IPAR

IPAR
Perjalanan Bisnis


__ADS_3

"Kamu mau ikut nggak?" Tanya Varga saat mengepak pakaiannya kedalam koper kecil. Ia akan melakukan perjalanan bisnis dengan Lisa ke sebuah kota yang memakan waktu satu jam menggunakan pesawat.


"Lisa?" Bukannya menjawab pertanyaan Varga, Aralia malah tertarik dengan nama Lisa, sekretaris Varga.


"Mmm ...," Varga menutup kopernya.


"Kak, sadar tidak kalau Lisa itu suka sama kakak." Seketika Aralia mengingat tatapan Lisa pada Varga saat di kantor Varga.


Varga tampak berpikir, "entahlah, suamimu ini kan tampan, Ra." Katanya santai, dan Aralia langsung berdecih.


"Kak Varga sungguhan kan ngajak Ara?" Aralia tersenyum dengan tatapan berharap.


"Iya Ra, Mau ikut tidak?" Aralia cepat mengangguk patah-patah.


"Tapi Bianca ?" Lirihnya tampak murung.


"Cepat kemasi pakaianmu, kakak tunggu lima belas menit dibawah. Masalah Bianca kakak akan bicarain sama mama ya. Cepat. Nanti kita ketinggalan pesawat."


"Emang kita naik pesawat, kak?" Aralia bertanya seraya mengeluarkan pakaiannya dari lemari.


"Iya ...,"


"Waoh ...," seru Aralia antusias.


"Cepatlah!" Varga mengeluarkan ponselnya menghubungi Lisa seraya menuruni anak tangga mencari keberadaan Ele.


"Lisa, bookingin satu tiket atas nama Aralia Sadah, ya."


"Untuk istri pak Varga?"


"Iya benar,"


"Baiklah pak,"


Varga menghampiri Ele yang sedang mengawasi Bianca bermain dengan susternya.


"Mama ..., Cup." Varga mengecup pipi Ele membuat ibunya itu terperanjat. "Aku bawa Ara ya, Ma." tambahnya, mengambil Bianca dan mengajaknya bercanda.


"Kemana?" Ele menatap bingung.


"Luar kota untuk dua hari," Ele berdecih.


"Nggak bisa pisah ya? Untuk dua hari saja?" Tanya Ele dengan nada meledek.


Varga menyerahkan kembali Bianca pada susternya, "Mmm Varga lagi sayang bangat soalnya." Jawabnya dengan kekehan ringan.


"Kau ini," Ele mengusap lengan Varga lembut."kau belum pernah mengajaknya kemana -mana ya, Ga?"


Varga mengangguk, ada raut sedih di wajahnya. Selama ini Varga dan Aralia belum pernah bepergian sebagai pengantin.


"Kak Varga, Ara sudah siap." Aralia menghampiri Varga dan mertuanya. Varga berbalik melihat istrinya itu lalu tersenyum. Kali ini Aralia mengenakan rok mini dengan T-shirt bewarna putih. Rambutnya di ikat ke atas, telinganya yang indah di hiasi aksesoris mini menempel disana membuat penampilannya semakin cantik.


Varga menggigit bibir bawahnya, rasanya ia ingin memeluk istrinya itu dan membawanya berputar.


"Mama, aku boleh ikut kak Varga kan?" Tanya Ara ragu-ragu. Ia takut mertuanya tidak senang karena menyerahkan tanggung jawabnya sebagai ibu Bianca pada Ele.


Ele tersenyum, mengangguk. Ia melihat penampilan Aralia yang fresh. " Have fun ya sayang. Bianca biar mama yang urus. Kan ada juga susternya." kata Ele menatap Aralia lembut.


"Makasih, Mama." Aralia tersenyum lebar, lalu menatap suaminya itu yang masih saja terpesona padanya.


Dia tidak glamor seperti wanita lain. Simpel dan sangat menarik hatiku. Ya ampun Aralia ini. Punya sihir apa dia hingga selalu membuatku jatuh cinta padanya.

__ADS_1


"Hei sayang Mami pamit dulu ya, jangan nakal dan sehat ya my quen." Aralia mencium Bianca hingga putrinya itu terkekeh karena geli. "Kakak ayo ...," Ajaknya.


______________________________________________


Lisa menekuk wajahnya begitu Varga memintanya pesan tiket untuk istrinya.


Kenapa dia harus ikut sih? Padahal ini kan kesempatanku untuk mendapatkan Varga. Menyebalkan!


Lisa tersenyum sinis lantaran tiket khusus business class sudah terjual dan hanya ada tiket economy class


Duduk di ekor pesawat pasti tidak menyenangkan. Batinya tersenyum penuh ironi, lalu membayar tiket lewat online.


Ia duduk di dalam pesawat dekat jendela, menunggu kedatangan atasannya itu.


Pramugari memberi jalan untuk Varga dan Aralia yang baru saja tiba.


"Pak Varga ...," Panggil Lisa berdiri memberi arahan untuk duduk di sampingnya.


"Hai Lisa," balas Varga, ia mendudukkan Aralia di tempat yang seharusnya ia duduki.


"Sayang, kamu duduk disini kakak akan kebelakang." Aralia menoleh kebelakang melihat tidak ada kursi yang kosong lagi. Ia mengerutkan dahi bingung "Aku ada di Class ekonomi," bisiknya, mengusap kepala Aralia lembut.


"Lisa, titip istri saya ya." ujar Varga. Meski kecewa karena tidak bisa berduaan dengan Varga ia tetap mengangguk ramah.


Varga menghampiri pramugari, ia tampak menjelaskan perihal penukaran tempat duduk untuk istrinya dan pramugari itu menyetujui. Kemudian membuka pembatas kelas bisnis dan ekonomi mempersilakan Varga mencari tempat duduk atas nama Aralia di kelas disana.


Lisa tersenyum mengejek, melihat Aralia yang tengah menikmati tempat duduknya yang nyaman.


Apa sih yang membuat Varga mencintai orang ini. Dia bahkan belum terlihat dewasa, wajahnya masih sangat remaja dan juga body nya belum berkembang. Dadanya datar dan juga terlalu polos. Bibirnya hanya diberi pelembab. Dia benar-benar masih anak-anak. Batin Lisa memindai penampilan Aralia.


Pramugari memberi protokol, sebagai tanda pesawat akan take off. Aralia memainkan ponselnya yang sudah di mode pesawat, ia ingin bermain game untuk membunuh rasa bosan. Lisa lebih memilih tidur. Semenjak bertemu keduanya hanya menyapa lewat senyum lalu sibuk dengan diri masing-masing.


Perjalanan tempuh hanya memakan waktu kurang lebih satu jam, kini Pesawat telah landing.


"...kita sudah sampai," ujar Aralia, siap-siap membuka sabuk pengamannya.


"Oh ... maaf aku ketiduran." Lirihnya mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.


Aralia terkekeh, dan membuat Lisa bingung menatap Aralia.


"Sorry, seharusnya aku tidak tertawa tapi itu ...," Aralia menunjuk bibir Lisa yang berantakan karena lipstik warna ungunya terhapus tangannya.


Lisa panik dan buru-buru mengambil cermin kecil dari dalam tasnya. Aralia menggigit giginya sendiri melihat kepanikan Lisa yang berlebihan.


"Aku duluan ya," kata Aralia dan dianggukin Lisa sembari menghapus seluruh lipstik dengan tisu basa lalu mengulasnya ulang.


Oh my God, itu pasti merepotkan. Batin Aralia bergidik geli, dan mengaminin dia tidak terlalu suka dandan tebal.


Aralia terlebih dulu sampai di bawah dan menunggu Varga turun dari dalam pesawat. Dia mulai bosan, lantaran kelas ekonomi penghuninya lumayan ramai. Aralia menghentak-hentakkan ujung sneakers nya ke tanah sambil memperhatikan satu-satu orang yang baru keluar dari pintu pesawat.


Senyumnya spontan terbit begitu melihat Varga melambaikan tangan dari tangga pesawat ke arahnya. Aralia melambai balik


"Kenapa lama? Ara sampai bosan," ujarnya manja, menerima tangan Varga yang hendak menggandengnya.


"Mmm ... penuh dan kakak paling belakang." Jawab Varga mengacak-acak poni Aralia. "Oh iya Lisa mana?" Varga mencari keberadaan Lisa yang belum ada diantara mereka.


"Dia ketiduran dan tidak sengaja menghapus gincu bibirnya. Jadi dia mengulasnya lagi." Kata Aralia malas-malasan.


Varga terkekeh, "Ra, kakak sama Lisa langsung dari sini ke tempat kerja. Ara bisa sendiri kan ke hotel? Aku sudah booking hotelnya nanti kakak kirimin via pesan kode bookingnya, jadi langsung check in aja ya. Bisa kan sayang?" Aralia mengangguk paham.


"Tapi Ara dari sini naik apa?"

__ADS_1


"Taksi online, kakak antar ke pintu keluar sekalian aku pesanin taksi online ya."


"Pak Varga, mobil yang menjemput kita sudah stanbay di depan katanya." Kata Lisa memberi info setelah sebelumnya menerima telpon dari kolega yang mengundang mereka ke kota itu.


Varga mengangguk mengiyakan seraya sibuk dengan ponselnya, memesan taksi online untuk Aralia.


"Kak," Aralia menarik kameja Varga membuat pria itu menoleh padanya. " Memangnya Ara nggak bisa ikut kalian?" Lisa berdecih dalam hati, mengikuti dari belakang, melihat Aralia menempel pada Varga membuatnya berang.


"Jangan sayang, nanti kamu bosan. Mendingan kamu langsung ke hotel saja dan istirahat ya." kata Varga lembut.


______________________________________________


Aralia berpisah dengan Varga di bandara, kedua orang itu di jemput oleh tamunya sementara Aralia naik taksi online ke hotel yang Varga pesan. Aralia menerima pesan dari Varga.


Ini kode bookingnya,00A07RTW. Jangan lupa makan sayang diakhiri emoji kissing Face. (😘) Aralia tersenyum membacanya, lalu membalas dengan emoji wajah tersenyum dengan pipih merah.


Iya kakak (☺️)


Aralia bersender pada jok mobil seraya mengenggam ponselnya di atas detakan jantungnya yang bergemuruh. Wajahnya merona.


Setibanya di hotel ia disambut security dan diarahin menuju cek in. Kemudian menerima Cardlock sebagai akses pintu kamarnya dari Resepsionis. Petugas mengantar Aralia ke lantai 16


"Silakan nyonya, ini kamar anda." Petugas hotel itu berujar ramah, Aralia mengangguk.


"Terima kasih," ucap Aralia, kemudian mengetukkan kartu itu pada sensor yang ada di pengangan pintu. Aralia masuk kedalam setelah pintu terbuka.


"Waoh ..." Aralia takjub menyusuri ruangan yang di fasilitasi sofa, meja, televisi, lemari es yang terletak di satu ruang. Sementara tempat tidurnya berada diruang terpisah yang diberi pembatas lemari besar. Aralia berjalan menuju ruang itu dan tersenyum lebar. Ia melempar dirinya ke atas ranjang yang bisa menampung empat orang sebesar dirinya. "Astaga nyamanya." katanya menenggelamkan dirinya hingga tertidur nyenyak.


_____________________________________________


"Pak Varga pesan kamar lagi?" Tanya Lisa saat mereka diantar pulang oleh supir perusahaan.


"Mmm ..., Saya bawah istri, Lis. Biar dia merasa nyaman tahu sendiri kamar yang di pesan Bank. Cuma tempat tidur sama kamar mandi aja." ujar Varga, memainkan ponselnya.


"Di lantai berapa pak?" tanya Lisa, penasaran.


"Enam belas." jawab Varga. Sementara kamar yang di booking lisa ada di kamar tiga belas.


Lisa mengangguk, hatinya kecewa. Padahal kamarnya dengan Varga bersebelahan andai istrinya itu tidak ikut. Menyebalkan.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki area hotel dan berhenti di depan pintu masuk. Varga keluar dan di ikuti Lisa untuk cek -in.


"Malam, istri saya tadi sudah cek in, tapi saya kesulitan menghubunginya. Apa aku bisa mengambil kunci yang lain?" Kata Varga pada bagian Resepsionis yang mana saat di perjalanan Varga memang menghubungi ponsel Aralia tapi tidak aktif.


"Atas nama siapa pak?"


"Varga Sadah,"


Resepsionis terlihat sibuk dan, " yang melakukan cek in atas nama Aralia Sadah. Cardlocknya sudah diterima." kata Resepsionis. "Baiklak, tunggu sebentar saya akan registrasi kartu barunya." Tambahnya.


setelah menunggu beberapa menit, Resepsionis memberinya Cardlock yang baru.


"Terima kasih," ujar Varga, melihat ke belakangnya. Lisa berdiri dengan raut lelah.


"Oh iya Lisa, saya langsung ke kamar ya." kata Varga dan di angguki Lisa. Ia menatap punggung Varga dari belakang. Pasti sangat nyaman bersandar di sana. Batinya. Seraya menunggu proses cek-in selesai.


"Ini cardlock anda, Nona." Resepsionis memanggilnya dari lamunan itu. Lisa meraih benda itu dengan malas lalu melangkah tak berdaya ke arah lift. Dia butuh sandaran saat lelah begini. Hatinya hampa, kesepian sementara pria yang ia idamankan mungkin sudah bercengkraman atau bahkan kedua insan itu sudah bercumbu dengan hasrat yang menggelora lalu tubuh keduanya di banjiri peluh.


Ding.


Pintu lift menyadarkan Lisa yang sedang membayangkan Varga dengan istrinya. Ia memejamkan matanya berjalan di koridor menuju kamarnya yang terletak paling ujung.

__ADS_1


Aku butuh minuman. Gumamnya, berbalik sebelum ia mengakses kamarnya. Mencari Bar terdekat lewat ponselnya.


__ADS_2