
Matanya terpejam, menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Ia memutuskan untuk menghampiri Aralia di ruang tidur. Duduk di tepian ranjang, memperhatikan Aralia yang tidur -tiduran dengan selimut menutup tubuhnya.
Lama ia disana, ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya begitu susah untuk bergerak. Suara dan kata-kata yang lolos dari hatinya hanya bisa tersampaikan lewat hati pula. Keberaniaan itu seoalah hilang menghadapi Aralia.
Apa ini? Kenapa aku seperti orang bodoh bahkan hanya untuk menatap Aralia aku tidak sanggup. Varga menelan salivanya dengan satu tarikan napas ia membuka mulutnya.
"Ra, selamat ulang tahun ya," Aralia terkejut membuka matanya dan lansung bertemu dengan tatapan Varga. Aralia refleks bangun dari tidurnya.
"Kakak tahu ulang tahun, Ara?" Sungguh di luar pemikiran Varga. Hatinya bahkan sudah disiapkan menerima makian Aralia atau kata-kata menyakitkan yang kemungkinan akan di lontarkan istrinya itu. Tapi lihatlah bahkan Aralia yang selalu mampu membuatnya stres, kesal seolah melupakan kejadian sial itu.
Varga mengangguk, pria itu kelihatan tenang dengan tatapan hangat seperti biasanya. Tangannya terangkat membelai rambut Aralia.
"Masalah tadi ..., kakak minta maaf. Kau tidak seharusnya melihat β" Aralia menempelkan jari telunjuknya di bibir Varga. Menghentikan pria itu membicarakan kejadian itu.
"Baiklah, cuma aku ingin meluruskannya. Aku tidak mau kau salah paham. Kakak keluar untuk membeli ini ...." Varga mengeluarkan kalung emas bewarna putih dari saku celananya, yang sebelumnya ia keluarkan dari kotaknya karena terkena air saat di kamar mandi.
Menunjukkannya pada Aralia, membuat istrinya itu melebarkan mata takjub.
"Untuk Ara?" Tanya Aralia kegirangan. Dasar labil. Perubahan mood nya sangat gampang.
"Ya ... untuk kamu," Varga membuka kaitan kalung itu dan mengalungkan pada leher Aralia.
Varga membantu Aralia turun dari ranjang, membawanya ke hadapan cermin. Bayangan disana menampilkan kalung yang melingkar di leher cantiknya. Elegan.
"Kak, aku benar-benar menyukainya. Liontinnya juga. Kakak selalu tahu menyenangkan hati Ara." Pria itu mengeratkan tangannya pada kedua lengan Aralia. Bahagia, Aralia menyukai hadiahnya.
Apa ini? Apa Aralia memang begini? Kenapa dia tidak marah?
Aralia menatap Varga lewat cermin lalu ia mengerutkan kening berpikir jangan -jangan Lisa membantunya memilihkan benda itu.
"Kau tidak meminta bantuan Lisa kan?" Intonasi suara naik setingkat.
Ya lebih baik begitu Aralia. Kau tidak perlu berpura-pura melupakannya.
"Untuk apa aku memintanya?" Varga membalikkan tubuh Aralia menghadapnya. "Aku memilihkannya sendiri untukmu," katanya menatap dalam mata Aralia.
"Lalu kenapa dia bersamamu?" Tanya Aralia penasaran. Kalau memang wanita itu tidak ikut dengan Varga lalu bagaimana kejadian itu terjadi.
"Dia menelpon dan minta tolong untuk di jemput. Kakak tidak bisa membiarkan Lisa mabuk di kota ini. Dia memintaku untuk minum sebagai ucapan terima kasih karena sudah bersedia menjemputnya, tapi aku tidak tahu jenis minuman apa yang dia pesan hingga rasanya membuatku hilang kendali, padahal hanya segelas." Varga menjelaskannya hati-hati, salah dikit istrinya itu akan merajuk gila.
Aralia memeluk Varga. Mengeratkan pelukan itu dan menciptakan senyum di wajah Varga. Ini yang pertama baginya tangan istrinya itu melingkar erat di pinggangnya. Syukurlah
"Itu obat perangsang," Varga mengerutkan dahi.
"Dari mana kau tahu?"
"Dari drama, cara untuk memikat pria dengan cara licik ya dengan cara itu." Aralia menenggelamkan wajahnya di dada Varga. Ia juga heran kenapa bisa mengeluarkan kata-kata itu.
"Ha ha ha ..., menurutmu Lisa juga belajar dari drama?" Varga tergelak memenuhi ruangan. Anehnya Aralia juga ikutan terkekeh di dada Varga. "Kau ini." desis Varga, berusaha mencerna. Kenapa bisa tertawa sebahagia itu.
"Pikir sendiri aja? Masa iya kak Varga mabuk hanya karena segelas minuman. Kakak itu bukan mabuk tapi ... itu ... entahlah." Aralia bingung megutarakannya. Dasar Kau ini bodoh atau polos si? umpatnya dalam hati.
Varga menatap dirinya di cermin, Aralia masih memeluknya. Rasanya nyaman.
__ADS_1
Aku pikira juga begitu, Lisa harus bertanggung jawab untuk masalah ini. Kalau sampai yang di katakan Aralia benar maka Lisa harus menanggung resikonya.
Varga membelai kepala Aralia lembut
"Jangan khawatir, aku sudah memberinya pelajaran," kata Aralia mendongakkan kepala melihat Varga. Pria itu menaikkan alisnya penasaran. "Aku menamparnya, sebagai peringatan kalau dia tidak boleh menyentuh milikku." Tambahnya.
"Eh?" Varga terkejut mendengarnya, entah kenapa jantungnya bergemuruh. Istri kecilnya itu menampar Lisa dengan tangan mungilnya? Dan juga tidak kalah kaget saat mendengar ucapan Aralia tentangnya. Kalau dirinya 'miliknya' seolah ucapan itu terdengar posesif. Tapi Varga bahagia, ia tidak peduli jika Aralia membuat batasan, mengatur dan melarangnya untuk berinteraksi dengan wanita lain yang terpenting Aralia mencintainya.
"Kau sungguh melakukan itu?" tanya Varga, dan diangguki Aralia.
"Oh ya ampun, Ra. Kakak tidak menyangka kalau kau berani sekali." Varga membawa Aralia duduk di ranjang. "Lisa tidak melakukan apa-apa denganmu kan?" Tambahnya khawatir. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Mmm ... aku bisa mengatasinya." katanya memainkan liontin kalungnya.
"Lain kali jangan lakukan itu. Bagaimana kalau dia menyakitimu?"
"Kakak pikir aku takut? Dia menyentuh dan menc ...." dia menciummu kakak tampan! dalam hati dengan nada kecewa.
Varga terlihat murung, ia tahu apa maksud Aralia.
"Maafin kakak, Ra." Lirihnya memohon.
"Jangan bahas masalah itu ..., " tapi hatinya masih penuh tanya.
Kak apa kau cerita sama sekretarismu itu tentang Reven? Apa kau bilang aku selingkuh? Kau sangat aneh jika itu kau lakukan. Dari Mama sama papa aja kau tutupi tapi sama Lisa kau membicarakannya.
Aralia membantin, mencoba mengingat wajah intimidasi Lisa padanya saat mengatakan kalau Aralia selingkuh.
"Apa aku bisa melakukannya?" tanya Aralia malu-malu, Varga menatapnya penasaran.
"Tentu,"
Aralia menatap jauh kedasar biji mata pria itu. Menemukan cinta disana untuknya. Memastikan kalau pria itu sangat mencintainya. "Aku mau menyerahkan ciuman pertamaku, untuk orang yang aku cintai." katanya malu-malu dengan rona memenuhi wajahnya. Varga menahan tawa.
"Kau belum pernah ciuman?" tanya Varga sengaja menggoda. Aralia mengelengkan kepala.
"Mungkin kau lupa, kita sudah berciuman." ucap Varga mengingatkan Aralia.
"Itu bukan ciuman! Kak Varga memaksanya."
"Yang penting sudah pernah kan?"
"Kakak! Dasar tidak tahu malu. Ciuman itu harus diberikan dengan suka rela oleh pemiliknya, untuk orang yang ia cintai. Pemaksa!" Sudah marah dengan bibir mencebik. Itulah Aralia sebenarnya temperamen namun pemaaf.
"Jadi ... siapa yang berhak untuk ciuman itu?" tanya Varga lembut. Ia harus melembut, kan? kalau tidak dia tidak akan mendapatkan ciuman Aralia.
"Kakak." gumam Aralia tapi telinga Varga jelas mendengarnya hingga membuatnya tersenyum tipis.
"Kau mengakui kalau kau mencintaiku, Ara?" Aralia mengangguk patah-patah.
"Aku juga mencintai Ara."
"Aku cinta kakak," lirih Aralia menunduk, Varga menangkup dagu istrinya itu membuat keduanya bertatapan.
__ADS_1
"Aku lebih mencintaimu, Ara." Desisnya, menatap fokus bibir Aralia yang bewarna pink alami. Aralia memejamkan matanya memberi izin untuk Varga.
Varga mengecup singkat, lalu membelai bibir itu lembut kemudian menempelkannya kembali, memisahkan kelopak bibir atas dan bawah, mengisap, menyesap dan mengkulumnya perlahan dengan gerakan lambat seolah memancing reaksi Aralia yang diam merasakan tanpa membalas. Varga melepaskan sesaat memberi jeda dan mengambil napas.
Aralia perlahan membuka matanya dan bertemu dengan tatapan Varga yang sudah berkabut dan entah keberanian dari mana Aralia menarik lengan baju Varga mendekat dan mencium bibir Varga dengan kemampuannya yang masih pemula. Varga mengerjap merasakan begitu berantakannya gerakan Aralia dan membuatnya menahan tawa. Tapi, itu membuatnya senang, kepolosan Aralia dalam hal bermesraan sangat minim dan dengan senang hati Varga yang sudah lihai akan mengajarinya.
Varga menyambut, membuat gerakan lambat agar Aralia mengikutinya dan lama kelamaan gerakan itu menuntut lebih. Varga mendorong pelan Aralia tiduran tanpa melepas ciumannya. Membungkuk di atas istrinya itu dan menarik bibirnya seinci. Lalu berbisik tepat di bibir Aralia yang hangat.
"Sayang boleh aku mencicipimu ditempat lain?" bisiknya penuh hasrat.
"Silakan, malam ini aku milikmu, Tuan." desis Aralia dengan nada sensual. Dia lebih nakal dan memancing Varga menjamahnya lebih dalam lagi.
"Ini malam pertama kita." Bisik Varga, melabuhkan ciuman di leher, sisi wajah Aralia menggigit telinga pelan dan kembali ke bibir. Tangannya bergerak melepas segala penghalang yang ada di tubuhnya dan hal serupa juga ia lakukan pada Aralia. Tubuh itu kini polos dengan napas memburu. Malam yang panjang kini berlangsung panas.
______________________________________________
Disana, dikamarnya Reven mengeratkan genggamannya pada ponsel. Lisa menelpon mengatakan kalau Aralia bersama Varga di satu kamar hotel. Pria itu seolah tidak mau berpisah dengan istrinya hingga membawanya saat tugas kerja.
Apa yang akan di lakukan sepasang insan di dalam kamar kalau bukan hal-hal romantis? Apalagi mereka sepasang suami istri. begitu Lisa mengadukannya setelah gagal mendapatkan Varga.
Reven bahkan mengirim pesan untuk belahan jiwanya yang kini membelok, alasannya hanya karena tidak ingin menghancurkan, menghianati keluarga yang memberinya cinta selama ini. Nyatanya Aralia menjatuhkan hatinya pada Varga.
Lalu apa aku tidak memberimu cinta Aralia? Aku bahkan tidak dapat mengenal mana si A dan mana si B, semua wajahnya berubah menjadi wajahmu sayang. Batin Reven menahan emosi.
Kau akan kehilangan kesempatan kalau kau tidak bertindak lebih cepat. kata Lisa sengaja menghasut.
Reven, menekan panggil pada ponselnya.
Varga mendekap Aralia dalam pelukannya, setelah tertidur dan mengaduh merasa nyeri pada bagian sensitivnya. Varga berhasil memecahkan selaput darah milik istrinya dan menandai Aralia miliknya utuh.
Ponsel itu berdering, tak ingin Aralia terjaga Varga meraihnya dari nakas dan melihat pemanggil yang kini di beri nama Reven tanpa embel-embel emoji love lagi.
Varga berdecak, mematikan nadanya dan membiarkan hal itu terjadi. Hubungannya dengan Aralia baru saja di mulai ia tidak ingin diganggu saat hatinya bahagia. Ponsel itu kembali berdering namun masih dalam genggaman Varga. Varga menolaknya dan tergerak ingin tahu apa selama Aralia mengakhiri hubungannya dengan Reven berjalan baik atau sebaliknya.
Varga membuka pesan, satu-satunya pesan di dalam sana hanya ucapan selamat dari Reven di malam pergantian hari tadi.
Varga kesal, rasa cemburu masih kentara di wajahnya. Rupanya dia bukan orang yang pertama mengatakan itu. Andai saja kejadian hari ini tidak terjadi.
Diletakkanya ponsel itu ketempat semula,
menaikkan selimut membungkus tubuh Aralia yang polos. Varga mengecupi pipi istrinya itu pelan kemudian turun dari ranjang dengan sangat hati-hati, berjalan hanya mengenakan celana dalam mengambil handuk dan melilitkanya di pinggang.
Ia mengambil minuman kaleng dari lemari es dan menghampiri pintu balkon, menyibak sedikit tirai seraya menikmati minumannya menatap keluar kamar, menunggu mentari terbit.
Apa drama yang suka di tonton Aralia? Aku penasaran. Varga terkekeh mengingat perkataan istrinya itu.
Rasanya bahagia setelah mendapatkan utuh cinta istrinya sekarang tinggal menjanganya saja biar Aralia yang masih berjiwa kekanak-kanakan itu tetap berada di sampingnya.
Masalah Lisa? Aku akan menghabisimu jika praduga Aralia benar maka kau harus bertanggung jawab untuk itu. Batin Varga meneguk minumnya sambil menatap lurus kedepan.
Catatan: Like dongπ€π€π€π€ Vote juga yaππππ sama tekan βββββ jangan lupa juga komen hehehe. Itu aja kokπππ kalau mau datang notif klik β€οΈ.
Makasih ....
__ADS_1