
Varga mengakhiri meeting yang ia pimpin dan kembali keruangannya. Duduk bersandar pada kursi sembari meraih ponsel yang ia tinggal di atas meja selama meeting.
Astaga lelahnya. Membuka ponsel dan melihat ada banyaknya panggilan tidak terjawab dari nomer center polisi.
Varga terkejut dan spontan berdiri, Apa ini? Kenapa polisi menghubungiku? Varga menekan memanggil ulang.
Terdengar suara dari sana, Varga menyebut namanya dan menunggu sambungan di alihkan.
"Dengan pak Varga?" Sahut seorang pria dari sana.
"Saya sendiri,"
"Anggota keluarga anda mengalami kecelakaan, mobil yang ia kendarai ditabrak dan menabrak di lokasi jalan S."
"Aapa?"
"Korban sudah dibawah kerumah sakit dan sudah ditangani di unit darurat. Anda bisa kesana sementara kami melakukan investigasi perihal kecelakaan di lokasi."
Hatinya berdeyut, ia bahkan lupa siapa yang dimaksud polisi itu. Varga terlalu takut dan gugup, tangannya gemetar menelpon Aralia.
Panggilan dijawab operator. Varga mengambil kunci mobilnya, berjalan seperti orang linglung.
"Hei, kau aantarkan aku ke rumah sakit," ujar Varga saat melihat staf nya menunggu pintu lift terbuka.
"Pak Varga tidak apa-apa?" Varga yang pucat menggelengkan kepalanya. Ia terlalu takut dan bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mengemudi.
Dalam perjalanan Varga berulang menelpon nomer Aralia dan selalu tersambung ke operator.
"Kau bisa pulang dengan mobil ini." kata Varga setelah sampai di rumah sakit. Ia melangkah dengan kekuatan yang ia punya ke bagian informasi.
"Aralia Sadah korban kecelakaan yang terjadi di lokasi S masih di tangani di gawat darurat anda bisa kesana."
Varga berlari, detakan jantungnya lebih mengalahkan larinya. Ia tak berdaya begitu mengetahui istrinyalah yang mengalami celaka.
Varga berada di depan pintu, mengabaikan tatapan orang padanya, ia menyeka air matanya yang berurai. Menopangkan tangan pada dinding menjadikan satu-satunya tembok itu pertahanannya untuk bisa tetap berdiri.
Suara pintu terbuka.
"Wali dari Aralia Sadah?" Perawat yang berdiri di belakang pintu memanggil. Varga sigap menghampiri.
"Bagaimana keadaan istri saya sus?" suaranya kecil seolah tercegat di tenggorokan.
"Masuklah, dokter akan menjelaskanya." Varga masuk mengikuti perawat ke ruangan dokter yang ada di unit itu.
"Dok, dokter bagaimana istri saya?" Varga bertanya ia tak melihat istrinya disana.
Dokter memintanya duduk dan tenang, lalu ia menurut.
"Dari hasil CT scan pasien, tulang rusuknya patah,"
"Apa?" Varga terkejut, suaranya bahkan tidak terdengar emosinya hanya terlihat dari wajah saja.
"Benturan keras mengakibatkan hal itu terjadi, tapi pasien beruntung dilihat dari hasil pemeriksaan CT scan, tulang hampir menusuk paru-paru." Dokter memberi hasil CT scan dan menunjukkannya pada Varga.
Dadanya terasa penuh, ia menghembuskan napas kasar melihat gambar itu. Hanya satu inci tulang itu akan menusuk paru-paru Aralia. Ia patut bersyukur.
"Bagaimana untuk yang lainnya?" Tanya Varga setelah menghela napas berat.
"Tengkorak kepala aman, hanya luka di pelipis dan tulang hidungnya bengkak."
"Apa yang dilakukan untuk tulang rusuk itu dokter?"
__ADS_1
"Dari gambar tersebut tingkat keparahannya memang sedikit berisiko. Satu tulang rusuk patah, tetapi ada dislokasi atau pergeseran di tulang rusuk yang lain. Kita akan melakukan operasi untuk menyambung dan mengembalikan posisi tulang yang bergeser itu." Dokter menjelaskan dan diangguki Varga.
Varga keluar dari ruangan itu setelah sepakat dan menyerahkan pengobatan di lakukan dokter. Ia tergugu duduk di bangku tunggu.
Jangan! Jangan lagi Tuhan. Kau tidak boleh mempermainkan hidupku begitu saja. Aku mohon jangan lagi. Kau sudah mengambil Rena dariku dan apa kau ingin mengambilnya juga. Aapa kau sengaja melakukan itu? Varga menunduk, menunggu Aralia di pindahkan ke ruang operasi.
Varga menelpon mengabari ke rumah.
"Mama ...," Sahut Varga begitu suara menyapa dari sana.
"Kenapa, Ga?"
"Ara kecelakaan, aku sudah di rumah sakit sekarang. Tolong jemput mertuaku dan jangan kabari lewat telpon."
"Apa maksudmu? Varga bagaimana keadaanya?"
"Baru akan dipindahkan keruang operasi,"
"Aih," terlalu syok hingga tak satupun kata yang lolos dari Ele.
Varga mematikan ponselnya. Memeluk dirinya sendiri dengan sekelebat bayangan Aralia bersamanya. Segalanya terlintas di pikiranya. Senyum, merajuk, manja, menangis hingga tawa lepas di pertontonkan di depan matanya saat itu.
Bahkan tadi pagi dia mengantarku dengan sinar mata yang indah. Aralia sayang aku mohon bertahanlah untukku.
______________________________________________
"Sudah mengambil gambar cctv yang ada di sekitar lokasi?" Seorang pria bertanya pada bawahanya sembari menyesap kopi berdiri di samping meja kerja anggotanya itu.
"Sudah pak," Sambil menunjukkan video lewat komputernya.
"Berhenti! Catat plat mobilnya dan cari tahu nama pemiliknya." Perintahnya saat melihat mobil merah menabrak di belakang mobil yang digunakan Aralia.
....
Apa yang salah Tuhan? Kenapa sekejam itu?
....
"Tidak, tidak, bukan aku yang melakukannya. Aku hanya menabrak pelan dia yang salah kenapa bisa melajukan mobilnya begitu cepat." Tangannya gemetaran dan dihantui rasa ketakutan. Berpikir untuk mengambil langkah kedepan antara pergi ke kantor polisi atau melarikan diri. Ia gugup menggigit-gigit kukunya. Hingga memutuskan sesuatu jalan hidupnya.
Rumah sakit.
"Dengan pak Varga Sadah?" Pria itu terkesiap, menoleh pada si penyapa. Rautnya tenggelam ketakutan.
"Ya, ya saya sendiri." Sahutnya bangun dari duduknya.
"Kami dari kepolisian yang melakukan investigasi kecelakaan anggota keluarga anda."
"Istri saya,"
"Iya, istri anda. Dari rekaman cctv yang diambil sepertinya mobil di belakang sengaja menghamtam, terlihat dari laju mobilnya dan langsung melarikan diri. Sebenarnya tidak terlalu keras hanya saja mobil istri anda membelot masuk ke jalur lain hingga terhantam mobil yang lain. Panik dan salah menginjak antara pedal Gas dan Rem, itu masih kemungkinan kita harus menunggu pasien pulih untuk informasi detail." polisi menjelaskan.
"Bagaimana dengan penambraknya? Apa sudah ditemukan?"
"Itu sebabnya kami datang kesini. Plat mobil ini apa anda mengenalnya?" Polisi menyerahkan secarik kertas print nan. Varga mengambilnya dan memperhatikan. Lama dan ia tidak mengetahuinya.
"Tidak, saya tidak mengenalnya." Katanya mengembalikan kertas itu. Terlihat polisi itu menyeringai.
"Anda tidak mengangkat saat kami menelpon?"
"Saya lagi ada meeting dan ponsel tertinggal di ruangan."
__ADS_1
"Apa anda lagi bermasalah dengan istri anda?" Varga menatap pria tegap itu dengan sorot tajam. Apa-apaan?
"Hubunganku baik-baik saja dengan istriku." katanya penuh penekanan.
"Plat ini, mobil Bank tempat anda bekerja." Varga mengerutkan kedua alisnya, menyambar kembali kertas yang dipengang polisi itu. Memperhatikan lekat dan mencoba mengingat.
Hanya warna yang ia ingat, merah marun tetapi untuk plat Varga tidak tahu. Untuk apa ia mengingat plat mobil operasional yang suka ia pakai jika keluar kantor. Plat mobilnya saja belum tentu ia ingat.
"Si-siapa pengemudinya?" tanya Varga menatap polisi.
Polisi menggaruk pelipisnya, menatap pria itu. "Kita masih mengambil cctv di area perkantoran anda."
"Baiklah, tolong cari tahu tentang orang ini." Varga mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomer ponsel Lisa. "Dia sekretariku," katanya.
Polisi itu menyeringai, "Saya harap ini bukan masalah asmara pak Varga." ujarnya, meninggalkan Varga dengan tatapan curiga.
______________________________________________
"Bagaimana keadaanya?" tanya Roland, Ele membantu Nisa berjalan. Wanita itu terlalu lemah menyeret kakinya.
"Masih di ruang operasi pah." Varga bangun dari duduknya dan menghampiri Nisa kemudian memeluknya. Wanita itu sesegukan menangis di pelukan menantunya itu.
"Selamatkan putriku Varga, hanya dia milikku yang tersisa. Aku tidak bisa kehilanganya." Nisa menangis pilu.
"Jangan khawatir mama, Ara pasti bisa melaluinya." Getir terasa mengatakan itu, Varga sendiri nyaris tak berdaya. Tapi ia harus berpura-pura kuat. Varga membawa Nisa ke tempat duduk.
"Sayang, kau harus kuat. Bawa dalam doa biar Aralia sehat kembali." ujar Ele mengelus pundak putranya.
Roland menghela napas panjang. Berdiri menyender ke dinding.
Varga menjelaskan apa yang terjadi pada Aralia dan mengundang tangis yang perih dari Nisa. Putriku yang malang ucapnya dalam tangisnya.
Dokter keluar membawakan kabar dari meja operasi.
Semua keluarga terlihat tengang, berdiri dan mengelilingi dokter itu.
"Operasinya berhasil. Pasien masih dalam koma karena sengaja di tidurkan untuk mengurangi rasa nyeri pada dadanya." Dokter menjelaskan. "Delapan jam dia akan siuman kalian bisa menunggu sambil istirahat." Tambahnya.
Semua mengucap syukur, dan berterima kasih pada dokter itu.
Malam semakin larut, seperti yang dikatakan dokter Aralia sengaja di tidurkan selama delapan jam.
"Mama pulang saja, biar Varga yang menunggu disini. Aku khawatir sama Bianca." ucap Varga begitu melihat Ele menahan rasa kantuk.
"Ya, kau benar, bagaimana dengan mertuamu?" Ele menoleh ke arah Nisa.
"Kalian pulang saja, lagipula Ara masih lama bangunnya. Mungkin besok pagi dia akan bangun." kata Varga. Ele mengangguk.
Ele mengajak Nisa pulang dan langsung ditolak.
"Tidak, tidak. Aku akan disini. Aku akan menunggunya bangun." ucap Nisa.
"Ma, besok datanglah setelah Aralia di pindahkan ke ruang inap." ujar Varga, membujuk Nisa.
"Varga, aku akan ada saat dia terbangun." Nisa memohon lewat tatapannya.
Ele menatap Varga lalu mengangguk setuju. Ele pamit dengan Roland suaminya.
sementara di tempat lain ...
Setelah mendapatkan cctv dari area parkiran tempat kerja Varga. Penyidik itu tercengan melihat sosok wanita menaiki mobil yang menabrak Aralia.
__ADS_1
"Baiklah, buatkan surat penahanan untuknya." perintahnya dan langsung di kerjakan.
"Menarik, sekretaris dengan istrinya. Apalagi kalau bukan masalah asmara." Polisi itu terkekeh.