IPAR

IPAR
Ia terlihat bodoh


__ADS_3

Varga mendekati Aralia yang sedang berdiri di balkon rumahnya. Pria itu berdehem, memasukkan tangannya kedalam saku celana, mengambil posisi di sebelah Aralia membuat perempuan itu meliriknya.


"Kau lagi ada masalah ya, Ra?" Varga mencoba mencari tahu. Selama menikah mereka telah membuat kesepakatan tidak akan mencampuri masalah pribadi dan itu yang membuat Varga tidak tahu apa yang membuat Aralia menampakkan wajah sedih dan terlihat gelisah.


Aralia menggeleng, menatap lurus ke depan. Jelas sekali Aralia berbohong terlihat dari kesedihan yang di pancarkan netranya. Varga tersenyum simpul.


"Aku siap loh sebagai teman curhat," ujar Varga suaranya terdengar sedikit ragu.


Aralia berdecih, menoleh pada Varga seolah memberi peringatan lewat tatapannya yang dingin.


"Sayangnya aku tidak mau curhat sama kamu," ketus Aralia berbalik meninggalkan Varga yang sedang menghela napas. Pria itu tersenyum kecut. Menghibur diri sendiri dengan bersiul seraya menikmati angin malam.


" Tidur di sofa aja, ranjang Ara sempit." Ucap Aralia, melempar bantal ke sofa yang ada di kamar itu.


"Tch, seperti mau aja tidur bareng meskipun ranjangnya besar." Gerutu Varga membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Seperti biasa Aralia mengunci kamar, Ia tak ingin Nisa ibunya melihat mereka tidur terpisah.


"Malam Ara ...," Seperti biasa Varga mengucapkan selamat malam meski di cuekin untuk ribuan kalinya.


Pagi-pagi, Aralia sudah bersiap hendak keluar rumah, menitipkan pesan disecari kertas.


Aku keluar rumah ya, ada urusan dengan teman. Titip Bianca, aku sudah memberinya susu jangan lupa kasih makan.


Meninggalkan Varga yang masih tertidur di sofa. Aralia mencium Bianca dan menaruh bayi itu ke ranjang di kamar Nisa, ibunya.


Aralia pergi tanpa pamit pada Nisa yang sedang di kamar mandi. Ia memesan taksi online dengan tujuan rumah Reven.


Satu jam perjalanan kesana, jalanan belum padat lantaran hari ini weekend. Aralia mencoba menelpon untuk kesekian kalinya, tapi sama sekali tidak berhasil.


Aralia keluar dari taksi, menatap rumah Reven yang sederhana. Ia melangkah mendekati pintu dan kemudian mengetoknya.


Tak lama kemudian pintu terbuka, seseorang membukakan pintu untuknya.


"Siapa?" Seorang wanita tua duduk di kursi roda bertanya, Aralia tersenyum wanita itu pernah ia lihat saat di rumah sakit bersama Reven.


"Halo bu, saya temannya Reven. Apa dia ada?" ujar Aralia mengulurkan tangan, dengan lembut wanita itu menerimanya dan mereka berjabat.


"Dia masih tertidur, masuklah akan aku panggilkan." ucap Wanita itu, memberi jalan untuk Aralia.


Wanita itu memutar kursi rodanya, berjalan menuju ruang tamu, mempersilakan Aralia duduk.

__ADS_1


"Duduklah aku akan panggilkan orangnya, anak itu semalam pulang dini hari dan entah darimana aku tidak mengerti." Aralia mengangguk dan tak lupa menunjukkan keramahannya lewat binar di wajahnya.


Wanita itu memutar kursi rodanya ke arah satu pintu dan mengetoknya.


"Reven, bangun temanmu datang." Panggilnya dan tidak mendapat jawaban wanita itu membuka pintu dan masuk ke sana.


"Astaga ... Reven! Apa yang kau lakukan dengan kamarmu ini. Berantakan sekali." Betapa terkejutnya dirinya melihat pria yang selalu rapi itu menghancurkan kamarnya dengan kemalasan yang luar biasa. "


"Ayo anak malas bangun temanmu sedang menunggu di luar." wanita itu memukul pantat Reven lalu mencubit lengan pria itu.


"Nenek, biarkan aku tidur lebih lama, ini hari libur." ujar Reven menahan sakit di bagian lengannya.


"Bangun dan temui temanmu, dia sedang menunggu di ruang tamu."


"Suruh dia pulang, nek." dengan malas Reven mengeluh.


"Kenapa aku menyuruhnya pulang, kau saja anak malas. Oh my ...lihatlah kamarmu ini. Berantakan sekali. Cepat!" Bentak wanita itu setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan lantai. Segala baju, celana, bungkus makanan dan buku berceceran di lantai dan juga di ranjang Reven.


Sungguh ini bukan Reven, sirapi dan parlente tapi entah kenapa dengan dirinya saat itu.


"Siapa?" guman Reven bangun dari duduknya .


"Perempuan."


"Cantik ..., dan juga terlihat baik." kata neneknya itu. Mencoba mengingat gambaran Aralia.


Reven mengenakan celana panjang dan kaosnya, setelah menyadari kalau ia tak punya teman perempuan yang akrab hingga datang mengunjunginya.


baginya menjalin pertemanan dengan seorang gadis akan berujung rumit. Apalagi saat ini dia memiliki masalah dengan Aralia.


"Kenapa kau begitu panik,"


"Panik apanya ...." Reven keluar kamar menghampiri tamunya.


Reven menelan salivanya begitu melihat Aralia yang tengah duduk di sofa sambil memandangi photo yang tergantung di dinding. Photo Reven dengan neneknya.


"Ada apa kau kesini?" Tanya Reven membuat Aralia sedikit kaget.


"Reven ...," Aralia bangun dari duduknya, dan langsung memeluk pinggang Reven.


"Jangan begini ada nenek," Reven melepaskan tangan Aralia dari pinggangnya. Ia masih kesal dan Aralia tampak sedih.

__ADS_1


"Kau tidak membalas pesan dan juga mengangkat telponku, itu yang membuatku datang kesini. Reven apa kau masih—,"


"Bagaimana bisa kau keluar dari rumahmu di jam segini? Ini masih setengah tujuh pagi. Seharusnya kau masih sibuk menyiapkan sarapan buat suami dan juga keluargamu kan? Apa kau kabur atau minta izin? Atau kau membuat alasan berbohong?" Tanya Reven dengan suara penuh penekanan, menyela ucapan Aralia. Pria itu berdecak lalu menarik tangan Aralia membawa perempuan itu keluar dari sana.


"Pulanglah, aku belum siap menemuimu sekarang." Katanya menghindari tatapan Aralia yang mengiba.


"Reven, aku minta maaf. Apa yang harus aku lakukan biar kamu memaafkan aku?" Suara Aralia gemetar karena menahan tangis, Ia terlihat bodoh.


"Pulanglah! Aku akan menemuimu untuk membahas hal ini."


"Kapan? Kau bahkan mengabaikan pesanku,"


"Sampai aku bisa mengambil keputusan." ujar Reven, masuk kembali ke dalam rumah.


Aralia menutup matanya, membiarkan bulir air matanya terjatuh. Berjalan meninggalkan tempat itu tanpa berhasil mengambil hati kekasihnya.


______________________________________________


Varga terbangun, melihat lembar yang terselib di jarinya. Membaca tulisan itu lalu melihat ke arah ranjang Aralia. Ada rasa sedih di matanya. Akhir-akhir ini Varga menyadari Aralia lebih sering menghabiskan waktu di luar ketimbang dengan Bianca.


Varga meletakkan kembali surat itu, keluar kamar dan menuruni anak tangga. Nisa ada disana menyuapi Bianca yang sudah terbangun.


"Pagi Ma ...," Sapa Varga, mencubit pipi Bianca lembut. "Lagi makan ya ...,"


"Pagi ..., Aralia belum bangun?"


Varga menggarut kepalanya. Mama nggak tahu Ara pergi? benaknya.


"Sudah berangkat ke kampus ma," ujar Varga.


Nisa terlihat bingung, " Jam segini? Kok dia tidak pamit?"


" Mmm mungkin mama lagi tidur, tadi ...dia sudah bilang sama Varga katanya sebelum ke kampus dia ada urusan di luar jadi pergi lebih awal." Kata Varga berbohong.


Nisa menghela napas panjang, ia tampak ragu dengan jawaban Varga.


"Ya sudah kamu mandi aja dan sarapan ya." Varga mengangguk mencubit Bianca.


"Makan yang banyak ya putri Daddy biar cepat besar ...,"


Varga kembali ke kamar, mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Aralia dan seperti yang ia bayangkan istrinya itu selalu enggan mengangkat panggilan darinya.

__ADS_1


Varga berdecak, menyugar rambutnya dengan mata tertutup berkata dengan suara tertahan.


Kemana kau Aralia ...


__ADS_2