IPAR

IPAR
CCTV dan Cardlock


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Aralia berdecak sebal. Seharian ia berada di dalam kamar itu. Rasa bosan mulai menghinggapi hingga ia memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar kamar.


Aralia memakai cardigan rajut miliknya dan berjalan meninggalkan kamar. Menghampiri pintu lift seraya mencoba menelpon Varga dan tidak mendapatkan jawaban.


"Kak ...." Rutuknya dengan nada kecewa, ia kembali menghubungi suaminya itu dan mendapat jawaban dari mesin operator. Lagi-lagi Arali berdecak.


Ding!


Pintu lift terbuka. Aralia menunggu beberapa orang keluar sebelum ia masuk dan menekan angka tujuaanya.


"Katanya cuma sebentar, tapi kenapa bisa lama sih terus kenapa ponselnya di matikan. Apa telpon dariku sangat menganggunya?" Aralia bersungut-sungut mengabaikan sepasang suami istri yang ada di dalam lift yang memperhatikannya.


Begitu pintu lift terbuka Aralia langsung keluar dan menuju lobi hotel, duduk di bangku tanpa sandaran khusus pengujung yang sedang menunggu antri cek in.


Aralia teringat akan Lisa, jantungnya sedikit berdetak cepat mengingat wanita itu.


Dimana Lisa berada sekarang? Apa dia juga menginap di hotel ini? Kalau iya dimana kamar wanita itu? Apakah Varga bersamanya sekarang atau mungkinkah Lisa tahu Varga dimana?


Aralia merasa tidak tenang, ia bahkan lupa menanyakan pada Varga mengenai wanita itu. Aralia juga tidak memiliki nomernya. Aralia tergerak melihat Resepsionis yang bertugas, berniat bertanya untuk mendapatkan info apakah wanita itu berada di hotel yang sama dengannya.


Aralia melangkah dan mulai mendekati konter Resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Tanya wanita itu ramah.


Ragu-ragu Aralia berucap, "aku mencoba menghubungi teman saya, tapi ponselnya tidak terhubung lagi. Dia menginap di hotel ini atas nama Lisa apa saya bisa mendapatkan nomer kamarnya?" Tanya Aralia dan mendapatkan penolakan dengan sikap ramah oleh Resepsionis. Bahwa data tamu mereka tidak dapat di bagikan dan lagi pencarian yang dilakukan Aralia kurang akurat yang hanya menyebut nama.


Aralia kembali ke tempat duduknya dan menunggu di sana. Mengelilingi tempat itu dengan matanya yang indah. Sesekali menghentakkan kaki ke lantai untuk mengurangi rasa jenuh. Ia tertarik ingin berjalan-jalan di lobi yang luas. Melihat kafe yang ada di dalam sana. Ia berpikir akan menikmati kopi sembari menunggu Varga kembali.


Lisa membawa Varga masuk dan langsung menuju lift begitu menunjukkan kartu pengenal yang di berikan pihak hotel saat cek in pada security di depan.


Sementara Aralia mendapatkan kopinya yang di pesan dalam paper cup, ekor matanya menangkap seseorang tergopoh masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Seperti mendapatkan firasat ia menghampiri dan berjalan cepat tapi sayangnya pintu itu sudah tertutup. Mungkin bukan Varga ucapnya. Menoleh pada penjaga pintu dan berniat menanyakan.


"Pak ..., Apa barusan yang naik lift seorang pria?" Tanya Aralia pada security yang berjaga di pintu masuk.


"Benar nyonya, dia bersama istrinya. Mungkin suaminya itu mabuk jadi jalannya agak sempoyangan." Aralia mengangguk. Aralia melihat waktu dalam ponselnya sudah semakin larut. Ia berdecak dan berpikiran menayakan sesuatu lagi pada security itu.


Aralia membuka foto dalam ponselnya dan menunjukkan pada security.


"Apa orang ini sudah masuk? Dia suamiku aku sedang menunggunya." Kata Aralia, pria itu tampak mengingat lalu menggeleng. Aralia menghela napas berat.


"Tapi ..., sepertinya tuan yang mabuk tadi mirip dengan suami anda," katanya menghentikan gerak kaki Aralia yang hendak berbalik. "Kau bilang apa?" tanya Aralia menyelidik. Pria itu menggeleng.


"Mungkin aku salah lihat, tapi dari perawakannya sepertinya iya. Soalnya aku berpapasan dua kali dengan pria yang mabuk tadi. Saat Cek in mereka datang bersamaan dan saat keluar si wanita duluan kemudian satu jam pria itu menyusul. Jadi sedikit ingat wajahnya." Kata security.


Security yang bertugas itu nyatanya melihat Lisa dan Varga masuk dan melakukan cek in. Kemudian Lisa keluar dengan cepat dan Varga menyusul setelah beberapa jam kemudian.


"Baiklah, terima kasih. Ambil ini." Kata Aralia menyerahkan kopi yang belum ia nikmati pada security. "Nikmati aku belum menyentuhnya." Katanya. Bergegas menuju tombol tujuanya pada lift. Ia harus kembali kekamarnya, kemungkinan orang itu adalah Varga.


Aralia membuka pintu kamarnya, dan tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamar itu. Aralia menarik napas dengan kesal.


Aralia menggenggam ponselnya erat, pikirannya dipenuhi pertanyaan. Jika benar itu Varga, kemana dia sekarang? Kenapa belum ada di kamar? Apa dia sama Lis ...." Aralia mengelengkan kepalanya, membuang pikiran buruk mengenai suaminya itu.


Ding!


Aralia kebingungan, ia tidak tahu harus berbuat apa. Lama ia berdiri di dalam lift, lalu melirik ke atas. Melihat kamera kecil yang terpasang di sana.


"Cctv?" Benaknya dan segera keluar dati dalam lift sebelum pintu itu kembali menutup. Aralia mencari keberadaan security tadi dan bertanya.


"Pak...," Panggilnya, pria itu menoleh." Apa aku bisa melihat cctv untuk beberapa menit yang lalu?" Pria itu tampak ragu, tapi wanita yang melebarkan mata bercahaya layaknya anak kucing yang mengiba di manja menggerakkan hatinya. Lagipula berkat Aralia, ia sudah menikmati kopi seharga enam puluh ribuan dari hotel itu.


"Baiklah, ikut aku ke post." Katanya membawa Aralia ke post yang di pasang cctv. Pria itu memerintahkan temannya, membuka rekaman beberapa menit lalu.

__ADS_1


"Nyonya, silakan!" Kata pria itu, dan memperlihatkan beberapa rekaman. Aralia menajamkan matanya saat melihat Lisa keluar dari taksi lalu berlari kecil membukakan pintu lainnya, menunjukkan Varga yang terlihat lemas.


"Kak Varga ...," katanya membelalak.


"Apa dia suami Nyonya?"


"Boleh aku lihat nomer kamar wanita itu?" Tanya Lisa, sebagai jawaban securitynya.


"Maaf nyonya kalau untuk hal itu bukan ranah saya, saya akan membawa nyonya ke bagian Resepsionis." Aralia terlihat letih tatapannya merabun karena bongkahan air matanya mulai tak terbendung.


"Silahkan!" Pria itu mengarahkan dan Aralia mengikuti dari belakang. Di hapusnya air matanya dengan punggung tangannya yang tertutup cardingan.


Security terlibat berbincang dengan resepsionis dan meminta untuk membantu wanita malang yang tengah berdiri di belakangnya itu.


"Baiklah, atas nama siapa?"


"Lisa," lirih Aralia tidak bersemangat.


Resepsionis itu mengakses datanya dan melihat tamu yang masuk hari ini.


"Atas nama Lisa Meral, berada di lantai 13 kamar 109. Apa itu maksud—" belum selesai berbicara Aralia sudah berlari ke arah lift dan menekan tujuannya. Rahangnya mengeras dengan sorot tajam berapi-api. Ia tidak menyangka Varga membawanya ke tempat ini hanya untuk menyakiti hatinya yang sudah terbuka lebar untuk suami sialannya itu.


Ia menendang dinding lift, meluapkan rasa kekesalanya.


Ding!


Aralia mencari nomer yang terekam di otakknya. Pintu paling sudut, Aralia menekan knop pintu tapi terkunci.


Ah ...!!! Aralia frustasi. Kenapa sesakit ini andai saja hatinya belum mencintai Varga atau adai saja kejadian seperti ini terjadi beberapa waktu lalu saat Aralia menggebu mencintai Reven. Saat Aralia benci pada Varga. Mungkin Aralia tidak akan merasakan perih menyayat hatinya. Seperti sekarang ini.


Aralia berjongkok, memeluk kakinya erat. Ia seolah kehilangan akal. Air matanya menitik, ia sama sekali tidak punya keberanian untuk menekan bel kamar itu. Aralia terlalu takut melihat kenyataan kalau suaminya berada di dalam sana dengan wanita lain.

__ADS_1


Aralia merasakan ia mengijak sesuatu di atas kerpet lorong kamar hotel tepat di depan pintu kamar Lisa. Kartu berupa Atm yang sama dengan miliknya. Ia mengerutkan kening dan berpikir kalau benda itu milik Lisa.


Apa ini? Ini kan Cardlock. Batinya. Ia mengambil dari karpet dan bangun dari duduknya. Menekan pada sensor gagang pintu dan terdengar suara Tit. Aralia terkesiap. Ia mendorong sedikit pintu dan berlahan masuk ke tengah ruangan.


__ADS_2