Lisa." ujar Varga mengenalkan Lisa.
Lisa mengulurkan tangannya tapi kemudian ditarik kembali karena Aralia hanya membalasnya dengan deheman sembari menarik kedua sudut bibirnya.
"Apa aku bisa bantu?" Lisa menawarkan diri untuk mengikat rambut Aralia tapi kembali mendapat penolakan secara halus.
"Tidak terimakasih," ucap Aralia menggerai kembali rambutnya.
"Nyonya memang lebih cantik seperti itu." Puji Lisa, tentu dengan senyuman manis tapi tidak dari hati.
Sombong sekali dia ...pikirnya.
"Benarkah? Istriku memang cantik." sahut Varga berbangga hati dan Aralia sama sekali tidak peduli.
"Kalau begitu saya kembali ke kantor pak. Aku masih butuh tanda tangan dari direktur."
"Oh ya, silakan. Sekali lagi terima kasih." Varga mengantarkan Lisa ke luar pintu, tapi entah kenapa Lisa tiba-tiba berbalik hingga menubrak dada Varga.
Keduanya terkekeh, yang satu menahan sakit sementara yang satunya meminta maaf dan yang sedang duduk di atas ranjang sana menonton dengan sudut senyum tanpa menyipitkan mata, kurang nyaman.
__ADS_1
"Maaf pak saya tidak sengaja." ucap Wanita itu, menutup wajahnya tertawa.
Apa itu lucu, batin Aralia.
"Tidak apa-apa,"
Cih, tidak apa-apa ...! batinya lagi menatap kedua orang disana.
"Saya hanya mau mengucapkan selamat ulang tahun pak Varga, panjang umur dan tentu semakin sukses baik itu dalam karir maupu berkeluarga."
Varga tampak kaget, ia menoleh ke arah istrinya dan dengan bodohnya Aralia menyengir.
"Oh ya ampun! ternyata saya ulang tahun hari ini. Sekali lagi terima kasih Lisa ini tentu mengejutkanku."
"Jadi aku yang pertama," Lisa terkejut, melirik Aralia dari ekor matanya.
"Ya. Bahkan aku lupa kalau hari ini aku ulang tahun."
Kak Varga hari ini ulang tahun? Yang keberapa? Ah, ngapain juga aku peduli. Aralia kembali membatin.
"Kita tunggu traktirannya loh pak,"
"Tentu,"
Lisa mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Varga, mereka berjabat kemudian wanita itu pergi dari sana.
Ah ... Varga menutup pintu, memasukkan tangannya kedalam saku celananya tersenyum simpul, kemudian ia berbalik melihat ke arah Aralia yang sudah menutup seluruh dirinya dengan selimut. Varga menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap acuh istrinya itu.
"Ara ...,"
tak ingin kejadian tadi terulang, Aralia langsung menjawab, " iya." jawabnya dari dalam selimut. Varga menghela napas berat duduk mengambil tangan Aralia yang terpasang infus. kemudian Aralia merasakan usapan di telapak tangannya, hangat dan terasa geli.
"Hentikan kak." guman Aralia, menarik pelan tangannya tapi Varga tidak melepaskannya. Ia tetap mengusapnya.
"Kak, jangan bercanda aku tidak suka." Aralia melepaskan menyisihkan selimutnya kemudian mendapati Varga tersenyum manis padanya.
apa-apa sih, tadi aja udah mau nelan.
"Minum ya,"
tanpa menunggu persetujuan Aralia, Varga sudah menyodorkan sedotan ke arah mulut Aralia.
"Sudah," gumamnya melepaskan sedotan dari mulutnya.
Varga meraih wajah Aralia, mengelus pipi itu dengan ibu jarinya. Menatap istrinya itu dalam.
"jangan ulangi lagi yang seperti tadi, aku nggak suka memarahimu." ucap Varga, merasa bersalah. Aralia refleks mengangguk membalas tatapan Varga.
tatapan mereka bertemu, sedikit lama hingga pada akhirnya Aralia membuka mulutnya ingin mengucapkan sesuatu tapi amat sangat sulit.
Varga menyadari hal itu dan bertanya," kau ingin sesuatu?"
Aralia sudah tidak bisa menahannya lagi, pelan ia menggeser tubuhnya lalu mendekatkan diri dan berbisik tepat di telinga Varga.
Varga tersenyum, menatap istrinya yang menunduk malu-malu.
__ADS_1