
Sekembalinya dari luar, Varga langsung duduk di kursi kerjanya, memijit dahi yang terasa berdenyut pusing karena kelakuan istrinya yang keras kepala.
"Apa yang harus aku lakukan?" Katanya menghembuskan napas berat.
Baginya saat ini Aralia terasa asing. Membangkang dan susah di mengerti. Varga merindukan Aralia yang dulu. Dulu saat Aralia masih berstatus adik iparnya adalah seorang gadis periang, manja, meski keras kepala tapi tetap saja menggemaskan. Sifat itu berubah ketika situasi mengubahnya menjadi istrinya.
Varga bukanlah orang yang egois menuntut Aralia berperan sebagai istri yang seutuhnya. Pri itu memberi waktu dan sangat sabar menunggu penuh harap suatu saat nanti Aralia akan melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Namun Varga merasa kalau harapannya sia-sia semenjak hadirnya Reven di kehidupan Aralia.
"Pak ...," Lisa dari balik pintu menarik perhatian Varga.
"Oh ... kenapa Lisa, masuklah!" Varga membuka laptonya dan menyalakan benda itu.
Lisa meyerahkan laporan harian pekerjaan pada Varga dan pria itu membacanya sekilas lalu, "ya sudah nanti saya cek lagi." ucap Varga, kembali mengerjakan pekerjaan yang lain.
Lisa menatap pria yang ada di hadapannya ini penuh terpesona. Seolah dirinya baru saja mengenal Varga dan seolah pria di hadapannya ini seorang titisan dewa. Karisma pria itu sangat mempesona.
Lisa menelan salivanya ketika melihat jakun Varga naik turun dileher jenjang itu. Matanya kini beralih pada kelopak bibir merah Varga, sangat menggoda untuk di cicip. Segala sesuatu yang ada pada Varga selalu membuat hati Lisa bergejolak.
Varga berdehem, melirik Lisa yang tengah mengamatinya.
"Aa-maaf pak. Apa masih ada yang harus saya kerjakan?" Lisa tergagap salah tingkah.
"Kau bisa keluar, Lisa," ucap Varga tanpa mengalihkan perhatiannya dari Laptopnya.
Lisa bergeming dan bertahan duduk ditempatnya. Ragu-ragu menatap Varga,
Aku harus tahu apa yang terjadi antara pak Varga dengan istrinya. Kalau tidak? Bagaimana aku bisa mendekati pria ini.
"A--pa pak Varga lagi ada masalah?" tanya Lisa ragu-ragu.
"Nggak ada, Lis. Kenapa bertaya?" Varga mengeryitkan kening menatap Lisa yang mendadak mengalihkan tatapannya ke arah lain. Varga tersenyum, "kenapa Lis? Kalau ada sesuatu bicara saja." kata Varga.
"Ah tidak apa-apa pak, saya hanya ...eeh maksudnya sa—,"
"Saya terlihat punya masalah ya Lis?" Tebak Varga.
"Maaf pak, saya lancang," Lisa menunduk dengan wajah polos yang di buat-buat.
"Tidak apa-apa," ujar Varga, menatap Lisa yang tampak takut-takut seraya menggigit-gigit bibir ranumnya. Lisa memang sengaja melakukan itu. Ia ingin Varga melihatnya dan syukur-syukur tergoda.
"Akhir-akhir ini pak Varga sering melamun dan juga tidak konsentrasi, itu sebabnya Lisa bertanya. Kalau pak Varga tidak keberatan saya bersedia menjadi teman curhat." ujar Lisa menawarkan diri.
Varga mendesah lelah, berpikir sejenak dengan mata tertuju pada ponselnya. Ia masih sangat penasaran pada percakapan antara Aralia dan Reven dalam video itu.
Sangat susah baginya untuk memutuskan apa yang sebenarnya terjadi. Video itu hanya menunjukkan gerak-gerik saja, seperti Reven mengusap kepala Aralia, menggenggam tangan istrinya itu dan juga saat Reven menunduk di hadapan Aralia.
"Pak ...," panggil Lisa lagi, membawa Varga dari lamunannya.
"Ah maaf Lis, kau bisa keruanganmu sekarang." katanya, terlihat rasa kecewa pada Lisa namun wanita itu menahan supaya tak terlihat jelas.
"Baik pak," katanya, bangun dari tempat duduknya.
"Lis, " panggil Varga menghentikan gerak kaki Lisa, sejenak ia menatap sekretarisnya dan menarik napas berlaha. " aku punya teman, dia lagi ada masalah dengan istrinya ...," ucap Varga membatalkan Lisa keluar dari ruangan itu.
Lisa tersenyum sepersekian detik, bersorak dalam hati lalu kembali duduk. Menajamkan telinga, ia tak ingin kehilangan satu katapun curhatan Varga.
Tentu saja pak Varga membahas dirinya sendiri. Tapi tidak apa, ini awal aku masuk
__ADS_1
_____________________________________________
Sementara di tempat lain Aralia mencari keberadaan Cayrol di dalam kelas. Ia berdecih ketika matanya menemukan Cayrol sigadis centil yang dijadikan suaminya alat pengintai.
"Cay ...," Panggil Aralia dari depan kelas, menghentikan gerakan Cayrol mengoleskan lipglos di bibirnya.
"Apa?" Aralia menyengir, menyamarkan perasaan kesalnya. Menghampiri Cayrol.
"Aku mau bicara dengamu," Cayrol terlihat berpikir sejenak. Apa yang ingin di bicarakan Aralia padanya, mungkinkah Aralia sudah tahu kalau dia memata-matainya? Mengingat kedatangan Varga kekampus ini.
"Ikut aku!" Kata Aralia lagi, ia menarik tangan Cayrol keluar kelas. Cayrol mengambil ponselnya dan mengikuti Aralia ke aula bola basket yang tak jauh dari kelas mereka.
"Ada apa sih, Ra? Oh iya bukannya tadi paman tampan datang menemuimu?" Tanya Cayrol tersenyum namun gerakannya sangat gugup seraya mengepal ponsel di tangannya.
"Mmm, tapi dia sudah pergi setelah mendapatkan apa yang ia mau." Kata Aralia membaca wajah gugup Cayrol.
"Memangnya apa, Ra?" tanya Cayrol penasaran.
"Apa lagi kalau bukan ciuman istrinya, kau tahu dia sangat memuja pesona seorang Aralia. Bayangkan saja, dia datang diterang hari hanya ingin dipeluk dan di cium istrinya." jawab Aralia jahil. sengaja memprovokasi.
Cuih ... tidak mungkin! Dia kira aku tidak tahu hubungan mereka yang sebenarnya.
"Itu bagus, aku senang dia sangat mencintaimu. tapi apa kalian sudah sedekat itu Ra?" ujar Cayrol setengah hati lalu bertanya dengan nada mengejek.
"Mmm, sekarang kami sangat dekat. Ah ... andai saja ruang perpustakaan itu kosong mungkin tempat itu sudah terbakar karena api cinta kami," ujar Aralia gablang, entah apa yang dipikirkan Aralia hingga mengatakan hal vulgar yang pada Cayrol.
Cayrol membisu, mengendikkan bahunya seolah tidak peduli.
"Kau tidak percaya?" tanya Aralia penasaran.
"Ya ...aku percaya." jawab Cayrol singkat, ada senyum segaris di bibirnya sekejab.
"A-aapa, Ra." jawab Cayrol terbata-bata. suaranya gemetar.
Aralia menarik napas, situasi ini sangat menyenangkan baginya untuk menuntaskan kekesalannya pada Cayrol.
"Ada seseorang yang sengaja menusuk aku dari belakang dan aku sangat jengkel," Aralia mendekati Cayrol yang berjarak semeter darinya.
"Si-si si apa, Ra?" Cayrol mundur, begitu melihat tatapan menakutkan dari Aralia.
Aralia menyeringai, menunjukkan aura iblisnya, mempercepat langkahnya mendorong Cayrol yang gemetar semakin mundur hingga mentok ke tempok. Tangan Aralia menarik rambut belakang Cayrol, membuat gadis itu meringis, mendongak keatas.
"Aku pikir kau seorang teman, Cayrol!" Geram Aralia menatapnya penuh kemarahan. "Tapi aku salah kau hanya seorang pengecut yang belajar menjadi perebut suami orang."
"A--aapa maksudmu, aku tidak mengganggu suamimu." Nada Cayrol gemetar, menahan sakit pada kepalanya.
"Oh ...," Aralia sengaja menggertak. Sesungguhnya ia tidak tahu kalau gadis di hadapannya ini pernah mengutarakan perasaannya pada Varga. Tapi melihat ketakutan dan rasa gugup Cayrol Aralia menyeringai, puas. dan itu membuatnya semakin penasaran.
"Ah ...sungguh? Tapi melihat bagaimana gugup dan takutnya dirimu membuatku ragu dengan jawabanmu. Katakan punya hubungan apa kau dengan suamiku?" Aralia bertanya, matanya menyipit menatap Cayrol seksama.
"Apa maksudmu, Ara. Aku tidak punya hubungan dengan suamimu itu." ujar Cayrol.
Cayrol, berusaha melepaskan diri dan disaat bersamaan ponsel yang ada di tangan Cayrol berdering . Aralia melirik pada ponsel itu lalu menyeringai sinis. Varga menelponnya.
Aralia merampas ponsel itu dan membaca nama pemanggil dengan sebutan 'Paman tampan' Aralia melepaskan tangannya dari tengkuk Cayrol.
"Kau bilang tidak punya hubungan dengan suamiku, lalu ini apa?" Aralia menunjukkan layar ponsel Cayrol yang masih berdering.
__ADS_1
"Darimana kau dapat nomernya?"
Ditempat lain, Varga berusaha menghubungi Cayrol, pria itu baru ingat kalau sudah membawa Cayrol masuk dalam masalahnya. Varga takut Aralia akan menyulitkan Cayrol.
Panggilan mati, Aralia mencari nama Varga di aplikasi pesan dan membuka pesan yang terkirim. "Kau menguntitku dan memberi info padanya? Siapa kau Cayrol? Aku pikir kau teman baik ternyata aku salah kau sangat buruk." Desis Aralia menunjukkan semua pesan terkirim Cayrol yang dikirim pada Varga.
Sebenarnya Varga tidak pernah meminta Cayrol melakukan itu, Cayrol melakukan itu untuk membuat Varga membenci Aralia karena penolakan Varga kepadanya.
Ponsel itu kembali berdering, membuat geram Aralia. Digenggamnya erat benda tipis itu dan menatap tajam Cayrol.
Cayrol yang sedari tadi membisu, mengangkat kepalanya dan menantang tatapan Aralia. Ia bukanlah gadis lemah yang bisa di bully begitu saja.
Cayrol mendorong bahu Aralia keras hingga terjatuh kelantai." Iya aku menguntitmu, aku mengirim semua kelakuan kamu bersama pacarmu itu, kau pikir kau siapa? Peri? Hingga semua keberuntungan kau dapat." ucap Cayrol mencaci Aralia.
"Kau terlahir dan langsung merasakan mandi susu, kaya dan cantik, hidupmu beruntung dicintai dua pria. Aku hanya berusaha mengambil sedikit milikmu dan itupun sesuatu yang kau abaikan."
Aralia mengerutkan kening menatap Cayrol. Sebegitu rendahnya temannya itu.
"Apa maksudmu? Jadi kau berniat mengambil suamiku?" Aralia bertanya seraya berdiri. "Kau iri dengan apa yang aku punya?" Selidik Aralia tersenyum kecut, ponsel sialan itu masih saja berdering.
Aralia menatap benda itu penuh kemarahan. lalu membantingnya hingga pecah.
Cayrol terkejut, "sialan kau Ara!" Teriak Cayrol melihat ponselnya kebanting.
"Aku baru tahu sifat aslimu? Dan aku muak! Kau sangat menjijikkan! Jangan pernah menemui suamiku, walau hanya menatapnya. Camkan itu!" Ancam Aralia penuh penekanan pada setiap kata yang di ucapkanya.
Cayrol memungut ponselnya dan menangis.
"Ponselku ...,"
Aralia berbalik, meninggalkan Cayrol menangisi ponselnya.
"Suamimu sudah menciumku, Ara." Langkah Aralia terhenti, "kami bergadengan tangan pergi ke bioskop dan ia memakan makanan kesukaanku. Kami berkencan sehari setelah kau keluar dari rumah sakit." Kata Cayrol memprovokasi. Ia amat kesal melihat keangkuhan Aralia dan benar saja, berhasil. Aralia menolehkan kepalanya menatap tajam Cayrol.
"kau pikir aku tidak tahu hubunganmu dengan suamimu itu? Ha ha ha kau menggelikan bercerita tentang ciuman. kau hanya pembual!" Cayrol meludah, menatapa Aralia berapi-api.
"Murahan!" Umpatnya, kemudian pergi meninggalkan Cayrol menangis kembali.
"Ponselku ...bagaimana ini?" Cayrol mendudukkan diri menangis.
Di dalam mobilnya Varga dibuat pusing lantaran ponsel Cayrol tidak lagi aktif.
"Astaga Cayrol ..., mudah-mudahan Aralia tidak kembali kekampus dan menyakiti Cayrol." Katanya sambil menyetir menuju kampus. Seharian ini dia sangat di pusingkan beruntung ada Lisa yang sudah mendengar curhatannya walau ia beratas namakan orang lain. Sejujurnya Varga enggan mencurahkan masalahnya pada wanita itu mengingat kalau Lisa pernah mengutarakan perasaan nya padanya.
Penasaran dan sangat khawatir, Varga memutuskan menghubungi Aralia memastikan dimana posisinya sekarang ini.
"Apa?" terdengar suara Aralia ketus, Varga menjauhkan ponselnya dari telinganya, sahutan Aralia membuat telinganya serasa penuh.
"Ara kamu dimana?"
"Kakak meninggalkan aku tadi di jalanan dan sekarang masih bertanya?"
"Eh?" Varga melebarkan matanya, "Jadi kau masih disana?"tanya Varga lagi, kebingungan dan berpikir apa mungkin istrinya itu hilang akal.
Bib ...
Seketika Varga menyesal menelpon istrinya itu. Aralia memang selalu berhasil membuatnya kesal.
__ADS_1
"Dasar labil! Pemarah! Egois!" teriaknya kesal.
Varga berang, melempar ponselnya ke jok penumpang kemudian mengeratkan genggamannya pada stir mobil. Menginjak pedal gas membelah jalanan ramai.