IPAR

IPAR
Aku akan jadi istri penurut


__ADS_3

Harga diri memang sesuatu yang perlu di jaga. Karena harga diri adalah wujud dari keinginan untuk tetap terhormat. Itulah yang membuat Varga mengorbankan dirinya, di pandang tak bernilai di mata keluarganya. Semua itu ia lakukan bukan semata untuk dirinya sendiri melainkan untuk menjaga kehormatan istrinya yang kehilangan kesetiaanya.


Varga tidak ingin keluarganya memandang Aralia rendah, murahan dan tercela. Itulah mengapa Varga mengakui hal mengejutkan yang tidak di sangka-sangka keluarganya ia lakukan. Tapi alih-alih menghargai pengorbananya, istrinya itu malah dengan gablang mengatakan rasa khawatirnya pada pria lain. Seolah menganggap apa yang di lakukan Varga bukanlah apa-apa atau mungkin juga perempuan itu menganggap Varga orang bodoh. Ya, Varga memang bodoh. Ia telah dibodohi perasaannya sendiri, dibodohi karena cintanya pada Aralia.


Cinta memang bisa membawa bahagia dan juga bisa menghancurkan. Lalu cinta mana yang kini Varga hadapi. Bahagia atau kehancuran?


Varga mengalihkan tatapannya dari langit-langit kamarnya, menoleh dimana Aralia tertidur. Meringkuk menghadap sandaran sofa tanpa selimut menutupi tubuh kecilnya.


Varga menghela napas panjang. Tidak sedetikpun ia memejamkan matanya, bangun dan duduk di tepi ranjang seraya memijit pangkal hidungnya. Meskipun hatinya sakit tetap saja ia tidak tega melihat Aralia tidur di sofa itu.


Varga berdecak sebal, melangkahkan kakinya mendekat ke sofa. Menatap Aralia lamat-lamat kemudian menghela napas panjang.


Varga membungkuk memastikan Aralia sudah berada di dunia mimpi sebelum akhirnya ia mengangkat tubuh Aralia dan memindahkannya ke tempat tidur.


Tidurnya nyenyak, layaknya orang tanpa beban. Wajah mungilnya terlihat polos tanpa adanya polesan make up di sana.


Varga ingin sekali membelai pipi putih Aralia, dan tanpa sadar jemarinya hampir saja menyentuh pipi itu dan terhenti saat istrinya itu berbalik badan.


Varga tersenyum lalu mengkulum bibirnya, kemudian bergerak ke sofa untuk tidur.


Saat sarapan pagi, Varga, Aralia dan Ele duduk saling diam di meja makan. Aralia pelan-pelan menguyah makanannya. Ele dan Varga hanya menatap sarapannya tanpa berniat memakannya.


Pagi itu sangat berbeda, biasanya ruangan beraroma makanan itu selalu hangat dengan obrolan-obrolan kecil mereka. Apa saja bisa menjadi bahan candaan tapi saat ini ruangan itu terasa dingin.


Sesekali Ele menghela napasnya, menatap malas ke arah Varga. Ruangan itu semakin mencekam ketika hadirnya Tn. Roland disana.


Tn. Roland yang berniat sarapan sebelum berangkat kerja tiba-tiba kehilangan selera begitu melihat Varga. Wajahnya datar dengan tatapan tajam membuat Varga menunduk.


"Kau sudah turun? Sarapan dulu, akan aku buatkan." ujar Ele, bangun dari duduknya dan langsung di tolak Tn. Roland.


"Tidak sayang, aku langsung berangkat saja." Tn. Roland berbalik meninggalkan ruangan itu dan di ikuti istrinya.


"Sayang kau belum sarapan. Makanlah walau sedikit nanti—"


"Aku akan sarapan di kantor," kata suaminya itu, berusaha merapikan dasinya yang sedikit melonggar.


Ele meraih lengan suaminya, memutar untuk menghadapnya. Lalu merapikan ikatan dasi suaminya itu sambil berujar, "Jangan terlalu keras padanya, jangan karena satu kesalahan yang ia lakukan jadi menutupi kebaikan yang selama ini ia lakukan."


"Kau membelanya ...."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak membelanya. Semalaman aku berpikir kenapa Varga melakukan itu. Putraku itu orang baik, dewasa dan selalu memikirkan perasaan orang di sekitarnya. Selaman ini juga aku melihat mereka baik-baik saja. Aku bertanya-tanya apa yang salah ...."


"Bicara dengannya dan suruh dia mengakhiri hubungannya itu jika masih berjalan, kalau tidak biarkan dia pergi dari rumah ini. Bianca dan Aralia cukup menggatikan posisinya sebagai putraku."


"Sayang ...,"


"Aku pergi dulu." Tn. Roland mencium kening istrinya itu lembut dan Ele mengangguk mengiyakan.


Mata Varga menatap Aralia yang sedari tadi menunduk, diam setelah Tn. Roland meninggalkan meja makan dengan perut kosong.


Varga, berdecak rautnya lelah. Pelan ia letakkan pasangan alat makannya di samping piringnya kemudian mendorong kursi yang ia duduki dan meninggalkan meja makan.


Aralia menggigit bibir bawahnya, memandang kepergian Varga tanpa menyentuh makanannya.


"Varga mana, Ra?" Tanya Ele yang tiba-tiba datang dan membuat Aralia terperanjat.


"Ke kamar, Ma." jawab Aralia pelan. Terdengar helaan napas berat dari Ele, kemudian Ele duduk disamping Aralia. Sejenak menatap Aralia, terlihat dari tatapannya orang tua itu ingin mengatakan sesuatu.


"Ara ..., maafin Varga ya," ujar Ele, dan spontan membawa tatapan Aralia teralih padanya.


"A-aaku, aaku ...."


Tidak ada yang bisa Aralia katakan selain mengangguk mengiyakan. Mulutnya terkunci rapat dan hanya mampu mengutuk dirinya sendiri dalam hati.


Semua salahku ....


Aralia menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia membuka pintu dan melihat Varga sedang berdiri menata rambutnya di depan cermin. Takut-takut Aralia masuk dan berdiri tak jauh dari Varga. Hingga pria itu bisa melihat bayangan Aralia di dalam cermin.


"Kak, a-aaku mau bicara ...," gumam Aralia ragu-ragu. Varga bergeming dan melanjutkan kesibukannya.


Aralia memejamkan matanya, "dengar, aku menyesal atas apa yang terjadi tadi malam, aku menghancurkan kedamaian di rumah ini dan aku sudah membuat papa mama membenci kakak tapi ini juga membuat aku jadi —"


"Kau menyesal untuk keributan yang kau buat? Tapi tidak dengan hubungan illegal yang kau jalin. Sayang sekali, aku sudah tidak peduli. Lakukan apa yang kau ingin lakukan dan jangan mengangguku." ucap Varga menatap lurus Aralia penuh kemarahan.


Aralia menelan ludahnya, menunduk dan air matanya kini menetes. Tidak ada perlawanan seperti biasa darinya, kali ini hanya diam.


Saat Varga melangkahkan kakinya keluar pintu ia mendegar isakan Aralia dan itu membuatnya ingin berbalik lalu mengasihi dan meminta maaf. Tapi kali ini tidak. Varga sudah lelah yang selalu memaafkan. Ia meraih handle pintu dan membukanya untuk pergi dari sana.


Aralia menangis, berbalik ketika mendengar pintu menutup.

__ADS_1


Terus aku kuliah atau tidak? Isaknya berjalan ke kamar mandi.


______________________________________________


Sudah seminggu keadaan rumah sadah sepi, bukan karena tidak ada penghuninya melainkan karena penghuni yang tinggal di sana sibuk dengan diri masing-masing.


Varga melakukan rutinitasnya seperti biasa, kerja pagi pulang sore lalu menyibukkan diri dengan laptopnya dan mengabaikan Aralia yang berusaha mengajaknya bicara.


Ele masih berusaha membujuk suaminya itu agar berdamai dengan Varga putra mereka.


"Sayang dia menyesalinya ...," ucap Ele, Wanita itu berusaha membujuk suaminya itu usai mereka menghabiskan malam panas di atas ranjang.


"Baiklah, aku akan memaafkannya untukmu dan itu juga karena ...," Tn. Roland mendekat lalu berbisik tepat di telinga Ele dengan nada sensual. "Malam ini aku sangat puas. Kau yang terbaik sayang." bisiknya memuji istrinya itu. Ele memukul pelan lengan suaminya itu seraya malu-malu.


Sementara Aralia memilih membaca komik lewat ponselnya setelah berhasil menidurkan Bianca. Begitu terus sampai Aralia lelah dan ingin melempar pria yang ada di sofa itu.


"Kak!" geram Aralia, menatap Varga dan pria itu sedikit kaget karena terlalu fokus dengan ponselnya. Ia menoleh dan kembali lagi fokus pada benda canggih itu.


Aralia berdecak, mendekap dadanya.


"Sampai kapan terus begini? Kakak nggak mau maafin Ara? Aku sudah seminggu nggak kuliah dan itu karena Ara menjalani larangan kakak." Protesnya dan tidak mendapat tanggapan.


Aralia mencebik, entah kenapa malah terlihat manja. Aralia berdecak.


"Kak ...," Panggilnya lagi dari atas ranjang, membuat Varga mengeryitkan dahi. Aralia turun dari tempat tidur menghampiri Varga.


"Kak dengar tidak?" Rajuk Aralia menghentak-hentakkan kakinya di depan Varga, sengaja menganggu suaminya itu.


"Ara! Jangan kayak anak kecil. Kalau kamu mau kuliah, kuliah ajah. lagipula siapa yang bisa larang kamu."


"Kakak," ucapnya, membuat Varga mendongak, mendapati Aralia menatapnya dengan mengangkat alis sambil memicingkan mata ke arah pria itu dan tersenyum manis."aku akan jadi istri penurut seperti yang kakak mau." sambung Aralia.


Hanya dengan melihat tatapan seksi Aralia membuat Varga ingin menyerah. Tapi pria itu kembali memilih mengabaikannya dan menghela napas berat.


"Aneh," gumam Varga membuat Aralia mendengus dan berbalik meninggalkan pria itu, lalu berbaring di ranjangnya.


Sudut bibir Varga berkedut menahan senyum.


katanya mau menurut, begitu aja langsung ngambek. pikirnya melanjutkan kesibukannya sambil senyum-senyum.

__ADS_1


Sepertinya aku butuh tutorial merayu pria ini. batin Aralia, mulai mengetik di ponselnya mencari artikel yang bisa ia terapkan untuk merayu Varga.


__ADS_2