
Sehabis makan malam keluarga Roland seperti biasa menyempatkan berbincang di ruang keluarga sembari menikmati buah sambil menonton televisi.
"Belum ada jawaban dari Aralia, Ga?" Tanya Ele memulai obrolan sambil mengupas jeruk untuk anak dan suaminya.
"Belum," jawab Varga sambil menonton.
"Pasti sulit baginya mengambil keputusan," Ele menghela napas panjang.
"Bagaimanapun dia harus mengambil keputusan, Biar Varga bisa memikirkan masa depannya." Roland menimpali sembari memakan jeruk yang di berikan istrinya.
"Iya juga, tapi anak itu masih labil masih sangat muda. Akan sangat susah buatnya mengambil keputusan tanpa adanya arahan." Ele menepuk lengan Varga yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana kalau kita langsung melamar gadis itu?" tanya Roland memberi usul.
Varga meletakkan jeruk yang ada di tangan, kaget mendengar usulan ayahnya itu.
"Kalau mama sih setuju aja, tapi Varga?" Ele melihat kearah Varga.
"Untuk masalah ini biar Varga yang urus, besok aku akan coba bicarakan lagi sama Ara." ujar Varga, melihat kedua orang tuanya bergantian.
______________________________________________
Ara, aku tunggu jam tujuh malam di restoran 'dapur kita' datanglah ada hal penting yang ingin aku bicarakan.
Begitu isi pesan yang dikirimkan Varga pada malam sebelumnya kepada Aralia, kini pria berhidung mancung dengan iris mata indah itu duduk ditemani segelas kopi yang sudah mulai dingin karena waktu. Dua jam sudah ia duduk disana menunggu tanpa ada kata bosan.
Varga, sesekali melihat ke arah pintu masuk restoran itu. Berharap orang yang ia tunggu menampakkan diri. Varga kembali membaca pesan yang sudah di baca penerimanya tanpa adanya balasan.
Varga mengirim pesan kembali.
Aku masih menunggu dan berharap kau datang, Ara.
Ketik Varga lalu mengirimnya.
Di tempat lain, Aralia yang menerima pesan itu terlihat mengeluh. Ia melihat waktu yang ada di ponselnya dua jam berlalu dari waktu yang di tentukan Varga.
Yang benar saja.
Gerutu Aralia mengambil jaket, berlari menuruni anak tangga sambil mengenakannya.
"Ara, mau kemana buru-buru?" Nisa yang kebetulan keluar dari kamarnya bertanya dan tak mendapat jawaban dari Aralia yang memasang raut masam.
Jalanan sepi, malam itu gerimis dan angin meniup menberi rasa dingin. Aralia mengemudikan mobil milik ibunya tanpa sim.
"Hal apa yang ingin ia bicarakan padaku? Pernikahan?" Kesal Aralia "Baiklah mari kita bahas." Katanya sambil melajukan mobil itu dengan cepat.
Setelah sampai, Aralia memarkirkan mobilnya di area parkiran restoran lalu berjalan memasuki restoran yang masih cukup ramai. Ada beberapa pasang mata tertuju padanya sambil memberi nilai pada penampilan gadis mungil itu.
Aralia tidak peduli, ia hanya mencari dimana pria yang membuatnya kesal hingga datang dengan memakai piyama, jaket kusut dan alas kaki rumah dengan rambut sedikit berantakan.
__ADS_1
Mata gadis itu menangkap sosok yang duduk di sudut restoran dengan posisi membelakangi pintu masuk. Arali menarik napas lalu berjalan kesana tanpa peduli tatapan orang padanya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan. Aku tidak banyak waktu." kata Aralia meletakkan kunci mobilnya di atas meja, Varga kaget dengan kedatangan Aralia yang tiba-tiba.
"Terima kasih sudah datang, duduklah," ujar Varga, mengukir senyum di wajahnya. Lalu mengangkat tangan sebagai tanda pada pelayan restoran itu.
"Kau mau makan apa?"
Aralia menarik sudut bibirnya, rautnya kesal.
"Aku tidak ingin apa-apa." Sahut Aralia dengan nada kesal.
Varga mengangguk lalu menandai beberapa menu dan menyerahkannya pada pelayan restoran.
"Oke, di tunggu, kami akan menyajikannya sesuai permintaan, anda." kata pelayan itu, memberi senyum sebelum pergi.
Melihat Varga masih diam, Aralia menghela berat.
"Kak!" Ketus Aralia menggigit giginya sendiri.
"Kita tunggu makanannya datang ya, Ra."
"Aku sudah bilang aku tidak mau makan. Aku datang hanya ingin mendengar apa yang ingin kau bicarakan."
"Oke. Baiklah ... Aku meminta—," Saat Varga mulai berbicara, ponsel miliknya berdering.
Aralia menyandarkan tubuhnya ke kursi, ia sempat membaca nama pemanggil di ponsel milik Varga yang terletak di meja. 'Mama' begitu di layar itu tertulis.
Varga, melihat Aralia lalu, " oh ..., Ara ada samaku, Ma."
"Mmm baiklah,"
"Mamaku?" Tanya Aralia, setelah Varga mengakhiri panggilan. Varga mengangguk
Kenapa mama menelponnya bukan menelponku? Menyebalkan.
Aralia menunjukkan senyum sinisnya, kedua tangannya terlipat di dada sementara tatapan gadis itu begitu dingin pada Varga.
"Sepertinya kau datang buru-buru, Ra. Maaf sudah merepotkanmu." ujar Varga dengan sikap tenang dan juga penuh tatapan lembut. Entah kenapa gadis yang ada di depannya ini tak juga luluh dengan sikap hangat Varga.
"Mari kita bahas hal yang penting saja." Aralia dengan sikap acuhnya berucap. Ia mengalihkan tatapannya dari Varga yang tenang.
Pelayan datang membawakan pesanan dan dengan hormat meletakkan di atas meja.
Dua porsi udang saus mentega, dua porsi kepiting saus padang, dua porsi soup ikan kakap dan lengkap dengan air minum.
Semua itu makanan kesukaan Aralia.
"Selamat menikmati, Tuan dan Nona." ucap pelayan itu dengan sopan.
__ADS_1
Varga mengangguk dan mengatakan, " terima kasih."
Aralia menelan salivanya melihat makanan yang ada di atas meja. Gadis itu sangat menyukai kepiting yang berlumur dengan saus kental juga soup ikan. Segera mengalihkan tatapannya berusaha mengabaikan yang ada di meja.
Itu semua kesukaan Ara, kenapa dia bisa tahu? Apa mama ...
"Makan Ra ...," Ujar Varga menawarkan.
"Kak aku kesini bukan untuk makan, Eih." Ketus Aralia.
Varga menipiskan bibir, meletakkan kembali sendok yang sudah ada di tangannya.
" Baiklah," katanya, menarik napas kemudiam melihat Aralia dengan serius.
"Mengenai keinginan mendiang is—,"
"Iya. Ara akan jawab." Aralia memotong ucapan Varga, "apapun itu keinginan kak Rena, aku menolak dan maaf aku tidak bisa mewujudkannya." Sambung Aralia dengan tegas.
"Ra ...,"
"Kak. Aku tahu kak Varga juga tidak menginginkan hal itu kan? Dan karena itu mari kita lupakan dan tetap menjadi saudara ipar."
Terdengar helaan napas panjang dari Varga, namun sikapnya masih tenang.
"Baiklah ..., Aku mengerti. Tapi bisakah kau memberiku sebuah alasan kenapa kau menolakku?"
Aralia berdecak. "Menikah denganmu seperti menikah dengan saudaraku sendiri. Sumbang atau inses." Jawab Aralia, alasan itu membuat senyum di wajah Varga, entah itu lucu baginya atau alasan Aralia terlalu mengada-ada.
"Oke." Varga mengangguk paham, " sebelum pulang kau makan dulu ya. "
"Menyebalkan." Ketus Aralia, berdiri lalu meninggalkan Varga disana sendiri, Varga tak menahannya ia hanya menoleh melihat kepergian Aralia sambil menahan tawa.
"Inses ...," Gumamnya sambil menatap makanan di atas meja.
Di dalam mobil Aralia mengumpat sambil membanting stir mobilnya, kesal mengingat bagaimana wajah Varga menahan senyum saat di dalam sana.
Arrhhh ... teriaknya.
Pagi hari sudah tiba, matahari mulai terang dan langit mulai cerah. Aralia duduk menikmati sarapan pagi yang di sajikan ibunya.
Nisa menatap putrinya itu, mengingat cerita Varga mengenai penolakan Aralia.
"Semua sudah berakhir ma."
"Kenapa?"
"Ara menolak untuk aku nikahi,"
"Apa Alasannya, Varga?"
__ADS_1
"Akan sangat sulit bagi kami bersama, karena hubungan kami hanya sebuah ikatan yang di satukan tanpa cinta."
Begitu percakapan mereka lewat ponsel, tentu Varga tidak mengatakan alasan yang dibuat Aralia, karena alasan itu terlalu menggelitik hati siapapun yang mendengarnya.